
Senang rasanya jika bisa jalan-jalan di hari Minggu bersama Seulgi, membuat Jimin tak menghilangkan sedikit pun lekukan di bibirnya karena bisa berjalan sambil merangkul bahu Seulgi. Selama ini Jimin melakukan hal itu sebagai hubungan ayah dan anak, tapi sekarang dengan sepengetahuan Seulgi Jimin melakukan itu seperti hubungan sepasang kekasih. Jika di lihat-lihat Jimin lebih tampan di hari ini. Seulgi berjongkok secara tiba-tiba sebab merasa pegal melanda betis mungilnya. Hal itu mampu membuat Jimin ikut berjongkok menatap Seulgi yang kini sedang cemberut. "Aku lelah dad" mengerucutkan bibir ke depan membuat Jimin gemas ingin mematuk bibir yang semakin maju itu.
Niat hati Jimin ialah jalan berdua dan kenapa sekrang hanya tinggal dirinya yang berjalan? Sedangkan Seulgi sedari tadi sudah santai memeluk punggung tegapnya tanpa harus berjalan sedikitpun. Beban tubuh Jimin sekarang menjadi dua kali lipat sebab menopang tubuh Seulgi yang hanya tersenyum tanpa dosa. Mengingat bagaimana dulu gadis kecil itu berada di punggungnya tanpa adanya rasa cinta hanya ada kasih sayang, tapi sekarang berubah perasaan Jimin pada Seulgi bukanlah perasaan ayah dan anak lagi tapi sepasang kekasih.
Memeluk leher hangat Jimin adalah hal terindah yang Seulgi rasakan untuk memulai hari ini, mungkin Suga jauh lebih romantis dari pada Jimin, tapi pria ini mampu membuat dirinya nyaman dilingkupi rasa hangat. Retina Seulgi dapat menangkap bagaimana senyum manis itu terukis, rasanya memupuk benih-benih cinta di hatinya. Tapi tidak, Seulgi akan kukuh pada pendiriannya untuk tidak mengikuti kesalahan Jimin yang berani mencintai anak kandungnya, maka Seulgi tidak akan ikut mencintai ayah kandungnya itu. Seulgi menimalisir pikiran anehnya mulai membayangkan wajah tampan Jimin berputar di isi otaknya.
Tawa itu masuk pada rungu Wendy yang sedang menyiapkan makan malam. Setelah selesai menyiapkan itu segera saja Wendy memanggil Jimin dan Seulgi yang sedang asik menonton televisi di ruang keluarga. Mereka bertiga makan bersama untuk memulihkan tenaga yang sudah habis dikuras untuk melakukan kegiatan dari pagi tadi. "Seul, dad, aku akan pulang kampung untuk beberapa hari" pamit Wendy sopan.
"Biar kuantar, mumpung aku libur" tawar Jimin.
"Tidak perlu, itu terlalu menyusahkan. Aku bisa naik angkutan umum. Rumahku hanya di kota sebelah hanya butuh waktu 7 jam untuk sampai" jelas Wendy mengenai kepergiannya.
"Sekarang pukul 3 dan kau akan sampai pukul 10, aku tidak akan membiarkan anakku pergi sendirian di waktu malam".
Jimin masih berusaha untuk menawarkan dirinya pada Wendy.
"Seulgi akan sendiri di rumah nantinya"
"Antar dia Dad, aku akan tidur di rumah temanku saja"
Perbincangan sudah berhenti semenjak 15 menit lalu, tidak ada satupun atau hal yang bisa dibahas untuk memecah kesunyian di perjalanan panjang ini. "Sepertinya Daddy sangat hafal jalan untuk menuju alamatku"
"Daddy tidak berniat untuk singgah di rumahnya?"
Jimin tak menjawab hanya mengedipkan kedua belah bahunya sebagai jawaban isyarat untuk Wendy.
Sekarang Jimin merasa sunyi, hanya ada dirinya di perjalanan ini. Sedikitpun Jimin tidak mampir di rumah Wendy, Jimin langsung aja mengarungi jalanan malam yang gelap sendiri. Tibalah Jimin berhenti menatap sekolah menengah akhir yang mana ia pernah menimba ilmu di sana. Jimin singga pada rumah kecil tapi mewah di sebelah bangunan sekolah itu. Pria itu mengetuk pintu kayu tersebut berharap sosok yang ia dambakan untuk membuka pintu itu ialah orang yang ingin ia temui. Beberapa kali mengetuk barulah pintu itu terbuka, menampilkan atensi seorang wanita tua dengan rambut uang putih, duduk di kursi roda.
"Lebih baik kau pulang, dia sudah pergi dari 19 tahun yang lalu dari rumah ini" wanita itu memundurkan kursi rodanya, dan menutup pintu tanpa mendengarkan sepatah katapun yang keluar dari bibir Jimin. "Ibu? BIARKAN AKU TAU KEMANA DIA PERGI BUU. Aku akan mengejarnya kemana saja" erangan prustasi itu terdengar menggema di telinga wanita berkursi roda itu. Jimin berjalan dengan pilu menuju mobilnya, hingga suara pintu kembali terbuka, tapi sekrang bukanlah seorang wanita tua, melainkan pria tua yang berjalan sedikit bungkuk. "Kau pulanglah nak, berhenti mengejarnya. Tanpa kau sadari dia sudah dekat denganmu"
Pikiran Jimin Kacau memikirkan kalimat pria bungkuk yang merupakan suami nenek itu. Jimin pastikan Jimin seseorang yang ia cari tinggal di kota yang sama dengannya. Jimin memiliki perkiraan di dalam pikirannya bahwa orang yang ia cari memiliki seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah menengah akhir.
Pukul 3 malam barulah Jimin sampai di rumahnya, dengan kecepatan tinggi membuat tubuhnya terasa lelah. Pintu utama ia buka, lelahnya seketika hilang melihat wajah cantik Seulgi sudah terpampang nyata di depan matanya. Jimin duduk di bawa sofa menikmati pemandangan indah bak sebuah rembulan malam yang terpancar terang tertidur di depannya. Mengecup singkat kening anaknya ia lah tindakan pertama setelah Jimin menyingkirkan helaian rambut Seulgi yang menghalangi pemandangan indahnya dari wajah Seulgi.
Jimin mengangkat tubuh ramping Seulgi dengan tubuh lelahnya, menaiki anak tangga yang menyambungkan lantai di rumahnya. Menendang begitu saja pintu kamarnya yang tak terkunci. Membaringkan Seulgi di kasur king size miliknya. Menarik selimut itu untuk menyelimuti gadisnya. Jimin segera saja membersihkan tubuhnya sebelum tidur.
Jimin ikut berbaring di samping Seulgi, mengecup bibir itu sedikit lama. Memeluk pingga gadis itu dengan posesifnya menandakan gadis itu hanya miliknya dan tak ada yang bisa mengambil Seulgi dari dirinya. Menatap wajah cantik itu lama tak membuat dirinya bosan. Seulgi kembali mengingatkannya pada wanita yang dulu sangat ia cintai, mata dan hidungnya sangatlah mirip dengannya. Setelah menatap wajah damai tertidur torso di depannya, rasa kantuk mulai mendatanginya membuat matanya tertutup dengan sendirinya.
Cahaya sang Surya ciptaan yang maha kuasa masuk tanpa permisi di cela-cela bahkan menembus gorden kamar Jimin. Mata Seulgi pelan-pelan terbuka, hal yang pertama yang ia lihat adalah Jimin yang berada di depannya dan masih dalam keadaan damai yang berperang di dalam mimpinya. Rasanya tangan Seulgi terangkat sendiri untuk mengusap pipi mulus yang menghiasi wajah tampan ayahnya. "Ntah kenapa kau selalu bisa membuat diriku nyaman".