
"Aku baru tahu kalau naga punya kemampuan penyembuh," kata Sabina sekembalinya mereka dari tempat Sybilina.
"Darah naga bahkan bisa memberikan kekuatan yang lebih besar. Apa kau tidak pernah mendengar mitos bahwa memakan jantung naga akan memberimu hidup abadi?" sahut Ladon balas bertanya.
"Kau mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang patut dibanggakan. Bagaimana kalau sekarang kami berusaha mendapatkan jantungmu?" sambar Sabina sinis.
Ladon terkekeh. "Aku percaya diri pada kemampuanku. Meski dalam wujud seperti ini, naga tetaplah naga. Aku tidak semudah itu dikalahkan."
Sabina mendengkus pendek. "Kata naga yang pingsan setelah memakan mata air Akheron. Bersyukurlah karena Aiden dan Nora melarangku menusuk jantungmu waktu itu."
Aiden turut tersenyum geli mendengar kata-kata sarkastik Sabina.
Ladon hanya berdecih kecil. "Itu karena sudah lama aku tidak menggerakkan tubuhku."
Sabina hanya tertawa kecil lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketiganya berjalan bersama menuju ruang makan. Meski tidak butuh makanan manusia, tetapi Sabina tetap pergi ke sana karena ingin menemani Aiden.
"Sampai kapan kau mau mengikuti kami," protes Sabina yang melihat Ladon terus-terusan mengekor.
"Aku belum mengenal tempat ini. Sebagai tuan rumah yang baik seharusnya kau menawarkan untuk mengajakku berkeliling," sahut Ladon.
Ucapannya masuk akal. Meski begitu Sabina tidak merasa perlu untuk beramah-tamah dengan naga itu. Selain karena ia merasa Ladon sangat menyebalkan, juga karena naga itu yang seenaknya mengikuti mereka sampai kemari.
"Gua nagamu bahkan lebih membingungkan, tapi kami berkeliling sendiri," balas Sabina kesal.
"Setidaknya guaku hanya berinding batu. Rumah ini membuatku pusing karena terlalu terang."
"Kalau begitu diam saja di ruanganmu," bentak Sabina.
"Sudah-sudah. Sebaiknya kita ajak Ladon untuk makan bersama. Apa yang biasanya dimakan seekor naga?" tanya Aiden berusaha menengahi.
Ladon tampak berpikir sejenak. "Dulu aku suka memakan manusia. Tapi akhir-akhir ini aku hanya memburu binatang-binatang besar seperti kerbau atau babi hutan," jawab Ladon ringan.
Aiden tampak tersentak kaget. "Ma ... manusia?" tanyanya tergagap.
"Jangan menakuti Aiden, Naga," seru Sabina marah. "Tenang saja, Aiden, meskipun kau manusia tapi kau adalah seorang penyihir. Darah penyihir itu tidak enak. Begitupun dagingnya. Aku juga tidak akan membiarkan makhluk itu menyentuhmu," lanjut Sabina pada Aiden.
Ladon tertawa keras melihat hal itu. "Apa itu kata-kata penghiburan yang benar? Tenang saja, dalam wujud ini, porsi makanku tidak akan sebanyak itu. Sepiring daging dan segela anggur akan cukup untukku," kata Ladon masih setengah tertawa.
"Syukurlah kalau begitu. Mari kita makan bersama," ujar Aiden tampak lega.
Akhirnya, meski dengan bersungut-sungut, Sabina pun mengijinkan Ladon untuk makan bersama mereka. Karena keberadaan Miangase di rumah itu, maka Valerie telah menyimpan banyak bahan makanan manusia. Kakaknya itu bahkan memasak beberapa makanan untuk Aiden juga. Sedikit sisanya diberikan pada Ladon.
Selesai makan, Hazel memanggil mereka bertiga ke ruangannya. Di sana sudah ada Valerie dan Miangase, Sepertinya Hazel berencana untuk membicarakan tentang rencana penyusupan mereka ke markas para manusia serigala. Kini karena Ladon dan Aiden dipandang bermanfaat untuk misi tersebut, maka mereka berdua pun turut dalam pembicaraan ini.
"Perjalanan menuju markas para manusia serigala ini tidak akan mudah. Nora juga tidak bisa membantu kita karena keadaannya masih belum pulih sepenuhnya. Terlebih dengan wujudnya yang besar sebagai seekor griffin, itu justru akan menarik perhatian gerombolan mereka.
"Karena itu kuputuskan untuk membawa kalian berlima saja dalam misi ini. Aku, Valerie dan Sabina bisa terbang begitu saja ke dekat markas mereka. Namun, karena yang lainnya tidak bisa melakukannya, maka kita perlu strategi baru untuk mendekati wilayah para manusia serigala," kata Hazel membuka rapat itu.
"Sejujurnya aku penasaran dengan buku yang kau bawa, Naga. Bukankah benda itu bisa membuat kita berpindah tempat dengan mudah?" lanjut Hazel bertanya pada Ladon.
"Aku punya nama, Vampir. Bersikaplah sopan kalau kau mau meminta tolong," geram Ladon.
Hazel menarik napas panjang. Sabina sudah mengira kalau pertengkaran mereka mungkin akan terjadi lagi. Namun, ayahnya ternyata lebih bijaksana dari kelihatannya. Hazel mengalah dan memanggil nama Ladon dengan benar.
"Baiklah, Ladon. Tentang buku teleportasi itu. Apa kita bisa menggunakannya untuk mencapai wilayah para manusia serigala?" tanya Hazel kemudian.
"Bisa saja, kalau kau pernah mendatangi tempat itu. Syarat untuk berteleportasi dengan buku itu adalah sang penulis alamat tujuan harus sudah pernah mendatangi tempat yang dia tulis," jawab Ladon.
Hazel tercenung sejenak. "Aku belum pernah benar-benar memasuki wilayah mereka. Tapi aku sudah pernah mendatangi daerah yang cukup dekat dengan markas lycan itu. Mungkin kita bisa pergi ke sana dengan buku sihir tersebut untuk mempersingkat waktu," ujar Hazel kemudian.
Sabina dan yang lainnya mengangguk setuju.
"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk bisa memasuki wilayah mereka diam-diam, Ayah? Penciuman para anjing itu sangat sensitif terhadap aroma kita," tanya Valerie kemudian.
"Kalau soal itu, aku bisa menyamarkan keberadaan kalian dengan sihir penyamaran. Aroma bahkan aura kalian bisa tersembunyi dalam jangka waktu tertentu," usul Miangase kemudian.
"Berapa lama?" tanya Hazel.
"Mungkin sekitar enam jam. Tapi aku bisa memperbaharuinya setiap kali mantra sihir itu hampir pudar."
"Aku bisa membantu Miangase melakukan itu. Akan terlalu melelahkan jika harus memantrai enam orang bersamaan secara periodik. Kita bisa berbagi tugas, Miangase," ucap Aiden menawarkan bantuan.
Miangase mengangguk senang. "Itu akan sangat membantuku, Aiden."
"Baiklah, masalah kedua sudah teratasi. Selanjutnya, kita perlu memikirkan lokasi batu sihir Ephestus yang harus kita hancurkan. Aku memiliki denah markas para manusia serigala ini dari salah satu vampir kenalanku. Keluarga mereka tinggal paling dekat dengan wilayah lycan. Karena itu mereka bisa membuat denah ini setelah mengamati dan menyusup beberapa kali ke dalam." Hazel berkata sambil membuka sebuah gulungan kertas yang cukup besar.
Gulungan kertas tersebut berisi gambar denah sebuah wilayah besar yang tertutup hutan lebat dengan pemukiman di tengahnya. Terdapat beberapa pos jaga di sisi luar hutan dan meski tidak ada benteng yang melindungi, tapi Sabina tahu, insting serta daya penciuman para lycan itu sudah cukup menjadi alarm tanda bahaya.
"Sayangnya, denah ini sudah dibuat satu tahun yang lalu. Melihat pergerakan para manusia serigala belakangan ini, jumlah mereka pasti sudah meningkat dua kali lipat. Karena itu kita tetap harus waspada."