
Kedatangan rombongan Sabina disambut dengan kondisi hutan yang porak-poranda. Pepohonan tumbang dan berserak di tanah tak beraturan. Dari balik hutan yang sudah hancur tersebut, menyeruak sosok-sosok besar berbulu yang berjalan dengan tenan, seolah mereka hanya sedang berpiknik di hutan.
Puluhan sosok itu tampak menyeringai bengis. Kedua mata mereka berwarna merah dan menatap dengan nyalang. Moncong serigalanya meneteskan air liur yang menjijikkan.
"Kawanan anjing liar seperti kalian sama sekali tidak mengangguku. Jadi hanya ini yang bisa kalian lakukan? Kalian bahkan tidak bisa menyentuh kastil kami," ucap Hazel mencemooh.
Para lycan menggeram marah. Salah satu yang memiliki badan paling besar segera maju mendekati Hazel tanpa rasa takut. Badannya dua kali lebih tinggi dari para vampir, tapi Hazel sama sekali tidak tampak gentar.
"Ini baru peringatan, Pengisap Darah. Kami tidak akan segan-segan lagi kalau kalian tidak segera menyingkir. Tanah dan hutan ini akan segera menjadi milik kaum lycan," geram manusia sergala berbadan besar itu.
"Padahal kau sudah tahu tengah berurusan dengan siapa, Ricolov. Nyalimu sepertinya muncul setelah mendapat kekuatan dari seorang manusia penyihir. Tidak tahu malu," balas Hazel dingin.
Mata Ricolov nyalang menatap Hazel dengan penuh emosi. "Sebentar lagi kesombonganmu itu akan lenyap Hazel. Setelah kami menguasai tanah para vampir di selatan, giliranmu akan tiba. Tunggu saja dengan tenang. Aku sudah memberimu peringatan berkali-kali. Jangan menyesal ketika nanti kami benar-benar menghancurkan keabadian kalian," ujar Ricolov masih disertai suara geraman serigalanya.
"Itu tidak akan terjadi," ujar Hazel yang pada detik berikutnya mendadak hilang dari hadapan Ricolov.
Dalam satu kedipan mata, sang kepala keluarga Ricle tersebut kini sudah melompat ke belakang kepala Ricolov dan menyerang tengkuk serigala tersebut dengan cakar vampirnya yang sangat tajam. Darah membuncah dari leher dan bahu Ricolov. Manusia serigala tersebut lantas roboh tanpa sempat menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
Serangan pertama tersebut memicu para kawanan lycan untuk segera balas menyerbu. Mereka meraung marah dan mulai menyerang para vampir yang jumlahnya hanya separuh jumlah mereka. Hazel kini berkutat dengan mangsa barunya. Ia membedah dada manusia serigala lain dan membuat organ dalam makhluk tersebut memburai keluar.
Sayangnya, semua serangan tersebut sia-sia. Ricolov dan para manusia serigala lain yang terluka pulih dengan cepat. Tubuhnya beregenerasi dengan cara yang tidak masuk akal. Luka-luka mereka menutup begitu saja tanpa meninggalkan secuil bekas pun. Para serigala itu sama sekali tidak ada habisnya.
Satu-satunya serangan yang cukup berdampak mematikan bagi para lycan adalah sihir api abadi dari Aiden. Beberapa kali Aiden melontarkan sihir tersebut dan membakar bulu-bulu para lycan. Api abadi milik Aiden tidak mudah dipadamkan. Justru api-api tersebut tidak akan padam sebelum habis membakar seluruh tubuh korbannya hingga ke tulang-tulang. Akan tetapi karena jumlah para lycanitu begitu banyaknya, maka Aiden sekalipun tidak kuasa untuk terus-terusan mengeluarkan kekuatan sihir. Ia sudah nyaris berada di ambang batas staminanya.
Gara-gara kemampuan menyembuhkan diri para lycan, pertarungan menjadi sangat lama. Tidak ada pihak yang terdesak karena baik para vampir maupun gerombolan manusia serigala sama-sama kuat. Akhirnya, setelah pertempuran tersebut mencapai titik jenuh, mendadak sebuah bola api besar yang menyala-nyala terlontar dari salah satu titik pertempuran.
Kedua kubu sontak mengalihkan pandangannya ke arah datanganya serangan. Sabina yang tengah bergelut dengan seorang manusia serigala berbulu kasar pun turut menoleh ke arah yang sama. Namun, betapa terkejutnya Sabina ketika mendapati ternyata tubuh Ladon yang berwujud manusia kini tengah bersiap melontarkan bola api kedua dari mulutnya. Dia bahkan bukan seekor naga! Setidaknya wujudnya adalah manusia.
Akan tetapi, sebelum sempat dicegah oleh siapapun, lontaran bola api kedua pun segera menyongsong. Beberapa manusia serigala menghindar dengan terbirit-birit karena bulu-bulunya yang tebal sangat rentan pada api. Selain itu juga kalau mereka hangus hingga menjadi debu, maka kekuatan regenerasi pun tidak akan bisa menyelamatkan mereka.
"Kulihat kekuatanmu masih sangat kuat, Naga," ujar Hazel dengan suara membahana. Sekalipun ia baru saja melakukan pertempuran panjang, tetapi tidak ada guratan-guratan kelelahan sama sekali di raut wajahnya
"Aku punya nama, Vampir," jawab Ladon tak kalah arogan.
"Kau yang datang ke wilayahku, seharusnya kau bersikap lebih terhormat," ucap Hazel bersikeras.
Ladon tertawa sombong. "Vampir sepertimu baru hidup seperempat dari usiaku. Sebelum kalian ada di dunia ini, seluruh tanah ini adalah milik kaumku," sergah Ladon sembari melipat tangan dan mengangkat wajahnya dengan pongah.
Pada akhirnya Sabina dan yang lainnya terpaksa menyaksikan adu kesombongan dari dua makhluk mitologi yang berusia ribuan tahun. Bila tidak segera dilerai, mereka berdua mungkin akan mengakibatkan pertempuran yang jauh lebih berbahaya dan merusak alam sekitar.
"Ladon, Ayah, hentikan! Bisakah kita sekarang fokus pada masalah tentang para lycan saja?" sambar Sabina menengahi.
"Ladon, meskipun kaummu memang luar biasa, tapi mereka sudah punah dan hanya menyisakan kau seorang diri. Itu bukan hal yang patut dibanggakan. Dan Ayah, meskipun ini wilayah Ayah, tetapi para serigala itu sudah berulang kali merisak hingga nyaris memasuki kediaman kita. Itu juga memalukan. Jadi sekarang berhenti bertingkah konyol dan sebaiknya kita bicara tentang cara mengalahkan para serigala itu," lanjut Sabina kemudian.
Baik Hazel maupun Ladon langsung terdiam begitu mendengar kata-kata Sabina. Mereka kehilangan selera untuk berdebat karena ucapan Sabina memang merupakan fakta yang menusuk harga diri mereka.
"Baiklah, Vampir. Kali ini aku akan mengampunimu. Namaku Ladon, yang terakhir dari kaumku," ucap Ladon masih sambil bersedekap.
Hazel tampak tidak senang, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain membalas ucapan Ladon.
"Hazel Rickle. Kepala keluarga Rickle," jawab Hazel pendek.
Kedua orang itu tampak berpandangan dengan mata berkilat. Meski tanpa kata-kata sekalipun, aura mereka yang saling menekan terasa memenuhi atmosfer.
"Ayo kita kembali." Kini giliran Valerie yang mencoba memecah suasana tegang tersebut.
Akhirnya percakapan menegangkan antara dua makhluk tertua itu pun usai. Rombongan mereka pun berjalan kembali ke kediaman keluarga Rickle dan menyelesaikan pembahasan penghancuran kaum lycan. Kali ini Ladon dan Aiden pun turut diajak dalam pertemuan tersebut. Sejak mereka menunjykkan kemampuan mereka dalam menangani para manusia serigala, Hazel Rickle pun memutuskan untuk mengakui mereka sebagai sekutu kaum vampir dan diijinkan untuk turut serta dalam rencana menghancurkan manusia serigala.