
Sabina dan Aiden mengamati barang yang diberikan oleh Ladon. Kotak besi itu tampak sangat berat dan terkunci dengan gembok bulat serupa brankas. Meski begitu Ladon dapat membukanya dengan mudah karena dia sendirilah yang mengatur sandi kotak penyimpanan tersebut.
Di dalam kotak itulah Sabina melihat ratusan selongsong peluru yang masih baru dan belum digunakan. Peluru-peluru tersebut berwarna perak berkilauan ditimpa cahaya. Mereka berjajar rapi membentuk barisan yang berlapis-lapis tebalnya. Di salah satu sudut kotak tersebut, dua pucuk senjata api berwujud pistol flintlock hitam dan putih tampak masih berkilau dengan sulur-sulur emas dan perak. Pistol tersebut jelas merupakan senjata yang cocok bagi ratusan peluru itu.
"Inikah … ?" tanya Sabina yang masih mengamati dengan seksama.
"Benar, benda inilah yang kalian cari. Aku mendapatkannya saat Zomace, pembuatnya dulu, menitipkan benda berbahaya ini kepadaku sebelum meninggal. Katanya benda ini dapat digunakan untuk melawan ras teartentu," terang Ladon.
"Kau kenal pembuat silver bullet?" tanya Sabina tak percaya.
"Aku punya lebih banyak teman daripada yang kau kira," protes Ladon sambil berdecih kesal.
Sabina mendengus pelan karena komentarnya terdengar seperti mengejek sang naga. Tapi tentu saja ia tidak menyalahkannya. Selama ini naga dalam bayangannya adalah makhluk kejam yang biasanya lebih suka menyendiri. Sabina tidak bisa membayangkan bahwa Ladon mungkin punya teman.
"Ngomong-ngomong apa kau juga pernah berwujud manusia sebelum ini?" tanya Sabina yang mendadak penasaran.
Ladon berdehem pelan. "Akheron makhluk usil itu beberapa kali mengerjaiku setiap ada kesempatan atau kalau dia sedang bosan. Aku harus berkeliling untuk mencarinya dan mengembalikan wujudku," ungkap Ladon tampak kesal.
Jawaban tersebut mengonfirmasi dugaan Sabina kalau mereka berdua memang saling kenal. Akan tetapi jawaban tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru baginya.
"Bukankah mata air akheron ada di pegunungan dengan air terjun di balik utan sana?" tanya Sabina mencoba memastikan.
"Dia bisa berpindah sesuka hati setiap beberapa dekade sekali. Kalau terakhir kali kau menemukannya di sana, berdoa saja ia belum pergi ke mana-mana," sahut Ladon.
Sabina menghela napas panjang. "Kenapa makhluk mitologis seperti kalian selalu bertingkah ajaib?" ujar gadis itu sambil membayangkan betapa merepotkannya kalau ia harus mencari Akheron di tempat yang tidak diketahui.
"Itu karena kami sudah hidup begitu lama. Hidup yang membosankan dan sendirian. Satu-satunya cara untuk membuatnya menarik adalah dengan melakukan hal-hal ajaib semacam itu," ujar Ladon sambil terkekeh.
"Sepertinya kau cukup menikmati situasi ini," komentar Sabina sinis.
Ladon tertawa semakin keras. "Ini tidak buruk. Sudah lama aku tertidur sampai-sampai sarangku dipenuhi debu dan pengap begini. Sepertinya jalan-jalan sebentar tidak masalah," katanya dengan mata menyipit.
Sabina melirik Ladon dengan kesal. Ia sedikit menyesal karena tidak langsung menghabisi naga itu kemarin. Kini ia hanya menambah beban perjalanan mereka. Meski begitu Aiden justru tampak puas. Dia senang karena punya teman baru dalam perjalanan mereka.
Akhirnya setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, mereka pun bersiap untuk berangkat. Setelah berdiskusi, diputuskan untuk membawa silver bullet itu ke kediaman keluarga Rickle lebih dulu. Masalah Sabina dan Aiden tampaknya lebih mendesak dan harus didahulukan. Karena itu Ladon setuju untuk mengikuti rombongan tersebut menuju tempat tinggal Sabina.
"Ngomong-ngomong kalian punya pedang itu? Apa kalian berusaha membunuhku?" tanya Ladon saat melihat Aiden tengah mengepak barang mereka, termasuk pedang pembunuh naga pemberian Miangase.
"Eh … itu … bukan begitu. Awalnya kami tidak tahu guna pedang ini. Seorang kenalan memberikannya pada kami. Tapi kami memutuskan untuk tidak menggunakannya," jawab Aiden salah tingkah.
Sikap ramah Ladon mendadak berubah waspada. Aiden tidak menyalahkannya. Melihat orang yang baru dikenal membawa senjata yang terkenal sebagai pembunuh rasnya memang sangat mencurigakan.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu, Ladon," tambah Aiden cepat-cepat.
"Kalau kami memang berniat membunuhmu, kami sudah melakukannya saat kau tidak sadarkan diri kemarin," sergah Sabina kemudian.
Ladon pun melunak. Meski ia masih sedikit tidak nyaman dengan pedang tersebut, tapi naga itu tidak berkomentar lagi. Mereka pun akhirnya bersiap untuk kembali. Sayangnya, karena kondisi Nora yang tidak baik-baik saja, mereka sepertinya harus pulang dengan cara kuno yang lambat: berjalan dalam kecepatan normal.
Sabina sudah mengeluh panjang membayangkan perjalanan mereka yang mungkin akan memakan waktu selama berhari-hari. Di saat itu, Ladon kembali menujukkan fungsinya dalam tim.
"Aku mungkin punya cara yang lebih sederhana untuk membawa kita ke tempat tujuan dalam waktu singkat. Tapi kalian harus berjanji untuk menjamin keamananku dan tidak membunuhku," kata Ladon member penawaran.
"Sudah kukatakan kalau kami tidak berniat membunuhmu," geram Sabina yang sudah mulai kesal.
"Berjanjilah. Janji dengan naga punya kekuatan mistis yang akan membuat jiwa kita terikat. Kau tidak bisa mengingkari janji itu tanpa kehilangan nyawamu," kata Ladon percaya diri.
Sabina dan Aiden tentu baru mendengar hal itu sekarang. Ia tidak pernah tahu bahwa mengikat janji dengan seekor naga artinya mengikat jiwa mereka berdua. Sekali lagi Sabina menyesali keputusannya yang gegabah menerima tawaran Ladon sebelum ini.
"Itu benar. Perjanjian dengan naga adalah sihir kuno yang sangat kuat. Naga memiliki kemampuan untuk mengikat jiwa orang-orang yang bersumpah di hadapannya," komentar Nora membenarkan ucapan Ladon.
"Nah, bagaimana? Apa kalian mau berjalan kaki sejauh itu atau menggunakan benda yang bisa membawa kalian kembali dengan singkat?" tanya Ladon lagi.
"Baiklah, kami akan … ." ucap Aiden yang mendadak mulutnya dibungkam oleh Sabina.
"Sumpah itu tidak adil bagi kami. Aku hanya akan berjanji tidak membunuhmu kalau keberadaanmu tidak mengancam kami. Kalau sekali saja kau menyerang kami lebih dulu, maka kami juga akan melawanmu," kata Sabina kemudian.
Ladon tersenyum senang. "Tentu saja. Tidak perlu khawatir. Aku tidak punya niatan untuk menyakiti kalian. Kalau begitu janji telah dibuat," ujarnya sembari mengedipkan mata.
Setelah itu Ladon kembali memindai tumpukan hartanya selama beberapa saat. Ia lantas berjalan ke salah satu tumpukan yang cukup tinggi dan mulai menggali. Aiden dan Sabina hanya memperhatikannya dalam diam, menunggu Ladon membawa benda ajaib lainnya.
Akhirnya setelah berapa menit menggali, Ladon pun muncul dari balik tumpukan emas yang berkilauan. Ia menenteng sebuah buku besar bersampul emas dengan helai-helai kertas yang juga berwarna keemasan berkilau. Setelah melihat sendiri semua benda itu, Sabina kini yakin bahwa naga memang secara alamiah menyukai benda-benda berkilau.
"Kita bisa menggunakan ini," ucap Ladon sembari membuka halaman buku tersebut secara acak.
Helai kertas keemasan itu tampak sudah terisi separuh. Sebuah pena bulu bertinta perak muncul di tengah-tengah halaman.
"Tulislah tempat yang kalian inginkan di sini," lanjut Ladon sambil menyodorkan pena bulu perak tersebut.
Sabina menerimanya dengan kebingungan. "Apa yang harus aku tulis? Alamatnya?"
"Apa saja. Boleh alamat, atau sekedar nama rumah itu kalau ada," jawab Ladon ringan.
Sabina kembali mengamati beberapa tulisan yang sudah terukir sebelumnya. Beberapa hanya menyebut nama jalan, atau nama gunung. Ada juga yang menuliskan nama kota bahkan nama orang (terlihat seperti itu). Akhirnya Sabina memutuskan untuk mencoba menuliskan nama kediaman mereka. Rumah keluarga Rickle.