Fire Breath

Fire Breath
Naga



Pergulatan Saina dengan naga itu seolah tidak akan berakhir. Mereka berkejaran mengelilingi pegunungan kematian. Sementara itu Aiden tengah memeriksa kondisi Nora yang cukup parah. Seluruh bulu sayapnya hangus dan badannya terluka parah. Nora tidak sadarkan diri, tetapi sepertinya ia selamat. Kalau Aiden terlambat sedikit saja memadamkan api di tubuh Nora, mungkin griffin itu sekarang sudah berubah menjadi abu.


Aiden melihat ke langit dan mendapati Sabina masih sibuk terbang berkejaran dengan sang naga biru itu sambil sesekali berkelit meghindari serangan bola apinya. Aiden mencoba berpikir cepat. Sabina tidak bisa selamanya mengalihkan perhatian naga tersebut. Mereka harus mencari cara untuk menumbangkan makhluk raksasa itu.


Sayangnya serangan sihir Aiden sama sekali tidak bisa menembus kulit sang naga. Alih-alih ia justru bisa menjadi sasaran empuk naga tersebut. Akan tetapi, mendadak Aiden mendapat ide. Ia mengigat bola kaca berisi ikan mas beracun yang dibawanya. Sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untuk menggunakan benda tersebut. bagaimanapun caranya, naga itu harus menelan bola kaca ini, yang akan meracuninya dari dalam.


"Sabina!" seru Aiden mencoba berteriak dan menarik perhatian Sabina.


Gadis vampir itu  mendengar suara Aiden, tetapi tentu saja tidak bisa serta merta mendatangi kekasihnya itu. Ia bisa membuat sang naga menyerang pemuda tersebut. Akhirnya, dengan satu-satunya pikiran yang terlintas, Sabina pun melesat memasuki salah satu gua yang melubangi dinding pegunungan.


Bukan keputusan bijak tentu saja karena ruang sempit seperti itu akan membuat gadis itu lebih rentan terkena serangan bola api. Tapi nampaknya ia tidak punya pilihan. Dengan sigap Sabina terbang menyusuri lorong-lorong gua tersebut. Sang naga terbang mengikutinya tepat di belakang Sabina. Setiap kali naga itu melontarkan bola api, Sabina segera berkelok di tikungan terdekat. Gua itu serupa labirin yang menjebak Sabina untuk terus berputar-putar dan nyaris kehilangan arah.


Beruntung insting Sabina yang tajam akhirnya berhasil membuat gadis itu keluar dari salah satu pintu gua menuju udara terbuka. Sang naga yang kini tertinggal jauh di dalam lorong labirinnya masih berputar-putar mencari Sabina. Dengan memanfaatkan waktu yang sempit tersebut Sabina akhirnya menghampiri Aiden.


"Ada apa?" tanya Sabina begitu mendarat di sebelah Aiden.


"Kita harus menggunakan ini, Sabina. Ikan mas ini bisa meracuni naga itu," ucap Aiden sembari menunjukkan bola kaca berisi ikan mas beracun.


"Apa? Bagaimana caranya?" tanya Sabina mengamati bola kaca tersebut.


"Kau bisa memancingnya untuk melancarkan serangan sementara aku melemparkan bola ini ke mulut naga itu sebelum bola apinya muncul," usul Aiden.


"Bagaimana kau bisa mendekati naga itu tanpa membuat dirimu hangus terbakar?"


"Kurasa aku bisa melakukannya kalau kau memancing naga itu muncul dari pintu gua yang ada di paling bawah. Jangan biarkan naga itu terbang, dan aku bisa bersembunyi di balik pintu, lantas keluar di saat yang tepat untuk memasukkan bola ini ke mulutnya," terang Aiden panjang lebar.


Jelas itu usul yang paling tidak masuk akal yang pernah didengar Sabina. "Itu sangat berbahaya Aiden. Kau bisa terbunuh!" sergah Sabina marah.


"Itu satu-satunya cara. Percayalah padaku," bujuk Aiden.


Mendadak suara raungan kembali terdengar dari dalam gua. Naga itu sudah hampir keluar dari sarangnya.


"Kita tidak punya banyak waktu, Sabina. Ayo kita lakukan sesuai ideku itu," kata Aiden kemudian.


"Tapi…"


Sayangnya Aiden benar-benar tak terbantahkan. Pemuda itu sudah berlari menuju salah satu pintu gua yang ada di bawah tanpa membiarkan Sabina melanjutkan kalimatnya. Akhirnya Sabina pun terpaksa menuruti usul Aiden. Dengan sigap gadis tersebut melesat ke depan pintu gua yang dimaksud Aiden lantas mulai menarik perhatian sang naga dengan suara teriakannya yang memanggil-manggil naga tersebut.


Suara gemuruh pun semakin mendekat. Bayangan naga yang melesat menuju arah Sabina segera dikonfirmasi. Aiden sudah bersiap melempar bola kaca itu sambil menunggu momentum. Akhirnya setelah beberapa saat, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba.


"Sekarang, Aiden!" seru Sabina sambil melompat terbang.


Naga raksasa tersebut tersedak kaget lalu melonjak kaget higga menubruk dinding gua. Pecahan batu-batu besar yang di sisi pegunungan itu pun serta merta runtuh akibat goncangan tersebut. Aiden nyaris tidak sempat menyelamatkan diri, tapi Sabina lekas menyambar pemuda itu terbang ke atas menghindari runtuhnya bebatuan.


Efek racun itu sepertinya bekerja dengan cepat karena kini naga itu berkelejatan hebat. Naga tersebut mencoba keluar dari dalam gua sambil tertatih-tatih dan sesekali mengembangkan kedua sayapnya, mencoba untuk terbang. Namun, sepertinya tubuh naga itu pun tak kuat lagi menahan aliran racun dalam tubuhnya. Setelah berguling beberapa kali di tanah, naga itu pun akhirnya menggelepar tak sadarkan diri.


Sabina dan Aiden pun mendarat perlahan di sebelah tubuh naga tersebut, mencoba menelaah kondisi makhluk raksasa itu.


"Apa dia sudah mati?" tanya Aiden memastikan.


"Sepertinya belum. Napasnya masih ada," ujar Sabina menunjuk dada sang naga yang masih bergerak naik turun.


"Apa kita harus membunuhnya atau tidak?"


"Dia sudah menyakiti Nora. Tentu saja naga itu harus mati. Miangase juga memberimu pedang pmbunuh naga," geram Sabina marah.


Aiden tampak menimbang-nimbang. Sejujurnya ia tidak suka membunuh makhluk apapun tanpa perlu. Apalagi naga tersebut juga sudah keracunan dan tak sadarkan diri. Ia merasa tidak adil bila harus menusuk jantung naga saat makhluk itu berada dalam posisi seperti itu.


"Kenapa kau ragu?" tanya Sabina memecah lamunan Aiden.


"Kurasa kita tidak perlu membunuhnya, Sabina. Aku merasa buruk jika harus membunuh makhluk yang tidak berdaya," jawab Aiden kemudian.


Sabina mengernyitkan dahinya sambil mendengkus tak percaya. "Apa maksudmu dengan makhluk tak berdaya? Dia itu naga. Makhluk raksasa yang bisa membunuh ribuan orang dalam satu serangan. Hanya karena dia sedang pingsan bukan berate kekuatan dan kekejamannya hilang. Kemarikan pedang itu. Kalau kau tidak bisa melakukannya, biar aku yang membunuh naga ini," desak Sabina kesal.


"Tunggu, Sabina. Naga ini sebenarnya tidak melakukan hal buruk. Ia hanya berusaha melindungi dirinya dari pendatang seperti kita. Bukankah kita yang mengganggu sarangnya lebih dulu," sanggah Aiden masih bersikeras.


"Apa kau tidak melihat apa yang sudah dia lakukan pada Nora?"


"Naga itu hanya membela diri."


"Bukan itu masalahnya…"


"Aku baik-baik saja," mendadak suara rintihan terdengar dari kejauhan.


Sabina dan Aiden sontak menoleh menapati Nora yang bergerak perlahan. Keduanya segera berlari kea rah Nora.


"Nora, bagiamana kondisimu?" tanya Sabina khawatir. Gadis itu lantas bersimpuh di sisi Nora dan mulai meneteskan air mata.


"Aku tidak apa-apa Sabina. Tubuhku bisa pulih dengan cepat. Jangan khawatir," kata Nora lirih.