Games In Home

Games In Home
Past Life



Eunwoo menepuk pelan bahu teman laki-lakinya, teman yang sudah menemaninya sejak ingusnya masih meleleh. Tidak bisa dibayangkan seberapa dekatnya mereka, pertemanan yang sangat lekat hingga saat ini. Eunwoo mendapat enam sorot mata tajam mengarah padanya. "Kau tau Eunwoo, kami sudah menunggumu selama setengah jam di sini". Eunwoo menaikan kedua bahunya acuh. "Kemari kau Song Eunwoo, biar kucabik-cabik tubuhmu"


"Maaf Joyi~aa, ulangan mendadak. Aku tidak bisa meninggalkan hal itu. Kau tau bukan aku termasuk siswa dengan nilai terbaik. Aku tidak akan melepas gelar itu".


"Siswa pintar mana yang selalu memanjat pagar?" Ujar Yeri kesal.


"Kalian akan terus bertengkar? Lebih baik kalian mulai memanjat pagar dan kita bersenang-senang. Untuk hari ini Eunwoo yang bayar" Eunwoo menatap tak senang pada pria kecil yang sudah melompat ke luar sekolah. Mentang-mentang ia terlambat sialan Jimin itu bisa menetapkannya begitu saja.


Ruang karaoke, di sinilah empat siswa nakal itu berada. Di dalamnya juga terdapat satu siswa dengan otak cerdas yang mampu mendapat nilai terbaik di sekolahnya. Tetapi mengapa ia mau-mau saja dibawa kepada hal-hal yang buruk. Eunwoo mengaku bolos di jam belajar memang menyenangkan, terkadang ia menyesal sudah banyak hari ia lalui di luar sekolah. Semua ini Eunwoo lakukan demi bertemu Yeri dengan leluasa. Eunwoo sudah lama tertarik pada gadis Park itu, ini semua berawal di saat kelas pertama. Kenapa tuhan itu mempertemukan empat manusia biadab itu di dalam satu ruangan, membuat mereka berempat menjadi sahabat. Hari demi hari mereka lewati, munafik jika mereka tidak saling jatuh cinta.


Pada tahun kedua, Eunwoo terpisah dari tiga temannya. Eunwoo masuk di kelas unggulan siswa nilai terbaik. Hal itu membuat Eunwoo sedikit tidak rela. Mengapa Yeri dan Jimin harus satu kelas? Mengapa kelas Joyi berada di samping kelas Jimin dan Yeri? Mengapa kelas unggulan itu jauh sekali, bahkan kelas unggulan itu memisahkan diri dari bangunan kelas lainnya. Membuat Eunwoo sedikit cemburu dan tidak bisa menatap Yeri sepuasnya.


Jirae menghela nafasnya panjang, menyenderkan kepalanya di bahu seluas samudra milik Eunwoo. Mereka hanya duduk terkadang meneguk cairan berakohol itu. Mendengarkan suara merdu Jimin dan Yeri yang asik bernyanyi.


"Jangan berbohong padaku Song Eunwoo. Kau tertarik bukan?"


"Jangan berbohong padaku Son Jirae. Kau tertarik bukan?"


Mereka menggelar nafas bersamaan tak kembali mengangguk secara bersamaan. Jirae tidak bisa berbuat lebih selain mengagumi Jimin di dalam sunyi, begitu pula dengan Eunwoo yang harus mencintai Yeri dalam kegelapan. Hanya Jirae yang paham perasaan Eunwoo, dan hanya Eunwoo yang paham perasaan Jirae. Mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Yeri dan Jimin sudah saling mencintai bahkan mereka adalah sepasang kekasih sekarang.


Ekor mata Eunwoo melihat pemandangan gak sedap. dasar pasangan mesum, beraninya Yeri dan Jimin berciuman di pojok dinding. Eunwoo menatap mata Jirae seperti ingin menangis. Eunwoo tidak ingin pikiran Jirae semakin terbebani dengan melihat adegan kissing tersebut, sebelum hak itu di saksikan olehnya, dengan cepat Eunwoo memeluk Jirae dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang nya tersebut. "Aku disini untukmu Joyi~aa".


Eunwoo melepas pelukannya ketika adegan bodoh sejoli itu selesai, mengecup singkat kening Jirae. "Ekhem kalian berkencan tanpa memberi tahu kami?"


"A....." Jirae belum sempat menjawab, lengan Eunwoo dengan santai dan cepat merangkul Jirae. "Kalau ia kenapa? Ada masalah dengan kalian?".


"Cieee Eunwoo Jirae, Jirae Eunwoo, Eunwoo Jirae, Jirae Eunwoo" Jimin dan Yeri terkekeh merasa gemas terhadap pasangan yang baru menjalin hubungannya.


"Hei anak pintar, mengapa kau hanya diam di atas roftop disaat istirahat? Biasanya anak pintar, khususnya kau selalu membaca buku apalagi Minggu besok sudah ujian kelulusan"


Jirae menepuk pelan punggung Eunwoo yang terlihat termenung memandangi halu lalang pasa siswa dari atas. Eunwoo menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar.


"Pergilah aku sedang tidak ingin berbicara Joyi" terdengar dingin, Jirae tau Eunwoo sedang dalam fase moody tak ingin di ganggu. Segera saja Jirae pergi dari sana.


Jirae tersenyum menatap piring berisi makan siang yang baru ia beli. Banyak siswa yang memperhatikannya. Untuk pertama kalinya ia berjalan di koridor bagian kelas unggulan ini, pertama kalinya ia mendatangi Eunwoo lebih dulu. Jirae masuk di salah satu kelas di sana, yang pertama kali ia lihat adalah benda yang ia yakini milik Eunwoo di atas meja tanpa ada pemiliknya. Jirae bertanya pada teman sekelas Eunwoo, tidak satupun tau keberadaan anak itu. Jirae sudah melihat ke tempat Eunwoo beristirahat bersama Jimin. Apakah pria itu masih berada di atas roftop? Jam pelajaran akan dimulai 5 menit lagi.


"Kau menangisi Park Yeri hingga kau rela melewatkan jam pelajaran yang kau sukai itu? Kau menangisinya hingga kau rela akan menerima hukuman lagi lagi lagi dan lagi Song Eunwoo?"


"Sebelum ini aku pernah tertarik pada beberapa gadis, tapi hanya Yeri yang bisa membuatku kehilangan akal sehatku"


"Satu bulan lagi kita lulus, dan mereka akan menikah? Baiklah aku bisa menghasut ibuku untuk menjodohkan Yeri denganmu" jangan kalian lupakan bahwa Yeri dan Jirae adalah saudra tiri. Jirae pasti akan menghasut ibunya atas embel-embel kebahagian anak kandung lebih utama dari pada anak tiri.


Ntahlah, ntah bagaimana Jirae mamainkan rencananya sehingga ia bisa membuat Eunwoo dan Yeri menikah, pada awalnya Eunwoo menolak keras cara tersebut, Jirae tidak peduli atas hal itu ia bisa melakukannya tanpa persetujuan Eunwoo. Jirae itu pintar hingga ia bisa mengandung anak Jimin di luar nikah hingga pria itu terpaksa menikahinya.


Jirae senang melihat senyum Eunwoo yang berhasil menikah dengan wanita tercintanya. Sunggu selama 1 tahun Eunwoo yang selalu memperhatikannya membuat Jirae jatuh hati pada Eunwoo, itulah alasan Jirae memaksa Eunwoo menikah sebab ia ingin melihat senyum Eunwoo mengembang, Jirae tidak ingin melihat Eunwoo yang menangis putus asa untuk kedua kalinya. Jirae memutuskan untuk merelakan Eunwoo, dan menikah dengan Jimin. Selama sembilan bulan bersama atas tali pernikahan membuat Jirae kembali mencintai Jimin, rasa yang dulunya hilang sekarang bersemu kembali. Untuk hari ini Jirae tidak akan merelakan Jimin untuk siapapun, karena ia sudah tau betapa sakitnya melihat pria yang ia cintai pergi bersama wanita lain. Jirae sudah mengalaminya dan itu cukup sekali di dalam hidupnya.


Jimin sudah membulatkan keputusannya, setelah anak yang di kandung Jirae lahir, Jimin akan menceraikan Jirae dan akan merawat anak itu seorang diri. Tibalah disaat waktunya bayi itu di lahirkan. Orang tua Jimin sama sekali tak datang sebab Jimin melarangnya. Ia berjanji akan membawa cucu mereka besok ke kota orang tuanya tinggal. Jirae tau otak busuk Jimin, sehingga setelah melahirkan bayinya Jirae meraih onggokan daging yang masih memerah itu dan membawanya pergi menjauh dari sana, sejahat apapun Jirae ia tetaplah seorang ibu yang tidak ingin kehilangan anaknya. Jirae yakin jika anaknya di rawat oleh Jimin anak itu akan mendapatkan kasih sayang dan fasilitas yang mewah. Tetapi Jirae memutuskan untuk merawatnya sendirian, setelah ini Jirae akan mulai bekerja keras untuk menghidupi anak dan dirinya sendiri jauh dari semua orang yang mengenalnya.


Bagaimana dengan rumah tangga Song Eunwoo dan Park Yeri? Yeri tentunya belum bisa menerima Eunwoo sepenuh hatinya. Tidak jauh berbeda Yeri melahirkan seorang anak setelah dua hari Jirae melahirkan, bahkan mereka berada di satu rumah sakit yang sama. Tidak ada yang tau akan hal itu kecuali Jimin yang sempat melihat Eunwoo dan Yeri sedang duduk menatap alat buatan rumah sakit, sepertinya Yeri melahirkan dengan cara operasi. Yeri memutuskan untuk bercerai setelah bayinya lahir, Eunwoo boleh datang kapan saja dan dalam keadaan apa saja untuk menjenguk anaknya. Eunwoo tidak akan pernah setuju, dengan siapapun ia menikah, dengan orang yang tidak ia cintai atau ia cintai. Eunwoo memiliki pemikiran untuk menikah itu cukup sekali selama hidupnya. Yeri sudah berusaha untuk memahami Eunwoo, mereka sudah bersahabat lama, sudah saling mengenal, sudah tau apa yang disukai masing-masing, apa salahnya Yeri sedikit meluangkan hati untuk memberikan Eunwoo rasa cinta? Yah melihat Eunwoo yang menangis sendiri di tengah malam secara tidak sengaja menyentuh hatinya. Yeri akan mencoba untuk sehidup semati bersama Eunwoo, soal perasaan Yeri yakin cintanya akan tumbuh dengan beriringnya waktu.


Jimin sama sekali tidak melihat keberadaan Eunwoo sejak pagi tadi. Jimin memberanikan dirinya untuk masuk menjenguk Yeri. Sudah hampir satu tahun ia tidak bertemu dengan Yeri sebab Eunwoo melarang Yeri untuk pergi kemana-mana, Eunwoo tipe suami yang posesif dan pencemburu. Jimin ikut senang melihat Eunwoo yang merawat dan menjaga Yeri dengan baik. Jimin menceritakan nasib malangnya kehilangan anaknya pada Yeri, bahkan anak itu belum diberi nama.


"Bawa anakku pergi Jimin~aa, orang tuamu akan kecewa jika kau tidak membawa anakmu pulang. Kumohon rawat anakku"


"Kenapa kau memintaku, bagaimana jika Eunwoo bertanya kemana anak kalian pergi?"


"Itu adalah urusanku, bawa anakku pergi"


"Kenapa kau begitu yakin aku akan merawatnya dengan baik?"


"Aku percaya padamu. Suatu hari nanti kita akan bertemu kembali, dimana gadis kecil itu sudah menjadi gadis dewasa yang akan dikenal dengan anak Ryu Jimin"


Yeri meyakinkan Jimin sehingga pria itu dengan berani membawa kabur anak temannya. Hubungan Jimin dan Yeri tidak pernah mereka lerai, tidak ada kata perpisahan untuk sepasang kekasih itu.


Eunwoo membawa Yeri pergi ke luar negeri setelah insiden anak mereka hilang. Lima tahun hidup di luar negeri membuat Yeri ingin kembali pulang. Setelah sampai di tanah kelahirannya, Eunwoo menemukan gadis kecil berumur 5 tahun yang duduk menangis kehilangan orang tuanya. Gadis itu membawa kertas kecil dengan tulisan "jagalah putriku". Eunwoo menggapainya, mengecup singkat pipi manisnya.


Yeri terkejut anak siapa yang dibawa pulang Eunwoo setelah bekerja. Eunwoo mengutarakan keinginannya untuk mengadopsi anak tersebut. Yah itulah Bae Irene.