
"Ketika harapan telah sirna, mungkin itulah saatnya untuk menyerah"
***
Dia kan pria yang waktu itu ada di base camp Adelard..
Kalau tidak salah namanya Alby..
Apa yang terjadi padanya?
Tangan nya terikat di balutan es balok. Astaga, siapa orang yang tega melakukan ini?
Es?
Api, api bisa mencairkan es kan?
Tapi dimana aku bisa mendapatkan api?
Tidak..
Seperti nya tidak akan ada api di tempat ini. Kalau begitu aku pasti membutuhkan air. Air panas..
Dimana?
Oh, di tempat aku di rantai tadi. Mereka membicarakan tentang balok apikan.
Aku harus segera.
Langkah ku terhenti lagi. Ketika di balik pintu besar itu terdengar suara derap langkah kaki.
Ahh..
Bagaimana ini?
Pintu terbuka, menampilkan seorang pria botak tengah yang sedang mendorong sebuah troli makanan.
"Bos benar benar kejam. Tidak ada rasa kasihan sedikit pun pada putranya sendiri. Sungguh malang nasibmu tuan" Pria itu berucap sembari berjalan menuju Alby.
"Aku hanya bisa berharap akan ada orang yang datang menyelamatkanmu tuan" Pria itu menghela nafas perlahan.
"Siapa pun yang ada di balik patung naga itu, aku berharap kau adalah orang baik yang berniat menyelamatkan tuan Alby" Aku tersontak kaget. Bagaimana dia bisa tau?
Padahal aku sedang mengaktifkan mode menghilang dari kostum ini.
"Keluarlah, aku tidak akan berniat jahat padamu" Pria itu berucap lagi.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian ku.
Kepala ku menunduk dalam. Tak berani menatap wajah pria itu.
"Apa yang kau lakukan disini? Ini tempat bahaya! " Ucap pria itu kepadaku. Kepalaku mendongak memberanikan diri menatapnya.
"Nona muda, kau sudah menjadi buronan di tempat ini. Sebaiknya kau cepat keluar dari tempat ini" Lanjutnya. Aku masih bingung dengan tingkah pria ini. Ada apa?
Apakah dia mengenalku?
"Tapi pak.. Dia adalah teman ku. Tidak mungkin aku meninggalkan nya disini kan? Aku sudah meninggalkan perempuan yang membantuku keluar dari tempat aneh berbentuk tabung itu. Dan sekarang.. Aku tak mau meninggalkan orang yang ingin kuselamatkan untuk yang kedua kalinya "ucap ku memelas.
" Kau bisa melarikan diri dari sini lalu memanggil bantuan untuk membebaskan mereka. Bukan kah itu lebih baik dibanding kau tertangkap lagi dan tidak akan keluar dari tempat ini selamanya? Kau mau itu terjadi, dan tidak akan ada yang selamat" Ucap pria itu.
"Tenang saja selama kau pergi mencari batuan, aku akan menjaga Yori si wanita yang menyelamatkan mu dan tuan Alby tentunya" Ucap pria itu.
"Bawa ini agar kita bisa terus berkomunikasi. Seiring berjalannya waktu kau akan tau apa alasan ku mau membantumu" Aku terdiam. Pria ini begitu peduli dan baik. Mengapa dia ada di tempat yang buruk seperti ini?
"Tidak ada waktu lagi. Cepatlah sebelum matahari kembali terbit" Ucap pria itu memperingati.
"Apa akan baik baik saja? Aku tidak tau di mana jalan keluarnya pak" Ucapku ragu.
"Aku akan menunjukkan nya melalui alat komunikasi ini" Ucap pria itu. Aku hanya bisa mengangguk. Gadis lemah seperti ku ini akan melakukan petualangan? Tidak dapat di percaya. Bahkan keseharianku penuh dengan manjaan. Tapi sekarang, aku harus keluar dari tempat ini dengan penuh ancaman yang menunggu di depan sana.
***
Berkat bantuan bapak paruh baya itu, akhirnya aku berhasil keluar dari tempat ini.
Beberapa kali aku hampir saja ketahuan. Untungnya mereka segera pergi dan mengabaikan.
Aku tidak bisa bernafas lega ketika melihat keadaan diluar. Hah.. Hutan belantara yang gelap.
Penuh dengan suara hewan yang menakutkan.
"Pak.. Apa yang harus ku lakukan sekarang? "
"Pergilah masuk kedalam hutan. Kau akan menemukan persimpangan. Lalu belok kanan. Disana ada sebuah rumah pohon. Masuklah kesana dan bersembunyi lah dengan baik" Ucap pak tua dari alat komunikasi yang dia berikan.
Aku mengangguk, lalu memulai perjalanan.
Tidak mudah melewati tantangan nya. Huh.. Seperti menjadi karakter dalam game. Banyak hewan aneh dan beberapa penjaga yang berlalu lalang.
Segera ku berlari kearah rumah pohon itu. Hanya tinggal beberapa meter lagi, maka aku akan segera sampai.
Namun karna terlalu terburu buru, kaki ku tersandung sesuatu. Lalu tubuhku terguling kedalam sebuah lubang.
Bruak..
Akhh..
Tangan kanan ku membentur batu yang cukup besar. Kucoba membenarkan posisiku menjadi duduk.
Menyenderkan punggungku di batu besar itu. Mata ku mengedar memperhatikan sekitar. Gelap sekali tempat ini.
Tangan ku meraba telinga, ah benda pemberian pak tua itu ternyata terjatuh.
Astaga..
Sekarang apa yang harus kulakukan?
Ah.. Benda pemberian Adelard..
Semoga tidak hilang.
Secepat mungkin tangan kiri ku merogoh saku celana.
Ku hembuskan nafas lega ketika berhasil mendapatkan benda hijau pemberian Adelard.
Segera ku buka tombol merah yang ada di benda itu. Disana lah bersemayam sebuah tuas mini. Entah siapa yang punya ide membuat benda serumit ini.
Jari telunjukku menekan tuas itu. Perlahan mulai muncul pintu bercorak unik. Pintu itu terbuka.
Perlahan aku bangkit dari posisi dudukku. Berjalan menuju pintu yang terbuka itu.
Ini lah benda yang di berikan Adelard. Bentuknya seperti sebuah ruang perpustakaan, ada banyak buku yang terdapat disini. Rak tinggi tersusun rapi.
Di tengah rak buku raksasa terdapat sebuah meja bulat dan beberapa kursi.
Setelah beberapa saat berjalan, aku memutuskan untuk beristirahat diatas kursi.
Entah bagaimana cara Adelard membuat benda ini.
Aku merindukan keadaan kota..
Apa mereka akan mencari ku?
Aku lelah di sini..
Ingin segera pulang..
Ah.. Berharap apa sih kamu?
Hah.. Mana mungkin mereka akan mencariku. Aku bukan siapa siapa..
Sadarlah.. Kamu cuma beban dalam kelompok mereka.
Kusenderkan punggung ku di kursi. Tangan ku menyapu peluh di dahi. Lalu memijit pelan tangan kananku yang sempat terkilir.
Ada sedikit goresan disana. Perih sekali. Tapi aku harus tahan. Yori lebih tersiksa didalam sana.
Kruuuk..
Ah perutku lapar sekali. Sudah berapa lama aku tak memakan apapun?
Ku putuskan untuk bangkit mencari makanan di ruangan ini. Mana tau ada sebuah lemari penyimpanan makanan di ruangan ini.
***
Setengah jam berlalu, ternyata disini tidak ada lemari penyimpanan makanan.
Perut yang lapar ditambah suasana di tempat ini yang perlahan mulai berubah dingin.
Ah..
Rasa nya ingin menyerah saja.
Tiba tiba terdengar suara aneh dari arah luar. Menambah kegelisahan dalam diri ini.
Hah..
Aku hanya bisa berharap ada yang datang menyelamatkan ku. Tapi siapa yang tau aku ada di sini?
Tubuh ku sudah lemah, mati rasa. Mungkin harus tersenyum untuk terakhir kalinya.
Kututup mata ini. Berharap akan terbangun di tempat yang indah dan terang. Bukan tempat yang gelap.
***