
Meski terikat hubungan darah, jika sudah tumbuh rasa benci, maka hancurlah semua"
**
Matahari terang menyinari bumi. Cahayanya menyebar hingga kepelosok negri. Memberikan kehangatan setelah dinginnya embun pagi.
Suara langkah kaki yang menghantam lantai putih itu terdengar ribut di telinga.
Satu per satu anak tangga telah kulewati. Kursi berwarna coklat tua di pojokan dinding telah menanti.
Diriku seperti hantu yang tak terlihat. Tak ada sapaan, bahkan melihat pun tidak. Tapi itu lebih baik dari pada menjadi seperti kembaranku.
Ku telungkupkan kepala ini di atas meja beralaskan tangan. Komik yang kupinjam dari perpustakaan telah habis terbaca. Saat istirahat nanti akan ku kembalikan ketempat nya.
Tidak lama ku telungkupkan kepala ini, suara bel tanda masuk berbunyi.
Kelas telah ramai dengan suara suara obrolan yang tidak penting.
Tidak lama kemudian masuk seorang guru, Bu Wenny - guru fisika.
Ia memukul papan tulis agar mengundang perhatian.
" Anak anak, hari ini kalian kedatangan siswa baru. Kamu, silahkan masuk" Ucap bu Wenny dengan senyum ramahnya.
Setelah kalimat itu terucap, seorang wanita berseragam persis seperti yang kami kenakan masuk kedalam kelas.
Semua orang dikelas berbisik menilai penampilan wanita itu.
"Hai semua, kenalkan saya Ayyara. Salam kenal semuanya" Singkat, padat dan jelas. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Datar.
"Baiklah, Yara kamu duduk di bangku yang kosong ya" Ucap bu Wenny.
Apa!!
Tidak mungkin dia duduk di sebelah ku kan?
Ah sudah lah, anggap saja aku tidak melihatnya.
"Boleh saya duduk di sini? " Kudongakkan kepala ini ke atas. Wanita cantik berwajah datar itu terlihat menyeramkan.
Astaga..
Segera kuanggukkan kepala ini mengiyakan.
***
Bel tanda istirahat berbunyi, kelas terdengar riuh. Suara bangku berderit tak karuan, memekakkan telinga.
Kuberanikan mata ini melirik ke arah wanita itu. Tidak ada yang berbeda, tetap datar. Seperti tak ada kehidupan.
Hingga akhir nya ia berdiri menghadap kearahku.
Menatap dengan tatapan yang aneh.
Wajah nya semakin mendekat. Astagaaa.. Apa yang akan dia lakukan kepadaku?
"Boleh temani saya berkeliling sekolah? "
Hah?
Tiba tiba?
Mengapa jadi begini?
Entahlah, kepala ku ini bergerak mengangguk dengan sendirinya.
***
Dalam hening, berjalan di lorong yang sepi. Hanya suara hentakan sepatu yang kami pakai yang terdengar.
"Apa kau tidak akan menjelaskan apa pun padaku? " Tanya Ayyra.
Hah?
Menjelaskan apa?
Aku menoleh kearah nya, dengan tatapan penuh tanya.
Seolah mengerti, dia berdecih kesal. Ia menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap kearahku.
"Kau benar benar tak mengenaliku? Alby,aku pergi dari tempat itu untuk mencarimu yang menghilang. Kenapa kau jadi seperti ini, hah? Kau bukan Alby yang ku kenal" Aku tersontak kaget dengan ucapan Ayyara, siswi baru itu. Apa yang baru saja dia katakan? Apa dia mengenalku?
"Apa kau mengenalku? " Tanya ku ragu ragu.
"Sudah lah, anggap saja aku tak pernah mengatakan apa pun padamu" Ucapnya lalu beranjak meninggalkanku seorang diri.
Hah...
Aku tak mengerti dengan ucapannya. Entah apa yang dia katakan. Biarlah, benar yang dikatakannya tadi, anggap saja dia tak pernah berbicara pada ku.
***
Ayyara telah duduk di bangkunya, wajahnya tertekuk seperti tak bersemangat.
Baru kali ini aku melihat ekspresi di wajahnya yang kaku itu.
Perlahan aku berjalan mendekati bangku ku yang berada di sebelahnya. Kuletakkan roti bungkusan yang tadi sempat ku beli diatas mejanya.
"Ma maaf untuk yang tadi. Karna aku membuat mood mu menjadi buruk" Ucap ku sedikit terbata.
Tidak ada respon, ia hanya menoleh sebentar lalu kembali keposisi semula. Tidak peduli.
"Makan lah rotinya, kamu belum makan kan sejak tadi" Ucap ku lagi, kali ini tanganku berinisiatif mendorong sebungkus roti itu tepat di hadapannya.
Bukannya mengambil roti yang ku sodorkan, Ayyara malah mendekatkan wajah nya ke arahku. Sementara aku hanya bisa mengelak, seperti melihat hantu yang menyeramkan. Hiii..
"Sepulang sekolah, ikut denganku kebelakang sekolah" Ucap nya masih dengan ekspresi datar.
Apa dia tidak memiliki ekspresi seperti manusia pada umumnya?
***
Seperti yang dikatakan Ayyara, tidak ada kesempatan untuk ku menolak permintaan nya.
Hingga kaki ini dengan suka rela mengikuti langkah kaki nya yang entah mengapa terlihat begitu cepat.
Tiba tiba langkah kakinya terhenti.
"Kamu diam di situ, balik badan" Entah itu hanya sekedar ucapan atau sebuah perintah, aku tak mengerti. Tubuh ku berbalik dengan sendirinya.
Setelah 20 detik berlalu...
"Sekarang... Apa kamu masih tidak mengenalku? " Tanya nya.
Hah? Apa maksudnya?
Oh tuhaan..
Dengan gerakan malas, kuputar tubuh ini kearah nya.
Speechless..
Tidak tidak...
Apa ini?
Caitlyn?
Apa Ayyara memiliki kekuatan spiritual mengubah wajah dalam hitungan detik?
Jangan bercanda..
Mulutku terasa kaku ketika melihat wajah itu. Aku mengerti maksud perkataannya saat istirahat tadi.
Dan mengapa aku baru sadar jika dia tadi juga menyebut namaku, padahal aku tak memberitahu namaku padanya?
Ahh..
Kacau sudah..
Caitlyn..
Tubuh rampingnya yang tinggi menubruk dadaku. Tangan nya memeluk erat tubuhku.
Aku mematung.
"Cai.. Kamu beneran Caitlyn? " Tanya ku terbata.
Tangan nya yang lebih kecil dari tangan ku itu mencubit pipi ini. Hingga rasa nyeri mulai menjalari wajah ku.
"Kau tahu? Saat semua orang menggapmu telah meninggalkan dunia ini, aku... Aku tak pernah percaya dengan ucapan mereka... " Ucapnya dengan di selingi isakan tangis itu membuat ku terharu.
"Mengapa begitu? Hei, dimata mereka aku telah tiada Caitlyn. Tak perlu mencariku sampai seperti ini" Ucapku sembari melepaskan pelukannya.
"Tak perlu? Apanya yang tidak perlu Alby? Setelah kehilangan keluarga ku, kau adalah orang pertama yang menghiburku di tempat yang seperti neraka itu. Kau itu keluarga ku, kenapa kau tega hah?" Tangisan nya kembali pecah.
"Su sudah jangan menangis, jika kau terus menangis takutnya timbul kesalahpahaman" Ucapku berusaha menenagkan wanita di depanku ini.
***
Setelah beberapa saat, akhirnya tangisan Caitlyn mereda. Ku beranikan diri ini untuk bertanya.
"Cai, bagaimana kau bisa mengubah wajahmu menjadi berbeda seperti tadi? " Tanya ku dengan suara tertahan.
Saat ini kami sedang duduk di bangku taman belakang sekolah.
Caitlyn menoleh sebentar kearah ku, lalu tangan nya merogoh sesuatu dari saku seragamnya.
"Ini.. Aku pake ini" Ucap nya singkat sembari menyerahkan sesuatu berbahan silikon ke arahku.
Ku ambil benda itu dengan ragu.
Benda apa ini?
"Cai, ini apa? " Tanya ku sembari mengangkat benda itu lebih jauh 5 senti dari wajah ku.
"Itu topeng wajah. Kamu tahukan sekarang udah modern, topeng itu bisa menyerap ke wajah. Makanya jadi nggak keliatan" Jelasnya, tangan mungilnya meraih benda yang di sebutnya topeng itu dari tanganku. Lalu menempelkan benda itu di wajahnya.
Setelah beberapa detik, wajah nya telah berubah menjadi wajah Ayyara. Benar benar ajaib.
"Kamu liatkan,wajah aku jadi berbeda. Bukan Caitlyn tapi Ayyara" Lanjut Caitlyn alias Ayyara. Entah lah aku harus memanggilnya siapa, Caitlyn atau Ayyara?
Ya sudah lah, jika tidak di kelas kita panggil saja Caitlyn.
"Cai, gimana kamu bisa kabur dari tempat itu? Bahkan mengatur rencana saja tidak ada kesempatan sama sekali" Ucap ku dengan nada tak yakin.
"Karna tekad yang kuat Al, jika kita sudah menanamkan tekad, apa yang kita ingin kan pasti bisa kita capai. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, pasti ada jalan selagi itu adalah kebenaran" Caitlyn, ternyata dia sudah menjadi wanita yang dewasa. Aku tersenyum kearahnya. Bukan senyuman manis yang biasa di lihat orang orang, tapi ini adalah senyuman keraguan.
Apa bisa jika ada tekad semua yang kita ingin kan akan tercapai?
Ku rasa keinginanku tak akan bisa tercapai meski telah berusaha.
Mustahil!!
Karna tujuan ku bukan lah hal kecil.
Ku tundukkan kepala ini. Mendengarkan hembusan angin sepoi yang menyapu wajah.
"Aku tau tujuanmu. Tujuan kita sama Al, aku mencarimu untuk mengatakan hal ini. Dan aku tidak sendirian, kamu juga tidak sendirian lagi Al. Aku mengerti jika kamu sedang dalam dilema, antara memilih keluarga atau pergi dan tidak di anggap selamanya.
Pilihanmu sudah benar" Ucap Caitlyn lalu terdiam sesaat.
"Lakukan apa yang kamu mau Al, balaskan dendam ibumu" Ucap Caitlyn tepat di depan telingaku. Ia berbisik. Mata ku membelalak kaget.
Kata kata itu...
Bagaimana ia bisa tau tentang ibuku?
Apa mereka pernah bertemu?
Atau bahkan, Caitlyn ikut menyaksikan kejadian itu?
"Cai... Kamu.. " Aku tak bisa berkata kata, tubuhku mematung. Mulut ku terasa kelu, tak ada satupun kata yang terlintas di kepala ini.
"Ya Alby, aku tau semua rahasia keluarga mu" Lanjutnya masih berbisik.
Lagi lagi wanita cantik ini membuatku terkejut dengan kalimat kalimat yang keluar dari mulutnya.
Apa..
Apa yang sebenarnya ia lakukan selama ini?
"Cai bagaimana bisa kau tau ten-" Kalimat ku terpotong ketika Caitlyn membekap mulut ku dengan tangannya. Lalu menarik tanganku menuju balik tembok depan gudang.
Ada apa?
Aku baru tersadar ketika mendengar suara langkah kaki menuju kearah kami.
Siapa?
Apa orang berbahaya?
***
Halo reader's ku yang setiaaaa...
Muach buat kalian yang masih menunggu kelanjutan cerita ku yang nggak jelas ini
ππ
Nantikan terus kelanjutan nya yaaa..
Jangan lupa vote, coment and share cerita ku iniππ