
Disebuah desa yang bernama Desa Pohon,Para warga di sana di sibukkan dengan kejadian aneh karena salah satu gadis kembang desa di sana terkena demam sangat tinggi,Mereka berusaha keras untuk merawat dan mencari pengobatan untuk gadis itu,karena di umurnya yang menginjak 18 tahun dia akan di nikahkan oleh Pria dari kota pusat,namun terjadi hal yang tidak di inginkan,yaitu sang calon pengantin wanita tidak sadarkan diri dengan demam yang sangat tinggi.
Rasyid pergi mencari seorang tabib di desa sekitar menaiki kuda,tentu keluarga calon pengantin pria tidak tinggal diam,mereka juga membawakan tabib dari kota pusat untuk menyembuhkan dia,namun berbagai pengobatan sudah di lakukan,tapi tidak kunjung berhasil,calon pengantin pria yang bernama Hyr berencana datang untuk melihat keadaan sang calon pengantinnya.
Gadis calon pengantinnya itu sendiri bernama Aru,dia gadis yang cantik jelita dengan rambutnya bewarna hitam berkilau,namun sekarang warna rambutnya perlahan lahan berubah menjadi abu abu.
"Kalau saja Nak Sinar berada di sini,pasti dia tau bagaimana cara menyembuhkan penyakit ini,beberapa bulan lalu dia berhasil menyelamatkan desa kita dengan pengobatannya" ucap salah satu wanita di desa itu.
"sudah,nak Sinar sudah pergi bersama suaminya,kita harus fokus dan tetap merawat Aru agar panasnya turun"
di sisi lain Para Rombongan Arashi dan prajurit mulai berjalan kembali ke kota pusat untuk mengembalikan Tuan muda itu,di karenakan kota tujuan mereka sudah luluh lantah tak bersisa,lebih dari 200 orang meninggal dan tidak ada yang selamat dari kota itu.
sementara itu Cahaya,gadis yang sudah menghancurkan kota itu,di jadikan tahanan dan di bawa bersama mereka untuk di introgasi saat kembali ke kota pusat.
"Kejadian Aneh sering terjadi selama perjalanan ini,ini membuatku yakin jika perang berabad abad dulu itu memang pernah terjadi" ucap jendral itu ke pada arashi yang berjalan di sampingnya.
Arashi hanya terdiam dan mendengar ucapan jendral itu sambil berjalan ke depan.
Sinar berjalan ke depan dengan terburu buru dan memotong ucapan jendral tersebut.
"Hei mau tau sesuatu jendral?"
"Apa?"
"Di peristirahatan berikutnya akan ku ceritakan semua yang ku tahu"
"huh,bikin penasaran saja"
"tapi ada syarat yang harus jendral penuhi"
"sudah ku duga kau ada maunya,sebutkan apa itu"
"kau harus lepaskan Cahaya itu dan biarkan kami yang merawatnya"
"haa?kau sudah gila?dia sudah membunuh ratusan orang di kota itu,tidak bersisa kau pikir aku akan melepaskannya begitu saja" ucap jendral dengan nada tingginya
"kamu tahu jendral,informasi dari ku ini belum ada satupun orang di pulau ini yang mengetahuinya,tentang apa yang terjadi,kurasa informasi ini sangatlah mahal" sinar mulai memandang tajam ke arah mata jendral itu
"lebih mahal dari ratusan nyawa itu?"
"saya tidak bermaksud kurang ajar atau tidak memiliki hati soal nyawa yang telah dia renggut,tapi aku yakin,informasi ini sangatlah berharga,dan gadis itu juga tidak bermaksud dan tidak ingin melakukan perbuatan keji tersebut"
"Baiklan,akan ku anggap gadis itu tidak pernah ada dan kota itu hanya di serang bandit gila"
"baiklah kalau begitu"
"TAPI INGAT,jika informasi ini tidak memuaskan sama sekali,gadis itu akan tetap kami tahan,camkan itu"
"tenang saja "
sang jendral pergi ke barisan belakang untuk mendiskusikan kepada prajurit lainnya,sementara hanya ada Sinar dan Arashi di bagian paling depan barisan.
"Apa yang akan kamu beri tahu ke mereka?"
tanya Arashi.
"ku rasa secukupnya yang mereka harus tahu"
"apa itu akan cukup?"
"ku rasa begitu,melihat mereka tidak tahu menahu soal perang itu pun membuat ku jengkel,bagaimana keturunan mereka lupa akan kejadian di masa lalu?"
kesal Sinar dengan menyilangkan kedua tanggannya.
"Itu kejadian yang lama dan kelam,mungkin beberapa dari orang tua mereka tidak ada yang mau menceritakan kejadian itu dan membuat kisah itu perlahan hilang"
"tapi,apa mungkin kekuatan Malaikat bisa di reinkarnasikan,aku merasakan kekuatan kakak ku dari Cahaya" ucap sinar yang memandang ke arah kereta.
"Malaikat ya..." gumam Arashi.
Jendral prajurit pun mendatangi Sinar dan Arashi dari belakang,dia memiliki suatu hal yang ingin di sampaikan tentang masalah tadi,sinar berharap Jendral tersebut mau mempertimbangkan keputusannya,tentu ini adalah keputusan yang berat dimana seorang kriminal akan di tukarkan oleh sebuah informasi,dan informasi ini belum tentu bisa di pastikan kebenarannya.
"Aku setuju akan keputusanmu,tapi dengan syarat"
"Syarat?apa?"
"Kau harus memberitahu Pemimpin kota pusat tentang hal ini,dan untuk Gadis itu akan kami serahkan kepada kalian,kami akan menganggap kalau kota itu di serang bandit berbahaya"
"Eee apa saya akan langsung memberitahu pemimpin begitu saja?" tanya sinar
"tidak,kami akan mengusulkan untuk ini,aku yakin banyak pembuat berita yang ingin menyebarkan berita ini"
"oh baiklah,ku rasa gak ada salahnya memberi tahu kebenarannya kepada kalian" ucap sinar yang melirik ke arah Arashi.
sementara itu di tempat lain,Rasyid mengendarai kuda begitu kencangnya,dia membawa seorang pria berjubah putih,dan berharap kalau pria ini bisa menyembuhkan gadis desa itu.
jubah yang dia kenakan seperti hanya kain besar yang di lilitkan di tubuhnya,kain nya sangat besar hingga menutupi seluruh badannya,hanya dagu nya saja yang tampak,dagunya memiliki janggut keputihan yang sangat tipis,dan tampak kalau dia memiliki kulit yang putih.
"itu desa kami,sebentar lagi kita akan sampai"
DRAP DRAP DRAP
suara kuda menghentakkan kakinya ke tanah,dia berlari seakan akan kuda itu tidak menyentuh tanah,benar benar kuda yang cepat.
kuda itu berhenti dengan badannya berdiri tinggi,yang membuat pria berjubah itu hampir jatuh
"Kita sampai tuan,mari saya antar"
"baik,silahkan tunjukkan arahnya"
"mohon bantuannya tuan"
mereka berdua bergegas ke rumah perempuan yang sakit itu,sampai di sana para warga yang tadinya berada di dalam rumah,mereka semua sekarang berada di luar rumah gadis itu,tidak ada yang berada di dalam rumah tersebut kecuali si Ayu.
"Apa yang terjadi?apa Ayu sudah sembuh?"
tanyan Rasyid sambil menahan sesak di dadanya.
"Di dalam sangat panas,kami semua tidak tahan akan hawa panasnya,bahkan cincin ibu Ayu hampir meleleh di buatnya"
kejadian aneh terus terjadi dalam beberapa hari terakhir di pulau terbang ini,tidak ada yang dapat menjelaskan kepastiannya,mereka hanya bisa berteori,ada yang mengatakan ini kutukan roh,bencana dan sebagainya.
hal seperti ini tidak hanya terjadi di satu desa saja,bahkan beberapa desa di pulau terbang juga mengalami kejadian yang sama,gadis yang tiba tiba tubuhnya mengalami demam tinggi,bahkan di suhu yang tidak masuk akal.
"boleh saya melihatnya?" tanya pria berjubah itu kepada rasyid
"tapi sepertinya di sana sangat berbahay"
"tidak apa,saya akan menerima resikonya,tolong tunggu saja di sini"
pria berjubah itu berjalan masuk ke dalam rumah Gadis tersebut,dia berjalan tanpa ada hambatan sedikitpun,namun dia tahu suhu di sini sangatlah panas.
dia melihat gadis itu terbaring dengan mata yang memejam sambil mengeluarkan air mata,warna rambutnya berubah menjadi keabu abuan,dengan wajah yang putih pucat.
"to-long menjauh,biarkan aku" ucap gadis itu yang menyadari keberadaan seseorang.
"Tidak apa,aku di sini ingin menyembuhkanmu"
'Angel ke3,Gak ku sangka ternyata aku lah penyebab nya,kalau di perhatikan,wajahnya mirip denganmu ya.' Gumam pria berjubah itu yang menyentuh dahi gadis itu.
Tangan pria itu mengeluarkan cahaya ungu gelap,yang menyelimuti tangan kanannya.
saat tangan kanan nya bersentuhan dengan dahi Ayu,tubuh ayu langsung gemetar hebat,cahaya ungu gelap itupun menyelimuti seluruh tubuh Ayu.
'Tetap tidak bisa ku rebut ya,di sini dan di sana sama saja.' pria itu bergumam.
perlahan cahaya ungu itu mulai padam,dan menghilang.
Ayu yang tadinya gemetar,secara perlahan tubuhnya mulai tenang,dan matanya perlahan terbuka,dia melihat sesosok pria yang menyembuhkan,dengan bekas luka dari dahi bagian kanan ke bawah pipi sebelah kiri,serta luka di mulutnya yang tersayat.
namun bagian wajah sebelah kanannya tidak terlihat jelas karena tertutup jubah nya.
"Kau sembuh,ku tanamkan memori ke pikiranmu, bagaimana cara menggunakan kekuatanmu sekarang ini,kau di beri kekuatan yang sangat kuat,namun juga berbahaya,bijaklah menggunakannya"
Ayupun bangkit dari tidurnya,saat dia menoleh lagi ke arah pria tadi,pria tadi menghilang,tanpa meninggalkan jejak apapun.
Ia pun menoleh ke kiri ke kenan namun tidak menemuman pria tadi,segera dia turun dari tempat tidurnya,dan berlari menelusuri,ruangan di rumahnya,ke dapur,kamar mandi,ruang tamu,dan saat sampai keluar rumah,dia melihat para penduduk berkumpul di depan rumahnya.
Ibunya dengan cepat berlari dan memeluk anaknya tersebut.
"eh,mana pria berjubah tadi?"
"syukurlah kamu sudah sembuh nak,ibu khawatir"
"Bu kemana pria berjubah putih tadi?"
"Pria berjubah apa?Kami berkumpul disini dan tidak ada pria yang mengenakan jubah" ucap ayahnya yang datang membawa air putih,
ayu pun menerima air putih itu dengan kedua tangannya.
"Kamu pasti behalusinasi karena demam tinggi itu"
ucap salah satu ibu ibu di sekitar situ.
"ta-tapi beneran,ada pria berjubah putih,datang dan menyembuhkan ku di dalam sana"
"Sudahlah,yang penting kamu sudah sehat,aku berkeliling pulau ini mencari tabib ataupun perawat yang bisa menyembuhkan mu,namun tidak ada yang sanggup saat mendengar ku menceritakan kondismu,dan sekarang ajaibnya,kamu bisa sembuh sendiri,ini sebuah keajaiban"
ucap rasyid dengan penuh suka.
"apa yang terjadi?" Ayu memandang langit dan bertanya tanya dalam pikirannya,siapa pria berjubah tadi yang sudah menolongnya,dan kenapa para penduduk desa tidak ada yang mengetahuinya,apa dia masuk secara diam diam kerumah,atau dia seperti roh yang bisa datang membantu orang kesusahan.
"aku bahkan belum menanyakan nama pria itu,berterimakasih pun belum"
Di lain tempat,para pasukan pengawal yang mengawal tuan muda itu sebentar lagi akan sampai ke kota pusat,mereka tidak punya pilihan lain selain kembali dan memberi tahu kan kejadiannya,walau sang jendral berencana mengubah sedikit cerita yang akan mereka sampaikan.
sementara itu Cahaya,gadis yang mereka temukan di desa yang menjadi tujuan mereka,akan di bawa oleh Alice,sementara jendral,Arashi dan Sinar,akan menghadap pemimpin kota itu.
Saat gerbang besar di buka,para penduduk dan pendatang yang sedang berbelanja terdiam dan memberikan jalannya,mereka kebingungan karena tidak ada pemberitahuan kalau mereka akan kembali secepat ini,beberapa orang mulai berbisik bisik saat melihat Tuan muda yang mereka ingin antarkan ke desa tujuan mereka,masih berada di dalam kereta kuda,sementara itu para prajurit tetap melihat ke arah depan,tidak ada yang berani melihat ke arah penduduk itu,mereka semua para prakurit terlihat suram,seperti mereka menyadari kelemahan dan ketidakberdayaan mereka,dan mereka sadar kalau dunia ini sangat luas,melihat dan mengalami semua kejadian yang menimpa mereka benar benar membuat mereka takut.
mungkin mereka akan mati jika tidak ada Arashi
begitulah pikir mereka.
mereka pun tiba tepat di tengah pusat kota,tempat tinggal pemimpin kota itu,sementara prajurit yang lain mengawal dan membawa Tuan muda itu segera masuk ke dalam.
Namun jendral meminta Arashi dan Sinar untuk menunggu di luar sejenak,sementara Jendral akan melaporkan kejadiannya ke pemimpin kota.
"Kalau begitu kami akan menunggu di luar sini"
ucap sinar.
"Akan segera ku infokan jika pemimpin kota memanggil kalian,untuk sementara tunggu di sini"
jendral pun berjalan masuk ke Gedung tempat pemimpin kota itu tinggal dan mengurus bisnisnya.
tinggi gedung itu sekitar 20 meter,dengan 4 lantai,tidak terlalu luas untuk ukuran gedung.
sementata itu Arashi dan Sinar lagi duduk di kursi berdua di bawah pohon,matahari yang cerah cukup menyilaukan namun semua itu terlindung berkat pohon yang rindang di sana.
"mmm..boleh ku tanya sesuatu?"
Tanya sinar sembari menggenggam kedua tangannya.
"apa?"
sebelum bertanya Sinar memandang kesekeliling mereka,memastikan tidak ada orang di dekat mereka.
"Saat aku mencuri Zero dari mu,aku melihat sesuatu yang ganjil dari benda ini,sekali lagi maaf aku mencuri ini"
"Tidak apa,apa maksudmu tadi?
"Sepertinya zero ini mengalami keretakan ,dan sebagian kecil dari nya seperti ada yang menghilang,bagaimana mungkin benda ini bisa retak?" tanya sinar dengan menyentuh perutnya.
"Aku juga tidak tahu,atau bisa di bilang tidak ingat,kalau memang benda itu rusak,mungkin itu sudah lama sekali"
"Tapi...huuffh"
"kenapa menarik nafas?" Tanya Arashi.
"Tapi tidak ada yang kamu sembunyikan,kan?"
"Tidak ada,Hanya saja,sepertinya kehidupan Abadi seperti ini membuatku lupa tentang masa yang lampau"
"benar,Namamu saja di berikan oleh para prajurit Ayahku"
"hmm...nama memang sesuatu yang penting,seperti cerminan jati diri" ucap Arashi yang tersenyum kecil
"Hihi...sudah lama kita tidak seperti ini"
Angin mulai bertiup sepoi-sepoi,suasana yang panas hilang karena angin yang bertiup dingin.
"Benar"
Balas Arashi.