From Zero

From Zero
TEKANAN



Langit yang tadinya mendung,mulai menampakkan cahaya birunya,9 ekor burung terbang melewati perjalanan mereka,sebagian prajurit memandangi burunf yang terbang itu,salah satu dari prajurit itu mencoba membidik burung burung itu dengan panah,walau tidak dia lesatkan,tapi dia tahu,betapa mudahnya jika bisa terbang.


perjalanan yang cukup jauh di tempuh mereka,namun beruntung bagi mereka,tidak adanya berjumpa dengan para bandit.


walau matahari terlihat cerah,namun suhu di pulau ini terbilang sejuk dan stabil.


mereka melihat ada seseorang yang lagi berkemah di siang hari di tempat yang tandus,Arashi memberi instruksi untuk tetap berjalan,sementara dia menghampiri kemah tersebut.


"Lanjutkan perjalanan,aku akan memeriksa kemah di sana"


"berhati hatilah"


"..."Arashi hanya mengangguk ke jendral tersebut dan segera pergi menghampiri kemah itu.


saat telah sampai ke kemah tersebut ada seorang gadis kecil yang terbaring lesu tak berdaya,di sebelah kiri dan kanan gadis itu terdapat 2 orang pria dan wanita,saat Arashi memeriksa kedua orang di sebelah gadis itu,Arashi tahu kalau mereka berdua sudah tidak bernyawa,Arashi hanya mengasumsikan kalau mereka berdua adalah orang tua dari gadis itu,kelopak mata gadis kecil itu terlihat menghitam seolah olah dia telah menangis sepanjang malam,namun sekarang dia hanya terbaring tidak berdaya denga kedua matanya yang sayu sayu seperti akan menjemput ajal.


mata gadis itu menoleh ke arah Arashi,dan mencoba mengatakan sesuatu dari mulutnya,namun tidak ada suara terdengar dari mulutnya,saat arashi hendak keluar dan meninggalkan gadis itu dari kemahnya,tangan kanan gadis itu menarik jubah Arashi yang membuat dia tersentak.


"kau tidak ingin menyusul mereka?"


gadis kecil itu hanya diam menatap Arashi,perlahan tangan kanannya melepas pegangannya dari jubah Arashi.


"Akan ku buat lebih cepat,kau tidak akan merasakan apa apa"


"Ada banyak anak anak menderita karena kehilangan orang tua mereka dan bertahan hidup menjadi budak hingga mati"


gadis itu memejamkan matanya,dengan segenap tenaga yang dia punya,dia menggelengkan kepalanya perlahan lahan.


pedang yang mengarah ke leher gadis kecil itu lantas tiba tiba berhenti,ujung lancip pedang itu hanya menggores sedikit di bagian leher nya.


entah kenapa Arashi memandang gadis itu dengan tatapan tajam,seperti melihat suatu gambaran dari pikiran gadis itu.


Arashi pun mendekati gadis itu dan memberinya sebuah benda kristal kecil seukuran kerikil,kerikil yang sangat amat kecil namun memancarkan cahaya yang menyilaukan.


"Makanlah,hidup atau matimu bergantung pada benda itu"


gadis itu hanya menatap diam dengan memandangi kristal itu.lalu Arashi pergi meninggalkan gadis itu sendiri di tenda tersebut.


Arashi berjalan menjauhi kemah itu tanpa melihat kebelakang,para prajurit sudah menunggu nya dari tadi yang sebagian tampak kesal di wajahnya.


"barisan depan berangkat duluan ,kita berangkat"


ucap jendral prajurit itu.


"Apa yang kau temukan di sana?"


"tidak ada apa apa di sana"


"aku juga berharap isi nya kosong,akan snagat merepotkan jika menambah beban lagi"


Arashi langsung memandang jendral tersebut,namun jendral tersebut tetap menatap ke depan tanpa mengetahui kalau Arashi menatap tajam ke arahnya.


perjalan mulai di lanjutkan kembali,dengan kejadian yang barusan mereka hadapi sangat sulit bagi jendral itu sendiri melupakan betapa mengerikan dan luasnya dunia ini,kehilangan prajurit adalah hal yang berat bagi seorang jendral yang di tugaskan memimpin sebuah pasukan,tentu prajurit yang tewas itu ada keluarga yang menunggu mereka di rumah,memang kebanyakan pekerjaan di pulau ini adalah menjadi seorang prajurit karena sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia,terkadang mereka rela untuk di upah berupa makanan seperti sayur dan buah-buahan.beberapa orang kaya di pulau ini ingin sekali mengenalkan pulau ini ke pada dunia luar,namun pemahaman dan pengetahuan yang terbatas akan dunua luar membuat mereka enggan untuk melakukannya,yang menyebabkan beberapa desa mengalami kemiskinan dan keterpurukan,belum lagi bandit dan para pencuri yang cukup banyak berkeliaran di pulau ini.


"aku sudah gak apa,biarkan aku keluar dari sini"


"istirahat saja sejenak dulu"


suara dari dalam kereta terdengar yang membuat beberapa prajurit menoleh ke arah kereta.


"kak,aku sangat menghormati kakak,tapi tolong jangan menghalangi ku,aku sudah tidak apa"


Alice membuka pintu kereta dan melompat keluar dari kereta,yang membuat dirinya tersungkur dan terjatuh.


"Alice..." Sinar mencoba turun dari kereta untuk membantu Alice.


namun uluran tangannya di tepis oleh Alice.


"Aku tidak apa,jangan mengkasihani aku"


dengan sisa tenaga yang ada,Alice mencoba berdiri.


"Nona,kau tidak per..."


"DIAM!" Alice membentak salah satu prajurit itu,dengan wajah yang begitu di penuhi amarah dan tatapan mata yang tajam,prajurit itu mulai memundurkan langkahnya sedikit.


"Aku akan pergi ke garis depan"


saat Alice mulai berjalan dengan wajah yang tertunduk,tanpa sengaja dia menabrak Arashi yang berada di depannya.


Bruk-


Alice hanya melewati Arashi dan tetap berjalan,Arashi yang melihat itu hanya diam menatap nya berjalan sempoyongan,walaupun begitu dia tetap berjalan sambil memandang ke depan,kadua kakinya gemetar seakan ada gempa yang akan datang,namun tetap saja menjadi beban itu adalah hal yang memalukan dan tidak pantas di perlihatkan,apa lagi ketidak berdayaan,hal itu benar benar tidak ingin di tunjukkan bagi seorang Alice,tetap tegar dan terus maju adapah pilihan yang dia pilih.


dari kejauhan,prajurit yang berada di garis depan melihat Alice yang berjalan sempoyongan,prajurit itu segera berlari ke arah alice,yang sepertinya ingin membantu Alice.


"hei nona,jangan paksakan dirimu tolong kemba..."


"DIAM,KAU YANG KEMBALI KE KERETA SANA!"


belum sempat prajurit itu menyelesaikan kalimatnya,Alice membentak prajurit itu.


hal ini membuat prajurit itu kaget dan bingung.


dengan wajah yang penuh kekhawatiran prajurit itu segera pergi kembali ke kereta kuda.


namun dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.


"Tidak apa jika butuh bantuan,kita bukan seorang dewa"


dan prajurit itu pergi meninggalkan Alice di barisan depan.


"tcih..." Alice menggigit bibir bagian bawahnya karena geram mendengar perkataan prajurit itu


"apanya yang Dewa..." wajah Alice benar benar kelihatan marah dengan mata tajam melotot seakan akan haus akan darah dan siap menghajar siapa saja di dekatnya.


Alice tetap berjalan maju dan mulai melakukan tugasnya,walaupun dengan kondisi yang belum seratus persen,dia tetap berusaha mengamati daerah sekitar.namun dia terlihat terhenti sejenak,saat melihat bongkahan batu besar dengan ukuran sebesar mobil pada jaman kita sekarang ini.


Di pikirannya,dia harus melampiaskan amarahnya pada sesuatu,namun dia tahu batasannya,dan dia tau saat dia memukil batu itu,dengan tubuhnya yang belum baik sepenuhnya,pasti akan membuat tangan atau kakinya terluka parah,dia pun mengurungkan niatnya untuk memukul batu itu.


namun saat dia ingin melanjutkan perjalan,seorang prajurit yang menjadi barisan depan datang untuk menemuinya.


"Biarkan aku menemanimu,aku sudah di izinkan oleh jendral" ucap prajurit itu memberi salam dengan telapak tangan kanannya berada di dada kiri prajurit itu.


"aku tidak meminta bantuanmu,pergilah"


"Tapi dengan kondisi-"


"DIAM"


"jangan kau melihatku dengan tatapan seakan aku tidak berdaya,pergi sebelum ku hajar kau di sini"


"Tapi-" belum sempat prajurit itu menyelesaikan kata katanya.


Alice dengan sekuat tenaganya meninju batu itu


BRAAK


Batu yang besar itu hancur lebur,pecahan batu itu beterbangan dan berhamburan yang menyebabkan suara cukup kuat.


"aku tidak butuh bantuan siapapun,jangan remehkan aku"


sementara itu di kereta,Sinar merasakan energi yang tidak asing,energi yang hampir sama dengan energi yang ia punya,kereta masih dalam keadaan berjalan namun dengan kecepatan yang lambat,sinar membuka pintu kiri kereta dan melihat Arashi yang berada di sebelah kiri kereta


"Arashi..."


"Aku tahu,ledakan kemarin malam pasti menyebabkan hal itu"


"berarti xaverus..." Sinar menahan air matanya.


"Haa,kurasa memang berasak dari sana"


Sinar kembali masuk ke kereta,sambil menahan air matanya yang ingin dia keluarkan.


"kak,apa terjadi sesuatu?" tanyak tuan muda dengan penasaran


"hmm..tidak ada,gk ad kok" Sinar kembali tersenyum.


"begitu..." tuan muda itu tahu kalau sinar hanya tersenyum palsu,karena tampak jelas setitik air mata di mata sinar.


pelan pelan tangan sinar mengusap air matanya,tuan muda itu hanya menunduk karena gak tau apa yang terjadi yang menyebabkan sinar menangis,pelan pelan tuan muda itu melirik ke wajah sinar,dan ya sinar benar benar tidak bisa menahan air matanya.


Arashi sendiri tahu siapa itu Xaverus,dia adalah orang yang merawat dan pengawal pribadi yang di tugaskan untuk melindungi sinar saat masih kecil,dan hubungan mereka seperti ayah dan anak karena sinar sendiri lebih dekat dengan xaverus ketimbang ayahnya Dragon,karena Dragon sendiri di sibukkan dengan dirinya yang mengurus pasukan serta daerah kekuasaannya.


TOK TOK


seseorang mengetuk pintu kereta yang membuat Sinar kaget dan segera mengusap matanya dengan kain jubahnya.dia pun membukakan pintunya,orang yang mengetuk itu adalah Arashi,Tuan muda itu segera bergeser dari tempat duduknya ke dekat dinding kereta sebelah kanan.


"boleh aku masuk tuan?"


"Hmm,silahkan"


Arashi pun duduk di depan Sinar,sementara sinar hanya menunduk melihat kebawah,entah apa yang di tatap sinar,seolah dia tidak ingin di lihat Arashi untuk sekarang ini.


"Dulu dia pernah berkata kepadaku Kalau orang asing sepertiku tidak pantas berada di sisi Dragon,aku akui itu,dengan darah yang mengalir di tubuh ku,dan masa lalu ku yang bahkan mereka tidak mengetahuinya,bukan tidak mungkin kalau dia bakal menaruh kecurigaan ke padaku,namun di pertempuran terakhir kami,dia perlahan mempercayai aku"


sinar mulai berani menatap Arashi saat mendengar nya.


"Dia selalu berkata kalau,hidupnya sebagai seorang Komandan,di habiskan hanya untuk menemani seorang putri,namun dari apa yang ku lihat tidak ada penyesalan dari balik kata katanya"


Sinar mulai mengepalkan kedua tangannya di atas pahanya seolah ingin meluapkan sesuatu yang tersembunyi dari balik hati nya.


"aku...aku tidak pernah mengucapkan terimakasih kepadanya,dan kita hanya langsung kabur begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal,aku ingin melihat ekspresi wajahnya jika dia tahu kita akan kabur"


"kurasa dia akan sangat kesal,tapi ku yakin,dalam lubuk hatinya,dia juga ingin dirimu menemukan kebahagiaanmu"


Kereta tetap berjalan menyusuri tanah tandus,9 burung kecil tampak terbang mengikuti mereka dari atas,beberapa prajurit mencoba membidik panahnya ke arah burung burung itu,namun mereka tidak melesatkan hanya membidiknya.


"Sedikit kebebasan yang ada di pulau ini,ku harap suatu hari nanti aku bisa pergi keluar pulau"


ucap salah satu prajurit.


tidak terasa mereka sudah menghabiskan perjalanan 2 hari,yang mana sebentar lagi mereka akan sampai pada tujuan,pria bertopeng itu tidak terlihat lagi dari kemarin,yang membuat jendral penasaran akan tujuan dia sebenarnya.


Alice yang berada di depan perlahan lahan memulihkan diri dan mulai terbiasa dengan keadaan nya yang sekarang,dia mulai menyadari kalau ada sesuatu yang berada di dalam dirinya,sesuatu yang membuat dirinya merasa akan kekuatan yang besar,namun dia tidak tahu kekuatan apa itu.


saat alice berjalan sendirian di barisan depan,dia melihat pasangan orang tua yang sedang berjalan membawa sayur dan buah buahan.


tanpa pikir panjang alice menuju ke arah orang tua itu dan hendak membeli beberapa buah nya.


orang tua itu mengenakan pakaian yang usang,dengan sendal mereka tertutupi tanah dan debu,dan kereta barang bawaan mereka bewarna hitam seperti sudah lapuk dan menua,namun buah dan sayurannya terbungkus rapi dan bersih dari balik kain sutra yang terlihat sangat mahal.


"kek permisi,aku ingin membeli beberapa buah"


"oh ya silahkan anak muda,ambil saja beberapa"


Alice mulai memilih milih buahnya,namun saat hendak membayar,orang tua itu bertanya pada alice.


"gadis muda,apa engkau akan pergi ke kota di timur sana?"


"iya,kenapa kek?"


"ku harap tidak ada saudara atau kenalanmu di sana,ku beri 7 apel ini untukmu,aku akan pergi,tidak perlu engkau membayarnya ini hadiah untukku,selamat tinggal"


"eh eh kek,tapi apa yang terjadi"


Alice ingin mengejar pasangan tua itu namun dia mengurungkan niatnya karena dia sendiri punya tugas untuk di kerjakan.


dengan cepat alice berlari menuju tempat tujuan mereka untuk mengecek apa yang terjadi di sana.


perjalanan yang di tempuh alice cukup dekat,dengan hanya waktu sekitar 1 jam berlari alice berhasil sampai ke tempat tujuan,namun alice menyelinap tanpa masuk ke kota,perlahan dia menuju daerah dataran tinggi untuk memantau,namun hal yang tidak di sadari Alice,dia tidak sadar akan stamina dan kecepatannya sekarang.


perlahan alice mengintip di balik dataran tinggi,betapa terkejutnya dia,kota yang menjadi tujuan mereka sudah hangus luluh lantah tak bersisa,bangunan di daerah sana hangus terbakar,terlihat mayat mayat dengan tubuh tidak lengkap hangus terbakar,beberapa mayat terlihat di mati memeluk anak kecil.ada hal yang membuat Alice bingung,tidak ada jejak api ataupun asap terlihat saat mereka dalam perjalanan kemari,di lihat dari bekas hangusnya,kejadian ini berlangsung tidak lama saat mereka sudah dekat kota.Alice semakin bingung dia mencoba mencerna kejadian ini,dari apa tujuan orang yang melakukan hal ini,atau apakah ada sangkut pautnya dengan anak kecil yang mereka kawal.


segera alice menulis pesan,dan mengikatnya di anak panahnya untuk di lesatkan ke arah barisan belakang,setelah selesai,alice pergi memeriksa kota itu.apa yang dia lihat benar benar mengerikan,membuat Alice mengingat masa lalu nya dan membuat dia muntah.


"uugghhh"


"Apa ini,apakah tidak ada yang selamat?"


"HALOOO" Dengan sekuat tenaga Alice berteriak.


"JAWABLAH!"


tetap tidak ada orang yang menjawab panggilan nya.Alice menyusuri jalan yang tertutupi Abu abu,mayat mayat tergeletak hangus di jalan.


Saat Alice hendak memasuki pusat kota,dia mendengar suara isak tangis perempuan,dan membuat dia merinding karena tangisannya benar benar menakutkan dan penuh rasa bersalah.


"Ada orang?dari sana"


Terlihat sosok perempuan dengan pakaian putih bersih,pakaian yang dia kenakan memiliki kerah leher yang tinggi dengan panjang hingga ke pahanya,dan dia mengenakan celana bewarna hitam,rambutnya bewarna pirang,dia terduduk menangis dengan mengenakan pakian yang putih bersih tak bernoda,walaupun daerah di sekitarnya di penuhi Abu,pakaian yang dia kenakan sangat bersih.


Secara peralahan Alice mendekati perempuan itu dengan berhati hati.


"Halo,kak..."


perempuan itu tetap menangis dan sepertinya tidak menyadari Alice di sana.


"Apa yang terjadi di sini kak?kak tidak ap?"


tetap tidak ada jawaban yang terdengar,hanya suara tangisan.


perlahan Alice menepuk punggung wanita itu untuk menyapa nya.


"JANGAN MENDEKAT!!" tiba tiba perempuan itu berteriak sekencang mungkin yang membuat Alice kaget dan terjatuh.


"Hei hei..."


"PERGI!!" Perempuan itu berteriak lagi yang membuat Alice perlahan menjauh.


perempuan itu mengeluarkan aura bercahaya bewarna putih dari tubuhnya,Alice perlahan lahan mundur untuk menjaga jarak dari nya,namun kakinya terasa berat seolah kaki Alice seperti di ikat rantai dengan beban yang berat.


"MUNDUR,PERGI DARI SINI,AKU GAK BERMAKSUD UNTUK MEMBUNUH MEREKA"


Alice bingung dan gak tahu apa yang dia bicarakan.


"Aku tidak sengaja,aku gak tahu apa yang terjadi,pergi jauhi kota ini,tidak ada yang bisa menolong ku"


"AAAAAAAARRRGGGHHH" perempuan tadi berteriak dan cahaya yang dia keluarkan semakin membesar dan mulai terasa panas.


segera Alice berlari menjauh namun hal itu sudah terlambat,cahaya putih yang keluar itu membuat hangus daerah di sekitat nya,dan dengan cepat membesar dan terjadi ledakan Cahaya yang sangat amat terang.