
Ntah apa dosa Jimin, baru satu hari ancaman yang di dapatkan olehnya kemarin dan sekarang ancaman itu sudah mulai dijalankan mengguncang kehidupan bahagianya. Ntah apa kesalahan Jimin semalam hingga pagi yang seharusnya disambut dengan senyuman manis malah berubah dengan banyaknya pertanyaan. Apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk menguak habis rahasia yang selama ini sudah ia sembunyikan dari Seulgi.
Jimin merutuki dirinya sendiri karena tak mampu menahan ancaman wanita sialan itu. Ntah bagaimana Seulgi bisa tahu apa yang selama ini sembunyikan dan itu sudah pastinya wanita sialan itu yang membocorkan hal yang bisa berdampak fatal terhadap hubungan baik antara ayah dan anak ini. Jimin berusaha menenangkan Seulgi yang sudah satu jam ini mengamuk tidak menghentikan suaranya, bahkan sekarang Seulgi sudah lupa bagiamana caranya berhenti berbicara. Sebagaimanapun Jimin membela dirinya sekuat itu juga Seulgi menyalahkan dirinya.
"Dad, kau ingat aku ini darah dagingmu?" Bahkan kalimat itu sudah membuat telinga Jimin panas sudah hampir 20 kali Seulgi mengucapkan kalimat pendek itu dalam satu jam ini.
Jimin lelah mendengar ocehan Seulgi yang hanya satu arah sambil menggoyangkan tangannya ke kiri dan ke kanan untuk memperkuat drama ocehannya. Sudah tak tahan rasanya pria Ryu itu menarik dua tangan Seulgi dan mencengkramnya kuat menatap manik monolid gadis itu dengan lurus. "Bagaimana kau bisa mencintaiku? Oh ayolah Dad, aku ini anakmu" erang Seulgi prustasi. Bukan hanya masalah cinta hal ini bisa saja membuat dampak yang besar, salah satunya pikiran Seulgi yang mulai melayang merasa tak yakin bahwa Jimin adalah ayah kandungnya. Bagaimana mungkin seorang ayah jatuh cinta pada anaknya, itu sangat tidak masuk akal dan tak dapat dijangkau logika.
"Seul, aku hidup berdua denganmu selama 19 tahun. Aku bukan pria naif kau itu cantik, manis, baik, riang. Kau selalu menemaniku di dalam keadaan apapun kau yang selalu ada untukku. Itu sudah lebih dari cukup untuk alasanku mencintaimu Seul". Seulgi tidak tahan, bahkan mutiara bening itu mulai rontok dari matanya. Menyatukan dua kening mereka. Seulgi merasa ada sesuatu panas yang menyentuh pelipisnya bukan hanya Seulgi yang menangis tapi Jimin juga. "Maaf, aku mencintaimu Seul" bibir tebal pria itu bergetar ketika pertama kali menyatakan apa yang selama ini ia rasakan. Merasakan penyiksaan gelombang cinta yang tak seharusnya datang di antara hubungan yang tak lazim ini tapi siapa yang bisa mengendalikan kekuatan cinta untuk datang menghampiri, cinta tak bisa memilih.
Menjauh dari tubuh Jimin adalah hal utama yang harus dilakukan oleh Seulgi menggapai tas dan manyandangnya pergi begitu saja dari pintu utama rumahnya. Setelah itu hanya terdengar bunyi mobil yang langsung melesat dengan gas yang langsung melaju tanpa aba-aba. Jimin sudah sangat tau Seulgi kemana membuat Jimin pasrah ntah bagaimana cara Jimin untuk menghadapi Seulgi disaat bertemu lagi nanti.
Lima jam di dalam rumah yang sama setelah Seulgi pulau dari kepentingannya hanya ada suasana yang dingin dan datar. Berlalu lalang berpapasan di dalam ruang kotak itu tak menimbulkan satu kata pun bahkan retina masing-masing tak menangkap gambar orang yang lewat di dekat mereka. Mengabaikan dan saling tidak peduli.
Di balik dinding putih itu terdapat senyumana bahagia menatap dua insan yang sama sekali saling tak menyapa. Siapa lagi kalau bukan Son Wendy, bukankah ini termasuk pada rencananya? Yah walaupun bukan dirinyalah yang melakukan ini semua tapi Wendy merasa sangat senang melihat Seulgi hancur dengan tangannya ataupun dengan tangan orang lain. Tersenyum ria ketika suara Seulgi mulai melengking memekik kuat kembali di hadapan Jimin. Wendy suka semoga saja hal ini terjadi dengan lama maka Wendy akan masuk sendirinya dan menghancurkan Seulgi hingga Sehancur-hancurnya.
Duduk tersandar di dashboard ranjang memeluk foto seorang yang sangat ia cintai dengan menyedihkan. Foto gadisnya sudah berlumuran air mata satu tetes bahkan sampai banyak tetesan memberikan hujan untuk kehidupan di dalam foto itu. "Kau dan anakmu sama saja. Kalian dua insan yang memiliki satu darah yang membuat aku jatuh cinta" menelusuri foto ibu Seulgi itu lah yang Jimin lakukan memandang paras cantik di sana. Seulgi itu cantik bahkan alasan Jimin mencintai Seulgi bukan hanya karena kecantikannya tetapi wajah Seulgi mirip dengan gadisnya di 23 tahun yang lalu di mana ia masih menjadi pelajar sekolahan yang berani melirik gadis sekelasnya.
Jimin sudah sangat rela dengan melepaskan ibu Seulgi tanpa harus mengingatnya sedikitpun lagi, bahkan Jimin sangat yakin lambat laun wanita itu juga sudah melupakannya dan berbahagia dengan suaminya yang baru. Tapi kenapa hal ini tidak adil untuk cinta Jimin yang berpijak turun pada keturunan gadis itu. Bahkan cinta itu sekarang menusuknya dari seluruh arah memberi rasa sakit yang tak bisa diobati oleh medis manapun. Mungkin saja dengan bertemu ibu Seulgi kembali bisa membuat Jimin sedikit tenang tapi itu sangatlah tidak mungkin Jimin tidak tau kemana perginya wanita itu setelah belasan tahun yang lalu disaat wanita kecintaannya dibawa pergi oleh pria lain tepat di depan matanya. Jika diberi kesempatan untuk melihat nya kembali maka Jimin akan memeluknya dengan erat dan menyatakan begitu besar cinta pria itu untuknya hingga Jimin mencintai bagian lain dari tubuh wanita yang sempat menjadi wanitanya itu.
Lelah dengan hidupnya sendiri yang begitu menyedihkan. Tuhan memberikannya semua hal wajah tampan, kekuasaan, harta yang melimpah, orang tua yang sangat menyayanginya, dan tuhan bahkan memberinya seorang gadis kecil sebagai anaknya. Tetapi mengapa Tuhan tidak pernah merestuinya dengan cintanya, pujaan hatinya? Ini sangat menyiksa, untuk kesekian kalinya Tuhan memisahkannya kembali menghancurkan semua impian untuk hidup bersama. Meringkuk memeluk foto gadis impian yang sudah menjadi istri orang lain itulah yang dilakukan pria Ryu itu.
Penuh sesal seharusnya Seulgi pura-pura tidak tau atas perasaan Jimin jika seperti ini akhirnya Seulgi tidak akan peduli dan mengabaikannya. Menelan apa yang ada di atas meja sangat tau ini adalah masakan Jimin. Tetapi Jimin pergi bekerja tanpa adanya sepatah kata pamitpun. Seulgi merasa asing tidak ada sedikitpun tertinggal kata manis yang selalu terlontar dari bibir ayahnya. Seulgi tidak kenal Jimin yanh serba diam Seulgi tidak mengenal Jimin yang dingin, Jimin yang datar, dan Jimin yang tidak peduli padanya lagi. Sarapan itu Seulgi gerogoti dengan menikmatinya. Masakan Jimin memang tiada duanya tapi sekarang pria itu sudah menjadi fiksi. Masakan itu asin terasa setelah dihujani air matanya sendiri menelan makanan yang berisi air matanya sendiri tanpa sisa Seulgi hanya ingin menikmati apa yang sudah di hasilkan tangan Jimin, tangan ayahnya sendiri.