From Zero

From Zero
KUTUKAN



Segera Alice meninggalkan tempat itu dan berlari menuju pasukan di barisan belang


"A...apa itu tadi" Alice berlari tanpa melihat kebelakang,kakinya kotor terkena puing puing rumah yang terbakar di tanah.


saat merasa dia sudah cukup jauh,Alice menoleh kebelakang dan melihat kalau cahaya itu mulai meredup,Namun Alice tetap berlari untuk menginfokan barisan belakang.


Saat Alice sedang berlari,tiba tiba saja Alice terpental,Terpental cukup jauh hingga hampir mencapai gerbang masuk Kota.


Alice ternyata bukan hanya sekedar terlempar,namun dia di pukul oleh pukulan yang sangat kuat.


Alice terbaring sambil menahan sakit di area Perutnya.


"Uhuk...ugh" Mulutnya mengeluarkan darah yang cukup banyak,membuat penglihatannya kabur.


Dia melihat sosok Perempuan yang memiliki lingkaran terang di kepalanya,serta kedua sayap putih yang cantik di punggungnya.Perempuan itu terbang menghampiri Alice yang sedang terbaring terluka.


"UGH...akh" 'Aku harus pergi dari sini' Alice bergumam sambil merayap menahan sakit di perutnya.


"ALICE!!" Teriak seorang Pria dari kejauhan.


ya,itu Adalah Arashi.


dengan cepat Arashi melempar pedangnya ke arah Perempuan misterius itu,namun pedang itu Meleset seperti berbelok sendiri ke arah lain.


"Malaikat,ku pikir sudah di segel oleh pria itu,berarti dia beneran mati,huh"


Perempuan itu hanya diam berdiri sambil melayang


"Alice jangan bergerak,akan ku keluarkan kau dari sini" Arashi berbisik pelan.


Dengan gerakan cepat Arashi bergerak ke arah Alice,namun saat hendak mendekati dan menggapai Alice, tiba tiba saja Perempuan itu berada di depan Arashi,yang membuat Arashi terkejut dan mundur kebelakang.


Sekarang perempuan itu berada tepat membelakangi Alice,Darah dari mulutnya terus bercucuran,yang membuat kesadarannya semakin menipis.


Dengan gerakan yang sangat cepat,tangan perempuan itu hendak melayangkan tusukan ke arah Alice,gerakan tiba tiba yang di lakukan Perempuan itu membuat Arashi kaget.


Namun keanehan terjadi,gerakan perempuan itu tiba tiba melambat,dunia seakan akan ikut melambat,semakin lama semakin melambat dan seketika membuat waktu itu berhenti.


gerakan semua makhluk hidup berhenti,awan yang tadi nya berjalan di langit juga ikut berhenti,angin yang menghembuskan debu juga ikutan berhenti,seperti dalam sebuah foto.


Perempuan misterius ,Alice dan Arashi juga ikut berhenti,namun ada satu orang yang bisa berjalan di tengah waktu berhenti itu.


Dia adalah Sinar,Sinar perlahan lahan turun dari kereta dan berlari menuju Alice,dengan nafas yang ter- engah engah.


Dia pun berhasil mendekati Alice dan menggendongnya ke barisan belakang.


"Aku harus cepat,sebelum semua gelap gulita"


gumam sinar yang lagi membopong Alice.


Alice pun berhasil di selamatkan,waktu pun perlahan lahan kembali berjalan.


DUAR


Suara hentaman terjadi yang di buat oleh Perempuan itu.


perempuan itu sadar kalau target nya sudah menghilang.


Arashi pun segera bergerak cepat ke belakang menuju Sinar.


"Sinar pegang tangan ku,sekarang" Arashi mengulurkan tangannya ke arah sinar


Sinar hanya mengangguk dan memegang tangan Arashi.


dengan cepat mereka semua berpindah tempat.


mereka pun berpindah ke area perhutanan,hutan lebat yang di Huni beberapa burung kecil.


"Apa itu tadi,apa yang terjadi??" Tanya jendral dengan nada kebingungan


"Kita di sergap,kota itu sudah hancur" jawab Arashi


"Alice bertahanlah" Sinar mencoba menyembuhkan Alice dengan telapak tangannya,namun darah dari mulutnya tidak kunjung berhenti.Wajahnya di penuhi darah serta bajunya.


"Kuat lah Alice,Coba lah bertahan,Tatap mataku,tatap saya" Sinar berbicara dengan Alice yang kesadarannya mulai memburuk.


Perlahan tangan kanan Alice mencoba menggapai pipi Sinar,Tangan yang di berlumuran darah mencapai pipi sinar,yang membuat pipinya terkena bercak darah.


Mata Alice perlahan mulai menutup


"Jangan,,,jangaaan,tetap bersamaku,lihat aku,Heei ALICE" teriak sinar yang mulai panik.


Mata alice perlahan menutup,membuat kesadarannya semakin buruk.


Alice dengan samar samar mendengar suara Sinar marah ke pada Arashi.


namun dia hanya bisa tersenyum kecil dan menutup matanya,hanya kegelapan saja yang bisa di lihat Alice.


Hanya keheningan yang di rasakan Alice,Gelepan menyelimuti dirinya,dia tidak bisa merasakan apapun.


Namun di tempat yang gelap,Alice mulai membuka matanya perlahan,terdapat cahaya kecil berjumlah 9 titik yang begitu jauh.


perlahan tangan Alice mulai mengangkat tangan kirinya dan mencoba menggapai cahaya tersebut,Namun dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya,hanya tangan yang seakan menggapai langit namun tidak bisa tercapai.


perlahan pendengarannya mulai membaik,terdengar suara burung burung kecil yang beterbangan di dekatnya.


"hei dia sudah bangun,tolong ambilkan air putiih"


terdengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinga nya.


"kak sinar?"


"syukurlah kamu ingat namaku"


"ledakannya di mana ledakannya?"


"semua sudah aman,kita berada jauh dari tempat itu,Arashi memindahkan kita semua ke tempat yang aman"


"Dimana Arashi?"


tanya Alice sambil melihat sekeliling nya.


"Dia lagi bertarung di kota itu"


kota yang bisa di bilang cukup ramai dan damai,sekarang sudah menjadi hangus terbakar,api yang tadi nya berwarna merah menyala,menjadi putih menyala nyala,api putih itu seperti lagi melindungi sesuatu di dalamnya,kobaran api yang besar yang melindungi orang di dalamnya.


orang itu adalah gadis tadi yang menyerang Alice


Arashi hanya berdiri diam dan memikirkan cara untuk masuk ke api itu.


namun jubah yang di milikinya tidak memiliki ketahanan terhadap api putih tersebut,jubah Arashi termasuk jubah yang unik,yang tidak bisa di serang oleh api,bisa beracun dan serangan fisik.


semua akan di netralkan oleh jubah tersebut,namun Api putih ini adalah pengecualian,sebagian kecil pada ujung jubahnya terbakar.


secara tiba tiba api putih itu membesar dan meledak,Arashi dengan cepat membuat sebuah bola dari tanah untuk di jadikan sebuah tameng,Api itu benar benar panas,yang membuat pelindung tanah Arashi meleleh.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya arashi


"aa..aku...aku membakar semuanya,Aa...aku tidak bermaksud melakukannya"


"tolong menjauh dari ku"


'saat ini zero masih di miliki sinar,apa harus ku gunakan itu?' Gumam Arashi.


Arashi menyentuh dada kirinya dengan telapak tangan kanannya,cahaya pun muncul dari dada kiri arashi,cahaya yang bewarna keemasan yang cukup menyilaukan.


Arashi memasang kuda kudanya seperti hendak berlari


"AAAAAAKKKHHHHH" Gadis itu terus berteriak dan api di sekitarnya makin membesar.


tanah yang tadi nya hitam hangus terbakar menjadi merah terbakar,seperti Lahar yang siap meleleh kapanpun.


Arashi pun melesat cepat.


membuat tanah yang di lewatinya meleleh


Api putih yang melindungi gadis itu seakan akan memberi kan jalan kepada Arashi


dengan sekejap mata,api putih yang tadinya besar membakar,perlahan mulai menghilang,dan berubah menjadi api kemerahan,terlihat telapak tangan kanan Arashi memegang kening gadis itu seperti kiper yang menahan bola dengan satu tangan.


api di sekitarnya pun mulai menghilang,wajah gadis itu terlihat,terdapat bekas luka terbakar di mata kirinya,serta rambut nya yang bewarna putih perak.


gadis itu pun tersungkur pingsan dan arashi memeluknya agar tidak terjatuh.


walaupun api sudah padam,masih terasa hawa panas yang menyelimuti daerah sekitar,dengan sigap Arashi memberikan jubahnya ke gadis tersebut.


Arashi pun menggendong gadis itu dan membawanya,dia pun berteleportasi ke tempat sinar berada.


Teleportasi Arashi adalah sesuatu yang rumit,tanpa zero dia tidak bisa pergi tempat semaunya dan hal itu membuat Arashi akan berteleportasi secara acak di daerah sekitar yang berjarak dalam radius 1 KM.


Hal yang membuat dia bisa berteleportasi ke arah Sinar adalah dia sekarang memiliki DNA sinar yaitu rambutnya,yang membuatnya bisa berpindah tempat ke dekat orang yang memiliki Rambut tersebut,namun ada batas batas tertentu yang hanya bisa di jangkau.


"Itu Arashi,,,tapi tunggu dulu,kelihatannya dia membawa seseorang di tangannya"


ucap salah satu prajurit yang bertugas mengawasi hutan sekitar.


"Apa mungkin itu gadis yang mereka ceritakan tadi?"


"setidaknya kita harus membantu nya,AMANKAN DAERAH SEKITAR!"


Arashi berjalan dengan membopong gadis itu,terlihat masih ada hawa panas di sekitar gadis tersebut.


"Aku butuh pakaian dan selimut basah untuk dia,saat ini dia tidak sadarkan diri"


ucap Arashi yang memandang ke arah Sinar.


Sinar pun memandang balik dan berjalan pelan ke arah Arashi.


"Tolong rawat dia" pinta Arashi ke sinar.


"Hei,,,kamu masih marah?" tanya Sinar dengan kepala menunduk sembari matanya melirik ke Arashi.


"Tidak,jangan terlalu di pikirkan,Alice selamat berkatmu itu yang terpenting,bukan?"


"yaa" Sinar tersenyum


"Tapi ingatlah,tubuh mu tidak akan kuat menopang kekuatan Zero,jika terlambat sedetik saja,semua akan hancur,jangan terulang lagi"


Sinar hanya mengangguk pelan.


malam hampir tiba,mereka harus bermalam di tempat itu,sebagian prajurit membuat api unggun sebagian mendirikan kemah untuk tuan muda yang mereka kawal dan untuk prajurit lainnya.


"Obati luka gadis ini,ada banyak hal yang harus kita tanyakan" Ucap jendral prajurit.


"seperti bagaimana kota itu bisa hancur dalam sekejap?membayangkannya saja membuatku merinding" ucap salah satu prajurit yang terlihat ketakutan


"tapi setidaknya saat dia bangun kita tidak menanyakannya secara langsung,kita harus menunggu nya tenang dahulu,terlalu berbahaya jika dia bisa menghancurkan kita"


"kau benar,Arashi bilang dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya,maksudku sihir apa yang berada pada gadis ini?" prajurit itu kebingungan yang membuatnya menggaruk garuk kepalanya.


"aku pernah dengar,kalau dulu di pulau ini terjadi perang selama 500 tahun,katanya perang itu benar benar dahsyat penuh dengan kekuatan di luar nalar kita"


"Siapa yang memberi tahumu? nenek buyutmu?perang itu sudah terjadi lebih dari 200 tahun yang lalu,aku gak begitu yakin kalau mereka benar benar perang selama 500 tahun"


prajurit saling mengobrol dan bercerita di sekitar api unggun,beberapa memanggang daging untuk mereka makan,suasana yang sangat tenang namun dingin di dalam hutan.


"siapa yang tahu,tapi bisa saja kalau gadis itu memiliki sisa sisa kekuatan dari perang dulu,dan mungkin kekuatan itu sisa dari hantu hantu yang bergentayangan di pulau ini"


beberapa prajurit terlihat ketakutan dengan menelan ludahnya sendiru saat mendnegar hal tersebut.


"sedang cerita apa kalian?"


"AAAA" beberapa prajurit teriak karena kaget dengan kedatangan Alice yang tiba tiba berada di belakang mereka.


"bikin kaget saja"


wajah alice masam memandang prajurit,ah gitu aj kok.


"seperti nya gadis yang kalian ceritakan tadi sudah siuman"


prajurit itu pun saling menganggukkan kepalanya dan berdiri,mereka bersiap dengan semua kemungkinan yang terjadi,pemanah telah siap di atas pohon yang cukup jauh dari lokasi gadis itu siuman,beberapa bersembunyi di balik pohon namun namun mereka tidak mengeluarkan pedangnya.


"kamu sudah sadar?Hei coba lihat ke arahku"


ucap sinar sembari mengompres dahi gadis itu.


"i..iya,kota itu,aku membakarnya bukan?"


"tenangkan dirimu dulu,minum ini teh herbal,kata mereka ini bisa menenangkan jiwa"


"terimakasih" gadis itu pun berusaha bangun dari tidurnya dan sekarang dalam posisi duduk untuk meminum teh itu.


namun setelah meminum teh itu,gadis itu hanya terdiam memandangi teh yang di genggamnya.


tampak air mata keluar dari kedua mata gadis itu.


"maafkan aku,maafkan aku,maafkan aku,,,aku tidak tahu apa yang terjadi semua terjadi begitu saja"


sinar hanya terdiam sambil mendengarkan gadis itu.


"tiba tiba,ada api keluar dari kedua tangan ku,orang orang di sana mencoba segala cara dengan menyiram ku,tapi api itu tidak kunjung padam,ibu ku,ibu ku meninggal terbakar saat memelukku,tubuhnya tidak tersisa,maafkan aku ,maafkan aku" gadis itu mulai menangis sambil menggenggam erat teh herbal itu.


"Sekarang kamu aman,kamu harus tenangkan dirimu,sesuatu yang terjadi tidak pernah bisa di tarik kembali" ucap sinar sembari mengusap air matanya.


"Siapa namamu?"


"cahaya,nama ku cahaya"


...