
Meski waktu tlah lama memisahkan, naluri akan terus menyatukan"
**
"George... Kau... " Caitlyn tak mampu mengeluarkan suaranya. Air mata terlalu menguasainya.
"Ya ini aku... " Ucap George terbata.
Sementara si pirang dan si gondrong hanya bisa saling melempar pandangan penuh tanda tanya.
"Mereka saudara kembar. Jika tak percaya lihat lah wajah mereka yang sama dengan versi yang berbeda" Tiba tiba Adelard berucap tepat di belakang kedua manusia yang tengah kebingungan itu.
Tentu saja kedua makhluk penuh dosa itu tersentak kaget. Entah sejak kapan pria tampan itu berada di belakang mereka.
"Kau... Bikin kaget saja" Ucap si pirang bergidik ngeri menganggap pria di belakangnya itu seperti hantu.
"Tapi George tidak pernah menceritakan apa pun kekita. Hmmm... Dia berhutang cerita pada kita" Ucap si gondrong mendengus kesal.
Sementara si pirang hanya mengangguk setuju.
"George... Apa kau tidak ada niatan untuk menceritakan sesuatu ke pada kami? " Pertanyaan yang cukup panjang itu mampu membuat dua insan yang tengah melepas rindu itu tersadar bahwa di sekeliling mereka masih ada orang orang yang menyaksikan adegan yang cukup mengharukan itu.
"Ah.. Akan kucerita kan" Wajah nya kini terlihat sembab karena air mata. Meski begitu, ketampanannya tak memudar sedikitpun.
"Kenalkan ini adalah saudara kembarku, Caitlyn" Ucap George singkat.
"Itu saja? " Tanya si pirang tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh George.
"Tentu saja tidak" George menyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Lalu... " Si pirang mengangkat kedua bahunya seakan meminta jawaban.
Belum sempat George mengeluarkan suara dari mulutnya, gerakan itu terhenti oleh sebuah suara.
"Sudah sudah. Tingkah kalian itu seperti anak anak, tidak usah mendebatkan hal yang tidak penting di sini" Suara itu berasal dari mulut milik pria bermata biru yang duduk di sofa hitam. Kevern, pria itu bangkit dari duduknya. Merenggangkan otot ototnya lalu berjalan kearah George.
"Seharusnya kalian menyambut baik tamu tamu kita. Ayo kita duduk dan bicarakan hal ini. Ternyata wajah polosmu menyimpan berjuta rahasia ya" Ucap Kevern kearah George. Tangan nya merangkul pundak saudara kembar gadis cantik itu.
"Nah, aku hanya ingin melanjutkan pertanyaan Jordan yang sempat kupotong tadi. Ceritakan semuanya, kau tau kan aku harus mendengarnya secara detail tanpa kurang sedikitpun? " Ucap Kevern dengan senyuman khasnya.
Caitlyn ikut duduk di sebelah George. Sementara Adelard, pria itu memilih untuk berdiri di dinding tak jauh dari kelima manusia itu duduk berkumpul.
George, pria itu menghela nafas lalu mulai menceritakan masa lalu kelam nya.
**
Flashback...
Suara decitan mobil pajero itu terdengar begitu nyaring.
Dua kembar berbeda jenis yang sedang duduk di teras rumah mereka pun langsung menoleh ke arah mobil mewah itu.
Terlihatlah sepasang sepatu hitam mengkilat yang memijak tanah dengan auranya yang elegan.
Seorang pria dengan kacamata hitam nya berjalan kearah dua sejoli yang sedang kebingungan itu.
"Wah wah... Si kembar sedang apa nih? " Tanya pria asing itu.
Caitlyn yang merasa pria itu berbahaya pun menyuruh kembarannya untuk masuk ke dalam rumah.
"George, masuklah dan jaga ibu di dalam. Bapak tua ini tampak berbahaya" Bisik Caitlyn di telinga George. Pria kecil itu mengangguk lalu masuk ke dalam rumahnya.
Gadis kecil yang brani itu menatap pria di depannya dengan tanda tanya.
"Ada apa paman kemari? Bukankah paman tau jika ibu sedang tidak bisa bertemu dengan paman? " Tanya Caitlyn.
"Ohoho... Anak yang pintar. Sekarang kau sudah melatih diri dengan baik ya. Hahaha... " Ucap pria itu.
"Baiklah aku tidak ingin berbasa basi lagi. Intinya disini aku ingin menawarkan sesuatu yang menarik padamu gadis manis.. " Ucap pria itu tersenyum.
Caitlyn hanya diam mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut pria itu.
"Aku tahu ibumu sedang sakit, daaannn... Kalian adalah keluarga yang tidak mampu untuk membiayai pengobatan ibu kalian. Bagaimana jika kau ikut denganku.. Tenang, jasa akan ada bayaran nya. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Kau tau? Bayarannya? Emmm... Kau ingin ibumu sembuh kan? " Ucap pria itu lalu menjeda sesaat.
"Jika ingin menggapai sesuatu harus ada pengorbanan. Bahkan hingga meneteskan darah kau tau? Jadi, jika kau ingin melihat ibumu sembuh, maka ikut lah denganku. Ikutlah.. Ikutlah.. Kau akan melihat keluargamu bahagia jika kau mau ikut denganku" Ucap pria itu merayu.
"Jangan berbohong, ingat lah aku bukan anak kecil. Umurku sudah 12 tahun. Aku tau kalau paman hanya memberi bualan agar bisa memanfaatkan ku" Ucap Caitlyn dengan tegas.
" Haha.. Ini yang aku suka dari mu gadis manis.. Keberanian mu itu adalah kunci dari sebuah kesuksesan kau tau? "Pria itu tersenyum licik.
"Bagaimana dengan ini? "
Caitlyn menoleh kebelakang, disana ada George juga ibunya. Namun, bukan itu yang terpenting, di belakang mereka juga berdiri dua pria berbadan besar dengan pakaian khas bodyguard.
" Ibu... George.. "
Caitlyn yang hendak menghampiri keluarga nya terhenti ketika pria itu mengucapkan satu kalimat singkat.
" Mendekatlah jika kau tidak ingin melihat wajah mereka lagi" Ucap pria itu sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Caitlyn hanya bisa menangis.
"Bebaskan mereka, aku akan ikut dengan mu. Soal penawaran tadi, aku setuju" Caitlyn berkata dengan suara lirih.
"Hahhaha.... Anak yang baik. Harusnya kau katakan itu dari tadi sayang" Pria itu mengusap kepala Caitlyn. Sementara si empunya hanya bisa diam tak berkutik.
Untuk terakhir kalinya Caitlyn melihat keluarga nya. Seketika terlintas lah masa masa bahagia bersama ibu, ayah dan saudara kembar nya.
Air matanya mengalir. Ia mendongakkan kepalanya keatas untuk menetralisir kan perasaannya yang campur aduk. Antara marah, kesal, sedih semua menjadi satu.
Pada akhirnya, mobil pajero itu menghilang dari pandangan kedua insan yang terpaku di tempat.
"Ibu.. Cai mau di bawa kemana sama paman itu? Kenapa ibu tak mencegahnya? " George menoleh kearah ibunya dengan air matanya yang terus mengalir.
Sementara Jasmine yang di tanyai hanya diam. Menoleh sebentar kearah anak laki lakinya itu lalu melangkahkan kaki nya kedalam rumah.
***
"Cai, maaf jika saat itu aku tak bisa melakukan apa apa untuk menyelamatkan mu. Ibu juga terlihat seperti tidak terjadi apa apa. Akupun masih bertanya tanya, kenapa ibu tidak mencegah atau melakukan apa apa saat kau di bawa oleh pria itu? " Jelas George setelah menyelesaikan ceritanya.
"Lalu apa yang terjadi setelah kau di bawa oleh pria itu Caitlyn? " Kevern menoleh kearah Caitlyn dengan wajah penuh tanya.
"Itu tidak penting. Dan... Kami membutuhkan bantuan kalian. Kami membutuhkan perlindungan untuk sementara waktu. Jika kalian berkenan membantu, maka kami juga akan membantu masalah yang sedang kalian hadapi" Bukan Caitlyn, itu adalah suara Adelard. Pria itu sedari tadi memang berada jauh dari kelima manusia yang sedang berkumpul itu, tetapi jangan remehkan pendengarannya yang tajam.
"Oho.. Baiklah baiklah. Karna kalian adalah kerabat George, aku akan bersedia membantu. Tapi ini tidak akan mudah.. " Ucap Kevern dengan wajah yang mulai serius.
"Apa yang membuatmu berkata seperti itu? " Caitlyn yang sedari tadi diam, mulai angkat bicara.
"Musuh kami tidak mudah Caitlyn. Dia orang berbahaya. Sangat sulit, bahkan mustahil untuk bisa mengalahkannya. Mereka memiliki banyak wilayah di kota ini. Saat ini posisi kami sedang dalam kepungan. Mereka bukan hanya satu dua kelompok, tapi lebih dari sepuluh kelompok. " Kevern menjeda sesaat.
"Jika kita ingin menjatuhkannya, kita harus mencari orang terdekatnya yang sangat membencinya. Itu adalah misi yang sedang kami jalani. " Lanjut Kevern dengan wajah yang serius.
"Lalu siapa orang yang kau maksud? " Tanya Adelard.
"Andreas Vladimir Putin... Mafia berbahaya yang ada di kota ini" Ucap Kevern.
Caitlyn menoleh ke arah Adelard. Menatapnya dengan tatapan aneh.
"Tujuan kita adalah mencari kelemahannya. Panah yang kita tembakkan harus tepat sasaran. Keluarga... Adalah sasaran utamanya. Menurut informasi, Andreas memiliki 6 putra dan 3 putri" Lanjutnya.
" Mungkin ini akan berat, tapi hanya ini satu satunya cara. Dan itu adalah..." Kevern seakan sengaja menggantung kalimatnya.
Kedua sejoli berjubah hitam itu menatap penuh tanya ke arah Kevern.
Apa?
Apa rencananya?
Apa caranya?
***
Ayoo.. Ada yang tau Reader's ku?
Jangan lupa vote comen and share ya..
Maaf kan diriku yang belum mampu membuatmu puas dengan karya ku yang tak seberapa ini.
Love u untuk kalian yang udah mampir..
Thank you..
Nantikan terus kelanjutannya ya...
😘😘