
Bagaimana jika musuh mu adalah keluarga mu sendiri, tapi kau tak menyadarinya? "
***
Alby, akhirnya pria itu mengerjapkan matanya.
Aku sempat kaget ketika tubuhnya tiba tiba ambruk. Segera ku goyang goyang kan tubuh nya berharap ia segera bangun.
Namun sia sia. Alby pingsan tak sadarkan diri. Kuputuskan untuk memapahnya mencari jalan keluar.
Huh..
Seharusnya tadi kami menunggu saja di balik pintu itu.
***
Setengah jam berlalu, akhirnya kami tiba di belakang sekolah tepat di samping pohon mangga.
Kubaringkan tubuh Alby di atas rerumputan yang lembab. Ternyata hujan sudah berhenti sejak tadi.
Hingga kembali ke waktu sekarang.
Alby mengerjapkan matanya, kubantu tubuhnya untuk duduk.
Wajah nya menoleh kearah ku dengan tatapan penuh tanya.
"Di mana ini? Kamu siapa? Kenapa aku ada di sini? " Wajah nya berubah, bukan dia bukan Alby yang kalem dan polos.
"Alby, kamu baik baik saja? Kita sedang berada di belakang sekolah. Saat melewati lorong panjang, tubuh mu ambruk tak sadarkan diri" Ucap ku berusaha menjelaskan yang terjadi secara singkat.
"Alby? Hei, namaku bukan Alby" Ucap Alby dengan tatapan yang sulit di mengerti. Apa maksudnya?
Nyata nyata dia bersama ku dari tadi. Kami tidak ada terpisah sama sekali.
Kenapa dia tidak mengakui dirinya sebagai Alby?
"Jangan bercanda Al. Kamu itu Alby, selama berjam jam kita bersama. Lalu tiba tiba kamu tidak mengenali dirimu sendiri. Dan apa maksudnya kamu mengatakan bahwa kamu bukan Alby? " Tanya ku dengan raut wajah heran.
"Ya aku memang bukan Alby, namaku Arby. Apa kamu tidak bisa membedakan antara 'Alby ' dan ' Arby '? Lalu, aku juga tidak mengenalmu. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bersamamu dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini" Ucap Alby.
Hah?
Apa yang terjadi?
Arby?
Bahkan dia mengatakan bahwa dirinya tak mengenaliku.
Padahal kami adalah sahabat kecil yang sangat akrab. Dan beberapa jam yang lalu, Alby berbincang akrab denganku seperti biasa yang kami lakukan dulu.
"Oke.. Mungkin kepalamu terbentur sesuatu saat tubuhmu abruk di lorong tadi. Yang terpenting sekarang kita harus pergi dari tempat ini" Ucap ku setelah menghela nafas berat.
"Memangnya ada apa? " Tanya Alby.
Ternyata dia lebih polos dan cerewet dari Alby yang sejak tadi bersamaku.
"Tidak usah banyak tanya" Ucap ku dengan nada ketus.
Kini tujuan ku adalah menuju markas FAM untuk menceritakan hal yang terjadi pada ku. Dan hal yang kudengar dari geng motor yang tidak di kenali itu.
Kami berjalan menuju parkiran sekolah, menuju motor sport milikku. Lebih tepatnya milik saudara kembar ku. George.
***
Kami tiba di markas pukul 1 malam dini hari. Mataku terasa berat. Sangat lelah..
Sementara pria di belakangku itu hanya diam terlihat biasa saja. Tidak ada ekspresi kaget yang terlihat di wajahnya. Seperti sudah biasa.
"Ini markas mu? Buruk sekali bentuk nya. Tidak seperti markas ku yang mewah dan megah" Apa? Nada nya begitu meremehkan tempat ini.
Hah, terserah saja lah. Toh dia akan menyesali perkataan nya yang tadi.
Aku melanjutkan langkah ku yang sempat terhenti karena bocah satu ini.
Akhirnya kami tiba di depan pintu besar yang terlihat lusuh ini.
Tangan ku bergerak mendorong pintu besar itu. Namun, seperti ada yang aneh.
Ada bayangan besar melayang layang di belakang ku. Ku toleh kan kepala ini kebelakang, sempat tersentak sesaat. Setelah mengetahui benda apa yang melayang di belakang ku ini, tawa ku seketika lepas begitu saja.
Air mata ku terasa ingin keluar.
Alby, ternyata bocah satu ini terkena jebakan maut.
Tubuhnya terjaring tali tambang besar, sementara mulutnya tersumbat sesuatu. Tali yang mengikat jaring besar itu terombng ambing kesana kemari.
"Ewe wee mmm.. We.. Ddd... S-" Sebelum sempat bocah satu ini melanjutkan kalimat aneh nya, dengan cepat ku perlihatkan wajah khas menyeramkan milikku.
Entah apa yang terjadi, mulutnya terbungkam seketika. Mungkin di dalam hati nya ia menggerutu kesal.
Bruak..
Setelah ku tekan tuas itu, tubuh Alby jatuh menghantam lantai.
Huh..
Padahal dia baru saja mengatakan bahwa markas nya lebih mesah dan megah. Seharusnya mereka juga menaruh jebakan disana.
Rasanya ingin tertawa, tapi ku urungkan ketika melihat nya yang terkulai lemah di atas lantai.
Ku putuskan untuk membantunya berdiri.
"Ternyata tempat ini jauh lebih berbahaya di banding penjara bawah tanah milik ayah" Gumam nya, namun kalimat pendek itu masih terdengar oleh indra pendengaran ku.
"Kau tau tentang penjara bawah tanah itu? " Pria itu mengangguk.
Aku memutuskan untuk diam saja.
Apa orang bertopeng abu itu adalah Arby? Tidak mungkin itu Alby, karna Alby selalu terang terangan memperlihatkan wajahnya. Meskipun mereka orang yang sama. Ada yang aneh, aku harus mencari jawaban di balik teka teki ini.
Lankah ku terhenti ketika melihat Kevern menghampiri kami berdua.
"Hai Kev, lama tidak berjumpa" Apa mereka saling kenal?
"Hai Arby, yah ternyata mencari teman lama itu sangatlah sulit hahaha" Balas Kevern. Mereka berpelukan khas cowok cowok.
"Kerja bagus Cai, bagaimana dengan rencanaku? Mudah bukan? Menemukan putra tengah dari Andreas" Kevern berbisik di telingaku.
Aku mendengus kesal.
"Hei hei.. Jangan anggap diriku ini tidak ada. Tolonglah.. Aku hanya memiliki kalian sebagai teman ku" Ucap bocah tengil itu dengan mimik muka memelas.
"Kau bilang kau punya markas sendiri. Tidak mungkin kan dalam markasmu hanya ada dirimu seorang? " Kubuat wajahku ini semengesalkan mungkin untuk di lihat. Haha..
"Mereka bukan geng, teman atau sahabat yang ku inginkan. Mereka itu mata mata ayah. Kadang cukup mengesalkan, tapi apa boleh buat? " Benar juga, di saat aku masih bersahabat dengan Alby di masa lalu, dia tidak memiliki sahabat selain diriku.
"Baiklah baiklah, sekarang lebih baik kau istirahat dulu. Kamarmu masih sama dengan yang dulu" Ucap Kevern.
Pria didepanku ini mengangguk, lalu beranjak melangkah kan kakinya menuju tangga di pojokan dinding.
Mata ku memperhatikan setiap sudut ruangan. Hingga terhenti di satu objek yang menarik.
Terlihat di pojok dinding bercat hitam itu, pria yang beberapa minggu lalu pergi bersamaku dari tempat yang seperti neraka itu tengah duduk di sofa panjang.
Wajahnya terlihat bahagia, meski tidak tersenyum. Tapi terlihat dari tatapan matanya.
"Kevern, kau lihat? Apa yang dilakukan Adelard di pojok dinding itu? " Tanyaku dengan suara kecil.
"Dia sedang jatuh jatuh cinta" Bisik Kevern lalu tersenyum aneh kearah ku.
Ketika kakinya akan melangkah meninggalkanku, tangan ku bergerak cepat menarik lengannya.
"Ada apa? "
"Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu" Kutarik kuat lengan kekarnya menuju ruang makan.
"Kau kenal dengan Alby? " Tanya ku.
"Seperti yang kau lihat. Kami berteman akrab" Kevern menjawab dengan nada santai.
"Ada yang aneh dengan nya" Ucap ku.
"Dia memang aneh Cai, sejak ibunya meninggal. Mungkin ia ingin melupakan kejadian menyedihkan itu dengan cara tidak mengingat siapa dirinya" Jelas Kevern.
"Kau tau, di dunia ini tidak sedikit orang yang mengalami trauma besar seperti Alby. Mereka ingin segera melupakan kejadian mengerikan itu dengan cara apa pun. Mungkin ada sebagian yang berniat untuk bunuh diri. Tapi tidak semua yang mengalami hal itu berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Termasuk Alby, pasti ada hal yang harus dia lakukan. Mungkin... sejenis balas dendam" Lanjut Kevern, wajah pria didepanku ini kian mengerikan. Meski harus kuakui ketampanannya, tapi matanya itu seakan menusuk hingga ke dada.
"Apa dia memiliki dendam yang sama seperti kita? " Tanya ku setelah diam beberapa saat.
"Yah mungkin begitu"
"Lalu, apa kita bisa mencegah hal buruk yang akan terjadi padanya? Itu berbahaya kan?"
"Kau hanya perlu menjalankan tugas mu Caitlyn. Menjadi siswi SMA normal dan mengawasi Alby. Banyak orang orang jahat yang ingin menyingkirkan nya. Jaga dia dengan baik, hanya dia kunci dari kemenangan yang akan kita dapatkan" Setelah mengucapkan kalimat panjangnya, Kevern berbalik meninggalkanku.
Semua nya berlalu dengan cepat. Entah apa yang akan menanti kami di depan sana. Jalani saja, jika ingin hidup harus berusaha.
***
Mohon maaf kakak..
baru bisa up sekarang😁😁
author juga masih sekolah mohon di maklumi yaaayaaa🙏🙏
jangan lupa buat like dan coment serta kritik dan sarannya...
muach...