
Cahaya putih menyilaukan mendadak keluar dari buku yang dipegang oleh Ladon. Sabina spontan menutup kedua matanya yang terpapar cahaya tersebut. Selanjutnya ia merasakan sensasi terhisap yang sangat kuat, membuat tubuhnya seperti dipampatkan dan dilontarkan ke tempat yang jauh. Sabina sebisa mungkin menahan rasa mual yang lantas muncul di perutnya.
Detik berikutnya kakinya tiba-tiba menjejak lantai keras. Sabina membuka matanya dan mendapati dirinya, juga seluruh rombongannya, kini berada di ruang tamu kediaman Rickle. Sebelum keterkejutan Sabina mereda, mendadak pintu ruangan tersebut menjeblak terbuka dengan keras. Ayahnya, Hazel Rickele muncul bersama Irish dan Joshua. Mereka bertiga sudah memasang kuda-kuda siap menyerang.
"Sabina?" seru ketiganya serempak
"Oh, Ayah. Aku kembali … " kata Sabina yang juga masih kebingungan.
"Bagaimana bisa kau tiba-tiba berada di sini? Dan siapa orang itu?" tanya Hazel sembari berjalan masuk mendekati putrinya.
"Ini Ladon, dia … eh … kenalan yang kutemui dalam perjalanan. Dia membantu kami beberapa kali. Termasuk berteleportasi ke sini?" kata Sabina sembari mengerling Ladon.
"Senang bertemu denganmu. Kuduka kau adalah keluarga gadis ini. Aku adalah Ladon, pemilik benda yang kau cari. Dan ini adalah … ." kata Ladon sambil mengangkat buku di tangannya.
"Buku sihir. Benda itu bisa membawa kita berteleportasi kemanapun. Kupikir itu hanya mitor, tetapi ternyata aku bisa melihatnya sendiri dengan kedua mataku sebelum aku mati," potong Aiden yang segera antusias mengamati buku yang dibawa Ladon.
"Ini situasi yang sedikit membingunkan. Akan tetapi, aku senang akhirnya kau kembali, Sabina. Kalian pasti lelah. Beristirahatlah dulu. Lalu untuk silver bullet yang kau cari?" sahut Hazel kembali bertanya.
Aiden segera segera menyerahkan kotak berat yang berisi ratusan silver bullet. Hazel meletakkan kotak tersebut di meja dan dengan bantuan Ladon, kotak itu pun terbuka. Hazel, Irish dan Joshua segera berbinar-binar melihat harta karun tersebut. Mereka tampaknya sudah melewati masa-masa yang sulit selama kepergian Sabina.
"Maafkan aku karena membutuhkan waktu lama hingga menemukannya. Mencari benda ini tidak semudah yang kubayangkan," kata Sabina kemudian.
"Kau sudah bekerja dengan baik, Sabina. Kita sudah semakin terdesak karena gerombolan manusia serigala itu kini mulai menyerang hutan di perbatasan. Banyak dryad yang membantu kita mati. Dan ibumu … ." kata Hazel berubah muram.
"Ibu kenapa, Ayah?" sergah Sabina cemas.
"Dia terluka saat penyergapan berapa hari yang lalu. Anehnya kaum manusia serigala itu kini semakin kuat dan membuat luka yang mereka timbulkan tidak bisa beregenerasi. Kau bisa melihat ibumu di kamarnya. Ia cukup lemah, tetapi sejauh ini dia baik-baik saja," jawab Hazel kemudian.
Tanpa disuruh dua kali, Sabina segera berlari keluar ruangan dan melesat menuju kamar ibunya. Aiden, Ladon dan Nora ia tinggalkan begitu saja bersama Hazel. Meski begitu tidak ada yang berusaha mencegah Sabina. Gadis itu pasti sangat mengkhawatirkan ibunya.
Di sana ia mendapati Misa tengah berjaga di samping tempat tidur ibunya yang berkelambu. Ibunya, Sybilina Rickle, tampak terbaring lemah dengan luka balutan di sekujur tubuh.
"Sabina?" ucap Sybilina yang terharu melihat putrinya telah kembali. Wanita itu lantas memeluk Sabina dengan hangat.
"Kau sudah pulang, Sabina," desah Misa yang turut memeluk Sabina.
"Bagaimana kondisi Ibu? Tubuhmu … ." rintih Sabina yang mulai menangis melihat luka ibunya yang tampak parah.
Sabina menghela napas lega mendengar kakaknya dan Miangase ternyata juga pulang ke rumah.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kau baik-baik saja? Apa perjalananmu sulit?' tanya Sybilina sembari membelai kepala Sabina.
"Aku baik-baik saja, Ibu. Aku mendapat banyak bantuan dari orang-orang yang kutemui. Maafkan aku karena memakan waktu lama untuk menemukan silver bullet," jawab Sabina lirih.
"Kau kembali dengan selamat saja sudah cukup bagiku, Sabina. Terimakasih karena telah bersedia menempuh perjalanan yang sulit untuk menyelamatkan keluarga kita," desah Sybilina lembut. "Lalu Aiden, penyihir itu? Apa dia juga baik-baik saja? Aku tidak melihat Nora juga," lanjut sang ibu kembali bertanya.
"Aiden baik-baik saja. Akan tetapi Nora sedikit terluka saat melawan naga," jelas Sabina menerangkan.
"Naga?" tanya Sybilina dan Misa serempak.
Akhirnya Sabina menceritakan kisah petualangannya secara lengkap. Bagaimana ia awalnya bertemu dengan Valerie dan Miangase. Sybilina berkata bahwa Valerie sudah menceritakan bagian tersebut. Namun, kakaknya itu tidak menceritakan bagian bahwa mereka ternyata harus melawan naga.
"Jadi kau sekarang membawa pulang seekor naga?" tanya Misa tak percaya.
"Memang benar. Tapi dia sedang tidak berada dalam wujud naganya. Namanya Ladon. Ia kini sedang berubah menjadi manusia karena racun kecil yang dimakannya. Karena itu sekarang ia tidak terlalu berbahaya," tambah Sabina cepat-cepat.
"Perjalananmu sepertinya sangat seru," komentar Misa sembari berdecak puas.
"Tidak buruk," balas Sabina dengan senyum simpul. "Jadi ceritakan apa yang terjadi di sini," pinta Sabina kemudian.
Misa pun memulai ceritanya tentang serangan-serangan para lycanyang semakin membabi buta. Mereka kini bisa berubah sesuka hati dan memiliki kekuatan yang jauh lebih mengerikan. Jumlah para lycan itu juga meningkat drastis. Hazel menduga bahwa para manusia serigala ini dengan sengaja merekrut manusia kriminal untuk diubah menjadi lycan.
Serangan lycan tersebut kini tidak hanya menargetkan keluarga Rickle. Semua vampir di seluruh dunia kabarnya juga sedang diburu oleh para manusia serigala. Beberapa kali para vampir dari keluarga-keluarga lain juga menemui mereka dan meminta bantuan. Kaum vampir kini tengah membentuk komite dan menyatukan kekuatan dari keluarga-keluarga vampir tertua hingga termuda untuk melawan gempuran para lycan.
"Karena itu, silver bullet yang kau dapatkan akan menjadi senjata terakhir yang bisa melenyapkan para sampah itu. Sejauh ini kita kalah jumlah dan kalah kekuatan. Para manusia serigala itu benar-benar tidak mudah dilukai. Kemampuan mereka sangat tidak masuk akal gara-gara menggunakan batu sihir," ujar Misa menutup penjelasannya.
Sabina berpikir sejenak. Memang ia membawa cukup banyak silver bullet. Akan tetapi ia tidak yakin bahwa jumlahnya akan cukup untuk menghabisi seluruh kawanan manusia serigala itu. Satu-satunya jalan adalah dengan merebut batu sihir yang dimiliki oleh Sin Scove. Namun, Sabina tidak mencoba mengutarakannya sekarang. Ia membiarkan dirinya beristirahat sejenak dalam pelukan keluarganya. Sabina tidak pernah tahu bahwa ia bisa merindukan ibunya sampai sedalam ini. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendapat pelukan yang hangat seperti ini.
"Berisitirahatlah dulu, Nak. Ayahmu sudah punya banyak rencana di kepalanya. Kau sudah cukup baik menjalankan tugasmu," hibur Sybilina sembari membelai punggung putrinya.
"Terima kasih, Ibu," desah Sabina sembari tersenyum.