Games In Home

Games In Home
First Night Or Last Night // Last



Sunyi, Jimin hanya mendiamkan dirinya dalam keadaan sunyi rumah Cha Eun Woo. Jimin disuruh menyelinap masuk ke rumah itu di tengah malam atas suruhan Seulgi. Pria itu sudah mengirimkan pesan kepada Seulgi bahwa dirinya sudah di dalam rumah tersebut. Jimin hanya diam duduk di anak tangga paling atas tepat di depan kamar Seulgi yang berada di lantai atas. Pria Ryu itu menghisap sebatang rokok di sana, pikirannya kelut sebab besok adalah hari pernikahannya, Jimin belum siap sama sekali untuk menikah dengan Jirae kembali. Di lain tempat Seulgi membawanya bertemu di tengah malam seperti ini, apakah gadis itu akan membunuhnya?


Seulgi membuka pintu kamarnya, menyerderkan tubuhnya di konsen pintu. Menatap punnggung kekasihnya yang terhenyak, Seulgi sedih melihat adanya asap di dekat Jimin. Memang Jimin itu sudah merokok sejak jaman sekolah tapi disaat ia ketahuan Seulgi, anaknya itu langsung melarang, sekarang untuk pertama kalinya Seulgi melihat Jimin merokok kembali. Cahaya ruangan itu redup, hanya ada lampu bewarna kuning yang dihidupkan sebab hari sudah malam. Pancaran cahaya tersebut semakin membawa kesan yang mendebarkan.


"Ekhem ekhem" Seulgi berdehem pelan membuat atensi Jimin bangkit dan berjalan ke arahnya. Jimin menyeringit melijat tampilan Seulgi yang hanya memakai lingerie satin bewarna abu-abu mengkilap yang berbahan tipis, nyaris transparan. Paha jenjang gadis itu terlihat begitu saja, bagian dada baju itu sangat jauh ke bawah sementara lengan pakaian itu hanya sebesar kelingking, bukan lebih tepatnya lebih kecil dari kelingking.


Jimin menatap Seulgi dari ujung kakinya sampai ke ujung rambut, sangat menggoda. Rambut hitamnya, wangi yang menyeruak menerpa sopan hidung Jimin. Riasan tipis-tipis di wajahnya itupun terlihat begitu indah. Bibir manisnya memakai lipstik merah peach, bibir itu terlihat semakin berisi ketika tangan pintar Seulgi menghiasinya.


Kedua tangan Seulgi memegang segelas wine yang sudah dipermentasi sejak lama, jangan lupakan harganya pasti sangat fantastis. Seulgi menyodorkan segelas wine itu kepada Jimin, tangannya yang kosong menarik rokok itu dari bibir kekasihnya, menjatuhkan rokok itu ke lantai dan menginjak hingga apinya padam.


Crying


Jimin dan Seulgi bersulang, meneguk cairan bewarna merah pekat tersebut. Jimin meminumnya sampai habis berbeda dengan Seulgi yang menikmatinya secara perlahan. Seulgi memajukan diri beberapa langkah, berjinjit demi bisa menyatukan kedua bibir mereka.


Cup


Tidak ada lum*atan, bibir itu hanya menempel di sana. Walaupun hanya menempel mereka melakukan kegiatan itu sedikit lebih lama hingga Jimin menggunakan tangannya yang kosong untuk menarik tengkuk Seulgi. Memperdalam ciuman mereka dan mulai saling melu*mat. Bibir itu sudah candu untuk Jimin, tapi dengan posisi di depan pintu membuat mereka tak menyadari sedang di pertontonkan oleh 6 mata dari sudut yang lain.


Seulgi memutus lum*atan itu. Menatap manik Jimin dengan seksama. Menarik tangan Jimin untuk masuk ke kamarnya dan tidak lupa Seulgi menutup pintu.


"First night or last night Daddy?" Panggilan itu bukan panggilan untuk menyapa seorang ayah, Jimin tau pasti nada seperti itu adalah nada yang menggoda mengalun pada telinganya.


Eunwoo terlihat sedang marah bahkan pria itu sudah mulai melangkah menuju kamar Seulgi. Tapi untunglah tangan Jirae menahan pergerakan Eunwoo dengan menarik tangannya. Jirae menggeleng pelan dengan manik memohon. Jirae sudah cukup egois biarkan untuk sekali saja Jimin bahagia di dalam hidupnya.


Eunwoo menarik nafasnya, mendekap tubuh Jirae di dalam lingkaran kedua lengannya. Yeri yang melihat suaminya berpelukan hanya biasa saja, bukankah Jirae memang butuh sebuah sandaran? Yeri yang sempat mendapat pengakuan Jimin bahwa ia mencintai Seulgi saat mabuk itu tidak terlalu dibawa serius oleh Yeri karena tak terlalu percaya. Tapi setelah melihat apa yang terjadi tadi sudah membuktikan Jimin dan Seulgi adalah orang yang saling mencintai satu sama lain.


Pagi sudah menunjukan pukul 3 dini hari, Seulgi terganggu dari lelap nyamannya. Bangun pagi ini adalah pagi terindah di mana ia terbangun di pelukan Jimin. Pria itu masih nyenyak mengejar alam mimpinya. Seulgi melepas secara perlahan pelukan Jimin dan menghadap pada Jimin. Wajah damai itu terlihat indah tapi di sana terlihat raut putus asa. Seulgi menaikan selimut itu sebatas dada Jimin demi menutupi tubuhnya yang tak tertutup pakaian supaya Jimin tidak kedinginan.


Mengingat kejadian semalam Seulgi jadi malu sendiri. Apakah dirinya terlalu berani? Seulgi tidak memikirkan masa depannya? Peduli apa Seulgi, hidup di negara seperti ini bahkan negara kelahirannya sendiri tak mementingkan virginnya seorang wanita. Negara yang selama ini Seulgi duduki selalu negara bebas, apalagi sekarang Seulgi berada di Amerika di mana pergaulannya semakin bebas saja. Seulgi tidak akan pernah menyesal sudah melakukannya. Asalkan itu Jimin ia tidak apa.


Seulgi menggoyangkan sedikit tubuh Jimin, hingga pria itu melenguh dan kembali tidur. Kali ini Seulgi membangunkan Jimin sedikit lebih keras mengguncang tubuhnya. Hingga Jimin terbangun dan menatap Seulgi. Cantik, satu kata yang bisa Jimin ucapkan jika melihat Seulgi.


"Pulanglah sebelum Papa tau, bukankah besok hari pernikahanmu?"


"Kau mengikhlaskan diriku? Bahkan diriku sendiri saja tidak mengiklaskan diriku diambil orang lain selain dirimu"


"Apa aku harus memasukan zat adiktif berbahaya di infus putrimu supaya kau batal menikah dan menikahiku?"


"Ntahlah Seulgi aku belum siap"


"Besok aku melihat kau yang aku cintai menikah dengan orang lain, besok aku melihat mantan kekasihku menikah"


"Kau masih mencintainya?"


"Tidak, aku hanya mengingat semua janji-janjinya"


"Bukankah hidup ini dimenangkan oleh Papa Eunwoo dan Wendy?" Tanya Seulgi.


"Kenapa begitu?"


"Bukankah Jirae juga seorang pemenang di sini?"


"Hahaha ku rasa iya. Mereka bertiga pemenangnya"


"Pulanglah sehelum Papa tau"


Jimin mengangguk, memasangkan kembali baju yang memang sudah tak terpasang. Sebelum keluar dari ruangan itu Jimin memeluk erat tubuh Seulgi. Kebenarannya adalah Seulgi seorang wanita yang pasti akan menangis jika menghadapi hal tersebut. Gadis itu tersedu memeluk erat tubuh kekasihnya yang beberapa jam lagi akan beralih menjadi suami orang. Apakah Seulgi bisa melihat hal itu? Seulgi menyesal pernah berdoa agar Jimin menikah lagi.


Jimin melepas pelukan itu, mulai melangkahkan kakinya menuju pintu untuk segera pulang. Tapi lagi-lagi Seulgi menahan tubuhnya. Menyatukan kedua bibir mereka. Kulit pipi mereka merasakan hal panas, ntah itu milik Jimin atau Seulgi yang pasti mereka sama-sama menangis. Apakah ini akhir semuanya?


"Berjanjilah padaku untuk mendapatkan seseorang yang lebih indah dariku" ujar Jimin menatap mata sendu gadisnya.


"Kau yang terindah, berjanjilah untuk melakukan yang terbaik pada istrimu nanti"


"I love you Ryu Jimin"


Jimin membuka pintu kamar tersebut dan menutupnya pelan. Menyandarkan punggungnya di sana, meredakan tangisnya yang menyesak keluar. Kenapa kejadian lama itu kembali terulang pada dirinya? Kenapa dirinya harus selalu terpaksa?


"I love you more Ryu Seulgi"


......


Pernikahan sakral antara Jimin dan Jirae serta pernikahan Suga dan Wendy, sudah selesai sejak siang tadi. Jangab tanyakan bagaimana tangis Seulgi yang pecah di pelukan Eunwoo. Hanya Eunwoo yang bisa ia jadikan untuk sandaran saat ini, tidak satupun pria selain ayahnya sendiri yang bisa ia percayai. Hati gadis itu seperti tertusuk dari segala macam arah melihat Jimin beralih menjadi suami Jirae.


Wendy tersenyum melihat atensi Suga yang begitu tampan, ini malam pertama mereka. Wendy begitu bersyukur bisa memiliki Suga yang begitu tulus walaupun pria itu tau umur Wendy sudah tidak lama, hanya satu bulan. Pria itu rela menjadi duda hanya untung mengikat Wendy. Mereka tertawa bersama ketika bisa saling berpelukan hangat sambil menonton tayangan kesukaan Wendy. Dengan tangan kiri Suga menjadi bantal gadis itu, bukankah mereka terlihat begitu bahagia tanpa menuntut kelebihan dan tidak mengungkit kekurangan?.


Mari beranjak ke kamar Jimin dan Jirae. Mereka terlentang di kasur menatap langit-langit kamar. Hanya penuh sunyi tanpa ada sedikitpun kata-kata. Jirae sesekali mencuri pandangan ke arah Jimin yang diam mematung. Pikiran Jimin kacau hanya karena memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Apa yang terjadi kepada Seulgi? Di dalam pikiran pria itu hanya ada Seulgi Seulgi Seulgi dan Seulgi.


"Aku tidak bisa menjalani pernikahan ini, tapi aku akan berusaha" ujar Jimin datar memunggungi istrinya, Jirae pun ikut memunggungi Jimin. Jirae tau Jimin menangis, tapi di sini bukan hanya Jimin yang menangis tapi dirinya juga. Kenapa hidup ini susah sekali untuk di jalani?


Kamar pasuntri lama ini hanya ada suara helaan nafas yang teratur. Beruntungnya Eunwoo bisa meluluhkan Yeri walaupun mereka menikah atas dasar perjodohan. Lihatlah istri cantiknya itu sedang tertidur pulas di dalam pelukannya. Eunwoo dan Yeri bersyukur bisa sampai di titik ini, yang mana untuk mencapai titik tersebut bukanlah hal yanh mudah untuk di capai. Haruskah Jimin mencontoh mereka saja?


"Bagaimana dengan menaruhkan motormu saja Floryn Cha" Seulgi menyeringai, menurunkan kaca helmnya untuk menutupi seluruh bagian wajahnya. Pria bongsor itu rupanya menantang dirinya, sungguh dia salah orang. Berakhirlah kesedihannya ia lampiaskan dengan berada di sirkuit balap liar ini.


Mereka memulai balapannya, Seulgi hanya perlu memutari sirkuit itu selama 3 kali untuk membawa pulang uang sebagai barang taruhan. Seulgi tidak akan takut mati dengan memakai kecepatan paling tinggi, memang matilah tujuan awal Seulgi. Akhirnya ia benar-benar memenangkan balapan tersebut.


Seulgi tetap melajukan motornya walaupun ia sudah sampai pada kemenangannya. Seulgi sama sekali tidak butuh uang itu lagi ketika melihat sebuah truk tronton sedang melaju tak jauh dari sirkuit. Untuk terakhirnya Seulgi mengenang wajah Jimin dan melajukan motornya ke arah depan mobil tronton itu.


BRUK!!!!


Seulgi terguling di tengah jalan ketika mobil teronton itu menyenggol ekor motornya. Seulgi duduk dari baringannya menatap malas ke arah mobil teronton yang banting setir hingga menabrak pembatas jalan. Seulgi berdiri membersihkan debu yang menempel di bajunya. Apa tuhan belum ingin ia mati? Bahkan jatuh dari motor saja Seulgi hanya kotor tidak ada luka sedikitpun. Gadis itu membuka helmnya, melempar sekuat tenaganya hingga helm itu menambrak aspal keras, helm itu mahal Seulgi.


"Sialan kau tronton brengsek"


ENDING