
"Mereka adalah yang nomor satu, jika sudah bertekad maka tidak ada lagi kata mundur"
***
Sesosok berjubah hitam berjalan perlahan lahan di bawah derasnya hujan. Kedua tangannya menarik gerobak kayu yang cukup besar.
Hingga sebuah rumah tua menanti kehadirannya di depan sana.
Kaki nya berhenti melangkah ketika menyentuh tangga terakhir bangunan tua itu.
Di bukanya kain terpal yang menutupi gerobak kayu yang di bawanya. Ternyata di dalam sana seorang wanita tengah meringkuk kedinginan.
***
Wanita itu di letakkan di atas tikar rotan. Di sampingnya terdapat mangkuk berisi air panas yang menguap memberikan kehangatan.
Rumahnya sangat sederhana, banyak senjata unik yang terpajang di sepanjang dinding rumahnya.
"Kau sudah bangun? " Sosok itu berjalan sembari membawa sebuah nampan berisi mangkuk dan sebuah gelas.
"Si siapa kau? " Calea, wanita itu adalah Calea. Segera ia menjauhkan dirinya dari sosok itu. Menatap heran dengan mangkuk besar berisi air panas yang di letakkan di sampingnya.
"Tenanglah. Aku tidak berniat jahat padamu" Sosok bersuara pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya.
"I itu.. "
"Ini milik si nomor 2 kan? Apa kau tau di mana dia sekarang? Ada hal penting yang harus ku katakan padanya" Ucap pria itu.
" A aku tidak mengerti. Apa maksudmu si nomor 2? " Tanya Calea.
Bayang bayang ingatannya tentang kalimat ' si nomor 2 ' seketika muncul di kepalanya.
"Adelard? Apa yang kau maksud Adelard? " Suara gadis terdengar ragu.
"Kau tau tapi kau bertanya. Ya si nomor 2, Adelard. Apa kau tau di mana dia berada saat ini? " Tanya pria itu.
Calea menggeleng.
" Bahkan aku tidak tau apa dia mencariku atau tidak" Ucapnya lesu.
"Hei! Kau tidak lihat alat pelacak ini? Alat ini milik Adelard. Dia pasti sedang mencarimu. Anak itu benar benar ceroboh" Pria itu tampak kesal. Tangan nya dengan kasar menarik penutup kepalanya.
Kini terlihat lah seorang pria tampan berambut pirang panjang yang di kepang hingga menjuntai setengah dari punggung nya.
"Ji jika benar, mungkin kini dia sedang dalam bahaya. Pasti Adelard ketempat itu. Ku mohon bantu lah dia, karna aku dia berada dalam bahaya" Ucap Calea memohon.
Pria itu terdiam. Lalu beranjak menuju dinding dimana banyak peralatan aneh yang terpajang disana.
Mata Calea terus mengikuti semua gerakan pria itu.
Ia mengambil beberapa benda aneh lalu memasukkannya kedalam sebuah tas kecil.
"Aku akan pergi. Kau tunggu lah di sini dan jangan pernah keluar dari tempat ini sekalipun ada yang memanggilmu" Ucap Pria itu lalu beranjak pergi. Pakaian nya seketika berganti menjadi lebih simpel dan keren. Seperti baju perang.
"Aku belum sempat bertanya, apakah makanan ini boleh di makan atau tidak. Huh.. Padahal perutku sudah sangat lapar" Ucap Calea menatap kearah nampan berisikan sebuah mangkuk lengkap dengan gelasnya.
***
"Menghindar Cai..! " Teriak Adelard, tubuh pria itu berputar di udara. Tangannya menarik anak panah yang siap di luncurkan kearah gada raksasa yang siap menghantam tubuh Caitlyn.
Shaht..
Anak panah milik Adelard menancap tepat di tengah gada besar itu.
Beberapa saat kemudian, gada itu mulai berhenti bergerak. Retakan retakan kecil mulai terlihat.
Brashht..
Gada besar itu hancur berkeping tanpa mengeluarkan suara yang besar.
Sementara Kevern, pria itu mencari akal agar bisa menyelamatkan Yori yang masih terperangkap di dinding dengan balok api di kedua tangannya.
Gadis cantik itu sudah tak sadarkan diri. Mungkin dia sudah pasrah dengan keadaan nya sekarang.
Kevern mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Benda berbentuk botol kecil, didalamnya terdapat bubuk putih.
"Delard aku menemukan sesuatu yang mungkin bisa menghancurkan balok api itu" Kevern mengacung kan botol kecil itu kearah Adelard.
"Cepat selamatkan gadis itu! Kita tidak punya banyak waktu" Teriak Caitlyn.
Gadis itu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Dengan bantuan kacamata beningnya, akhirnya ia menemukan sebuah tombol aneh di balik dinding utara.
Gadis itu terus mendekat kearah dinding. Ternyata dinding ini hanya bisa di buka dengan sidik jari pemiliknya.
Sementara Kevern, pria itu kini tengah menaburkan bubuk bubuk itu di atas balok api yang membalut lengan gadis itu.
Usaha yang mereka lakukan tidak sia sia. Perlahan balok api itu mulai mencair seperti es batu yang terendam air.
Tubuh Yori linglung, dengan sigap Kevern menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh.
Matanya menatap iba ke arah gadis cantik itu. Meski ia adalah anak motor yang hidup tak jelas, ia masih manusia yang memiliki hati.
Melihat wajah Yori, ia teringat akan kekasihnya di masa lampau.
"Kevern cepatlah.. Kita harus segera pergi dari tempat ini" Suara Caitlyn seketika membuyarkan lamunannya.
Segera pria tampan itu membawa tubuh Yori ke dasaran.
"Kevern, kau bawa Yori ke tempat yang aman. Sementara aku dan Cai akan meneruskan pencarian" Ucap Adelard sembari mengambil tas hitam milik Kevern untuk dibawa.
"Apa kau punya sesuatu untuk tempat persembunyian kami? " Tanya Kevern.
"Gunakan kostum yang ku beri agar tubuh kalian tidak terlihat. Berjalan lah kearah timur, disana ada sebuah lorong gelap. Masuklah kesana, tapi ingat jangan terlalu dalam. Cukup di pertengahan nya saja. Banyak anak tangga yang ada di dalamnya.
Saat menginjak anak tangga ke 24,hentakkan kakimu tiga kali. Itu adalah kunci sebuah ruangan, tetap waspada meski aku berkata seperti ini. Tidak menutup kemungkinan akan ada seseorang yang memasuki lorong yang sama di waktu yang sama pula" Ucap Caitlyn menjelaskan.
Kevern mengangguk paham. Mengambil tas Adelard yang berada di lantai, lalu tangannya merogoh isi tas itu mencari alat pengobatan instan untuk berjaga. Tidak lupa tiga buah senjata kecil yang ia selipkan di kostumnya dan dua senjata panjang di punggungnya.
"Ingat Kevern, jangan menggunakan alat terbangmu di tempat ini" Ucap Adelard memperingati.
Pria itu hanya mengangguk. Tangan kanannya merangkul tubuh Yori. Sementara tangan kirinya siap dengan senjata kecil yang ia bawa.
Petualangan menuju tempat aman di mulai. Entah apa yang akan menunggu mereka di depan sana. Hanya ada bekal keberanian yang melapisi hatinya.
Dan rintangan apa yang akan menunggu. Mereka hanya bisa melewati dengan sekuat tenaga.
***