Fire Breath

Fire Breath
Sarang Naga



"Ilume!" seru Aiden menyalakan cahaya di ujung tongkatnya.


Gua itu - selayaknya gua-gua lain - sangat gelap dan pengap. Sabina menyadari perbedaan suasana gua ini dengan gua Akheron. Disini suhunya sangat panas, berbeda dengan gua Akheron yang meski penuh tumpukan mayat, namun terasa sejuk. Ketiganya pun terus berusaha menembus gua tersebut meski udara panas melingkupi.


Setelah beberapa saat berjalan dalam diam, mereka pun menemui persimpangan pertama. Dua jalur mengarah ke kanan dan kiri. Sabina mencoba menerka arah suhu yang ipulebih panas, dengan asumsi hawa panas itu berasal dari sang naga. Mereka akhirnya berbelok ke kiri, arah yang disetujui oleh Sabina dan Nora.


Persimpangan demi persimpangan selanjutnya pun muncul. Kadang hanya ada dua jalur, namun tak sedikit yang bercabang lebih dari tiga.. Sabina dan Nora memilih jalur sesuai dengan asumsi sebelumnya. Jalan mana yang terasa lebih panas dan beraroma seperti belerang, itulah yang mereka pilih. Kadang-kadang mereka juga menemukan sebuah ruangan batu yang cukup besar berisi tulang belulang. Namun Sabina tidak berselera untuk memperhatikan makhluk apa yang telah dibantai di tempat itu.


Setelah melalui setapak terjal dengan turunan dan tanjakan luar biasa, akhirnya mereka pun sampai di ujung lorong. Sabina yang berjalan paling depan segera menghentikan langkahnya, karena tidak ada jalan lagi di depannya. Kakinya tidak bisa menjejak apapun. Ujung lorong tersebut berupa lubang besar yang dasarnya tidak terlihat karena terlalu gelap.


Dari lubang tersebut keluar hawa panas dan aroma menyengat belerang bercampur benda terbakar. Suara mendesis terdengar sejak mereka berjarak sepuluh langkah dari tempat tersebut.


Aiden mencoba mengintip dari lubang gua itu, tapi tak banyak yang bisa dilihat. Ia hanya sesekali melihat kilatan-kilatan cahaya samar-samar di kejauhan. Sabina dan Nora yang memiliki penglihatan lebih baik lantas bergantian mengintip.


Ternyata di dalam lubang tersebut terdapat sebuah ruangan berbentuk kubah batu sangat besar yang di setiap sisi dindingnya dipenuhi lubang-lubang lain. Sabina menduga lubang-lubang tersebut adalah lorong-lorong lain menuju lokasi yang berbeda. Di tengah ruangan batu super besar itu, terdapat tumpukan berbagai macam harta karun.


Sabina melihat batu-batu permata berkilauan, perhiasan emas dan perak, bahkan baju zirah dan pedang. Semua benda berharga itu bertumpuk menjadi satu hingga membuat timbunan besar yang menyerupai gunung harta. Secara keseluruhan, lantai ruangan itu pun juga dipenuhi beragam emas perak dan batu-batu permata yang sangat banyak.


Itu kali pertama Sabina melihat begitu banyak harta ditumpuk dalam satu tempat yang sama. Padahal keluarganya termasuk keturunan vampire yang terkaya. Namun jumlah harta di ruangan ini berada di level yang jauh melebihi harta keluarga Sabina bahkan setelah dikumpulkan dari generasi ke generasi.


Lantas, untuk melengkapi pemandangan mewah tersebut, seekor makhluk besar yang Sabina yakin adalah seekor naga, tengah bergelung nyaman di atas pulau harta itu. Naga itu benar-benar luar biasa besar. Sepanjang hidup Sabina selama 116 tahun, naga tersebut merupkan makhluk terbesar yang pernah dilihatnya. Sisiknya yang berwarna biru gelap tampak sesekali berkilau terkena cahaya api kecil yang sesekali keluar dari hidung naga tersebut. Sepertinya naga tersebut memiliki napas api.


"Apa kau melihat sesuatu," bisik Aiden yang secara otomatis mengecilkan volume suaranya.


"Ada banyak sekali benda berharga di bawah sana. Aku tidak tahu dimana silver bullet yang kita cari. Akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari benda kecil itu, dan sialnya, seekor naga bernapas api kini tengah tidur di atas tumpukan harta itu," jelas Sabina turut berbisik.


"Kita bisa mengendap-endap dan mencarinya saat naga itu sedang tertidur," usul Aiden.


"Dengan resiko dia akan terbangun dan memanggang kita hidup-hidup? Belum lagi kemungkinan kalau benda yang kita cari ada di bawah tubuhnya. Kita tidak bisa menyuruh naga itu bergeser dengan baik-baik, kan," sahut Nora sinis.


"Kalau begitu tinggal kita bunuh naga itu saat tidur," kini Sabina turut member usul.


"Kulit naga lebih keras daripada benda apa pun di dunia ini. Satu-satunya kelemahan Naga adalah menusuk jantungnya dari bawah tubuhnya. Kau harus membuat naga itu tidur terlentang kalau mau membunuhnya. Mengusik wajahnya juga hanya akan membuat dia kesal, lalu memanggang kita menjadi makan malam." Nora kembali berkomentar.


"Mari kita pikirkan secara seksama kegunaan benda-benda ini. Miangase menyuruh kita membawa ini pasti bukan tanpa sebab," kata Aiden kemudian meletakkan ketiga benda yang baru mereka dapatkan: teko emas, bola kaca berkilau dengan ikan mas di dalamnya, dan pedang naga.


"Kenapa kalian tidak sekalian bertanya cara menggunakan benda-benda ini kemarin?" gerutu Nora kesal.


"Kami lupa. Kami juga tidak berpikir panjang. Itu manusiawi," sahut Aiden.


"Sabina bukan manusia," celetuk Nora semakin kesal.


"Justru itu. Karena aku bukan manusia, jadi aku tidak berpikir terlalu rumit. Kukira kita tinggal membunuh naga itu begitu saja," jawab Sabina ringan.


Nora berdecak kesal dengan tingkah kedua orang itu. Mereka berdua benar-benar terlalu santai menghadapi perjalanan ini. Bagaimana mungkin dia yang seekor griffin justru lebih waspada daripada pasangan penyihir dan vampir itu. Mereka sudah dianugrahi otak yang seharusnya lebih maju. Tidak seperti dia, hewan kuno yang lebih primitif.


"Kita tidak mungkin mengeluarkan banshee untuk melawan naga, kan?" tanya Aiden menimbang-nimbang.


"Kau hanya akan membuatnya kesal lantas melelehkan semua harta di tempat itu, termasuk silver bullet," sahut Nora datar.


"Atau kita minumkan air beracun dari Mata Air Akheron?" usul Sabina.


"Bagaimana caranya? Kau mau membuka paksa mulut naga yang bernapas api itu? Tubuhmu akan terpanggang bahkan sebelum kau berhasil menyentuh ujung moncongnya," sambar Nora semakin tak sabar.


"Lalu bagaimana? Kita juga sedang berpikir keras, Nora. Komentarmu benar-benar tidak membantu," sergah Sabina turut kesal.


"Justru komentarku yang bisa menyelamatkan kalian dari tindakan-tindakan gegabah!" sergah Nora tak kalah emosional.


"Kalau kau memang sepintar itu coba beri kami jalan keluar!" seru Sabina kembali menyambar.


"Kalian sendiri yang ceroboh dan tidak menanyakan dengan jelas kegunaan benda-benda ini pada Miangase! Kenapa harus aku yang berpikir!" Nora balas berseru marah.


"Sudah... hentikan... suara kalian bisa membangunkan naga itu. Kalau kalian berteriak seperti itu, suaranya bisa menggema," bisik Aiden mencoba melerai keduanya.


Tak lama setelah Aiden berkata seperti itu, mendadak bunyi desisan naga tersebut semakin keras terdengar, diiringi suara gesekan kulit naga dengan benda logam. Suara itu seperti siulan ketel yang mendidih. Naga itu jelas sedang bergerak. Sabina, Aiden dan Nora segera berubah waspada, khawatir kalau-kalau makhluk buas raksasa itu sudah terbangun dari tidurnya.