
Esok paginya, Hazel mengumpulkan semua anggota keluarganya di ruang kerjanya. Meski begitu, Aiden dan Ladon tidak ikut serta karena Hazel hanya memerintahkan anak-anaknya saja yang perlu datang. Lagi pula Aiden memang perlu istirahat. Meskipun ia adalah seorang penyihir, tapi tubuh manusianya tetap tidak sekuat para vampir. Ladon di sisi lain, hanyalah orang luar yang baru datang. Karena itu naga tersebut akhirnya terpaksa menunggu di kamar dan dilarang pergi kemanapun. Aiden bertugas untuk mengawasi Ladon.
Nora sudah berada dalam perawatan para driad dan sekarang tengah beristirahat di satu menara kastil kediaman Ricle. Valerie dan Miangase juga sudah kembali dari tugas mereka menjaga perbatasan hutan. Valerie tampak lega melihat Sabina berhasil kembali dengan selamat. Mereka berdua lantas berjalan bersama menuju ruangan sang ayah.
"Aku senang kau kembali dan berhasil mendapatkan silver bullet itu, Sabina," kata Valerie gembira.
"Semua berkat bantuanmu dan Miangase." jawab Sabina tersenyum.
"Jadi pada akhirnya kau membawa pulang naga itu dan tidak membunuhnya? Padahal Miangase sudah memberimu pedang pembunuh naga milik keluarganya."
"Naga itu cukup berguna dalam menemukan silver bullet di tengah tumpukan hartanya. Kami benar-benar tidak menyangka kalau harus bertemu dengan seekor naga berusia ribuan tahun. Miangase sama sekali tidak memberi tahu kami."
Valerie terkikik pelan. "Sejujurnya ia juga tidak tahu kalau naga itu masih hidup. Sudah ratusan tahun berlalu sejak era kekuasaan para naga. Meski begitu mitos-mitos tentang keberadaan mereka memang banyak terdengar. Karena itu Miangase memberi kalian rute yang rumit. Keberuntunganmu sangat luar biasa," kata Valerie bangga.
"Yah … kami memang melalui banyak hal."
"Kudengar kau juga mengatasi masalah banshee di Kota Kelam Terlarang. Kota itu sekarang tidak lagi terlalu terbengkalai. Mereka seperti dilahirkan kembali. Kau dan penyihirmu dielu-elukan di sana."
Sabina mendengkus pelan. "Aku tidak pernah bercita-cita untuk menjadi pahlawan. Tapi kurasa hal itu tidak terlalu buruk."
"Jadi apa rencanamu dengan si penyihir yang mengikutimu terus itu?" tanya Valerie penasaran.
"Namanya Aiden."
"Ya, maksudku Aiden. Kalian tidak berniat untuk menikah? Ia tidak tertarik untuk menjadi kaum kita?"
"Aku belum memikirkannya," jawab Sabina sedikit muram. Ia mengingat kejadian saat di mata air Akheron serta kekhawatirannya bila Aiden yang mungkin akan meninggalkannya lebih dulu kalau pemuda itu menolak menjadi vampir.
"Kurasa setelah urusan dengan para manusia serigala ini, aku baru bisa membicarakan tentang hal tersebut dengannya. Kau sendiri bagaimana dengan Miangase? Sepertinya kalian sudah cukup lama bersama," jawab Sabina balas bertanya.
Kini giliran Valerie yang menarik napas panjang. "Kami hanya menjalaninya begitu saja. Sulit bagi para penyihir untuk bersedia diubah menjadi vampir. Mereka punya harga dirinya sendiri karena kekuatan yang mereka miliki. Akan lebih mudah kurasa kalau aku mencintai manusia biasa," ujar Valerie sembari menerawang.
"Ibu juga manusia biasa sebelum menikah dengan ayah. Mungkin karena itu beliau bersedia masuk menjadi kaum vampir," sahut Sabina tak kalah muram.
"Kau benar."
"Kita sudah mendapatkan silver bullet. Namun jumlahnya tidak cukup banyak untuk menghabisi seluruh kaum lycan. Dan karena itu, kita harus membuat rencana untuk menyusup ke sarang mereka dan menghancurkan batu sihir Ephestus yang dikendalikan oleh Sin Scove. Target kita yang sebenarnya adalah penyihir hitam tersebut," kata Hazel memulai rapat tersebut.
"Apakah kita akan mendapat bantuan dari keluarga vampir lainnya? Mengingat markas serigala tersebut ada di utara Woodlock dan tempat itu cukup jauh dari sini," tanya Joshua kemudian.
"Sayangnya semua keluarga vampir yang kukenal juga tengah menghadapi masalah yang sama dengan kita. Mereka tidak bisa dengan mudah meninggalkan kediaman mereka yang digempur oleh para manusia serigala. Selain itu juga, aku tidak bisa membagi-bagikan silver bullet ini kepada mereka mengingat benda ini sudah tidak diproduksi lagi. Amunisi kita terbatas, Joshua," jawab Hazel.
"Kalau begitu siapa yang akan menjaga tempat ini kalau semua orang pergi ke markas para lycan?" Kini Misa yang bertanya.
"Karena itulah aku berpikir untuk membagi tim. Di sini kita juga memiliki dua penyihir yang mungkin bisa membantu kita. Aku yakin mereka lebih tahu cara menghancurkan batu Ephestus daripada kita kaum vampir. Karena itu Sabina dan Valerie, aku terpaksa meminta kalian untuk mempertimbangkan misi penyelundupan ke sarang lycan. Aku sendiri juga akan pergi bersama kalian. Aiden dan Miangase bisa menjadi bantuan yang sangat kita butuhkan saat harus berhadapan dengan Sin Scove dan batu ephestus," pinta Hazel kemudian.
"Hanya kita berlima yang akan menyerang markas penuh lycan?" tanya Valerie ragu.
"Karena ini misi penyelundupan, kita tidak bisa membawa terlalu banyak orang. Para lycan itu akan menyadari kedatangan kita," jawab Hasel. "Selain itu yang lainnya juga harus menjaga tempat ini agar tetap aman dari gempuran manusia serigala yang lain. Kita sudah tidak bisa mengharapkan perlindungan para driad. Mereka telah kehilangan banyak rakyatnya."
"Aku akan pergi, Ayah. Tapi aku tidak bisa memaksa Aiden untuk bersedia mengikuti misi ini. Aku akan bertanya padanya lebih dulu," jawab Sabina kemudian.
Tatapan khawatir dari saudara-saudaranya segera beralih ke Sabina. Mereka semua tahu bahwa misi tersebut bukanlah hal yang mudah. Meski begitu Sabina tampak tegar. Gadis itu benar-benar sudah berubah sekembalinya dari perjalanan panjang mencari silver bullet. Sabina sekarang bukan lagi vampir lemah yang mudah merajuk. Ia telah menjadi gadis pemberani yang bisa menghadapi rintangan sebesar apapun.
"Terimakasih, Sabina," kata Hazel pendek.
"Kalau begitu, aku juga akan menanyakan hal ini para Miangase," kata Valerie kemudian. "Kalau adikku saja berani menghadapi resiko sebesar itu, maka aku juga akan bersamanya melawan para lycan," tambah Valerie sembari menggenggam tangan Sabina.
Hazel tersenyum samar. "Itu bagus Valerie."
Pertemuan itu sudah hampir berakhir ketika tiba-tiba pintu ruangan diketuk dengan panik. Sebelum siapa pun sempat menjawab ketukan, pintu tersebut sudah menjeblak terbuka. Muncul Aiden yang tampak habis berlari terburu-buru menuju ke sana.
"Sepertinya … ada serangan serigala lagi. Mereka muncul dari balik hutan di depan kastil ini," ucap Aiden setengah tersengal.
Semua orang di ruangan tersebut sontak bangkit berdiri.
"Ayo kita sambut para manusia serigala sialan itu," geram Hazel memimpin seluruh keluarganya keluar dari ruangan.
Mereka semua pun segera bersiap untuk bertempur dengan para manusia serigala yang kini sudah semakin dekat menggempur wilayah keluarga Rickle.