Games In Home

Games In Home
I Don't Like You Sick



Seulgi membawa Jimin berkeliling kota dengan motor barunya. Motor itu baru dibelikan Eunwoo beberapa Minggu yang lalu setelah merayu Eunwoo selama empat bulan terakhir. Jimin yang belum tau pasti jalan-jalan di sana terpaksa merelakan dirinya duduk di jok belakang. Jimin jadi sedikit malu membiarkan kekasihnya itu mengendarai motor dengan membawa beban sepertinya. Seulgi itu tumbuh menjadi perempuan kuat, tak ada sedikitpun kata lemah dari Seulgi. Mungkin jika dilihat lebih rinci tidak hanya pria yang jatuh cinta pada Seulgi mungkin beberapa wanita juga.


Seulgi memencet rem secara mendadak, tubuh Jimin ikut tersentak dan tak sengaja memeluk pinggang Seulgi. "Kau seperti tidak pernah berkencan, kaku" komentar Seulgi.


"Ajari aku nona yang sudah berpengalaman" Seulgi tertawa kecil.


Setelah beberapa jam berkeliling dan bermain Seulgi mengantar Jimin ke halte bus. Di sepajang jalan Seulgi menuju rumahnya pikirannya kelut, bagaimana ia akan berasalan pada Eunwoo? Bagaimana bisa Wendy berbohong padanya. Kaparat Wendy itu memang sangat memuakan. Sekarang memang Wendy anak dari Jimin, tapi lihat saja nanti Wendy akan memanggil Seulgi dengan sebutan Mommy dan akan menjadi ibu tiri yang jahat.


"Dari mana saja kau Song Seulgi?" Benarkan, Seulgi sudah menduga sedang duduk di kursi depan melipat tangannya di dada dengan tatapan tajam lurus ke depan. "Motormu papa sita, Irene bilang kau pergi balapan liar" Eunwoo merebut kunci dari Seulgi dan pergi begitu saja. Irene sialan, harusnya saudarinya itu memberikan alasan yang baik.


Seulgi ingin protes. "Irene, bisakah kau memberi alasan yang baik?"


"Papa menyudutkanku dan sangat terpaksa aku memakai alasan itu. Dari pada aku bilang kau pergi ke bar mabuk-mabukan. Mungkin kau tidak akan diperbolehkan keluar rumah, untung hanya motormu yang disita"


Seulgi mendengus kesal pergi dari kamar Irene, pokoknya besok Seulgi akan memaksa Jimin untuk membelikannya sebuah motor mahal.


Eunwoo berjalan dengan sedikit bersenandung kecil menuju kamar Irene. Sehubung kamar Seulgi tepat sebelum kamar Irene, ketika melewati pintu itu terdengar suara tertawaan kecil dari Seulgi. Terdengar samar tapi Eunwoo masih bisa mendengarnya. Eunwoo mendekatkan telinganya menempel pada pintu kamar Seulgi.


"Kau ada-ada saja Hanzo~aaa"


"Hahaha setelah hampir dua tahun tak bertemu aku merindukanmu"


"Tentu saja aku merindukan Daddy Jimin, aku sama sekali tidak merindukan Hanzo"


"Uuu aku lebih Meri.....Papa!"


"Aku tidak peduli namamu Hanzo atau Ryu Jimin, berhenti mendekati anakku" ujar Eunwoo menekan kata-katanya, bisa dilihat bahwa Eunwoo sedang memaki-maki ponsel Seulgi.


Eunwoo memutuskan sambungan tanpa memikirkan jawaban Jimin. "Tidak perlu menghubunginya, Jimin tidak akan tau kita di sini sebelum kau memberi tahunya" Seulgi dongkol melihat Eunwoo mematahkan kartu ponselnya, otomatis Jimin tidak bisa menghubunginya. Rumah Jimin saja Seulgi tidak tau, Seulgi hanya mengantar Jimin hanya sampai halte buss sebab Jimin belum ingin Wendy mengamuk tidak menentu jika ia ketahuan membawa Seulgi ke rumah. Sekarang bagaimana mereka membuat janji temu? Harusnya Seulgi mengikuti Wendy besok setelah pulang kuliah? Cha Eunwoo itu sangat menyebalkan.


Yeri dan Jirae sedikit tertawa dengan bergandengan tangan berjalan dengan muka menawannya menelusuri negara maju itu. Dua wanita itu terlihat seperti gadis muda yang sedang berjalan-jalan. Yeri dan Jirae sekarang sudah berteman baik seperti semua. Setelah tiga tahun berjalan otak Yeri baru bekerja untuk memikirkan kepergian Eunwoo menuju Amerika. Padahal Yeri sangat tau bisnis Eunwoo sudah besar di Amerika, kenapa tidak sejak lama otaknya mencair? Apa Yeri sebodoh itu? Sebenarnya bukan otak Yeri yang memikirkannya. Otak Jirae lah yang mencari nama bisnis Eunwoo sehingga bertemulah foto-foto terbaru dari Cha Eunwoo. Bukan hanya Eunwoo, Jimin tidak luput dari pencarian mereka sehingga ditemukannya foto Hanzo yang sedang memeluk Esmeralda di Las Vegas ini.


Yeri menatap dari depan gerbang rumah yang dulu pernah ia tempati beberapa tahun bersama Eunwoo dan Irene. Yeri sepertinya ingin menangis terlihat dari matanya yang mulai berkaca-kaca. Yeri mencoba membuka pagar rumah itu tetapi sebuah lengan besar menahan kegiatan Yeri. "Maaf apakah Nyonya sudah membuat janji temu dengan Tuan atau nyonya muda?"


"Aku tidak perlu izin atau janji untuk memasuki rumahku sendiri" Yeri malas menjelaskan siapa dirinya, mereka berdua menerobos mencoba masuk ke dalam rumah. Lagi ketika membuka pintu tangan penjaga rumah itu menghalangi. "Pergi sebelum aku berbuat kasar"


Sudah hampir empat jam bahkan ini sudah jam makan siang, Yeri dan Jirae masih menunggu di depan pintu rumah. Penjaga itu sudah sangat keterlaluan sampai mengadakan kegiatan tarik menarik. "Nyonya kau harus pergi" usir penjaga.


Pria bertubuh besar itu menarik-narik Yeri dan Jirae untuk segera pergi dari sana. Eunwoo selalu berpesan jika tidak membuat janji jangan izinkan dia masuk, penjaga itu terlalu takut kehilangan pekerjaan dan lebih takut melihat tatapan sinis manik Eunwoo.


"Awh....." Belum sampai di luar pekarangan Yeri terjatuh sebab kegiatan tarik-menariknya. Kaki kecil itu terluka dengan darah yang keluar dari sana, sebenarnya tidak parah tapi jujur itu perih. Penjaga hanya membiarkan Yeri yang menyeringit. Suara mesin mobil kian mendekat Yeri belum juga beranjak dari tengah jalan menuju garase, mau tak mau mobil itu berhenti di dekat Yeri.


Ini yang Yeri cari, atensi suaminya yang sangat ia rindukan lebih dari apapun. Cha Eunwoo keluar dari mobilnya menghampiri Yeri yang masih terduduk di sana. Yeri menengadah menatap wajah Eunwoo yang gelap karena membelakangi matahari. "Kenapa tidak menyeretnya secara paksa keluar dari rumahku" detik itu juga air mata Yeri keluar dengan sia-sia, ucapan Eunwoo itu menyakitkan. Mereka belum bercerai mereka masih sah suami istri tapi Eunwoo menelantarkannya begitu saja.


Jirae menarik tangan Yeri untuk berdiri memapah temannya untuk segera pulang, Jirae tak mau hati Yeri semakin hancur hanya karena ucapan Eunwoo yang pedas. Eunwoo menoleh menatap kepergian Jirae dan Yeri. Eunwoo ingin sekali memeluk tubuh kecil istrinya mengucapkan kata rindu yang sudah sangat besar, tapi Eunwoo gelap mata hanya memikirkan egonya yang membenci Yeri. Yang benci itu hanya tubuhnya tapi lain dengan hati Eunwoo yang sangat mencintai Yeri. Wanita cantik itu adalah cinta terakhirnya cinta yang selalu ada hingga ia mati.


Manik Eunwoo tak sengaja melihat darah yang sedikit mengalir melewati betis istrinya, terlebih-lebih Yeri berjalan pincang dengan tumpuan Jirae. Eunwoo paling tidak bisa melihat Yeri terluka dan menangis. Yeri sedikit terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba melayang. Eunwoo membawa Yeri ke dalam gendongannya, dua sejoli itu sekarang sudah tidak menganggap keberadaan Jirae dan penjaga. Mereka asik saling melu*mat bibir menyalurkan rasa rindu yang sudah membuncah. "Jangan terluka dan menangis, kau membuatku sakit"


Wendy berjalan tertatih berpegangan pada dinding. Nafasnya bersaut-sautan seakan ada yang memegang lehernya untuk menghalangi jalan udara. Dengan sigapnya Jimin menggendong tubuh pucat Wendy untuk dibawa ke rumah sakit. "Sakitmu kambuh lagi?"