Freedom Or Misery

Freedom Or Misery
Akhir dari ketenangan



Jangan mengusiknya, dia akan membunuhmu. Berhati hatilah, selagi dia bersikap lembut maka manfaatkanlah"


***


Sebulan telah kami lalui. Hidup di tempat yang normal seperti yang kami impikan.


Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Semuanya berubah ketika Alby menghilang entah kemana. Dan kejadian itu bersamaan dengan hilangnya Calea - gadis pujaan hati Adelard.


Adelard, pria itu terlihat kacau seperti orang yang kehilangan sesuatu yang berharga. Mungkin Calea adalah mahkota yang sudah di takdirkan untuknya.


"Delard tenang lah, kita akan segera menemukan mereka berdua" Pria berambut pirang itu berusaha menenangkan Adelard.


Sementara di ujung ruangan laboratorium ini, si gondrong alias Jackson - pria itu tengah berkutat dengan sebuah alat aneh di sana.


Dan aku, tangan ku tengah sibuk dengan kostum berbentuk kelinci yang berada di depan ku.


Sejenak aku termenung memikirkan tentang misteri hilang nya dua manusia itu. Bukan apa apa, ini adalah masalah yang tidak bisa di anggap sepele. Mereka hilang di hari dan di waktu yang bersamaan.


Hanya ada satu orang yang bisa di curigai. Andreas, pasti pria tua itu yang melakukannya. Siapa lagi jika bukan dia. Hanya dia yang memiliki teknologi yang sudah di luar nalar.


"Cai, apa kostum nya sudah siap? " Tangan seseorang menyentak pundakku. Membuat ku tersadarkan dari lamunanku.


"Ah.. Kevern, kau membuat ku kaget. Kostum nya sudah jadi, apa kau ingin mencobanya? " Tanya ku sembari menyentak pelan telinga kostum kelinci yang ku buat hingga bergoyang kesana kemari. Imut sekali..


"Tidak tidak.. Aku sangat tidak cocok dengan kostum yang imut ini. Hihi" Perlahan pria itu memundurkan langkahnya sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Senyuman yang tidak tulus.


Dengan cepat tangan ku menarik lengan kekarnya. Setelah sebulan kami tinggal di tempat terpencil ini, aku dan Adelard telah akrab dengan mereka. Orang orang baik yang dengan suka rela ingin menampung kami berdua.


Tangan kiri ku meraih kostum kelinci yang telah kubuat lalu menyerahkannya pada Kevern. Dengan terpaksa pria itu berjalan dibalik dorongan tanganku yang kuat.


"Cai... " Pria itu merengek layaknya anak kecil. Mata ku melotot sebagai respon.


Pria itu hanya bisa berjalan pasrah. Aku tersenyum puas. Jarang jarangkan bisa ngusilin preman bermata biru dan beranting hitam seperti dia.


Setelah beberapa menit menunggu, pria itu keluar dari ruangan kecil di pojok kanan ruangan.


Ingin rasanya tertawa melihat pria tampan ini dengan wajah cemberutnya. Belum lagi kostum kelinci yang melekat di tubuhnya.


Namun segera ku urungkan. Kulangkahkan kaki ini kearahnya.


"Mau lihat kajaiban dari kostum ini? " Tanya ku dengan nada bangga. Pria itu hanya mendengus kesal.


Tangan ku dengan lihai menekan tombol hijau yang tidak terlalu mencolok di telinga kostum itu.


Seketika lampu di telinga kelinci itu hidup berkelap kelip.


Jordan alias si pirang itu menolehkan kepalanya kearah kami. Tawa nya pecah seketika. Melihat ketua mereka yang terkenal dingin penuh ancaman itu tengah memakai kostum konyol, mungkin terlihat lucu.


Beberapa detik kemudian, tubuh Kevern mulai menghilang bersamaan dengan kostum kelinci yang kubuat itu.


Mungkin pria itu tidak akan merasakan perubahan pada tubuhnya yang mulai menghilang.


"Bagaimana kau bisa membuat benda sekeren itu Cai? " Jackson berjalan mendekat kearahku sembari bertepuk tangan beberapa kali.


"Apa nya yang keren? Kau lihat,ini adalah kostum terkonyol yang pernah ku lihat" Suara Kevern terdengar mengerikan dengan tubuhnya yang tidak terlihat.


"Buahahaha.. Kevern, kalau kau menuju cermin yang berada di dekan Jordan, kau pasti akan tau apa yang tengah terjadi pada tubuhmu" Ucap Jackson setelah tawa recehnya itu.


Mungkin kini wajah ku tengah tersenyum puas. Tangan ku menekan tombol putih gagang kacamata bening yang bertengger di atas rambut ku.


Perlahan benda berbentuk kacamata itu bergerak turun menutupi mataku. Ruangan seketika berubah menjadi berwarna hijau. Kostum kelinci yang melekat di tubuh Kevern tergaris dengan jelas.


Pria itu kini tengah berjalan kearah cermin yang tadi disebut oleh Jackson.


Benar saja, Kevern seketika memperlihatkan keterkejutannya. Mungkin dia tidak bisa melihat tubuhnya di cermin.


Sementara Jordan, pria itu berjalan santai kearah kami dengan wajahnya yang tersenyum bahagia.


"Lihatlah kawan... Aku membuat ini untuk kalian" Tangan kekarnya menyodorkan sebuah benda seperti sarung tangan besi kearah kami.


"Apa ada yang spesial juga dengan sarung tangan ini? " Tanya Jackson.


"Tentu saja" Segera pria itu memakai sarung tangan itu. Setelah terpasang, diatas benda itu seketika muncul sesuatu berbentuk balok dengan lubang lubang kecil di bagian depannya. Lalu di susul dengan munculnya tabung panjang seperti senapan dengan lingkaran berlapis kaca hitam di atas nya.


"Ada apa dengan kalian berdua? Ini sungguh luar biasa... " Lagi lagi Jackson memuji dengan tepukan tangan khasnya.


"Ini masih belum lengkap Jack" Ucap Jordan. Lalu pria itu menekan tuas kecil yang berada di ujung lengannya.


Seketika 9 buah jarum tipis melesat dengan cepat kearah bingkai foto sejauh 20 langkah kaki. Cepat sekali, hampir tidak terlihat ketika jarum jarum tipis itu melesat. Sementara bingkai foto itu kini telah hancur tak berbentuk.


"Hei ayolah.. Terimakasih untuk kerja keras kalian. Tapi kita harus bergegas. Lihat lah pria malang itu, kasihan sekali dia. Kehilangan pujaan hatinya tanpa bisa berbuat apa apa. Sudahi semuanya, kita harus segera bergerak mencari posisi mereka berdua" Suara Kevern seketika muncul di belakang tubuh Jordan. Tangan nya menyentuh pundak pria berambut pirang itu.


Tentu saja pria yang sebelumnya tidak tahu menahu tentang keberadaan Kevern itu pun tersontak kaget.


Belum sempat Jordan mengeluarkan kata kata dari mulutnya. Suara dobrakan pintu terdengar keras, diiringi dengan suara teriakan beberapa orang disana.


Di tambah lagi suara rintih kesakitan.


Suara itu...


George, apa yang terjadi padanya?


Segera kulangkah kan kaki ini menuju pintu besar berwarna coklat tak jauh di depanku.


Semoga dia baik baik saja..


***


jangan lupa like dan komen serta kritik and sarannya yaaa..


muach..