Fire Breath

Fire Breath
Pencarian Harta



"Jadi kita harus membiarkan naga ini hidup?" tanya Sabina tidak setuju.


"Sebaiknya begitu, Sabina. Kita tidak perlu melakukan pembunuhan yang tidak perlu," jawab Aiden kemudian.


"Tapi bagaimana kalau naga ini datang saat kita berada di dalam sarangnya mencari silver bullet?"


"Kurasa naga ini tidak akan bangun dalam waktu singkat. Kita punya cukup waktu untuk mencarinya," komentar Nora yang kini sudah berubah menjadi kucing kecil yang terluka di dalam pelukan Sabina.


Sabina masih tampak ragu, tetapi karena Aiden dan Nora sudah sepakat tentang hal tersebut, akhirnya dia pun mengalah.


"Baiklah kalau begitu ayo kita masuk sekarang," ujar Sabina kemudian.


Ketiganya segera memasuki sarang sang naga, meunuju ruangan tempat harta karun disembunyikan. Ruangan itu masih sama gelapnya seperti sebelumnya. Aiden segera melempar mantra untuk membuat beberapa bola cahaya kekuningan meluncur memenuhi langit-langit gua tersebut.


Kini, dengan penerangan yang cukup, setumpuk harta karun yang ada di tempat tersebut tampak sangat jelas dan berkilauan. Gunug harta tersebut begitu besarnya hingga Sabina sendiri tidak yakin dapat menemukan silver bullet dalam waktu singkat.


"Bagaimana kita mencarinya? Aku bahkan tidak tahu bentuk silverbullet itu. Kalau itu memang peluru, artinya benda tersebut pasti sangat kecil, 'kan. Dan lihatnya harta sebanyak ini," keluh Sabina kemudian.


"Mari kita berpencar dan mencarinya dengan sabar," usul Aiden yang juga tampak ragu.


Dengan ******* pelan, akhirnya mereka bardua pun mulai melakukan pencarian. Sabina memilah barang-barang berharga tersebut menurut jenisnya. Nalurinya untuk merapikan tumpukan harta yang berantakan itu tergerak. Bermacam-macam benda tertumpuk tak beraturan di sana. Ada senjata seperti bilah pedang, tombak, tameng perunggu yang sangat berat, hingga tongkat-tongkat sihir bertatahka batu permata. Selain itu juga terdapat bermacam-macam perhiasan mulai dari kalung rubi yang mewah, hingga mahkota penuh batu permata, entah berasal dari kerajaan mana. Era kerajaan sudah lama musnah.


Mereka bekerja selama berjam-jam bahkan mungkin sudah lewat beberapa hari. Beruntung para penduduk Kota Kelam Terlarang memberi mereka banyak makanan saat mereka meninggalkan kota. Meski begitu, makanan itu pun tidak cukup banyak jika dibandingkan dengan jumlah harta yang harus mereka pilah-pilah. Aiden sudah tampak lelah sementara Sabina terlihat begitu jemu karena pekerjaan monoton tersebut. Kondisi Nora yang meskipun sudah berangsur pulih, tetapi belum cukup kuat untuk membantu mereka berdua mencari benda yang dibutuhkan.


Setelah kurang lebih tiga hari berkutat dalam gua yang pengap itu, akhirnya Sabina menyerah. Bahkan dengan kecepatan vampirnya, menaklukan gunungan harta itu sama sekali tidak mudah. Aiden pun tampak sudah tidak bisa bertahan lebih lama. Mereka berdua memutuskan untuk mencari udara segar sebentar di luar gua.


Akan tetapi, belum sampai langkah mereka mencapai pintu keluar ruang harta, tiba-tiba sesosok pria berambut hitam panjang dengan mengenakan jubah sisik naga, berdiri menghalangi mereka. Sabina dan Aiden segera berubah waspada mendapati orang itu muncul tanpa pertanda apa pun. Bahkan Sabina tidak bisa merasakan kehadirannya sama sekali.


"Apa yang kalian inginkan dari guaku?" tanya pria berambut lurus sepanjang pinggang itu.


"Siapa kau?" sergah Aiden sambil mengangkat tongkat sihirnya, bersiap untuk melindungi diri.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kalian sudah mengganggu tidurku, lalu meracuniku dengan mata air kematian Akheron, dan sekarang kalian berusaha mencuri hartaku," ujar pria itu dingin.


Sabina mengamati pria itu lantas menyadari ada sepasang tanduk yang menyerupai tanduk naga yang telah mereka kalahkan tempo hari. Kedua tanduk tersebut mencuat di atas kepala pria itu dan berwarna biru gelap.


"Kau … naga yang kemarin?" tanya Sabina menebak-nebak.


"Benar. Aku adalah Ladon, pemilik tanah ini, yang terakhir dari kaum naga," ujar pria itu ssembari membusungkan dada.


Baik Sabina maupun Aiden tampak terkejut mendengar pengakuan Ladon. Mereka tidak mengira kalau naga raksasa kemarin kini berubah menjadi sosok pria berusia tiga puluh tahunan dengan rambut panjang dan wajah rupawan.


Ladon berdehem pelan. "Itu karena kalian memberiku mata air kematian Akheron. Kekuatku tersegel gara-gara mata air sialan itu," geramnya sambil mengepalkan tangan.


Sabina dan Aiden saling berpandangan dengan bingung, menimbang tindakan apa yang harus mereka lakukan terhadap naga tersebut.


"Sekarang aku mungkin tidak bisa tinggal di sini lagi. Kau harus bertanggung jawab mengembalikan sosokku dengan mendapatkan kembali mata air kehidupan Akheron," sergah Ladon tampak kesal.


"Untuk apa kami membantumu? Kau sudah menyerang kami hingga nyaris membunuh Nora!" seru Sabina marah.


"Aku bukan naga yang jahat. Aku sama sekali tidak pernah mengganggu makhluk lainnya dan hanya hidup dalam diam di pegunungan ini. Akan tetapi kalian dengan lancang mengganggu tidurku dan membuatku kesal. Aku tidak punya pilihan lain selain mencurigai kalian sebagai ancaman," sahut Ladon membela diri.


"Dan kalau kami tidak mau membantumu, apa yang bisa kau lakukan sekarang? Kami bisa membunuhmu dengan sosok lemah itu," balas Sabina kemudian.


"Tunggu, Sabina … . Dia benar. Kitalah yang sudah mengganggunya pertama kali. Kita seharusnya membantu dia untuk kembali. Dia bukan naga yang jahat," kata Aiden mencoba menengahi.


Sabina melotot pada Aiden. Pemuda itu memang punya hati yang kelewat baik. Akan tetapi, belum sempat Sabina membuka mulut untuk menyanggah ucapan Aiden, naga itu sudah lebih dulu melangkah memasuki gua. Sabina dan Aiden sontak mundur dengan waspada.


"Kelihatannya kalian bukan samara-mata ingin merampok hartaku. Apa kalian mencari benda khusus yang sulit dicari?" tanya Ladon sambil berkeliling mengamati hasil kerja Sabina dan Aiden yang membuat hartanya tertumpuk rapi.


"Tidak ada uruasannya denganmu," geram Sabina menjawab.


"Aku bisa membantumu menemukannya. Biarpun terlihat berantakan, tapi aku hafal letak semua benda yang ada di sini. Katakana saja apa yang kau cari," jawab Ladon ringan.


Sabina dan Aiden seperti mendapat angin segar. Bila kata-kata Ladon benar, mereka tidak perlu tersiksa dalam ruangan pengap tersebut sambil menyortir berbagai benda berkilau ini berhari-hari. Meskipun begitu Sabina merasa tidak ingin percaya dengan mudah pada Ladon.


"Kami mencari silver bullet," kata Aiden sebelum sempat dicegah oleh Sabina.


Meskipun begitu, Ladon tidak tampak mengancam. Ia hanya mengangguk-angguk pelan sambil berusaha mengingat.


"Ah … benda itu. Kalau itu sepertinya ada di situ. Aku akan memberikannya pada kalian, tetapi kalian harus berjanji padaku untuk membantuku kembali ke wujud asliku," kata Ladon kemudian.


Aiden menatap Sabina penuh harap. Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia akhirnya mengalah dan kemudian mengangguk pelan pada Aiden. Aiden tersenyum bahagia menanggapi.


"Baiklah, Naga. Kami akan membantumu kembali ke wujud aslimu," kata Aiden meyakinkan.


Ladon tersenyum puas, lantas berjalan menuju ujung tumpukan hartanya. Setelah menggali selama beberapa saat, Ladon pun mengangakat sebuah kotak keperakan sebesar bentangan tangannya.


"Ini barang yang kalian cari," ucap Ladon sambil menyeringai senang.