
"Masalah akan selalu datang menghampiri, tetapi masalah itulah yang akan mengakhiri nya sendiri"
***
Seperti yang di rencanakan, Caitlyn dan Adelard meneruskan pencarian. Sementara Kevern membawa Yori ketempat yang di sebutkan oleh Caitlyn.
Selama perjalanan tidak ada kendala. Semua berjalan dengan baik.
Hingga Caitlyn mendengar desas desus yang membicarakan tentang Alby.
"Kau dengar kan? Ternyata Alby berada di ruang pemanas. Apa yang mereka lakukan padanya? Benar benar tidak pantas menjadi seorang ayah " Kesal Caitlyn.
"Sudah lah, kita tidak punya banyak waktu. Alby harus segera di selamatkan. Mungkin saat ini nyawanya tengah terancam" Ucap Adelard.
Keduanya segera menuju ruangan di mana Alby berada.
Sepi..
Sunyi..
Hanya hawa panas yang menyelimuti ruangan itu. Dan sebuah brankar kosong di tengah ruangan dengan tabung panjang berisi cairan merah.
Tiba tiba sebuah tangan menyergap tubuh kedua manusia itu dengan cepat lalu menghilang.
***
Kevern terus berjalan dengan merangkul tubuh Yori. Sesekali mereka berhenti untuk memulihkan tenaga.
Tubuh Yori kian melemah. Tenaga untuk berjalan seakan semakin menghilang. Nafas ikut memburu, begitu pun dengan keringat dingin terus mengalir di keningnya.
"Apa kau baik baik saja? " Tanya Kevern khawatir.
"Sudah lah.. Sebaik nya kau tinggalkan aku di sini.. Aku hanya akan menjadi beban untuk mu. Ke sana pun, tidak akan memberikan keamanan yang menjanjikan. Seluruh ruangan di tempat ini terus diawasi dengan kamera pengintai yang tak terlihat. Pergilah.. " Yori menarik tangan nya dari pundak Kevern.
Pria itu terdiam sejenak.
Seketika kesadaran nya mulai memasuki bayangan di masa lalu.
Ingatan itu..
**
Flash back..
Kevern berlari dengan tangannya yang terus menggenggam tangan seorang gadis.
Gadis itu memberhentikan langkahnya. Tubuhnya tersungkur ketanah.
Segera pria itu mengulurkan tangan untuk membantu gadis malang yang terjatuh itu.
"Kau tak apa? " Tanya Kevern.
"Pergilah.. "
"Ap apa maksud mu berkata seperti itu? "
"Apa kau mencintai ku? " Tanya gadis itu.
"Tentu saja, pertanyaan macam apa itu? "
"Pergi Kevern.. Kalau kau benar mencintai ku.. Pergi dan selamatkan dirimu" Gadis itu menundukkan kepalanya.
"Tolong jangan mengatakan sesuatu yang menyebalkan di saat seperti ini Ran, cepat lah kita harus melarikan diri dari orang orang itu" Ucap Kevern.
"Tidak! Aku hanya beban untuk mu. Kau berada dalam bahaya jika terus bersamaku. Pergi lah, kumohon.. " Gadis itu berucap dengan suara membentak.
Kevern kehilangan kesabarannya. Tubunya bergerak mendekati gadis itu untuk menggendong dan membawanya pergi.
Tapi hal yang tak terduga terjadi. Gadis itu mendorong kevern hingga tersungkur cukup jauh.
Sebuah suara dari kejauhan terdengar keras menggema di telinganya.
"Kevern.. "
"Kevern cepatlah... "
"Kevern.. "
***
"Hei! Kevern"
"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan disaat seperti ini? Sadarlah" Teriak Yori.
Kondisi mereka sangat mengenaskan. Lima manusia robot tengah mengepung keduanya.
"Hah? Apa yang terjadi Yori? " Tanya Kevern setelah sadar dari lamuannya.
"Kau terus berteriak nggak jelas sehingga posisi kita langsung terdeteksi. Kita tidak mungkin bisa mengalahkan robot robot itu. Apalagi dengan kondisiku saat ini. Sudah ku bilang seharusnya kau tinggalkan saja aku di sini, tapi kau malah mematung ditempat" Ucap Yori menjelaskan.
Robot robot itu mulai mendekat. Keduanya mulai waspada.
Satu robot mulai menyerang Kevern. Satu robot lainnya mulai menyerang Yori. Mereka membagi tugas seakan semua sedang dalam kendali seseorang.
Dalam beberapa menit, Yori mulai lelah menghadapi satu robot yang menyerang nya. Belum lagi masih ada tiga robot yang menunggu giliran mereka. Di tambah dengan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk bertahan lebih lama.
Tidak jauh berbeda dengan Kevern, pria itu tampak kesulitan menghdapi robot yang berada di depannya. Robot yang menyerupai manusia itu begitu lincah dan sangat agersif.
Tubuh Yori terbanting cukup jauh.
"Yori...!!" Segera pria itu berlari kearahnya. Namun langkahnya terhenti dengan tubuh tiga robot yang berdiri menghalangi jalannya.
Robot yang mendapat giliran untuk melawannya tampak murka. Tangan besi nya mengangkat tinggi tubuh pria itu lalu membantingnya.
"Akh.. Benar benar gila! " Gumam nya.
Sekali lagi, robot itu mengangkat lengannya tinggi tinggi bersiap meluncurkan tinju nya di wajah tampan milik Kevern.
Bruakh...
Robot itu terbanting cukup jauh. Kevern sempat tersentak kaget dengan yang terjadi tepat didepan matanya.
Sebuah tangan besi meluncurkan serangan telaknya tepat di kepala robot itu.
Ternyata pria ini lah yang melakukannya. Pria dengan rambut panjang yang di kepang hingga setengah dari tubuhnya.
Melihat rekan nya terpukul jatuh, empat robot sisanya berlari menyerang pria itu sekaligus.
Pria itu berhasil menghindar lalu menyerang balik robot robot itu. Hingga semua terpukul jatuh dan bernasib sama dengan robot yang pertama menyerang nya.
Kevern menatap takjub pria berambut kepang itu. Bahkan rasa sakit di tubuhnya seakan menghilang.
"Terimakasih kau telah menyelamatkan kami" Ucap Kevern.
"Hm.. Bukan masalah" Ucap pria itu.
"Hah! Yori? Apa yang terjadi padanya? " Tanya pria itu yang baru menyadari keberadaan Yori yang tergeletak di lantai. Pria itu segera menghampiri nya.
Kevern berusaha bangkit dari posisi nya. Kakinya melangkah pelan kearah Yori dan pria itu dengan bertumpu pada dinding di sampingnya.
"Huh.. Sebaik nya kita pergi dulu dari tempat ini sebelum keadaan semakin memburuk" Ucapnya dengan nafas yang memburu.
Pria itu mengangguk, mengangkat tubuh Yori yang tergeletak lalu membawanya memasuki lorong gelap itu bersama dengan Kevern.
***
Caitlyn berusaha memberontak dari tangan kekar yang sempat menyergap tubuh mereka.
Bukan, bukan tangan manusia. Ini seperti tentakel milik gurita dalam versi robot.
Tubuh keduanya tertarik dengan cepat oleh benda itu. Mereka seperti melewati lorong kaca yang berliku.
Hingga senyuman hangat dari seorang pria menyambut kedatangan keduanya.
"Maaf karena sudah lancang" Pria paruh baya itu membungkuk meminta maaf.
"Aku melihat kalian dari robot duplikat yang ku buat. Karna kalian memasuki wilayah berbahaya, aku memutuskan untuk melakukan hal tersebut. Sekali lagi mohon maaf nomor 2 dan nomor 3" Pria itu membungkuk lagi setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Termakasih telah menyelamatkan kami tuan Toby. Tapi apa maksud anda mengenai robot duplikat? Apa Alby juga dalam wujud robot duplikat? " Adelard membungkuk kan tubuh nya.
Pria paruh baya dengan sebutan tuan Toby itu tersenyum.
"Seperti biasa, tebakanmu tak pernah meleset seperti panah yang kau tembakkan Lard. Alby yang asli ada bersamaku. Tapi dia sedang dalam masa pemulihan" Ucap pria itu.
"Syukurlah jika dia selamat. Tapi kami harus kembali, Kevern dan Yori masih berada di tempat itu" Ucap Caitlyn.
"Tidak, mereka sudah aman sekarang. Gwen membawa mereka ke rumahnya. Disana juga ada gadis cantik sempat ku selamat kan sebelum nya" Ucap Toby.
"Apa dia Calea? " Gumam Adelard.
"Apa? Calea? Ya, kalau tidak salah itu adalah nama nya. Tapi aku kurang tau karena pendengaranku yang sudah mulai berkurang" Ucap Toby.
***
Klotak..
Klotak..
Klotak..
Suara hentakan high heels menggema di ruangan bercahaya remang.
Dua insan yang tengah terlelap tersontak membuka mata mereka.
Ya, Jordan dan Jackson serta George. Dua sejoli berwajah cukup tampan itu perlahan mengangkat kepala mereka.
Betapa terkejutnya kedua makhluk itu ketika melihat sosok di depannya.
Belum sempat mengeluarkan kaliamat dari mulutnya, sebuah bius menusuk leher kedua sejoli itu.
Berbeda dengan George yang memang belum sadarkan diri sama sekali.
Tubuh nya di bawa oleh dua sosok berjas hitam dengan penutup kepala.
Siapa mereka.
Untung nya sebelum kembali tak sadarkan diri, Jordan sempat melihat nick name milik sosok ber high heels itu.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
***