
Jimin menarik nafasnya dalam sudah satu minggu ia belum bertemu dengan Seulgi. Jimin belum siap bertemu Seulgi lagi, Jimin rasa Seulgi sudah tau semuanya dari mulut Eunwoo. Sekarang mungkin sudah waktunya untuk bertemu kembali, Jimin sudah menunggu Seulgi untuk datang. Jantung pria Ryu itu berdegup kencang rasanya Jimin ingin menenggelamkan tubuhnya di laut Antlantik.
Jimin terkejut ketika sebuah bibir mungil menyentuh bibirnya, Seulgi itu berani sekali mengecupnya secara tiba-tiba. Jimin memandang Seulgi yang terlihat biasa saja seperti tidak asa masalah. "Papa mengucapkan apa?" Tanya Seulgi.
"Eunwoo tidak memberi tahumu?"
"Papa bilang dia tidak ingin ikut campur dalam masalah kita, jadi Papa menyuruhku untuk langsung bertanya padamu"
"Eunwoo memarahimu?"
"Tidak, papa bisa saja"
Jimin menatap senyuman manis yang ditebarkan oleh Seulgi sore ini, senyum itu lebih bagus dari matahari tenggelam yang dipertontonkan di pantai, hal indah yang Jimin punya adalah Seulgi, Jimin takut Seulgi akan pergi menjauh bahkan terpaksa menjauh darinya. Jimin tidak kuat.
"Kita tidak dapat restu" Pria itu tertunduk ia tidak sanggup melihat ekspresi Seulgi yang berubah secara drastis, senyum yang kembang seluruhnya sekarang menguncup. Seulgi jadi tidak tega melihat susahnya keadaan Jimin, terlihat pasti ketika pria itu terlihat sangat susah untuk bernafas.
"Kau masih ayahku kan? Apalagi sekarang kau kekasihku, antar aku berbelanja kau yang bayar" Seulgi bangun dari duduknya menyandah tas itu di leher Jimin dan menarik tangan Jimin untuk meninggalkan tempat tersebut. Sakit, melihat Jimin yang putus asa itu ada pemandangan langkah membuat Seulgi tidak tega.
Malam sudah menunjukan pukul 9 Seulgi dan Jimin masih terhenyak di bangku menatap indah luasnya bentangan air. Seulgi senang bisa kembali melihat senyum Jimin di hari ini, gadis itu berhasil mengalihkan perhatian Jimin dengan hal-hal yang bisa menenangkan pikiran. Seulgi membawa Jimin berbelanja, menonton, berkeliling dan banyak lagi. Seulgi merasa puas akhirnya ia bisa menghabiskan waktu bersama setelah hampir tiga tahun berpisah.
Semilir angin berhembus menerpa kedua insan yang sama sekali tak berbicara, mereka menikmati suasana sunyi dengan cahaya bulan memasuki Indranya. Bahu tegap itu menjadi sebuah sandaran ternyaman tempat sang gadis untuk beristirahat. Gelombang kecil itu terlihat indah menyejukan pikiran.
Mereka berdua diam menikmati suara dari reranting pohon yang saling beradu karena angin dan suara gelombang air. Seulgi melirik wajah bersih Jimin dengan akor mata tanpa memalingkan kepala. Wajah itu terlihat kelut oleh pikirannya sendiri, Seulgi tau Jimin sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Bawa aku pergi jauh dari sini" lirih Seulgi.
"Kau bukan milikku lagi, atas nama hukum kau bukan anakku lagi. Aku tidak punya hak"
"Nikahi aku jauh dari mata Papa Eunwoo"
"Aku bukan pria pecundang Seulgi"
Seulgi meneggakan punggungnya, sedikit menyamping menarik wajah Jimin untuk menatap dirinya. Mata pria itu terlihat berkaca-kaca seakan ingin menangis saja, Seulgi sangat tau pria itu sedang menahan tangisnya sebisa yang dirinya bisa. Seulgi tersenyum sedih kenapa nasib buruk ini menimpa Jimin? Apa Seulgi harus merelakan Jimin dengan orang lain? Jimin sudah cukup menderita merawat dirinya sejak kecil, karena ada Seulgilah Jimin tidak berniat mencari istri lagi. Jimin itu butuh pendamping seharusnya Seulgi tidak boleh egois.
"Bawa aku Jimin~aa"
"Tanggung jawabku sepenuhnya ada pada Wendy"
Jimin menggeleng, Seulgi tidak tau seberapa rapuhnya Wendy. Untuk dibawa ke sana ke mari itu tidak mungkin. Wendy butuh istirahat dan teknologi yang canggih untuk kesehatannya sangat cocok jika mereka berada di Amerika.
Seulgi menarik nafasnya dalam, menyentuh dagu Jimin dan menedekatkan wajah mereka. Semakin dekat semakin miringlah kepala Seulgi. Menyatukan dua labium lembut dan saling melu*mat satu sama lain. Awalnya ciuman itu terjalin sepihak sehingga tiba lah waktunya Jimin menarik tengkuk Seulgi dan memperdalam lum*atan itu. Ciuman penuh cinta tanpa adanya nafsu. Apa ini adalah moment terakhir mereka? Jimin dan Seulgi merasa inilah akhirnya, setelah ini apa mereka akan menjalani hidup masing-masing seperti orang yang tidak saling mengenal?
Benar adanya jika cinta itu tajam, bisa menghancurkan apa saja. Cintalah yang menghancurkan pertemanan Eunwoo dan Jimin, cintalah yang menghancurkan persaudaraan tiri antara Jirae dan Yeri, cintalah yang merenggangkan persahabatan Wendy dan Seulgi, sekarang cinta akan menghancurkan hubungan ayah dan anak. Sejahat itukah cinta? Jika cinta itu jahat kenapa semua orang ingin dan pasti jatuh cinta? Padahal mereka tau ini menyakitkannya.
Tidak tau air mata siapa yang memanasi pipi mereka berdua. Ntah air mata dari keduanya atau salah satu dari mereka. Lum*atan itu masih terhubung, menikmati setiap inci bibir masing-masing. Seulgi sedikit terisak, mendengarnya segera saja Jimin melepas ciuman itu dan mengusap air mata Seulgi yang jatuh. Pria itu memalingkan wajahnya ke samping menghapus air matanya yang mulai berjatuhan demi tidak menampakan seberapa rapuhnya ia di hadapan Seulgi.
Seulgi menghanturkan tubuhnya ke dada Jimin, memeluk erat tubuh laki-laki itu. Seulgi tidak sekuat itu untuk tidak tersedu-sedu di bahu Jimin. Berbeda dengan Seulgi yang menampakan ya secara terang-terangan, Jimin hanya bisa menangis di belakang tubuh Seulgi, Jimin tidak mau membebani pikiran Seulgi.
Drt drt drt...
Jimin mendekatkan ponselnya mendengar apa yang diucapkan orang yang berada di seberang sana. Seulgi saat melihat wajah panik Jimin yang terlihat begitu terkejut. Apa Jimin punya masalah?
"Seulgi kau bawa saja mobilku pulang aku tidak bisa mengantarmu, aku harus pergi memakai bus" setelah memberikan kunci mobilnya Jimin berlari, bahkan Seulgi belum sempat menanyakan apa yang terjadi sehingga Jimin lari dengan kencang.
Keringat itu muncul membasahi pelipisnya menghadap ke kiri ke kanan memastikan ada sebuah bus atau taxi yang akan melewati jalanan itu. Nyatanya malam sudah menunjukan pukul 11 tidak satupun bus maupun taxi yang masih beroperasi. Hampir 10 menit Jimin beridiri menunggu hingga ponselnya kembali berdering melihat beberapa panggilan dari Jirae, bukan hanya Jirae Eunwoo, Yeri, dan Irene pun ikut menelfon nya. Pikiran Jimin kelut, di jalan sepi ini tidak akan ada mobil yang lewat akhirnya Jimin memutuskan berlari sekencang yang ia bisa menuju Rumah sakit.
"Ji cepatlah Wendy butuh donor sumsum" Jimin semakin panik melihat pesan Wendy sambil berlari. Hingga sebuah motor sport putih menghampirinya. Jimin yakin itu bukan motor Seulgi. "Sekencang apapun kau berlari menuju bus di jalan itu, semakin lama kau sampai. Ada perbaikan jalan ini saja aku meminjam motor temanku. Naik sebelum kau kehilangan Wendy"
Seulgi melajukan motornya sekencang yang ia bisa, ia tidak peduli ada mobil ataupun motor yang sedang berada di jalan semuanya Seulgi lalui demi mempertemukan Jimin dengan sahabatnya Wendy. Pikiran Seulgi tak jauh berbeda, ia baru mendapat kabar ketika berada di jalan macet seberang sana dari Irene, melihat temannya yang bisa mendahului banyak pengendara dengan motornya sontak Seulgi meminjamnya karena keadaan yang mendesak. Kenapa Wendy tidak pernah cerita kepadanya atau Irene? Nyatanya Jiminlah orang pertama yang mengetahui semua penyakitnya.
Sampai di rumah sakit Jimin langsung berlari meninggalkan Seulgi yang masih memarkirkan motornya menuju ruang donor sumsum. Saking seringnya Jimin sudah sangat hafal semua lorong-lorong di rumah sakit. Setelah pengambilan sumsum Jimin bergabung bersama Eunwoo dan lainnya yang berada tepat di depan ruang operasi Wendy.
Jirae terhenyak di lantai dingin rumah sakit. Yeri yang mengerti pun memeluk Jirae dengan mengelus punggungnya demi menenangkan Jirae. Jimin juga sama terhenyaknya di dalam pelukan Seulgi yang menjadi penyejukya sekarang.
Tak tau berbeda Irene ikut menangis bertamengkan tubuh Eunwoo sebagai penenangnya. Pemikiran Irene dan Seulgi selalu terlintas kenangan bersama Wendy selama bertahun-tahun berteman, kenapa Wendy tidak pernah bercerita?
"Daddy kau harus tenang ya, Wendy pasti baik-baik saja"
Pintu ruang operasi itu terbuka sontak tubuh mereka uang terhenyak berdiri mengelilingi dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Nona masih dalam keadaan kritisnya hanya Tuhan yang bisa mengubah segala takdir, kami sudah tidak bisa menyelamatkan Nona Esmeralda. Semua ada di tangan tuhan, dalam tiga jam ke depan jika Nona bangun dari tidurnya maka ia selamat dan jika dalam tiga jam Nona tidak kunjung terjaga itu artinya tuhan lebih menyayanginya. Satu lagi jika Nona Esmeralda bisa terjaga sesuai prediksi dan ponisan banyak dokter yang terhubung ke dalam kesehatan Nona Esmeralda sudah memutuskan umur nona Esmeralda hanya kurang lebih 1 bulan. Terima kasih saya permisi kalian bisa melihatnya"