Freedom Or Misery

Freedom Or Misery
Aksi Penyelamatan



"Terkadang kesabaran adalah kunci dari sebuah masalah, namun jarang disadari karna sulit untuk memilikinya"


***


~Kembali kewaktu sekarang~


Caitlyn berlari menaiki anak tangga dengan cepat. Wajah nya tampak tak percaya melihat keadaan kembarannya.


Tubuhnya tergelatak di lantai. Wajah nya pucat dan mulai membiru. Segera gadis cantik itu menghampiri kembarannya.


Membawanya kedalam pangkuan. Digenggamnya telapak tangan kembarannya itu. Dingin..


"George.. " Suara gadis itu bergetar. Menahan tangis sekaligus amarah dalam dirinya.


"Ada apa Cai? " Tanya Adelard yang baru saja tiba di sebelah Caitlyn.


"George.. Ada yang meracuni George" Sirat kemarahan terpampang jelas di wajah gadis cantik itu. Nafas nya menderu tak beraturan.


"Aku akan memeriksanya" Adelard mengambil alih posisi Caitlyn yang memangku George. Ia mengambil sesuatu dari dalam saku baju nya.


Benda itu berbentuk lempeng seperti pangsit mentah berwarna hijau. Tangannya mulai menempelkan benda itu di lengan George.


Menekannya perlahan lahan.


"Keadaan nya buruk. Tapi benda ini bisa menetralisir racun yang ada di dalam tubuh George. Racun nya sangat mematikan, butuh waktu yang lama untuk membuat George sadar. Jika terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tidak bisa tertolong lagi" Ucap Adelard setelah memeriksa kembaran gadis cantik itu.


***


George dibawa menuju kamar di lantai bawah. Tubuhnya sudah mulai membaik sejak ditempelkannya benda hijau itu.


Sementara Caitlyn, gadis itu kini tengah memasukkan beberapa benda aneh kedalam tas nya.


Wajahnya penuh dengan amarah.


"Kau mau kemana Cai? " Tanya Jordan yang baru masuk sembari membawa nampan berisikan beberapa gelas dan sebuah teko berisikan air teh.


Pria itu segera meletakkan nampan yang ia bawa keatas meja.


"Menyelamatkan Alby dan Calea" Jawab Caitlyn dingin. Aura dingin ssketika terpancar dari wajah cantiknya.


"Tapi bagaimana dengan George? " Kini Jackson yang bertanya.


"Kalian berdua akan menjaga nya di sini. Menyiapkan pertolongan jika kami memberikan sinyal. Kami sudah berdiskusi tadi" Ucap Kevern menjelaskan. Kedua makhluk itu hanya mengangguk setuju.


Caitlyn telah siap dengan tas kecil nya. Kini ia berjalan kearah George. Mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening kembarannya itu.


"Ketika aku kembali, kau sudah harus sadar. Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya" Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, ia berjalan kearah Jordan dan Jackson.


"Aku titip George" Ucap nya singkat. Lalu melangkah kan kakinya keluar dari ruangan itu.


***


Lihat lah kondisi pria muda ini. Begitu memprihatinkan. Jika tidak segera di selamatkan mungkin nyawa nya akan hilang.


"Sepertinya tuan Alby sudah tidak berdaya. Apa tidak terlalu berlebihan bos jika membiarkan nya terus menerus dalam keadaan seperti ini? " Pak tua yang beberapa jam lalu menyelamatkan Calea membuka suara, memecahkan keheningan dalam ruangan itu.


"Itu lah akibatnya jika berani bermain main dengan ku. Melakukan segala hal sesuka hatinya" Ucap pria di sebelahnya dengan kesal.


"Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa akan di biarkan begitu saja? Tuan Alby bisa kehilangan nyawa nya jika di biarkan beberapa menit lagi. Minimal 15 menit lagi maka tuan Alby tidak akan selamat bos" Ucap pria tua itu.


"Hmm.. Bawa dia keruangan penghangat. Panggil beberapa dokter yang mengerti dengan keadaannya. Dia masih bisa di gunakan untuk banyak hal" Ucap pria itu lalu membalikkan badan nya dan pergi.


"Sungguh malang sekali nasib mu tuan. Hah.. Apalah dayaku, ingin membantu tapi diriku pun tak bisa apa apa" Pria tua itu bergumam sembari berjalan menuju dinding utara ruangan itu. Menekan kode untuk membuka ruang tersembunyi di balik dinding itu.


Setelah terbuka, pria itu berjalan memasuki lorong gelap yang ada di hadapannya.


Setelah beberapa langkah, pria itu menekan tuas di dinding sebelah kirinya.


Seketika muncul sosok yang mirip dengan Alby di hadapannya.


"Lakukan lah tugas mu dengan benar" Ucap pria itu.


Sementara Alby palsu yang berada di depannya hanya mengangguk. Lalu berjalan menuju balok es.


Sosok itu menempelkan telapak tangannya di atas balok es itu. Seketika balok itu mulai mencair. Beberapa saat berlalu, kini tubuh Alby yang terbalut kaos hitam telah terbebas dari balok es yang membuat nya hampir mati.


Setelah menutup kembali dinding rahasia, pria tua itu menekan tombol benda yang di pegangnya.


Kini didepannya muncul sebuah pintu kaca dengan lorong yang panjang. Sebelum itu, pria tua itu menduplikat tubuhnya juga dengan menekan tombol yang ada di baju hitamnya.


Setelah siap dengan satu tangan nya yang membopong tubuh Alby, pria itu melangkah kan kakinya memasuki pintu kaca itu.


Punggung nya menghilang di balik lorong kaca yang berliku.


Sementara diruangan itu kini tersisa lah dua makhluk duplikat yang akan melaksanakan tugasnya.


Alby palsu berbaring diatas balok yang di bawahnya terdapat 4 roda berukuran besar.


Sementara duplikat pak tua itu bertingakah seakan dia benar benar pak tua.


***


Di lain tempat..


Caitlyn, Adelard dan Kevern kini tengah berada di atas sebuah alat transfomasi berbentuk bor lancip dengan sayap kecil di samping nya.


Adelard yang merupakan pemilik dari alat itu duduk di bangku pengemudi. Sementara Caitlyn dan Kevern duduk di bangku belakang dengan sabuk pengaman yang menjaga mereka agar tidak terbentur.


Benda aneh itu bisa berubah sesuai dengan tempat. Jika di tempat sempit, maka akan berubah menjadi benda ramping seperti pensil terbang.


"Apa tempatnya masih jauh?" Kevern tampak mulai bosan dengan keadaan di sekitarnya. Hanya pepohonan yang sedari tadi ia lihat.


"Bersabar lah,sebentar lagi kita akan tiba" Ucap Adelard.


Pria itu terlihat sangat santai. Tangan kirinya merogoh saku celana yang ia kenakan. Wajah nya seketika berubah panik ketika tidak mendapatkan apa yang ia cari.


"Astaga di mana benda itu? " Pria itu kini semakin panik. Tangannya berusaha mencari di baju dan celananya. Namun nihil, benda itu tidak menampakkan wujud nya.


"Kau sedang apa Delard? " Caitlyn yang sedari tadi diam kini mulai kesal dengan tingkah pria tampan di depannya itu.


"Benda.. Benda pelacak buatan ku hilang. Aku yakin sekali jika ada benda itu kita bisa melacak keberadaan Calea. Dia pasti membawa nya juga" Ucap Adelard, rambutnya ia usap kebelakang.


"Sudah lah, lebih baik kau tenang dan kita melanjutkan misi. Jangan memperlambat hanya karena benda itu" Ucap Kevern malas.


Akhirnya Adelard pasrah dengan keadaannya yang miris kehilangan benda berharga itu.


Setelah beberapa meter kedepan, benda itu mendarat. Tepat di depan lubang di mana Calea terjatuh di dalamnya.


"Apa ini tempatnya? " Tanya Kevern.


"Tempat nya masih jauh Kevern" Jawab Caitlyn.


Ketiganya pun menuruni benda itu. Setelahnya mereka bergegas meninggalkan tempat itu menuju markas Andreas.


Adelard menekan tombol hijau di lengannya, seketika benda itu berubah menjadi mainan motor BMW.


Tanpa mereka sadari,alat pelacak milik Adelard yang tadi nya terjatuh di kendaraan yang mereka naiki, kini telah berada di tanah.


Benda itu memancarkan cahaya merah pudar yang berkelap kelip. Namun, ketiganya terlanjur meninggal kan tempat itu.


Jika saja mereka lebih bisa bersabar, mungkin Calea bisa segera di selamat kan.


***