
Setelah pertarungan dengan para manusia serigala berakhir, Sabina pun mengunjungi ibunya yang belum pulih sepenuhnya. Awalnya ia berniat datang sendiri, tetapi Aiden dan Ladon merengek untuk ikut bersamanya entah apa alasan mereka. Akhirnya, dengan terpaksa, Sabina pun membawa mereka untuk mengunjungi Sybilina.
"Kenapa kalian mengikutiku terus," desah Sabina lelah.
Ladon dan Aiden yang berjalan bersamanya di lorong menuju kamar Sybilina hanya berdehem pelan.
"Tempat ini terlalu berbau darah dan membuat insting nagaku tidak berfungsi dengan baik. Aku bisa mudah tersesat di sini. Dan aku juga tidak nyaman kalau harus bersama vampir yang tidak kukenal. Bau darah mereka memuakkan," jawab Ladon terus terang.
Sabina berdecih pelan sambil melirik Ladon dengan sinis. Kata-kata Ladon yang apa adanya terasa seperti ejekan. Akan tetapi Sabina tidak terlalu menggubrisnya. Ia tidak tahu sebelumnya kalau ternyata para naga ini begitu rewel dan gemar mengeluh.
"Kalau aku ingin menjenguk ibumu, Sabina. Sejak sampai kemari aku belum sempat bertemu dengan beliau. Padahal beliau sudah membuatkanku bekal kue-kue yang lezat. Setidaknya aku harus berterimakasih dan mengucapkan salam," sambar Aiden kemudian.
Raut wajah Sabina langsung melembut. Ia tersenyum ke arah Aiden lantas menggenggam jemari pemuda tersebut.
"Kau memang sangat manis, Aiden," puji Sabina bermanja-manja.
Kini giliran Ladon yang berdecih kesal. Tingkah Sabina dan Aiden terlihat konyol di matanya.
"Coba saja kau hidup ribuatn tahun, cinta itu hanya perasaan yang tidak berguna," gumam Ladon berkomentar.
Sabina melirik Ladon dengan muka masam. "Aku tidak bisa menyalahkanmu karena berpikir seperti itu, Tuan Naga. Sekalipun kau sangat ingin jatuh cinta, tapi kenyataannya tidak ada lagi makhluk yang satu spesies denganmu. Itu artinya kau memang ditakdirkan untuk hidup sendiri selamanya. Sungguh menyedihkan," kata Sabina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, memasang wajah bersimpati yang palsu.
Ladon mendesis singkat sambil menoleh ke arah Sabina yang menatapnya penuh cemoohan. "Kumaafkan kata-katamu karena kau masih muda," ujarnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Padahal aku sama sekali tidak merasa bersalah mengatakannya," gumam Sabina pelan.
"Apa kau bilang?" sergah Ladon nyaris kehilangan kesabaran.
"Sudah, hentikan pertengkaran kalian. Kita sudah sampai," kata Aiden melerai mereka berdua.
Benar saja kata Aiden, mereka kini sudah berada di depan pintu ruangan Sybilina. Ladon menolak untuk ikut masuk ke dalam dan berkata bahwa ia hanya akan menunggu di depan pintu. Maka setelah beberapa kali ketukan, Sabina akhirnya masuk bersama Aiden.
"Sabina, Aiden. Senang melihat kalian bersama," sapa Sybilina yang tengah berbaring sendirian di tempat tidur berkelambu.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Sabina lantas duduk di kursi kecil di samping ranjang.
"Sudah cukup membaik, Sabina. Luka-lukanya sudah menutup. Tinggal menunggu pemulihan energi Ibu," jawab Sybilina sambil tersenyum. "Bagaimana kabarmu Aiden? Aku lega melihatmu baik-baik saja," lanjut Sybilina menoleh pada Aiden yang berdiri di sisi Sabina.
"Semua berkat kue-kue yang Anda bawakan. Terima kasih banyak," ungkap Aiden tulus.
Sybilina tersenyum lega. "Aku senang karena ada yang menikmati masakan buatanku. Di rumah ini orang-orang tidak terlalu menyukai makanan manusia. Kalau kondisiku sudah lebih baik, aku akan membuatkanmu lebih banyak makanan, Aiden."
"Saya menantikannya. Namun untuk saat ini Anda sebaiknya fokus pada pemulihan dulu," jawab Aiden turut tersenyum.
Sybilina mengangguk menanggapi. Ia lantas bertanya tentang pertempuran dengan para manusia serigala di depan kastil tadi. Sabina menceritakan keseluruhan kejadian tanpa kurang sedikitpun. Sang ibu mendengarkan dengan seksama, tetapi air mukanya berubah muram ketika mendengar bahwa suami dan dua putrinya mungkin harus melakukan perjalanan misi lain ke sarang para lycan.
Sabina menyentuh tangan ibunya dan menggenggamnya dengan lembut.
"Ada ayah, Aiden dan Miangase yang melindungi kami. Ladon juga akan ikut. Ibu tenang saja. Aku akan menjaga diri," kata Sabina berusaha menenangkan.
Sybilina menarik napas panjang. Meski putrinya berkata demikian, tetapi ia tahu betapa berbahaya tempat yang akan mereka datangi.
"Ladon itu … apakah naga yang kau ceritakan?" tanya Sybilina kemudian.
Sabina mengangguk pelan.
"Apa dia kuat? Kau tidak ingin memperkenalkannya pada Ibu?"
"Ah, dia … bukan orang yang terlalu menyenangkan. Lebih baik ibu bertemu dengannya saat sudah sembuh nanti. Berbicara dengan makhluk sombong itu hanya akan menghabiskan tenaga," ungkap Sabina tampak lelah.
Sybilina tertawa kecil. "Tidak biasanya kau membenci orang lain sampai seperti itu. Sepertinya naga ini bukan naga biasa."
"Dia benar-benar menyebalkan, Ibu … ."
Mendadak suara ketukan pintu terdengar dan memotong kata-kata Sabina. Tak berapa lama kemudian pintu kamar tersebut pun terbuka, menampakkan Ladon dengan rambut panjangnya yang hitam berkilau. Ia pun berjalan menuju Sybilina dengan langkah yang mantap.
"Karena kalian membicarakanku, terutama mengenai kritikan yang kau lontarkan secara tidak adil, maka aku terpaksa masuk ke sini untuk memperkenalkan diri dengan lebih baik," kata Ladon sembari membungkuk span dan mengulurkan tangannya pada Sybilina.
Sybilina menerima uluran tangan itu dengan sopan lantas tersenyum ramah. Tanpa diduga Sabina, tindakan Ladon selanjutnya benar-benar di luar dugaannya. Ladon mengecup punggung tangan Sybilina seolah mereka adalah Lord dan Lady pada era Victorian. Sabina sontak mengernyit jijik hingga kehilangan kata-kata.
"Ternyata Anda sangat sopan, Tuan Ladon," ucap Sybilina ramah. "Saya adalah Sybilina Rickle, Nyonya rumah ini. Maaf karena saat ini saya tidak bisa menyapa dengan sopan. Kondisi saya belum memungkinkan untuk bangun dari tempat tidur."
"Salam ini sudah lebih dari cukup, Nyonya. Biarkan saya membantu Anda untuk menyembuhkan luka tersebut, bila Anda berkenan," sahut Ladon.
Sabina benar-benar tercengang mendengar percakapan ibunya dengan Ladon. Bagaimana mungkin mereka berdua justru akrab dalam waktu begitu cepat.
"Apakah anda bisa melakukannya?" tanya Sybilina kemudian.
"Tentu saja. Itu bukan hal yang sulit untuk seorang Naga," jawab Ladon lantas mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan ke bekas luka Sybilina di bahu, punggung hinggga perutnya.
Cahaya kebiruan muncul dari setiap area yang dilewati tangan Ladon. Serta merta tubuh Sybilina membaik dengan cepat. Tenaganya sudah pulih dan racun dari para lycan yang sebelumnya memperparah luka Sybilina pun sudah dinetralkan.
"Anda benar-benar luar biasa. Semua rasa sakit yang saya rasakan langsung sirna," puji Sybilina benar-benar gembira.
Ibu Sabina itu pun mencoba turun dari tempat tidur dan ternyata tubuhnya benar-benar sudah pulih sempurna.
"Anggap saja ini hadiah perkenalan kita," kata Ladon sembari melirik Sabina sambil tersenyum simpul.
Sabina mendengkus kesal karena harus mengakui kalau Ladon memang punya banyak manfaat bagi dirinya.