
Sambil mengendap-endap dan bersembunyi di balik pepohonan, Sabina, Aiden dan Ladon pun mendekati pemukiman para serigala. Rumah-rumah Bandar berjajar rapi membentuk komplek yang teratur. Sabina tidak pernah menyangka bahwa ternyata pemukiman para manusia serigala ini cukup beradab. Kenyataan bahwa mereka memang setengah manusia memang membuat hal itu masuk akal.
Jalanan aspal membelah komplek tersebut menjadi beberapa blok. Dari kejauhan Sabina melihat beberapa orang berlalu lalang di jalan dan melakukan aktivitas layaknya manusia biasa. Mereka tidak menggunakan wujud serigalanya saat berada di kota mereka sendiri. Bahkan ada anak-anak kecil yang berlarian dengan tubuh manusia namun memiliki ekor dan telinga serigala. Sepertinya mereka belum menguasai kemampuan berubah wujud secara sempurna.
"Kita harus kemana?" tanya Aiden kemudian.
"Bisakah kita menyaru menjadi bagian dari penduduk kota mereka?" tanya Sabina mencoba berpikir cepat.
"Agak sulit, Sabina. Mereka mungkin mengenali orang-orang dalam komunitas mereka sendiri," jawab Aiden.
"Bukannya kalian bilang kalau kaum mereka sedang melakukan banyak perekrutan dengan mengubah manusia biasa menjadi lycan?" sahut Ladon.
"Itu memang benar. Tapi penciuman mereka sama sekali tidak main-main. Mereka akan segera menyadari kalau kita bukan bagian dari mereka karena kita sama sekali tidak tercium seperti serigala," desah Aiden.
"Ah, anjing, ya … ." komentar Ladon pendek. "Kalau soal itu kita bisa menggunakan itu, 'kan?" lanjutnya sembari menunjuk tumpukan kotoran yang berserak di tanah.
Sabina segera mengernyit jijik dan secara bergantian menatap kotoran itu lantas beralih ke Ladon.
"Apa maksudmu? Itu menjijikkan. Kenapa mereka buang air sembarangan, sih," gerutu Sabina sembari menyipitkan matanya dan bergidik tak suka.
"Tidak perlu dibalurkan ke seluruh tubuh. Cukup di titik nadi saja seperti memakai parfum. Sedikit saja sudah cukup. Biasanya para ksatria manusia di masa lalu melakukan hal semacam ini untuk mengecoh naga. Kalau kaumku saja bisa tertipu, apa lagi para anjing itu. Hidungnya bahkan lebih kecil dari naga," ungkap Ladon sembari berjongkok dan mulai mengamati kotoran di depannya.
Sabina mendesis jijik. Bahkan bila ia harus melawan ratusan manusia serigala, itu jauh lebih baik daripada harus menyentuh kotoran mereka. Itu tindakan yang tidak termaafkan.
"Ladon benar, Sabina. Ini bisa jadi jalan keluar. Setidaknya kita bisa berkeliling untuk mencari letak batu ephestus itu dan menghancurkan Sin Scove," sahut Aiden yang lantas berjongkok di sebelah Ladon.
"Aku tidak percaya kalian akan melakukan hal ternoda semacam itu," ungkap Sabina sembari mundur pelan-pelan.
"Ayolah, ini tidak seburuk yang kau pikirkan. Kau hanya perlu menyentuhnya sedikit. Sangat sedikiiit … . Ini tidak akan melukaimu," bujuk Aiden lagi.
Kini baik Aiden maupun Ladon sudah mengaplikasikan ide mereka dan membalurkan setitik kotoran serigala ke pergelangan tangan dan belakang telinga mereka. Keduanya melakukan hal tersebut tanpa beban, seolah tengah mengenakan parfum oles biasa.
"Aku … tidak … akan … melakukannya … ." geram Sabina sambil melotot tajam.
"Kalau begitu kau tungu di sini saja. Kau tidak boleh membongkar penyamaran kami yang sudah susah payah diupayakan," kata Ladon yang sudah berdiri dan bersiap pergi.
Aiden mengikuti Ladon dan mengangguk pelan. Sabina hanya bisa menelan ludah. Kata-kata Ladon memang benar. ia tidak bisa mengelabuhi penciuman para manusia serigala itu hanya dengan mantra penghilang. Ia tidak punya pilihan lain.
"Ka … kalau begitu tolong oleskan … benda itu di tubuhku. Aku tidak mau menyentuhnya," ucap Sabina sembari mengulurkan kedua tangannya dan menutup mata. Ia tak sanggup melihat apa pun yang akan dilakukan kedua orang itu pada tubuhnya.
Gadis itu mengernyit saat jemari Aiden menyentuhnya. Ia menahan napas selama beberapa saat, tetapi saat napasnya kembali, bau serigala yang kuat segera menyergap hidungnya. Mau tidak mau Sabina otomatis terbungkuk mual.
"Biasakan dirimu," gumam Ladon sambil berdecih.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aiden khawatir lantas menepuk-nepuk punggung Sabina.
"Menjauhlah dariku Aiden. Kau bau," rintih Sabina tak kuasa menahan dirinya sendiri.
"Baunya juga berasal dari tubuhmu," komentar Ladon sambil menautkan kedua alisnya.
"Biarkan aku terbiasa sebentar," lanjut Sabina yang kini berpegangan pada batang pohon besar.
Aiden dan Ladon membiarkan Sabina berkutat dengan rasa mualnya selama beberapa menit. Setelah beberapa waktu berselang, akhirnya gadis itu sudah sedikit bersahabat dengan aroma memuakkan yang harus dia tanggung.
"Baiklah, ayo kita mulai operasinya," ujar Ladon kemudian.
Ketiganya pun berjalan keluar dari rimbunnya hutan menuju pemukiman. Mereka berusaha bertingkah senormal mungkin. Hanya ada beberapa orang yang melihat mereka sambil lalu tanpa menaruh perhatian lebih. Orang-orang di tempat itu tetap sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing yang tampak normal seperti manusia pada umumnya.
Ada yang tengah menyirami rumput di depan rumah. Ada juga yang membawa troli belanjaan. Beberapa orang hanya berjalan tanpa mempedulikan apa pun. Sabina bersyukur karena tampaknya rencana mereka berjalan mulus sejauh ini. Aiden sementara itu, harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan tongkatnya. Padahal tongkat tersebut sebenarnya merupakan penunjuk arah yang dapat beresonansi dengan batu ephestus.
"Apa kalian anak baru?' tiba-tiba sebuah suara menyapa mereka.
Seorang pria berbadan besar dengan kumis tipis melambai dan berjalan ke arah mereka. Sabina dan Aiden berubah tegang. Namun Ladon tampak santai dan justru melambai balik.
"Benar. Kami baru tiba. Apa kau bisa menunjukkan jalan? Apa yang harus kami lakukan untuk bisa tinggal di sini," kata Ladon sambil tersenyum.
"Wah, selamat datang. Baiklah, akan kuantar kalian menemui pimpinan kawanan. Dia akan mengatur akomodasi untuk kalian. Apakah kalian keluarga?" jawab pria itu riang.
"Kami bukan keluarga dekat. Tapi kami memang masih berkerabat. Namaku Levi, dia Ellena dan Alphonse," jawab Ladon sambil memperkenalkan diri dengan nama samaran.
"Panggil saja aku, Luca. Senang bertemu kalian, kawan. Ayo kita bicara sambil jalan," ajak Luca kemudian.
Ketiganya pun berjalan beriringan. Luca berpamitan pada teman-temannya yang sebelumnya tengah mengobrol bersamanya. Tampaknya Luca adalah salah satu penanggung jawab atau semacam penjaga di tempat ini. Hal itu dibuktikan dengan kepopulerannya. Semua orang mengenal Luca dan menyapanya dengan ramah. Sepanjang perjalanan Luca terus melambai pada orang-orang, seolah memang dialah yang selalu menyambut pendatang baru di tempat tersebut.
"Akhir-akhir ini kaum kita sudah mendapat banyak tambahan warga. Para pemburu dan pengintai bekerja dengan baik untuk merekrut orang-orang menjadi kaum kita. Ini semua berkat sang penyihir agung. Beliau memberi kita kekuatan yang tak terbatas. Bahkan berkat sihirnya juga, kaum serigala kini bisa membangun pemukiman yang layak dan nyaman. Lihatlah kota ini. Kelak kota ini akan menjadi pusat pemerintahan setelah kaum kita menusnahkan bangsa vampir," cerocos Luca sambil membentangkan tangannya dengan bangga.