Freedom Or Misery

Freedom Or Misery
Penculikan



"Tidak ada yang tidak mungkin, Tupai yang terjerat bisa lepas dari perangkap jika dia mengecoh dengan baik"


***


Gadis cantik berkemeja kotak ini sedang menunggu seorang pria yang baru ia kenal sebulan yang lalu.


Sambil menggenggam sebuah Handphone, gadis ini berdecak kesal. Membuang nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak?


Sebulanan penuh ia mencoba mengutak atik benda hijau kecil yang diberikan padanya.


Hari ini ia berniat ingin memamerkan hasil teka teki yang sudah ia pecahkan.


Namun, ternyata takdir berkata lain. Sebuah saputangan tiba tiba membekap mulutnya.


Kesadarannya seketika menghilang.


***


Pov Calea


Mataku mengerjap pelan. Silau sekali.


Tempat apa ini?


Bentuknya seperti tabung. Tangan ku seperti terikat sesuatu, ternyata sebuah rantai logam.


Tanganku terentang. Juga kakiku. Ikatan rantai ini tidak begitu ketat, aku masih bisa menggerakkan tangan dan kakiku.


Mataku sibuk menyusuri tempat aneh ini. Hingga bagian barat tempat aneh ini terbuka secara otomatis.


Dengan cepat kututup mata ini. Mungkin akan berbahaya jika tetap membuka mata.


Tidak ada suara derap langkah kaki. Tapi seperti ada desingan pelan yang terdengar.


Entah apa yang terjadi, aku tak tau lagi. Suara desingan itu perlahan mulai menjauh.


Ku helakan nafas lega. Setelahnya, ku edarkan pandangan keseluruh tempat ini.


Terlihat jauh di sebrang tempat ku berada, seseorang tampak terikat persis seperti ku.


Seperti seorang pria.


Siapa pria itu?


Karna penasaran kucoba mengayun ayun kan lenganku. Berharap ikatan rantai di tanganku melonggar.


Sia sia...


Hampir bermenit menit kuayunkan tanganku ini.


Sudah berapa lama aku berada ditempat ini?


Bunda...


Seketika aku teringat dengan benda hijau pemberian Adelard. Bagaimana cara mengambilnya?


Astaga...


Tangan ku terentang begitu jauh dari tubuhku.


"Hei, apa kau mendengarku? " Ku kecilkan volume suara ku agar tidak terlalu mencolok.


"Jangan pernah berfikir untuk bisa keluar dari tempat ini" Ucap orang itu. Suaranya seperti perempuan.


Apa aku salah lihat?


Atau salah dengar?


"Kau perempuan? " Tanyaku. Sosok itu mendongakkan kepalanya.


Astaga..


Ternyata dia benar benar perempuan.


Wajahnya penuh dengan luka dan lebam. Celana hitamnya yang ketat tampak robek. Seperti habis berkelahi.


"A apa kau baik baik saja?" Tanyaku. Meskipun aku tak begitu mengenalnya, tapi dia juga manusia seperti ku. Aku khawatir.


"Tidak usah memperdulikan ku" Ucap nya dingin.


"Apa benar benar tidak ada cara untuk keluar dari tempat ini? " Tanyaku pelan.


Delard..


Tolong aku..


Kakak..


Ayah..


Bunda..


Calea takut di sini..


"Miringkan badan mu. Aku akan mencoba cara ini" Ucap wanita itu.


Dengan cepat kumiringkan tubuhku menghadap ke kanan.


Kepalaku menoleh kearah wanita itu.


Ditangannya terdapat sebuah senjata api dengan bentuk aneh. Seperti sudah tersambung dengan tangannya.


"Bersiap"


Aku menutup mataku setelah melihat wanita itu menodongkan senjatanya kearahku.


Blassh..


Perlahan kubuka mata ini. Rantai ditangan kiriku terlihat meleleh.


Trank..


Rantainya terlepas?


Wanita itu tersenyum dibalik rambutnya. Hanya senyuman kecil.


"Hebat!! Senjata apa itu? " Tanyaku penasaran.


"Tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan bodohmu itu. Cepat bersiap meloncat kedasar. Aku akan melelehkan rantai di kaki dan tanganmu" Ucap wanita itu dingin.


Lagi lagi dia bersikap dingin padaku.


Aku hanya bisa menurut. Mengikuti kata katanya.


Blash..


Blash..


Blash..


Rantai di tangan dan kaki ku perlahan mulai meleleh.


Aku bersiap untuk meloncat kedasaran tempat ini.


Bruak..


Syukurlah kaki ku berhasil mendarat dengan sempurna. Kepalaku mendongak keatas.  Tidak terlalu tinggi, hanya beberapa meter dari permukaan.


"Hei, berikan senjata itu pada ku. Agar aku bisa menyelamatkan mu juga" Ucapku dengan suara sedikit keras.


"Cepat pergi dari sini. Tidak ada waktu untuk menolongku. Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menolongmu. Demi Adelard.. " Ucap wanita itu.


Apa maksud kalimat terakhir nya?


Adelard?


"Kau mengenal Adelard? " Tanya ku.


"Cepat pergi dari sini!! " Suara wanita itu terdengar parau dan tegas.


Segera kulangkah kan kaki ini, berlari. Meski kaki ku terasa nyeri, tangan terasa begitu berat. Hanya ini yang bisa kulakukan.


Aku pasti akan kembali untuk menolongmu.


"Hei.. Gunakan ini untuk melindungi tubuhmu. Diluar sangat berbahaya" Wanita itu melemparkan sebuah kostum hitam kearah ku.


***


Setelah berhasil keluar dari tempat itu, dan memakai kostum yang diberikan oleh wanita itu, aku mengendap endap di balik dinding berwarna biru.


Sebelum aku meninggalkan tempat itu, si wanita berpesan bahwa kostum yang ia berikan bisa membuatku tembus pandang.


Awalnya aku tak mengerti dengan maksudnya. Namun setelah kucoba, ternyata benar. Tangan ku mulai menghilang.


Ajaib sekali.


Kaki ku terus melangkah. Banyak sekali jenis jenis robot di sini. Sebenarnya tempat apa ini?


Terdapat tabung tabung aneh di setiap jajaran dinding utara. Tepat di depanku.


Aku segera berlari ke balik dinding lorong yang gelap ketika melihat seseorang akan melewati tempat ku tadi.


"Apa kau sudah mengamankan wanita itu? " Tanya seseorang dari balik dinding.


"Tentu saja tuan.. Ahaha.. Itu adalah tugas yang mudah. Jika di lihat seperti nya gadis polos itu mengenal seseorang. Karna dia membawa benda itu" Balas seorang wanita. Benda?


Apa maksudnya benda?


Jangan jangan...


"Itulah kenapa aku memintamu untuk menyandera gadis itu. Karna dia dekat dengan si nomor 2. Adelard, mungkin dia rasa sudah aman dari jangkauan kita hahahaha" Pria bersuara berat itu.. Sebenarnya siapa?


Kenapa dia menyebut nyebut nama Adelard?


Dan apa maksudnya si nomor 2?


Apa gadis yang sedang mereka bicarakan itu adalah aku?


"Apa si nomor 3 juga bersamanya? " Tanya wanita itu.


"Tentu saja, tidak ada alasan untuk berpisah. Mereka sudah seperti adik kakak. Sangat kompak sekali hahahaha.. " Ucap pria itu.


Aku semakin penasaran dengan percakapan ini. Huh.. Semoga tempat persembunyianku tidak di ketahui.


"Benar benar mengharukan saat aku menjemput gadis itu kau tau? Ahahaha.. Bahkan ibunya tampak tak peduli padanya. Dan kembarannya pun tak bisa berbuat apa apa, karna dia tidak tau apa yang sedang terjadi hahahhaha.. Lucu sekali keluarga itu" Itu seperti cerita Caitlyn, apa dia juga mengenal Caitlyn?


Adelard menceritakan kisah sahabatnya itu secara singkat kepadaku.


"Tuan, sandera kita telah kabur. Yori adalah tersangka pertama yang membebaskan gadis itu" Suara itu terdengar terputus putus, seperti baru berlari jauh.


"Sial!! " Lelaki itu berdecak kesal. Mengerang marah.


"Balutkan balok api di tangannya!! " Teriak peria itu marah.


Tidak ada pilihan lain, lebih baik aku segera menjauhi tempat itu sebelum ketahuan.


***


Kaki ku terus berlari menuju lorong gelap tempat persembunyianku tadi. Hingga terlihat di ujung lorong terdapat sebuah pintu besar.


Perlahan ku langkah kan kaki ini. Sembari berjaga jaga agar tidak ketahuan. Tempat ini sekarang tengah menjadikan ku buronan mereka.


Harus hati hati.


Pintu perlahan terbuka.


Disana terlihat seorang pria di kurung dalam sebuah balok es. Perlahan aku mendekat.


Hingga tepat berada di depannya.


Wajah ini..


Astaga dia kan..


***