
Jika hati sudah berkata iya, maka jangan pernah berani memisahkan mereka"
***
~ sebulan sebelum penculikan ~
Langkah kaki nya ia percepat, dibawah derasnya hujan membuat kaki nya terasa begitu berat.
Hingga kepala nya menabrak sesuatu di depan sana. Tubuhnya terpantul hingga tersungkur ke tanah.
Gadis malang ini memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Baju kemeja Kotak-kotak nya basah kuyup. Rambutnya yang di kuncir tampak berantakan.
Adelard, sosok itu adalah Adelard. Tangan kirinya memegangi payung berwarna biru muda sementara tangan kanannya merentang kearah gadis malang yang baru saja menabrak dada bidangnya.
Segera gadis itu menyambut lengan kekar milik Adelard. Wajah nya yang basah tampak sembab.
"Kau baik baik saja? " Tanya Adelard sedikit memiringkan kepalanya.
Belum sempat gadis itu menjawab, dua sosok berbadan besar berlari dengan raut wajah menyeramkan.
Sementara gadis itu langsung bersembunyi di balik tubuh Adelard. Mengharapkan perlindungan pada pria tampan itu.
"Bawa payung ini dan menjauh lah. Cari tempat yang aman. Pakai ini agar kau tidak kedinginan" Ucap Adelard sembari menyerahkan payungnya serta sweeter Hitam yang di kenakannya kearah gadis malang itu.
Gadis malang itu hanya menuruti perkataan Adelard. Ia berlari kearah gedung tua di sebrang jalan tempat mereka berada.
Sementara Adelard, pria itu kini telah basah kuyup. Tangannya mengacung kedepan, senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Deteksi mereka" Ucap Adelard pelan.
Seketika dalam pandangannya berubah menjadi tampilan data tentang dua orang itu. Senyumannya semakin melebar. Seakan tau apa yang harus ia lakukan.
"Apa yang kalian lakukan di sini? " Tanya Adelard pada dua pria bertubuh besar itu.
"Hormat kami Tuan muda" Dua pria itu membungkuk memberi hormat kearah Adelard.
"Kami sedang mengejar nona Calea tuan. Nona Calea kabur saat beliau menyuruh kami keluar dari kamarnya" Ucap salah satu pria itu.
"Itu wajar sih" Ucap Adelard dalam hati.
"Ya sudah kalian kembalilah. Biar aku saja yang mencari nya. Jika dia juga tidak kembali, berarti dia sudah aman bersamaku" Ucap Adelard dengan wajah seriusnya.
Kedua pria itu mengangguk lalu memberi hormat ke arah Adelard seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Lalu pergi.
Adelard menekan sesuatu di bawah telinganya. Berbentuk lonjong, warna nya sama seperti kulit pria tampan itu.
Seketika wajah pria itu berubah menjadi wajahnya yang asli. Ternyata sebelumnya ia telah mengubah wajah nya menjadi kakak laki laki dari gadis itu - Dannie Vladicson.
Segera Adelard menghampiri gadis yang baru saja ia ketahui bernama Calea itu.
"Ba bagaimana kau bisa membuat mereka hormat pada mu? Apa kau mengenal mereka? " Tanya gadis itu setelah Adelard berdiri di sebelahnya.
"Itu mudah" Adelard menekan tombol itu lagi, dan wajahnya pun berubah menajdi wajah kakak laki-laki gadis itu.
Calea menutup mulutnya dengan tangan. Tentu saja ia kaget. Bagaimana bisa seorang manusia biasa bisa mengubah wajahnya menjadi wajah orang lain dalam beberapa detik?
"A apa yang kau lakukan? Wajahmu.."
Calea tidak bisa berkata apa apa. Ia terlalu kaget menyaksikan perubahan wajah yang dilakukan Adelard.
"Ahaha.. Calea Calea.. Kenalkan aku Adelard" Pria tampan itu tersenyum manis kearah Calea. Entah sejak kapan pria dingin itu berubah menjadi sangat manis di depan seorang wanita yang baru saja ia kenal.
***
"Ya aku hanya tak nyaman dengan keberadaan bodyguard yang di kirim oleh orang tua ku. Meski itu untuk menjaga ku. Tapi mereka sudah keterlaluan hingga menyuruh dua pria berbadan besar itu sampai masuk ke dalam kamarku" Calea sedikit meninggikan suara tanda kesal.
"Bukan salahmu sih. Ah, aku ingin menunjukkan sesuatu lagi. Mau lihat? " Adelard bangkit dari duduknya. Menepuk nepuk baju nya yang lembab.
"Sesuatu yang ajaib? Mau... " Calea yang tadinya sempat kesal kini wajah nya kembali ceria. Senyuman di wajahnya merekah lebar.
Pria itu tersenyum. Tangan kirinya merogoh saku celananya,sebuah motor BMW mainan kini berada siatas telapak tangannya. Calea yang melihat itu pun tampak kebingungan. Namun ia hanya bisa diam mengamati setiap gerak gerik aneh yang dilakukan pria di depannya ini.
Motor BMW kecil itu di letakkan di tepi trotoar. Jari tangan nya menjentikkan suara. Motor BMW itu dengan ajaibnya bertransformasi menjadi semakin membesar seperti hal nya balon yang di isi udara.
Calea sontak menutup mulutnya. Menatap motor BMW merah di depannya dengan takjub.
"Oh really? Ini sangat... Oh my god" Ucap gadis cantik itu sembari mengelilingi motor BMW yang ada di depannya. Ia masih tak percaya dengan yang terjadi di hadapan matanya.
"Delard.. Ini sangat luar biasa kau tau? Bagaimana kau membuatnya ahh.. Sungguh ini hahahha.. " Gadis itu menertawakan dirinya sendiri karna tak bisa berkata apa apa lagi.
"Ini masih awal Cale. Mau lihat yang lebih ajaib? " Dengan cepat gadis itu mengangguk antusias.
Adelard menaiki motor BMW merah itu. Lalu mengajak Calea agar juga menaiki motornya.
Calea, gadis itu tak peduli seberapa deras hujan mengguyur tubuhnya hingga basah. Seketika ia tersadar bahwa tubuhnya tak lagi terguyur hujan deras.
Wajahnya mendongak menatap langit . Masih hujan, tapi kenapa ia tidak basah?
Tidak ingin pusing memikirkan hal itu, segera Calea duduk di jok belakang motor BMW milik Adelard.
Setelah merasa cukup siap, Adelard melajukan motornya dengan kencang.
"Pegangan Cale.. " Teriak Adelard berusaha mengalahkan suara hujan yang masih mengguyur deras.
Segera gadis itu mencengkram erat kaos milik Adelard. Setelah beberapa meter melaju kencang, Adelard menekan tombol merah yang berada di stang motornya.
Seketika motor BMW itu bertransformasi lagi menjadi mobil Lamborghini. Jok motor yang di duduki Calea bergeser kearah kiri Adelard. Roda motor BMW itu membelah menjadi dua. Bergeser kekiri dan kekanan. Sementara jok yang diduduki kedua insan itu tengah mengambang di udara dengan bantuan tiang beroda empat di bagian bawahnya.
Gadis cantik ini berteriak histeris antara kagum dan takut. Mata nya ia tutup, sementara kedua tangannya mencengkram erat jok yang di dudukinya.
Pria di sebelahnya ini hanya berdecak puas dengan hasil mahakarya yang di buatnya.
Setelah kerangka mobil Lamborghini itu telah terbentuk,perlahan tiang yang mengangkat kedua insan itu turun membentuk jok depan mobil.
Setelah sempurna, Adelard menekan salah satu tombol yang ada di dash board mobil. Seketika mobil itu melaju dengan sendirinya tanpa di setir.
"Kau membuatku jantungan ahaha.. " Wajah Calea penuh dengan keringat dingin. Rambutnya sedikit berantakan.
"Ini hadiah pertemanan kita Cale, masih belum seberapa. Entahlah aku merasa senang bisa berteman dengan mu" Ucap Adelard dengan santai.
"Aku juga senang dengan segala keajaiban yang kau tunjukkan sebagai hadiah pertemanan kita" Ucap Calea tersenyum.
"Aku punya sesuati yang terakhir" Adelard menyandarkan punggungnya di senderan kursi.
"Ada lagi? Seberapa banyak? Kau tidak perlu bertanya, aku ingin melihatnya" Gadis itu menatap Adelard dengan penuh antusias.
Pria tampan itu tersenyum. Lalu merogoh saku celana nya.
"Ini hadiah terakhirnya, setelah ini nggak ada lagi ya" Ucap pria itu sembari memberikan sebuah remot keci berwarna hijau dengan satu tombol merah.
"Emm.. Apa ini? " Calea menatap lamat benda di tangan nya itu.
Keajaiban apa lagi yang akan dia peroleh setelah memencet tombol itu?
***