Freedom Or Misery

Freedom Or Misery
Kenyataan



Bagaimana jika saudara kembar ku adalah diriku sendiri? "


***


Tubuhku terasa kaku. Wajahku memanas. Nafasku sesak.


Posisi ini sangat merugikan bagi ku. Lihatlah, tangan gadis cantik didepanku ini menutupi mulut dan hidungku. Tidak ada sela untuk bergerak. Rasanya seperti menyelamkan wajah kedalam air selama berjam jam.


" Sampai saat ini masih dalam pencarian. Kami belum menemukan petunjuk apa pun kecuali gedung tiga tingkat lorong tikus" Suara seorang pria terdengar tepat di balik tembot tempat kami bersembunyi.


Suara itu...


Aku seperti mengenalnya.


"Belakangan terlihat jika tuan Alby berjalan bersama seorang wanita tak di kenal" Lanjut pria itu setelah jeda beberapa saat.


Apa orang ini sedang membicarakanku?


Lalu apa wanita yang dimaksud adalah Caitlyn?


Mataku melirik kearah Caitlyn, wanita itu hanya diam seperti memikirkan sesuatu.


"Baik saya akan segera menemukan mereka berdua. Saya berjanji"


"Saya akan terus mengikuti gerak gerik tuan Alby dan memastikan siapa wanita yang bersamanya" Aku tersentak, mencoba memahami maksud dari kata kata pria itu. Apa maksudnya mengikuti gerak gerik ku?


Apa selama ini aku terus diikuti seperti itu?


Setelah beberapa saat suara pria itu tak lagi terdengar. Mungkin sudah pergi.


Merasa bahwa keadaan sudah lebih aman, Caitlyn melepaskan bekapan tangannya dari mulutku. Nafas ku terengah, sedikit lega setelah tidak bernafas beberapa menit.


Selang beberapa saat, rintik rintik halus mulai berjatuhan membasahi wajah. Awan mendung mulai terlihat, perlahan air rintikan hujan mulai menebal. Hujan semakin deras.


Dengan cepat baju seragam kami basah, Caitlyn terlihat sedang membuka pintu gudang. Dan berhasil.


Kami segera masuk kedalamnya. Sesak, debu seakan menyumbat saluran pernafasan. Tetapi itu hanya beberapa detik saja.


Ku lirik Caitlyn dengan baju basahnya. Tidaaak..


Dia pasti sangat kedinginan. Kubalik badan ini membelakanginya.


Tanganku sibuk merogoh tas hitam ukuran sedang yang kubawa. Mencari sweater coklat milikku.


Setelah mendapatkannya, tangan kanan ku mengarah ke belakang berniat ingin memberikannya pada Caitlyn. Namun tidak ada respon darinya.


Akhirnya kuputuskan untuk berbalik kearahnya.


Tubuhku terhuyung kebelakang ketika hampir bertabrakan dengan Caitlyn. Sepatu yang ku kenakan terasa licin. Kupejamkan mata ini siap menerima kenyataan buruk yang akan terjadi.


Tubuh ku seperti tertahan sesuatu. Kuputuskan untuk membuka mata ini.


Deg..


Hal yang pertama ku lihat adalah wajah cantik milik Caitlyn. Apa dia benar benar menahan tubuhku?


Dengan cepat ku sadarkan diri ini dari lamunanku.


"Ma maaf Cai, aku cuma mau ngasih sweater ini" Ucapku dengan kepala menunduk. Tak berani menatap wajahnya. Malu..


"Makasih" Satu kata, singkat padat dan jelas.


***


Hujan di luar gudang semakin deras. Hari mulai berganti malam. Kuputuskan untuk mencari sakelar yang ada di gudang ini.


Tap


Cahaya terang menyilaukan mata. Ternyata gudang ini tidak seperti yang kubayangkan.


Seperti tempat perkumpulan sebuah geng mungkin. Di ujung sana terdapat beberapa sofa panjang. Meja dan lemari. Entah lemari apa.


Di setiap dinding terdapat pintu pintu yang tertutup.


"Kamu tau ini tempat apa? " Tanya ku kearah Caitlyn, wanita itu sibuk mengamati ruangan ini.


"Seperti tempat perkumpulan geng motor. Tempat yang tidak terduga letaknya. Mungkin pintu pintu itu menyimpan sesuatu" Ucap nya lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Aku hanya diam mengikuti langkah kaki jenjang milik nya.


Perlahan terdengar suara dari arah luar, suara decitan motor di tengah derasnya hujan.


"Ayok sembunyi.. " Caitlyn menarik lengan ku, rasanya seperti saat gadis ini menarikku tadi.


Kini kami tengah bersembunyi di balik salah satu pintu di sebelah kanan ruangan yang berada paling dekat dengan sofa panjang itu.


Ruangan ini gelap sekali, tidak ada cahaya sedikitpun. Aku menoleh kearah Caitlyn yang sedang merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


Aku memalingakan wajah ku, teringat dengan ponsel jadul yang ku simpan di dalam tas.


Setelah mendapatkan nya, aku berniat menghidupkan senter dari ponsel jadulku. Namun, niat ku seketika berhenti saat tangan Caitlyn merebutnya dari tanganku. Aku melongo tak percaya, ada apa?


"Jangan bodoh. Meski ruangan ini rapat, cahaya ponsel mu itu akan mengundang kecurigaan" Ucap Caitlyn berbisik.


Lalu ia memberikan sebuah benda seperti kaca mata tipis kepada ku.


"Ini benda apa? " Tanya ku dengan suara pelan.


"Kacamata dengan teknologi tinggi, kita bisa melihat dalam kegelapan dengan kacamata ini" Jelas Caitlyn singkat. Aku hanya diam, lalu melepas kacamata bulatku dan menggantinya menjadi kacamata pemberian Caitlyn.


Wow...


Ini benar benar menakjubkan. Meski bentuknya aneh, tetapi teknologi yang terkandung dalam kacamata ini sangat luar biasa.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan" Ucap ku bertanya.


"Mengamati ruangan ini sambil mencerna percakapan mereka" Ucap Caitlyn.


Lalu ia mengeluarkan sebuah benda lagi dari dalam tas nya. Seperti sebuah remot TV dengan banyak tombol.


Lalu menekan salah satu tombol remot itu. Ajaib. Didepan kami sekarang tengah melayang sebuah layar digital yang memperlihatkan sebuah denah ruangan.


"Hmm.. Mereka hanya sekitar 6 orang. Masih aman untuk sekarang. Kita harus menyusun strategi untuk kabur dari tempat ini" Ucap Caitlyn, lalu ia merogoh sesuatu lagi dari dalam tas nya.


Apa sebenarnya yang ada di dalam tas nya itu?


"Gunakan ini untuk mempertajam pendengaran mu"aku mengambil benda berbentuk seperti headset itu.


Lalu memasangnya di telinga ku.


"Sebenarnya apa yang ada sedang di fikirkan Zarefa? Apa dia sudah gila? " Ucap seorang pria dari arah luar.


"Aku setuju saja dengan pendapatnya Kal. Andreas itu harus di musnahkan dengan cara apa pun" Balas salah satu temannya.


"Tapi itu ide gila Ga! "


Apa mereka sedang membahas tentang ayah?


Huh..


Aku juga setuju dengan yang di katakan teman nya itu, ayah harus di musnahkan dengan berbagai cara.


Tapi itu mustahil.


Aku menoleh kearah Caitlyn. Wanita itu hanya diam, mimik wajah nya seperti menyetujui percakapan orang orang yang ada di luar ruangan ini.


"Cai, apa aku boleh keluar dan mengatakan bahwa aku setuju dengan rencana mereka? " Mulutku dengan lihainya mempertanyakan hal itu kepada Caitlyn.


Wanita itu melotot kearahku menatap tak percaya.


"Jangan gegabah Alby. Kita harus benar benar memastikan bahwa mereka ada di tujuan yang sama dengan kita" Ucap Caitlyn.


Benar juga.


Tak terdengar suara orang orang itu lagi. Apa mereka sudah pergi.


Aku menempelkan telingaku di dinding. Berusaha mendengarkan dengan seksama. Tidak ada suara sama sekali.


"Ikuti aku" Ucap Caitlyn singkat.


Kami berjalan menyusuri ruangan gelap ini. Kukira ini hanya sebuah ruangan persegi seperti ruang kamar. Ternyata lorong yang amat panjang.


Pukul berapa sekarang?


Tiba tiba muncul layar monitor didepan mataku. Aneh, apa ini salah satu fungsi kacamata yang sedang kupakai.


Disana tertera ' Pukul 22.48 '


Aku tercengang, sudah berapa jam kami menghabiskan waktu di ruangan ini.


Caitlyn terlihat tenang ketika menyusuri lorong gelap ini. Seperti sudah terbiasa.


***


Sekitar 1 jam kami menyusuri lorong ini, seperti tak ada habisnya.


"Cai.. " Entah lah, tubuhku terasa linglung, kepala ku seperti tertindih batu besar. Nafas ku berat dan sesak. Apa yang terjadi?


Tubuhku ambruk seketika.


Gelap..


***


Hai Readers ku..


Thank you to all buat kalian yang masih mau baca cerita tak nyambungku ini😁😁


Muach...


Jangan lupa tinggalkan coment dan kritik dari kalian yang sangat author butuhkan..


Like juga share buat temen temen kalian ya..


Terimakasih..