
Alice sudah bersiap siap untuk memejamkan mata hingga dia mendengar suara ledakan yang mrmbuat dia bangun dan keluar dari tendanya,benar saja di sebelah timur pulau terjadi ledakan yang sangat besar,segera Alice bersiap untuk pergi menginfokan ke para prajurit.
"gila,gila,gila...apa itu,aku harus segera pergi" Alice lari tergesa gesa dengan meninggalkan tendanya.
Arashi berdiri melihat kejadian itu juga,cahaya mulai tampak dari kejauhan dan semua prajurit bangun dari tidur nya karena mereka belum pernah menyaksikan ledaka sebesar itu,Sinar melihat dari balik jendela kereta bersama Anak yang di jaganya,mereka semua terbelalak melihat kejadian itu.
saay Alice sedang berlari menuju Arashi dia melihat cahaya terang,terbang melintasi langit malam,tapi dia tetap fokus berlari.salah satu cahaya yang terbang tadi mulai mengejar Alice.Alice pun sadar dan menambah kecepatan larinya.
"oh tidak tidak,itu menuju ke arah ku,tidaaaaaakkk" Alice teriak ketakutan.
semakin mendekat dengan kecepatan yang biasa,cahaya itu mulai mendekati Alice dan mengenai nya,Hal ini membuat Alice tersungkur dan terjatuh,saat Alice hendak bangkit dari jatuhnya,badannya tiba tiba menjadi lemah,dia mulai mencoba berteriak namun tidak ada suara keluar dari mulutnya,perlahan lahan kesasarannya mulai menghilang,dia terus mencoba mengulurkan tangan sambil matanya mulai terpejam.
Arashi yang tadinya terpaku dengan suara ledakan,mulai merasakan kejanggalan dari tempat alice.Arashi menghampiri Sinar dan membuka pintu keretanya
" tetap di sini bersama Tuan Muda,aku akan pergi sebentar"
"mau kemana,apa ada masalah?"
"ke lokasi Alice,aku merasakan firasat buruk"
"baiklah,tolong hati hati"
Arashi hanya mengangguk dan segera pergi ke tempat Alice,Arashi terkejut melihat kondisi alice yang sudah jatuh pingsan,dan segera menggendongnya ke kereta.
saat sampai di kereta,dia di masukkan ke dalamnya,Sinar terkejut dengan keadannya,badannya menjadi sangat panas,wajahnya mulai pucat.
"apa yang terjadi dengannya?" tanya sinar ketakutan
"aku tidak tahu,saat ku temukan,dia sudah terbaring di tanah"
Alice hanya memejamkan matanya,di dalam pikirannya sekarang,dia mengingat masa lalu nya,masa lalu yang ingin dia lupakan.
dia melihat desanya di bakar,paman dan bibi nya di bunuh,dan mengingat bagaimana mereka memperlakukannya dengan keji.
saat itulh Alice terbangun dan membuka matanya,
dia berteriak kencang dan mulai meronta ronta.
"Alice Alice,tolong tenangkan dirimu,ini aku,iya ini aku"
tangan Alice mulai mencekik leher sinar dan meremasnya,Arashi mulai menarik tangan Alice dengan sekuat tenaganya.
"Kau merebutnya dari ku,KENAPA?" Alice berteriak
"uugh,Sinar... tolong ....tenangkan dirimu" sambil terbata bata Sinar mencoba melawan cekikkan Alice dengan meraih kedua tangan Alice.
Alice pun melepaskan cekikannya dan ingin membuka pakaianya.
"PANAS PANAS,lepaskan baju ini dariku"
sinar merasa lega cekikan nya terlepas darinya
"Alice,apa.... yang terjadi?"
Sinar memegang bahu Alice.
"LEPAS LEPAAAASSS" Alice tetap saja berteriak.
para prajurit yang mendengar suara itu mulai waspada dan bersiap siaga dalam menyerang.
Anak di dalam kereta itu mulai ikutan panik dan berada di sudut ruangan kereta.
"Arashi tolong keluar sebentar,kamu juga Tuan muda,pergilah keluar sebentar bersama Arashi"pinta sinar
"Ba..Baik kak"
mereka berdua pun keluar dari kereta dan memberi ruang ke pada Sinar dan Alice.
Sinar mulai melepaskan baju nya Alice,dan dia mulai mengeluarkan jurus penyembuhan dari telapak tangannya.
Alice perlahan lahan merasa tenang,dan tenang.
dia mulai menangis,namun tidak bersuara.
Sinar melihat dada Alice dan dia mulai kebingungan,karena simbol yang entah dari mana,perlahan lahan muncul dan tampak jelas,simbol kecil bewarna ungu muncul di dada Alice,simbol itu sendiri berbentuk Angka 8,sinar sendiri tidak tahu simbol itu karena belum pernah melihatnya sebelumnya.
"Kak...,ma...maafkan aku...ya" Suara Alice mulai terdengar kecil.
"tidak apa,kamu bisa istirahat sekarang"
Sinar mulai menyelimuti tubuh Alice,dan memanggil Tuan muda itu untuk masuk ke dalam kereta lagi.
"bagaimana keadannya?" tanya arashi dari luar kereta.
"badannya masih panas,tapi dia sudah tenang"
"apa efek ledakan itu ya?" Arashi bertanya pada diri nya sendiri.
"istirahatlah,besok prajurit yang akan berada di bagian depan"
mereka pun tidur dan beberapa prajurit berjaga,suasana mulai sunyi kembali di malam itu,penduduk di pulau itu tidak ada yang tahu kenapa ledakan itu terjadi.
crow mulai berjalan di gelapnya malam,tubuhnya terasa lelah,nafasnya mulai berat,namun matanya selalu menghadap ke depan, seperti ingin menggapai suatu tujuan.
matahari sebentar lagi terbit,prajurit mulai bersiap mengambil posisinya masing masing,jendral prajurit itu mulai mendekati Arashi yang lagi berdiri di belakang kereta.
"bagaimana keadaan alice?" tanya jendral itu dengan menahan amarahnya
"dia sudah tenang,tapi mungkin untuk sekarang tidak bisa berada di baris depan"
"apa maksudmu,jadi harus orang ku yang berada di garis depan?"
"ya seperti itulah,sampai Alice siuman dia akan berada di kereta"
"jadi kita harus melindungi satu orang lagi,tapi jangan harap kami akan melindungi nya,kau juga harus utamakan keselamatan Tuan muda"
"baiklah"
"kita berangkat!!" teriak jendral itu.
perjalanan pun di lanjutkan,debu mulai terasa tebal,angin berhembus kencang yang membuat pasukan sebagian menutup wajahnya.
di dalam kereta, alice pun terbangun,matanya sedikit terbuka sambil memperhatikan sekelilingnya.dia baru sadar kalau dia lagi tidur di pangkuan Sinar.
"kak,kok aku di sini?"
"oh sudah bangun,kamu sudah baikan?"
"aku baik kok,kok aku tidur di paha kakak?" Alice memegangi kepalanya yang sedang pusing.
"tidak apa kok,tidur aja"
"hahaha,,,gak kok gak" ("sudah hilang kesemutannya tadi ada aj kesemutan") Sinar bergumam.
"maaf kak"
"apanya?"
"awal kita bertemu aku bertindak kurang ajar,gak seharusnya aku melakukan hal kyk gitu" Alice menatap wajah Sinar dengan mata berbinar binar.
"gak apa,sudah lah istirahat aja,jangan kebanyakan pikiran oke" Tangan sinar mulai mengelus elus pipi Alice hingga ke lehernya.
"I...iya",wajah Alice memerah malu karena di perlakukan seperti anak kecil.
sinar pun sadar,kalau bekas luka yang di leher Alice menghilang,namun dia hanya diam tanpa memberi tahu Alice.
"ada apa kak?"
"tidak ada,kamu baik baik aj sekarang"
saat mereka masih dalam perjalanan,prajurit yang di barisan depan lari menuju mereka,yang sepertinya ingin menginfokan sesuatu.
"Ada apa,ada masalah?" tanya prajurir yang lagi menaiki kuda pada posisi depan.
"huuft hufft,kita...sedang...hah hah"
"atur nafasmu dulu prajurit,tarik nafas dulu"
"hah" prajurit itu menghela nafasnya.
"kita di hadang,orang itu hanya berdiri di sana"
"berapa orang?" tanya jendral yang datang menghampiri mereka.
"hanya satu orang,saya takut temannha bersembunyi di dekat nya"
"tapi ini padang luas,tidak ada pohon atau bukit yang bisa menjadi tempat persembunyian mereka"
"saya juga tidak tahu,dia hanya berdiri,wajahnya di tutupi topeng yang sebelahnya kiri bewarna hitam,dan kiri bewarna putih"
"kita akan kirim pasukan kecil itu memeriksa nya" jendral itu mulai menunjuk 4 orang pasukan untuk mendekati pria yang menghadang mereka.
"aku ikut,Mereka berdua akan tinggal di sini berjaga jaga" Arashi menawarkan diri.
"baiklah,ikuti aku empat orang yang ku tunjuk tadi" jendral itu berjalan di bagian depan semenyata yang lain mengikutinya dari belakang.
mereka pun telah sampai ketempat orang yang menghadang mereka,jendral mendekati pria dengan melirik ke kiri dan kekanan,walau sebenarnya tidak ada tempat bersembunyi,tapi dia tetap waspada akan kejadian yang tidak terduga.
"ada perlu apa kau berdiri di sini?sudah gila?"
pria itu hanya tertunduk diam sambil berdiri,Arashi pun maju dan bertanya ke padanya.
"siapa kau?,jika tidak ada kepentingan silahkan pergi dari tempat ini"
pria bertopeng itu mulai melirik ke arah mereka dan tangannya mulai menunjuk ke arah Arashi
"aku Crow,berikan benda itu"
"benda...?" jendral mulai kebingungan dengan benda apa yang di maksud pria bertopeng itu.
"berikan saja dan aku akan enyah dari sini,aku tahu kau memilikinya, ZERO"
Arashi kaget dengan kata yang di ucapkan pria itu,Arashi sekarang dalam mode siap menyerang,kedua tangannya mulai di masukkan ke dalam jubahnya.
"jendral,segera pergi dari sini,ambil jalan memutar,dia orang yang sangat berbahaya"
"apa yang kau katakan,dia hanya sendiri,kita bisa mengalahkannya jika dia menyerang"
"tidak jendral,dia bukan orang sembarangan,mungkin bisa saja,dialah yang membuat ledakan pada malam tadi,kalau jendral tidak memutar,kita semua akan mati di sini"
"aku sudah capek berbasa basi dari tadi malam,kau akan pergi sendiri memberi tahu pasukanmu yang di belakang jendral" kata crow mengancam jendral itu.
"apa maksud..." jendral itupun menoleh kebelakangnya,dan dia sangat amat terkejut,empat prajurit yang bersamannya tadi telah tewas dengan kepala mereka terpenggal.
"a...apa yang terjadi,bagaimana bisa?"
jendral itu mulai ketakutan dan mendekati mayat keempat prajuritnya,dia gemetaran karena tidak tahu bagaimana mereka tiba tiba bisa mati seketika tanpa dia sadari.
"CEPAT PERGI JENDRAL!!" Arashi berteriak yang membuat jendral itu kaget.
"ba...baik,berhati hatilah"
jendral itu mulai berlari menuju pasukannya di belakang,sementara Arashi bersiap menyerang,dia mengambil salah satu pedang dari balik jubahny,pedang yang sangat penjang dengan panjang 120cm.
"Akhirnya hanya kita berdua saja,kau tahu,mood ku lagi buruk sekarang ini,akan ku selesaikan dengan cepat dan pergi dari sini" Ucap crow,dia membuat lingkaran segel dari udara,dan menarik Katana.
"kurasa dengan ini cukup"
Arashi dengan kuda kudanya siap melancarkan serangan terkuatnya,dan
SLAAASHHH
Arashi menebas secepat kilat,bahkan angin dan debu tidak bisa mengimbangi kecepatannya,tapi kekuatan itu belum cukup untuk mengalahkan crow,crow menahan tebasan dengan pedangnya.
"benar benar cepat" crow menoleh kebelakangnya dan melihay betapa kesal wajah Arashi saat itu.
"akan ku ingat momen ini,kau hanya pak tua yang kerjanya cuma mengkebumikan teman temanmu" ucap crow dengan nada intimidasi.
Arashi melemparkan pedangnya dengan cepat,sementara craw hanya berdiri tidak menghindari pedang pedang itu,dia seperti menerima tembakan dari pedang pedang nya.
"keabadian bukan milikmu saja"
Arashi kaget,dan dia melebarkan ke dua tangannya dengan cepat,hingga tercabik cabiklah tubuh crow karena tebasan pedanh yang menancap pada tubuhnya.
saat tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan karena terpotong potong oleh pedang arashi,hal di luar nalar terjadi,Aura gelap mulai muncul dari daging crow yang telah terpotong potong,begitupun tubuh crow yang sudah bermandikan darah mulai memunculkan aura gelap yang amat pekat,daging daging yang berjatuhan di tanah,melayang dan dengan cepat kembali ke tubuh crow seolah olah tubuh itu menyembuhkan dan menyatukan bagian bagian yang hilang,darah yang berlumuran di baju dan celana crow ikut masuk kembali ke dalam tubuhnya,regenerasi yang benar benar di luar akal sehat manusia,dalam sekejap tubuh crow utuh kembali seperti tidak terjadi apa apa.
Arashi hanya menatap tajam tanpa bisa berkata apa apa.
"aku tidak mati,berbagai cara sudah ku lakukan agar aku bisa mati,agar aku bisa menyusul mereka,tapi sepertinya neraka bahkan tidak mengijinkan mu menginjakkan kaki di sana" ucap crow yang melihat darah di jari jemarinya yang perlahan masuk ke dalamnya.
"kenapa kau mengincar itu?"
"kekuatan,aku ingin kekuatan"
Dalam sekejap crow yang tadinya berdiri di depan arashi lenyap,hanya menyisakan debu debu yang berterbangan,tidak ada noda darah sedikitpun di tempatnya berdiri,Arashi menoleh kesekitar memastikan kalau dia benar benar lenyap,setelah itu dia kembali ke kereta.
Arashi menceritakan hal yang terjadi ke pada jendral prajurit,namun jendral itu benar benar tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar,para prajurit pun tidak tahu menahu apakah mereka mengetahui kisah atau cerita tentang orang bertopeng itu,sementara itu beberapa prajurit kembali ke tempat empat prajurit yang mati di sana,dan menguburkannya dengan layak.
Alice hanya bisa terbaring,tubuhnya belum mampu bergerak karena kejadian malam itu.perjalanan mereka pun di lanjutkan,walaupun Arashi masih belum tahu tujuan sebenarnya pria itu,tapi dia tahu kalau pria itu bukan berasal dari sini.