Games In Home

Games In Home
Love Destoryos



Jirae dengan susah payah membujuk Seulgi untuk ikut dirinya, pergi meninggalkan Jimin sendiri di rumah itu. Jirae itu adalah ibu kandungnya dan rasanya tidak ada salahnya jika Jirae mengajak Seulgi untuk tinggal bersamanya. "Seul, ibu akan pindah ke Jepang, ibu tak ingin kau dekat dengan ayahmu" pembicaraan itu terhenti ketika mendengar pintu terbuka. Jirae sangat nekat untuk menemui Seulgi tepat di rumah Jimin.


"Berhenti menghasut anakku" Jimin berjalan dengan langkah panjang menghampiri Seulgi dan Jirae. Urat yang berada di leher Jimin bahkan menonjol sebab terlalu emosi melihat atensi Jirae ada di dalam rumahnya dan sedang menghasut Seulgi untuk meninggalkannya. "Jangan egois, dia adalah anakku" Jirae beradu argumen dengan Jimin. Seulgi menjadi pusing jadi ini rasanya melihat orang tua yang sedang bertengkar. Beradu isi pikiran merasa dirinya yang paling benar. Itu lah yang sedang Jirae dan Jimin lakukan.


"Dia brengsek Seulgi, dia mencintaimu. Sedangkan dia dengan berani pergi dengan wanita lain, dia menyakiti hati ibumu Seul" Jimin mengupat di dalam hatinya setelah ia di cap laki-laki brengsek hanya akibat berselingkuh di belakang Jirae dulu. "Kau kira kau tidak brengsek Son Jirae?" Kalimat itu Jimin jeda, selang beberapa waktu Jimin kembali meninggikan suaranya "bahkan kau jauh lebih brengsek dan bajingan dari pada diriku" Jimin bisa membungkam mulut Jirae hingga tak mengeluarkan cicitan atau pembelaan lagi, Jimin berhasil menyudutkan wanita itu.


"Ayo kemasi barang-barangmu, ibu tidak ingin kau tinggal bersamanya. Ibu takut kau dilecehkan olehnya" Jirae menunjuk Jimin dengan telunjuk yang besih tegang. Kata terakhir itu mampu membuat otak Seulgi terputar, Seulgi merenungkan ucapan Jirae, lebih-lebih mengingat dimana Jimin dengan ringannya mencium bibirnya tanpa ada sedikitpun kesalahan. Itu hanya kecupan dan luma*tan dan sekarang Seulgi berpikir bagaimana jika lambat laun cinta Jimin mendorongnya untuk berbuat yang lebih jauh dari itu.


"Kau tidak akan meninggalkan Daddykan?" Jimin bertanya, suara serak itu mendamba Seulgi untuk menjawab tidak. Tetapi bibir Seulgi terasa Kelu untuk menjawab pertanyaan Jimin. Seulgi tak bisa menjawab sebab pemikiran dangkal yang memikirkan Jimin itu sangat brengsek terus berputar di dalam otaknya. Isi kepala Seulgi hanya mengenai hal buruk Jimin saja lantas Seulgi tidak memikirkan seberapa baiknya Jimin selama 19 tahun merawatnya.


Seulgi hanya menunduk tidak berani menjawab dan tidak berani menatap orang tuanya yang bertengkar dengan suara yang tinggi dan saling menyudutkan, mengungkit -ungkit kejadian dimana mereka bercerai, saling menyalahkan atas perceraian itu. "Mom dad, Stop please" seungi berteriak melerai keduanya. "Daddy tau arti dari tatapanmu itu, jangan pergi Oky? Biar Daddy yang pergi dari rumah ini" itu adalah kalimat terakhir sebelum Jimin pergi masuk ke kamarnya, ebali turun setelah membawa beberapa barang kebutuhannya. "Seinci saja Seulgi terluka kau tidak akan kubiarkan hidup" bisik Jimin ketika melewati Jirae. Setelah itu pria itu benar-benar hilang beserta suara mobilnya yang melesat begitu saja juga ikut menghilang menandakan pria itu sudah menjauh dari rumah itu.


"Apa ibu akan tinggal disini?" Tanya Seulgi. "Ya, ibu akan menemanimu" Jirae menggapai tubuh Seulgi dan mengecup singkat keningnya, mengusap sayang punggung anaknya setelah ia memenangkan pertengkaran hari ini dengan Jimin.


"Ibu akan keluar sebentar ya" tanpa mendengar atau menunggu jawaban Seulgi langsung saja Jirae pergi berlalu dengan mobilnya.


Jirae berhenti di tengah jembatan sepi itu, Jirae tau Jimin sedang duduk merungut di cap mobilnya. Jirae ikut bergabung dan duduk di sampingnya. "Kau akan selalu kalah Ryu" Jirae menepuk beberapa kali pundak jimin. "Bisakah kau pergi" usir Jimin tanpa memandang Jirae. Rasanya berada di dekat Jirae membuat Jimin menjadi muak dan ingin pula rasanya Jimin melempar Jirae ke bawah jembatan ini dan membiarkannya berenang dengan ikan-ikan buas di aliran air di bawah.


Jirae memeluk Jimin yang sudah mulai meneteskan air matanya. Jirae membiarkan kepala Jimin bertumpu penuh pada bahunya. Wanita itu terlihat mengusap rambut Jimin dan pria ini hanya pasrah tanpa adanya perlawanan. "Kenapa kau merebut gadis yang kucintai untuk kedua kalinya" Jirae hanya diam membiarkan ucapan Jimin terjeda agar tak terjadinya pemicu pertengkaran lagi. "Sudah kubilang aku mencintaimu, dan aku tidak akan rela kau diambil siapapun. Termasuk darah dagingmu sendiri".


"Dan tidak semua cinta harus memiliki" ucapan itu bernada gantung, beberapa detik kemudian barulah Jimin kembali bersuara untuk mengemukakan asumsinya. "Aku ingin kau kembali Joyi. Joyi baik yang selalu membuatku tertawa. Bukankah kita berteman sejak di bangku sekolah dan kita berjanji untuk saling tertawa. Tapi kenapa Joyi sekarang selalu membuatku menangis?" Ucapan Jimin itu semuanya benar, membuat hati Jirae terasa di cabik-cabik ketika ia harus menelan fakta bahwa ia selalu membuat cintanya menangis. "Kesalahan yang membuatku seperti ini"


"Kesalahan itu biarlah berlalu itu sudah 20 tahun yang lalu. Aku sudah menerima itu dan mari lupakan. Berhenti mengangguku dan Seulgi" Jirae menghela nafasnya dalam, ia merasa memiliki banyak kesalahan sekarang, tapi ntah kenapa Jirae tidak bisa menghilangkan pikiran jahatnya untuk menganggu Jimin. " Seulgi butuh ibunya Jimin".


"Kau kira kau bisa menjadi ibunya?" Lagi Jirae tertohok, Jimin berhasil menyudutkan Jirae lagi dengan ucapannya. Jimin dan Jirae sudah terlalu pintar untuk urusan menyudutkan orang hanya dengan menggunakan lidah. Jirae tak mau lagi melanjutkan pembicaraan tak berarah ini dengan Jimin. Segera saja Jirae melangkahkan kakinya untuk beranjak menuju mobilnya yang terparkir di seberang sana.


"Apakah ibu berhasil membuat mereka terpisah" tanya Wendy pada Jirae yang sedang menyetir di sampingnya. Jirae dengan lihai memutar setir dengan diselingi mulut dan pikiran jahat yang selalu berputar di dalam otaknya. "Tentu saja" Wendy berdehem yang berarti paham dengan apa yang diucapkan ibunya. "Hm, Bu? Bolehkah aku bertemu Daddy?"


Wendy merasa sangat amat ragu untuk meminta izin bertemu Jimin, rasanya ia takut saja ketika berbicara mengenai Jimin pada Jirae. "Untuk apa kau bertemu dengannya?"


"Ntahlah, aku merasa iba atas apa yang kita lakukan padanya"


"Itulah alasan ibu selama ini tidak membawamu dalam rencana ini, kau terlalu memiliki hati lembut". Sudahlah, ucapan Jirae sudah cukup menjelaskan bahwa Wendy tidak boleh menemui Jimin. Ucapan itu terdengar tegas dan tak bisa dibantah sedikitpun. Wendy yang merasa iba sekarang hanya bisa merungut memikirkan nasib Jimin.


Seulgi menghela nafasnya menatap langit gelap melalui balkon kamarnya, awan hitam itu seperti menggambarkan wajah Jimin saja. Baru beberapa jam Seulgi sudah memikirkan nasib Jimin di luar sana. Memang benar jika ayahnya adalah orang kaya, tapi sekarang siapa yang akan membangunkan pria itu untuk berangkat bekerja. Selama ini Seulgilah yang membangunkan Jimin dari tidur. Air matanya tanpa permisi keluar mengaliri pipinya. Disaat ia menangis biasanya lengan Jimin selalu melingkupi tubuhnya. Menyalurkan rasa hangat dan rasa tenang. Menghapus segala kesedihan hanya dengan melihat wajah Jimin saja. Tapi sekarang pria itu sudah pergi begitu saja meninggalkan dirinya di sini.


Seulgi butuh Jirae, seharusnya Jirae ada di sampingnya memeluk tubuh ibunya adalah hal yang di butuhkan Seulgi. Dan sekarang ini malah Jirae tak ada di rumah, dikata sebentar rupanya wanita paru baya itu belum pulang sampai malam datang menghampiri bumi.