Games In Home

Games In Home
Meet Mom



Seulgi dengan nyaman memeluk tubuh Jimin berbaring di kasur king size di kamar tidur Jimin. Aroma khas Jimin menguar melingkupi hidung Seulgi apalagi dengan posisi kepala Seulgi berada di dada bidang Jimin. Dengan mudahnya parfume mewah bahkan aroma alami tubuh Jimin yang memabukkan mampu membuat Seulgi lupa akan pertengkaran mereka tempo hari lalu. Hati Jimin yang semingguan ini berjamur sebab tak disiram cinta Seulgi kembali berbunga-bunga karena merasa telah disirami kembali oleh Seulgi. Membiarkan Seulgi yang memainkan telunjuk di dadanya menulis dan melukis yang mampu membuat darah Jimin berdesir. Denyut jantung pria itu terdengar sangat jelas masuk di telinga Seulgi bahkan bisa merasakan naik turun dada itu.


Seulgi sedang asik berbicara bersama Bae Irene yang mana temannya itu selalu membuatnya tertawa dan jangan lupakan keberadaan Wendy yang juga asik bercengkrama bersama. Tapi dering ponsel membuyarkan semuanya mau tak mau Seulgi harus menjawab sambungan panggilan dari benda persegi pintar itu. Sedikit menjauh dari Wendy dan Irene.


"Untuk apa?"


"Baiklah, dalam waktu 15 menit aku sampai"


Seulgi merasa sedikit takut sosok penelfon tadi tanpa kenal mengajak dirinya bertemu di tempat makanan mahal seperti ini bahkan penelfon itu sudah memesankan makanan beserta minuman yang sudah tertata siap makan. Orang asing mengancam jika Seulgi tidak datang maka ia akan mencelakai Jimin. Mau tak mau Seulgi harus datang. Dengan tanpa aba-aba wanita bersurai panjang tiba-tiba menarik kursi yang berada di depannya lalu duduk di sana. Seulgi sama sekali tidak mengenalnya apalagi wanita itu menggunakan masker. Rasanya Seulgi tak pernah bertemu dengannya seumur hidup ini. Sampai disaat wanita itu membuka maskernya menampilkan wajah cantik penuh polesan make up yang cantik. Cantiknya membuat Seulgi tak mengalihkan sedikitpun matanya. Untuk sekarang secara samar-samar Seulgi tau pasti siapa yang duduk di depannya sekarang.


Menjulurkan tangannya sontak saja Seulgi menjabat tangannya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik wanita di depannya. Wanita itu hanya menampilkan Senyum manisnya, senyum itu mampu membuat air jatuh dari pelupuk matanya. Hari ini adalah hari yang selalu Seulgi impikan rasanya Seulgi sedang bermimpi ia bisa bertemu wanita secantik itu. "Aku jirae" Jirae? Seulgi tidak salah dengar dan tidak salah lihatkan? Atensi ibu kandung yang selama ini Seulgi rindukan kini berada tepat di depannya. Tanpa ragu dan tanpa izin Seulgi langsung saja memeluk Jirae, menangis tersedu di bahunya bahkan Jirae dapat merasakan bagaimana bergetar nya tubuh Seulgi yang separuh bertumpu pada tubuh yang berpusat pada bahunya. "I ibu kemana saja hiks?" Jirae tak menjawab pertanyaan tersebut hanya saja Jirae mengusap punggung anaknya. Sudah sangat lama tidak bertemu.


Usapan tangan Jirae sangat lembut mungkin saja ini yang dinamakan tangan ajaib seorang ibu. 19 tahun berlalu apakah ini rasanya tangan seorang ibu? Selama itu Seulgi tidak pernah sedikitpun menyentuh bagian tubuh ibunya bahkan untuk secuil saja tidak pernah. Isakan Seulgi reda hanya dengan rasa sejuk yang menerpa punggungnya. Pada akhirnya, mau bagaimanapun Jimin menyembunyikan Jirae dari Seulgi tetap saja ikatan batin seorang anak dan ibu tidak akan putus. "Jangan beritahu ayahmu, atau kau akan dipisahkan lagi dariku, aku tidak mau jauh lagi darimu Seul"


Seulgi mengangguk sebagai jawaban, bukan hanya Jirae yang tak mau jauh tapi Seulgi juga. Rasanya setelah bertemu dengan Jirae Seulgi tak mampu lagi untuk berpisah lagi di dalam rentan waktu yang panjang.


Jimin tak hentinya memperhatikan kerut wajah yang Wendy ciptakan di saat ia berkutat dengan tugas sekolahnya di ruang tamu rumah Jimin. Yah Wendy manih menumpang dan hal itu tak membuat Jimin sedikitpun keberatan. Jimin yang hanya memiliki niat untuk pergi ke taman depan terhenti ketika melewati Wendy. Sepertinya gadis itu bingung akan susahnya tugas kuliah. Jimin duduk di sana menyapa Wendy yang tak menjawab sapaan Jimin sebab terlalu fokus mengerjakan tugasnya. "Mau kubantu? Biasanya aku membantu Seulgi dan sekarang kau anakku di rumah ini jadi mari kubantu" Tawaran Jimin membuat mata Wendy memerah ingin menangis rasanya.


Wendy mendongak menatap manik pria yang berada di dekatnya, menatap lekat tak bisa dialihkan. Jimin justru bingung kenapa gadis itu melihatnya begitu intens, Jimin jadi merasa ada uang aneh di wajahnya. Ntahlah, Wendy tak tau gelombang apa yang menerpa dadanya kias memperhatikan wajah Jimin membuay Wendy ingin memeluk pria itu dan menangis tersedu-sedu di bahu tegapnya. "Kau kenapa?" Pertanyaan Jimin masih belum bisa membuat manik Wendy teralihkan. Pria itu terkejut ketika Wendy tanpa aba-aba langsung memeluk tubuhnya dan lebih membuat terkejutnya kenapa Wendy menangis begitu kencang hingga membuat tubuh Wendy bergetar.


"Hiks baru paman pria yang memanggilku anak, sejak bayi aku tidak punya ayah..." Ujaran penuh isak itu sudah cukup untuk menjelaskan keadaan Wendy sekarang. Jimin selama ini tidak tau jika Wendy tidak punya ayah sejak bayi. Jimin yang mengerti tanpa ragu mengusap sayang punggung gadis kecil yang bergelayut di lehernya. "Panggil aku seperti Seulgi memanggilku. Aku ayahmu sekarang" penuturan lembut Jimin membuat Wendy semakin terisak. Terlalu senang memiliki seorang ayah yang akan melindunginya menyayanginya. Selama ini Wendy sering melihat betapa dekatnya Seulgi dan Jimin membuat hatinya pilu sebab tak pernah merasakan bagaimana rasanya punya ayah, dari telapak tangan Jimin yang mengusap mampu membuat Wendy merasa memiliki ayah. "Berhentilah menangis, aku di sini, Daddymu di sini"


Tubuh Wendy menghangat mendengarkan lagi-lagi 4 lengan sedang mengepung dirinya. Itu adalah lengan Seulgi dan Jimin yang sedang memeluknya. Dari tadi Seulgi berdiri di ambang pintu mendengar semua isakan pilu Wendy di pelukan ayahnya. Seulgi sudah menganggap Wendy sebagai saudaranya dan apa salahnya saudara berbagi ayah? Lagi pula Seulgi merasa iba jika tidak menerima Wendy, toh Wendy sudah sangat merasa senang memiliki Jimin.


"Selain ada Daddy, ada aku saudaramu"


Bukan kah ini sebuah kebetulan, Wendy memiliki seorang ibu dan tidak dengan seorang ayah, Seulgi memiliki seorang ayah dan tidak dengan seorang ibu. Rasanya Seulgi ingin sekali menjodohkan Ibu Wendy dengan Jimin. Tapi itu tidak mungkin, rencana Seulgi tetap akan menyatukan kembali Jimin dan Jirae.