Freedom Or Misery

Freedom Or Misery
Kebebasan



Hidup ini seperti berjalan diatas roda yang terus menggelinding. Harus terus berada di atas, jika tidak ingin mati"


**


Kebebasan adalah impian kedua manusia yang sedang berdiri di atas balkon sebuah bangunan tua.


"Aku tak menyangka rencana kita akan berhasil" Salah seorang berkata demikian. Suara nya yang sedikit serak dan berat membuat siapa saja pasti akan menoleh kearah nya.


"Hmm.. Ini juga berkat bantuan anak itu" Balas seorang berjubah hitam yang berada di sampingnya.


"Adelard, sepertinya kita harus bergerak cepat. Waktu kita tidak banyak disini. Hah.. Rasanya kita seperti menyusup kedalam dunia kita sendiri" Ucapnya sembari membuka penutup wajah nya.


Kini terlihat lah wajah cantiknya yang terpapar sinar matahari. Begitu anggun dan menawan.


"Kau benar, kita memang tidak punya banyak waktu di sini. Tapi ada banyak hal yang harus kita cari tau. Masih banyak tanda tanya di depan sana" Adelard, pria itu membuka topi jubah nya. Wajah tampan nya dengan potongan rambut yang rapi, membuat siapa saja akan terpesona saat melihatnya.


"Ya ya ya... Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ini? Melihat penampilan kita, orang orang pasti akan langsung mencurigai kita" Caitlyn, gadis cantik itu berucap sembari memainkan tangan nya kesana kemari.


"Aku pernah mendengar jika di kehidupan yang normal masih ada campur tangan kehidupan seperti yang kita lalui selama ini" Ucap Adelard sembari membuka ikatan jubahnya dan memperlihatkan kaos oblong hitam yang ketat di tubuhnya yang kekar.


"Mereka memiliki kelompok masing masing seperti kita. Jika kita berperang untuk merebut wilayah kekuasaan, maka sebutan untuk mereka adalah tawuran untuk menjatuhkan lawan" Lanjut Adelard.


Sementara Caitlyn hanya diam mengangguk anggukkan kepalanya.


"Lalu, maksudmu kita akan mencari kelompok tawuran itu yang menguntungkan bagi kita? " Tanya Caitlyn.


"Tepat sekali, anggap saja ini adalah sebuah misi" Ucap Adelard.


"Baru saja aku ingin bersyukur atas kebebasan yang baru saja kudapatkan" Caitlyn mengerucut kan bibirnya.


"Tidak usah kesal seperti itu. Ini memang tujuan kita. Setelah mendapatkan mereka, kita akan gunakan sebagai senjata untuk menyelamatkan saudara kita yang masih terjebak disana" Ucap Adelard.


"Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi. Apa yang akan kita lakukan sekarang? "Gadis itu melepas sepatu hitamnya dan mulai berlari lari kecil.


Baru saja akan membalas ucapan Caitlyn, tiba tiba suara beberapa motor sport memekakkan telinga mereka. Dengan sigap, keduanya pun langsung menutupi wajah serta memakai kembali jubah mereka yang tadi sempat terlepas.


Caitlyn mengambil teropong lipat miliknya lalu meletakkannya dimatanya.


" Apa yang terjadi? " Tanya Adelard.


" Aku tidak tau jenis kendaraan apa yang mereka gunakan, tetapi itu sangat menarik" Jawab Caitlyn. Karena tidak puas dengan jawaban gadis cantik itu, Adelard pun menarik teropong lipat itu dari tangan Caitlyn.


Terlihat di lorong yang sempit itu, sebuah motor sport hitam biru yang melaju kencang, dibelakangnya ada tiga motor sport berwarna merah seperti mengejar nya.


"Ayo"


Tiba tiba saja Adelard berlari mengejar motor motor itu. Caitlyn yang keheranan hanya mengikutinya.


Hingga akhirnya mereka berhenti ketika tembok tinggi menghalangi jalan mereka. Dibawah sana, sosok berhelm fullface itu tampak terpojok sembari menuruni motornya.


Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya hingga akhirnya terjadi baku hantam di tempat itu.


Tentu saja hal itu tidak menguntungkan bagi si pengendara motor sport hitam biru itu. Selain dirinya yang hanya seorang diri, tempat itu juga sangat tidak menguntungkan. Selain tempatnya yang sempit, tidak ada kesempatan sepersen pun untuk dirinya bisa kabur dari tempat itu.


"Kita bantu dia" Ucap Adelard singkat. Lalu ia pun merayap pelan menuruni dinding yang sedikit kasar itu.


Sementara gadis itu, ia dengan lincahnya melompat disudut tembok yang membentuk siku siku tanpa suara sedikitpun.


Setelah tiba di dasar,Adelard langsung menggunakan jurusnya saat melumpuhkan lawan. Sementara Caitlyn, ia mengamankan sosok pengendara motor sport hitam biru itu.


Setelah membereskan satu orang yang menghalanginya, ia pun merangkul sosok itu dan membawanya ketempat yang nyaman.


"Kau tidak papa? " Tanya Caitlyn pada sosok itu.


"Siapa kau? Kenapa kau membantuku? " Bukan nya menjawab, ia malah bertanya balik.


Caitlyn terdiam.


"Kita butuh balas budi, tidak ada jasa yang gratis di dunia ini" Bukan Caitlyn, itu adalah suara Adelard. Lantang dan mencekam seakan penuh ancaman.


Sosok yang masih memakai helm fullface itu menoleh kearah Adelard.


"Apa mereka suruhan kak kevern? " Tanya nya dalam hati.


Sosok berhelm fullface itu mengangguk, lalu menyuruh dua manusia itu memakai sepatu roda yang entah dari mana ia dapatkan.


Keduanya hanya menurut, mereka bisa menggunakan nya karena itu merupakan kendaraan mereka saat di dunia yang mereka sebut seperti neraka itu.


***


Hari mulai menggelap, bulan mulai terlihat. Kini mereka telah tiba di tempat yang terlihat tidak ada bedanya dengan dunia mereka yang dahulu.


Ditempat terpencil yang pastinya sangat banyak jebakan di sana. Kedua manusia itu berjalan santai mengikuti sosok yang masih belum mau melepaskan helmnya itu.


Sudah seperti memasuki tempat terlarang saja. Tanaman merambat yang layu di mana mana. Tidak ada yang istimewa.


Dan disinilah, diruangan yang terang dengan lampu lampu mewah. Berbeda dengan keadaan di luar bangunan ini, sangat kusam dan berantakan.


Mungkin sosok berhelm itu tidak heran karena ia menyangka bahwa ketua nya lah yang menyuruh mereka untuk menyelamatkan diri nya.


"George, siapa mereka? " Seorang pria tampan berambut pirang menghampiri sosok berhelm fullface itu.


Lalu di susul pula dengan pria gondrong yang langsung memutari tubuh kedua makhluk asing itu. Memperhatikan nya dengan seksama.


"Bu bukannya kak Kevern yang menyuruh mereka untuk menyelamatkan ku? " Sosok berhelm fullface itu pun akhirnya melepaskan helm nya itu dari kepalanya. Terlihat wajah tampannya dengan rambut hitamnya yang basah karena keringat.


Namun, kepalanya menoleh kearah pria yang duduk diatas sofa hitam di pojok dinding bangunan itu. Sehingga kedua makhluk asing itu tidak dapat melihat wajahnya.


"Menyelamatkan kan mu? Dari siapa?" Bukan si gondrong atau pun si pirang, suara itu berasal dari pria bermata biru yang duduk di sofa hitam. Anting hitam melekat di telinga kirinya. Wajah nya pun tak kalah tampan dari Adelard.


"Firefly sempat menyerang ku di gang perbatasan, dan mereka lah yang menyelamatkan ku. Ku fikir kakak yang menyuruh mereka" Ucap pria bernama George itu. Lalu menoleh kerarah dua makhluk asing yang ia bawa.


Caitlyn tampak kaget ketika melihat wajah George.


George yang tidak tau apa apa hanya memasang wajah polos tanpa bersalahnya.


Bukan hanya Caitlyn, Adelard yang menyadari hal itu pun menoleh kearah Caitlyn.


Perlahan gadis itu melangkah kearah George yang masih berdiri di tempat.


Orang orang yang melihat itu hanya terdiam. Caitlyn mulai membuka topi jubahnya, memperlihatkan rambut hitamnya  yang panjang sebahu.


Kini menyisakan topeng yang menutupi wajah cantik nya.


Tersisa satu langkah lagi, tangannya mulai mencopot topeng itu dari wajahnya. Kini terlihatlah wajahnya yang memerah, buliran air mata mulai mangalir di pipinya.


Ia langsung menubrukkan tubuhnya di dada bidang milik George.


Isakan tangis mulai terdengar. George yang di peluk pun ikut meneteskan air matanya. Tangannya yang kekar memeluk erat tubuh Caitlyn.


Hanya mereka bertiga yang tau. Sisanya hanya bisa bertanya tanya


Apa yang sebenarnya terjadi?


__________****____


Hola kawan...


Welcome to novel ku yang tidak jelas ini😁😁


Maaf kan jika di awal sudah tidak nyambung


Author juga masih pemula👌👌


Terimakasih yang sebesar-besarnya karena udah mau mampir kerumah author yang baru😘😘


Semoga menikmati hasil imajinasi author yak✌✌


Jangan lupa dukungan nya, follow, comment and share buat kawan kawan kalian yang juga suka novel aksi😎😎


To be continue..