Fire Breath

Fire Breath
Penyusup



Sabina, Aiden dan Ladon hanya mengangguk-angguk menanggapi. Ladon begitu fasih menipu Luca. Pria itu menceritakan banyak hal tentang pemukiman tersebut, termasuk orang-orang yang tinggal di sana.


"Bagaimana kalian bisa bertemu Penyihir Agung?" tanya Aiden mencoba mengulik informasi.


Sayangnya tindakan itu sepertinya keliru. Raut wajah Luca berubah curiga. Pria itu menatap Aiden dari atas ke bawah.


"Kenapa kau ingin tahu soal itu?" tanya Luca kemudian.


Ladon segera bisa membaca situasi. Ia buru-buru menengahi percakapan tersebut.


"Itu karena kami baru pertama kali menjadi manusia serigala. Apakah memang umumnya manusia serigala itu bekerja dengan penyihir?" kilah Ladon.


Ekspresi wajah Luca kembali rileks. "Ah, karena itu. Ya … ya … Aku mengerti. Memang orang-orang yang baru kadang tidak mengerti hal-hal semacam itu. Pada dasarnya kami hidup hanya dengan koloni kami sendiri. Akan tetapi karena kekuatan kami hanya bisa muncul saat bulan purnama, jadi sehari-hari kami tak ubahnya manusia biasa.


"Suatu ketika pimpinan kawanan datang membawa seorang pria asing yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang penyihir agung. Ia berkata bahwa dirinya bisa membantu kaum kita untuk bisa mengendalikan kekuatan. Sebagai gantinya, ia meminta perlindungan dari kami agar tidak ada yang bisa menyakitinya. Tidak ada yang tahu ia terlibat masalah dengan pihak yang mana sampai-sampai harus meminta perlindungan kami.


"Hanya pimpinan kawanan yang mengetahui rahasia tersebut. Dan karena tawaran penyihir itu cukup bagus, jadi kami menerimanya," tutup Luca menerangkan panjang lebar.


Ketiga orang yang mendengarkan penjelasan tersebut mengangguk-angguk paham. Secara garis besar mereka kini mengerti apa yang telah terjadi pada Sin Scove. Sepertinya ia tahu bahwa posisinya terancam. Akibat mencuri batu sihir Ephestus, Sin Scove kini menjadi buronan para penyihir lain termasuk salah satunya Aiden.


Akhirnya, setelah beberapa saat berjalan, mereka kini sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Bangunan rumah tersebut sepertinya merupakan yang paling besar dan paling mencolok di area itu. Luca mendorong pintu kayu yang bercat putih itu dan membawa ketiga tamunya masuk ke dalam.


Sebuah aula besar dengan lampu Kristal yang indah menggantung di langit-langit. Rumah itu benar-benar mewah dengan perabot lengkap. Luca membawa mereka bertiga ke lantai atas dan di sana mereka bertemu dengan seorang pria paruh baya berbadan tegap. Rambutnya panjang dan berantakan. Beberapa sisi rambutnya itu sudah memutih, menadakan usia pria tersebut sudah cukup berumur.


"Apa ada anak baru lagi Luca?" tanya pria itu dengan suara rendah. Ia kini tengah mengulum cerutu besar sembari duduk di meja kerjanya yang penuh dengan kertas-kertas dan dokumen penting.


"Selamat siang, Master. Benar, aku membawa tiga pendatang baru. Haruskah kita tempatkan mereka di salah satu rumah atau di penjara?" ucap Luca dengan seringai mencurigakan.


Sabina menahan napasnya sejenak. Sepertinya selama ini bukan mereka yang tengah menipu para serigala ini. Sebaliknya, kawanan lycan ini yang justru tengah menjebak mereka.


"Tikus-tikus kecil ini datang sendiri kemari tanpa perlu dipancing dengan umpan. Selamat datang di Lycan Town. Kalian memang perpaduan yang unik. Kurasa ada baiknya menahan kalian selama beberapa saat sebelum membunuhnya. Luca, kau tahu apa maksudku, kan?" ucap sang pria yang dipanggil Master oleh Luca.


Sabina segera berubah waspada. Begitu pula degan Aiden dan Ladon. Gadis itu sudah berubah menjadi wujud vampirnya, sementara Aiden mencabut tongkat sihirnya. Tanduk Ladon sudah muncul di atas kepalanya, menandakan bahwa ia sudah melepas kekuatan naga miliknya.


Perubahan sikap mereka bertiga tidak membuat para manusia serigala itu terkejut. Dari balik pintu kini muncul barisan orang-orang berbadan besar yang bisa dipastikan pasukan para manusia serigala. Sabina dan Aiden sudah kalah jumlah. Meski begitu mereka tidak bisa tinggal diam.


Sabina terdorong mundur dan nyaris tertangkap. Pada saat yang tepat, gadis itu lantas mencabut pistolnya yang berisi silver bullet. Tembakan pertama ia arahkan pada seekor manusia serigala yang menyerbunya dari depan. Peluru itu sukses menembus dada sang manusia serigala bermata kuning itu.


Serta merta darah segar mengalir dari luka bekas tembakan Sabina. Sang manusia serigala yang tertembak pun berangsur-angsur berubah kembali menjadi manusia biasa tanpa bisa dia kendalikan. Manusia serigala itu berubah panik dan kebingungan.


"Apa yang terjadi … ?" gerung manusia serigala lain yang melihat rekannya ambruk di lantai dalam wujud manusia biasa.


"Vampir itu punya senjata yang berbahaya! Ringkus dia bersama-sama!" teriak yang lain member perintah.


Empat manusia serigala besar segera menyerbu ke arah Sabina. Dengan gesit gadis itu menembakkan pistolnya ke arah empat serigala itu. Kemampuan dan kecepatan vampir sama sekali bukan tandingan para lycan. Empat tubuh lain ambruk di lantai dalam wujud manusia. Dengan cepat kondisi segera berbalik. Kelompok Sabina mulai berada di atas angin. Sementara para manusia serigala itu berlarian panik.


Akan tetapi kondisi itu tidak berlangsung lama. Puluhan manusia serigala lain kembali berdatangan. Peluru Sabina sangat terbatas dan sepertinya tidak akan cukup jika digunakan untuk melawan semua lycan yang menyergap mereka.


"Kita harus mencari lokasi batu sihir itu secepatnya!" seru Sabina pada Aiden.


Aiden mengerti maksud Sabina dan segera mengonsentrasikan tongkat sihirnya untuk mendeteksi keberadaan batu sihir yang mereka cari. Tongkatnya mulai berpendar kehijauan. Pendar itu meredup lalu menyala terang secara bergantian.


"Sepertinya ada di dekat sini. Kita harus keluar dari ruangan ini!" seru Aiden kemudian.


"Serahkan padaku," sahut Ladon yang kemudian mengeluarkan bola api sebesar lemari dua pintu.


Beberapa Lycan yang terkena serangan bola api Ladon meraung kesakitan. Bulu-bulu mereka terbakar hebat dan membuat mereka berlarian tanpa arah. Lontaran bola api Ladon juga sekaligus menghancurkan tembok di ruangan tersebut. Sabina, Aiden dan Ladon sudah akan berlari melewati tembok yang tinggal separuh itu ketika mendadak langkah mereka dihadang oleh dua ekor manusia serigala berbadan sangat besar.


"Jangan kira kalian bisa bertingkah seenaknya di sini," geram salah satu manusia serigala itu.


Secara instingtif Sabina menyadari bahwa keduanya adalah Luca dan sang Master pemilik ruangan tersebut.


"Mereka terlihat kuat," gumam Aiden pelan.


"Tentu saja. Ada alasannya kenapa mereka berdua disebut watcher," sebuah suara tiba-tiba muncul di balik punggung Sabina.


"Kau … Hazel … dasar Vampir sialan," geram salah satu serigala berbadan besar. Entah itu Luca atau sang Master.


"Lama tak bertemu, Zeno," balas Hazel sambil menggenggam pistolnya sendiri.