
Sabina melongok ke dalam lubang. Ia mendesah lega setelah melihat bahwa ternyata sang naga hanya sekedar bergerak untuk mengubah posisi tidurnya. Ia menggeleng ringan pada Nora dan Aiden yang menatapnya tegang. Aiden dan Nora menghela pun turut menghela napas lega.
"Mari kita pikirkan dengan lebnih tenang," bisik Aiden kemudian.
"Menurutku kita harus melawan hewan itu di luar sarangnya. Tempat terbuka akan menguntungkan kita karena itu akan membantu kita menghindar dari serangan apinya," usul Nora kemudian.
"Kau benar, Nora. Selain itu, kalau kita membunuh naga itu di luar sarangnya, kita bisa lebih leluasa mencari silver bullet itu di dalam tumpukan harta," kata Aiden menanggapi.
"Jadi bagaimana cara kita membuat naga itu pergi keluar dari sarangnya?" Sabina balik bertanya.
Ketiga orang itu mendadak menyadari hal yang sama. Mereka lantas bersama-sama menatap teko emas berisi banshee di dalamnya.
"Sepertinya sekarang kita sudah tahu fungsi benda pertama," komentar Aiden.
"Lantas dua lainnya untuk apa? Terutama bola kaca itu," tanya Nora.
"Kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita keluarkan dulu kadal raksasa itu," ucap Sabina. "Terlalu lama berada di sini bisa membuatku semakin menderita."
Aiden dan Nora langsung setuju. Lorong gua itu memang sangat panas dan pengap. Aroma belerang yang kuat lambat laun juga membuat mereka sedikit mual. Maka dengan hati-hati mereka bertiga pun melangkah menelusuri kembali lorong-lorong gua itu menuju ke luar.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya rombongan itu pun berhasil mencapai mulut gua, tempat dimana mereka pertama mendarat tadi.
"Bisakah kita membangunkan naga kalau mengeluarkan banshee itu di sini?" tanya Aiden sambil mengukur jarak pintu masuk itu sampai ke sarang naga.
"Kurasa bisa. Lorong ini bisa menimbulkan gema hingga ke dalam. Selain itu teriakan banshee itu luar biasa keras," sahut Nora berkomentar.
"Kita harus bersembunyi dulu sebelum membuka teko. Salah-salah banshee ini justru akan menyerang kita," usul Sabina kemudian, diikuti anggukan setuju oleh Aiden dan Nora.
Setelah meletakkan teko emas itu di depan pintu masuk gua, mereka bertiga pun segera mersembunyi di balik salah satu batu besar yang menempel di dinding pegunungan tersebut. Setelah yakin kalau keberadaan mereka tidak akan terdeteksi oleh sang banshee, maka Aiden pun segera melancarkan mantra pembuka segelnya ke arah teko emas.
"Incipio!" seru Aiden sambil mengayunkan tongkatnya.
Sebuah cambuk cahaya keemasan melecut dari ujung tongkat Aiden, lantas mengenai ujun tutup teko. Tak lama kemudian tutup teko tersebut menjeblak terbuka dan memunculkan sesosok perempuan dengan tubuh berpendar keperakan. Banshee yang telah ditangkap oleh Sabina dan Aeron.
Setelah menunggu selama beberapa waktu, akhirnya yang dinanti-nanti pun tiba. Goncangan besar terasa dari dalam perut gunung, disusul suara deru yang merontokkan batu-batu kecil dan kerikil serta debu dari dinding pegunungan tersebut. Naga itu sudah bangun dan sedang menuju keluar.
Sabina, Aiden dan Nora segera memasang kuda-kuda waspada. Mereka harus siap dengan segala kemungkinan. Mendadak gumpalan bola api muncul dari dalam gua dan serta merta menghanguskan banshee itu menjadi debu. Mereka bertiga tertegun melihat kejadian tersebut. Tetapi sebelum hilang keterkejutan mereka, detik berikutnya seekor makhluk raksasa dengan ekor panjang melesat keluar dari dalam gua. Naga.
Naga itu jelas tampak marah. Ia terus menyemburkan api dari lubang hidungnya. Begitu melesat keluar dari dalam gua, ia membumbung tinggi ke angkasa dan terus terbang berputar-putar dengan marah. Naga itu seolah sedang mencari dalang kerusuhan yang telah mengganggu tidurnya.
Baik Sabina, Aiden dan Nora langsung tahu bahwa tidak ada gunanya mereka bersembunyi. Naga tersebut terus mengawasi pintu masuk guanya dengan tajam. Cepat atau lambat mereka segera ketahuan. Maka, sebelum naga itu cukup waspada, Sabina seger berubah menjadi wujud vampirnya lantas terbang melesat tanpa aba-aba.
Aiden memekik panik saat melihat Sabina yang langsung mengarahkan serangannya pada sang naga tanpa persiapan apa pun. Naga itu jelas bukan tandingan Sabina, terlebih gadis itu tidak membawa senjata yang dibutuhkan: pedang naga. Meski begitu Sabina tampak percaya diri dan terus bergerak menuju arah perut sang naga.
Sayangya pergerakan Sabina langsung disadari oleh naga tersebut. Sambil mengubah arah terbangnya, naga tersebut lantas menukik ke arah Sabina sambil menyemburkan bola api yang lebih besar dari sebelumnya. Beruntung Nora yang sudah mewaspadai hal itu segera menyambar Sabina agar tidak terkena serangan api dari sang naga. Tindakan itu berujung terbakarnya sayap griffin Nora hingga nyaris kehilangan separuh bulu-bulunya.
Arah terbang Nora tak lagi bisa stabil karena sayapnya sudah separuh terbakar. Sabina mencoba menopang berat tubuh Nora dan menyuruh hewan itu berubah menjadi kucing kecil. Tapi Nora tidak ingin membiarkan Sabina melawan naga itu sendirian. Terlebih sekarang naga raksasa tersebut sudah terbang melesat untuk mengejar mereka sambil melempar bola-bola api mengerikan. Sabina dan Nora harus terbang zig-zag untuk berkelit dari serangan naga itu.
Dari bawah sana, Aiden mencoba mengalihkan perhatian sang naga dengan melempar mantra-mantra serangan. Tapi semua usahanya sia-sia lantaran kulit naga yang begitu tebal tidak dapat ditembus oleh satu pun serangan Aiden.
"Kenapa kau sangat ceroboh Sabina?! Menyerang tanpa rencana hanya akan membuat kita semua terbunuh!" seru Nora marah.
"Maafkan aku. Kupikir naga itu akan bergerak lambat karena ukurannya. Ternyata ia cukup cepat," ujar Sabina beralasan.
"Tentu saja! Dia itu binatang legendaris!"
Bola api kembali menyambar sisi tubuh Sabina. Gadis itu buru-buru berkelit dengan mengubah arah terbangnya. Sayangnya gerakan mendadak tersebut justru membuat Sabina kehilangan pegangannya pada Nora. Mereka berdua pun terpisah dan Nora jatuh menukik ke tanah.
Sabina segera mengejar Nora dan mencoba menangkap hewannya itu. Namun sang naga yang cerdik berhasil memanafaatkan hal tersebut dengan melontarkan bola api besar ke arah Nora yang tengah berusaha menyeimbangkan diri. Sabina berteriak keras saat melihat bola api super besar itu melesat ke arah Nora. Jaraknya dengan Nora terlalu jauh jika dibandingkan jarak bola api sang naga.
Akhirnya serangan bole api itu pun telak mengenai Nora. Sabina meraung keras melihat hewan kesayangan sekaligus sahabatnya itu terbakar dalam bara api naga. Nora tampak menggeliat-geliat kesakitan di dalam sana. Dengan putus asa Sabina segera mempercepat laju terbangnya ke arah Nora.
Tapi semua sudah terlambat. Dengan bunyi debum keras, tubuh Nora jatuh ke atas tanah. Aiden yang melihat hal tersebut segera melancarkan mantra air untuk memandamkan api di tubuh Nora. Di samping itu naga raksasa tadi masih terus mengejar Sabina sambil melemparkan bola-bola api. Terpaksa Sabina harus kembali terbang ke atas untuk menjauhkan serangan naga tersebut mengenai Nora atau Aiden. Ia tidak bisa melihat kondisi Nora sekarang. Sabina hanya bisa berharap kondisi Nora tidak separah dugaannya.