
Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba. Sabina dan lima orang lainnya yang akan berangkat pun bersiap-siap. Sybilina, Misa dan Savio melepas kepergian mereka dengan khawatir. Meski begitu, karena satu-satunya jalan untuk bisa melawan para lycan adalah dengan menghancurkan batu sihir, maka mereka tidak mungkin mencegah kepergian Sabina dan yang lainnya.
Silver bullet sudah dibagikan dalam wadah peluru yang dibawa oleh ketiga vampir yaitu Hazel, Sabina, dan Valerie. Selain dua pistol bawaan dari kotak harta karun Ladon, ternyata Hazel juga memiliki satu pistol berjenis yang sama. Oleh karena itu ketiga vampir tersebutlah yang bertugas menggunakan senjata api, mengingat mereka tidak memiliki serangan jarak jauh seperti penyihir atau bangsa naga.
Ladon menyiapkan buku sihirnya untuk berteleportasi. Keenam orang tersebut sudah berdiri mengitari buku sihir yang dibawa oleh Ladon. Hazel menuliskan alamat yang diketahuinya sebelum akhirnya cahaya keemasan menerpa tubuh mereka dan menghilang dalam hitungan detik.
Sebuah gang sempit yang gelap menyambut Sabina ketika gadis itu membuka mata. Karena matanya baru saja disilaukan oleh cahaya emas yang sangat terang, kini ia perlu beradaptasi lebih lama saat menjumpai tempat yang gelap. Gang itu tampak kumuh dengan genangan-genangan air yang menguarkan bau tak sedap. Meski begitu, tidak ada orang atau makhluk apa pun yang terlihat.
"Di mana kita?" tanya Valerie sembari mengerjap beberapa kali, mencoba membiasakan diri dengan keadaan minim cahaya.
"Kita di Bellmore, kota berpenghuni manusia terakhir yang berbatasan dengan wilayah para serigala," terang Hazel sembari menarik pistolnya dari pinggang.
Ayah Sabina itu lantas mengecek dengan cepat kesiapan senjatanya. Ia juga menyuruh yang lainnya bersip-siap dan waspada. Sabina pernah berlatih menembak saat ia masih lebih muda dulu. Ayahnya sendiri yang mengajarkan kemampuan tersebut kepada ketiga putrinya. Karena itu, meski sudah lama berselang sejak terakhir kali Sabina memegang pistol, tetapi tubuhnya masih mengingat cara penggunaan senjata itu. Ia dan Valerie dengan gesit melakukan pengecekan ulang terhadap pistol flintlock mereka yang sudah sangat tua.
Meski begitu, senjata tersebut masih dalam kondisi prima. Tidak ada tanda-tanda kemacetan atau kerusakan lainnya. Dengan puas, Sabina mengangguk pada Hazel, member tahu bahwa ia sudah siap berikut dengan senjata yang ada di tangannya tersebut.
"Baiklah kalau begitu kita akan memasuki hutan di seberang kota ini. Tidak banyak manusia tinggal di sini karena sejak lama memang kawasan ini hanya dihuni oleh beberapa orang saja.
"Sekarang, setelah kaum serigala itu menyerang dengan membabi buta, mungkin sudah tidak ada lagi manusia yang ada di sini. Mereka bisa saja sudah diubah menjadi lycan atau pergi melarikan diri," ucap Hazel menjelaskan.
"Sebaiknya kita pergi dengan berpencar. Aku sudah menjelaskan denah markas para manusia serigala itu kemarin. Kita bagi rombongan menjadi dua. Satu rombongan akan masuk melalui hutan, dan yang lainnya melalui lorong yang tidak dijaga terlalu ketat," lanjut Hazel.
"Ayah akan melalui jalur yang mana?" tanya Valerie kemudian.
"Aku akan masuk lewat hutan karena di sana mungkin akan bertemu dengan beberapa manusia serigala yang berjaga," jawab Hazel.
"Kalau begitu aku dan Miangase akan pergi bersama Ayah. Lebih banyak pengguna silver bullet akan sangat membantu," sahut Valerie kemudian.
Hazel mengangguk ringan. "Kalau begitu, Sabina, kau dan Aiden serta Ladon akan masuk melalui lorong. Meskipun tampaknya tidak dijaga terlalu ketat, tapi kau tetap harus berhati-hati," ucap Hazel pada Sabina, Aiden dan Ladon.
"Baik, Ayah," jawab Sabina diikuti anggukan dari Aiden dan Ladon.
Tim mereka pun berpisah jalan. Sabina, Aiden dan Ladon berjalan ke arah barat, tepat di pinggir kota yang membelakangi bukit berhutan lebat. Seperti kata Hazel sebelumnya, kota tersebut memang sudah ditinggalkan penduduknya, Bangunan di sana bahkan sudah tampak tak terurus, kotor dan rusak di beberapa bagian. Sepertinya terjadi kerusuhan sebelum para penduduk kota itu meninggalkan tempat ini.
Ada beberapa rongsokan mobil yang tertinggal di jalan-jalan. Minimarket dan toko-toko juga tampak ditinggalkan begitu saja dengan barang-barang dagangan yang masih utuh. Sabina, Aiden dan Ladon melewati tempat tersebut dengan hati-hati. Meskipun tidak ada siapa pun di sana, tapi tidak ada salahnya untuk tetap waspada.
"Apa itu lorong yang dimaksud ayahmu?" tanya Aiden sambil menunjuk sebuah pipa gorong-gorong tua yang tertanam di perut bukit.
Ketiganya lantas berjalan mendekati pipa setingi dua meter itu dan melongok ke dalamnya.
"Sangat gelap dan pengap," komentar Aiden kemudian.
"Mengingatkanku pada suatu tempat," balas Sabina.
Ladon berdehem pelan karena merasa Sabina tengah menyindirnya. "Setidaknya gorong-gorong ini kering. Sepertinya sudah lama tidak digunakan," sahut Ladon mengamati banyaknya serakan sampah dan debu di lantai gorong-gorong.
"Ayo kita masuk saja," kata Sabina kemudian.
Ketiganya lantas berjalan masuk ke dalam gorong-gorong tersebut. Aiden segera merapalkan mantra cahaya yang membuat tongkanya bersinar remang. Meski begitu cahaya tersebut sudah cukup menerangi perjalanan mereka.
Bunyi keresak daun mengiringi langkah mereka bertiga. Tidak ada yang berani bicara karena suara dalam lorong tersebut menggema hingga jauh di sana. Mereka khawatir jika suara mereka justru akan mengundang serangan para lycan. Bahkan bunyi napas mereka saja terdengar begitu keras.
Detik-detik berlalu dengan begitu lambat. Berbeda dengan gua milik Ladon, gorong-gorong itu hanya memiliki satu jalur tanpa cabang. Maka cukup mudah bagi mereka untuk menyusurinya menuju pemukiman para manusia serigala.
Akhirnya, setelah berapa lama berjalan, sepercik cahaya mulai muncul di ujung lorong tersebut. Aiden memadamkan cahaya di tongkatnya dan mengajak Sabina serta Ladon untuk berjalan ke arah cahaya.
"Sepertinya itu adalah ujung lorong ini," bisik Aiden hati-hati.
"Sebaiknya kita melihat situasi di luar dulu sebelum muncul," usul Sabina yang juga bicara dengan berbisik.
Baik Aiden maupun Ladon setuju dengan usul tersebut. Mereka menempel rapat pada dinding dan mengintip ke luar lorong dengan perlahan. Tidak ada siapa pun di luar. Mereka tampaknya muncul di tengah hutan yang berada di lereng bukit. Samar-samar, dari kejauhan Sabina merasakan energi kehadiran yang tidak asing. Para manusia serigala.
Tak jauh dari gorong-gorong itu pasti berdiri pemukiman para manusia serigala. Menurut perhitungan Sabina, mungkin jarak mereka hingga pemukiman tersebut kurang dari tiga ratus meter.
"Sebaiknya kau gunakan mantra penghilangmu, Penyihir," ujar Ladon yang tampaknya juga merasakan energi kehadiran para manusia serigala.
Aiden mengangguk. Pemuda itu lantas mengangkat tongkat sihirnya dan mulai merapal mantra ke arah tubuh Sabina, Ladon dan tubuhnya sendiri. Cahaya kemilau berwarna ungu melingkupi ketiganya ak lama kemudian.
"Sudah," ucap Aiden pelan.
"Terima kasih, Aiden," jawab Sabina. Tim yang lainnya juga pasti sudah menggunakan mantra penghilang oleh Miangase. Sabina hanya bisa berharap dalam hati kalau ayah dan kakaknya itu baik-baik saja.