
"Lu pada nanti ada kelas sore gak?" Tanya Reysie kepada tiga sahabatnya.
"Gak ada gua free".
"Gua juga".
"Sama gua malah udah kelar kelas" jawab Azel setelah mendengar jawaban kedua sahabatnya yang lain.
"Bagus! Mau liat anak-anak turun gak? Udah lama nih gak ke sirkuit" ajak Reysie mengusulkan healing dadakanya itu. Bella yang mendengarnya ikut mendukung ide milik Reysie, "Boleh juga udah lama banget gak liat anak-anak turun".
"Anak-anak apa calon bapak dari anak-anak?" goda Reysie setelah mendengar ucapan Bella.
"Ya itu salah satunya hahaha"
"Dasar bulol!" cercah ketiga gadis yang mendengar ucapan Bella.
"Yaudah nanti langsung jalan aja kali ya mulainya sekitar jam 7 soalnya" usul Reysie.
"Lah kok tumben mainya sore banget?" Tanya Azel.
Reysie mengangkat bahunya, "Ya gak tau" azel memutar bola matanya malas.
"Tapi kan Zel, ada kak Bian" celetuk Bella menghadap ke arah Azel.
Yang diajak bicara membalas tatapan Bella tak acuh, "Ya terus? Kak Bian doang mah kalem" jawabnya enteng.
"Kalem-Kalem ntar di pepet dikit baper lagi" ejek Reysie mendengar jawaban Azel.
Azel melotot tak terima, ia sudah move on ok?! "Gak usah ngomongin itu lagi kan bisa anjir!".
"Hahaha eh iya lu mah udah move kan?!" azel mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan ucapan Lynn.
"Ya iyalah move on orang udah dapet pawangnya", Azel mengangkat alisnya heran.
"Pa maksud deh?" tanya Azel polos
" Pa maksud, pa maksud noh mas doi gak dikabarin?"
"Siapa sih yang lu maksud? Gua lagi gak ada gebetan baru" tanyanya sewot mendengar ledekan Reysie.
"Ck!" dirogohnya ponsel milik Reysie dan ditujukan kepada Azel.
Pruft...uhuk!...uhuk!!.
"AZELL JOROK IH ANJIR!" teriakan Bella pecah ketika badanya terkena cipratan minuman dari dalam mulut Azel.
"Lu-lu dapet foto itu dari mana?" tanya Azel sambil menyeka mulutnya yang masih ada tersisa percikan minuman miliknya.
"Langsung dari sumbernya!" kata Reysie dan bersamaan dengan Lynn yang ikut tersenyum puas.
"Anjir berarti lu pada liat?!"
"Gua gak tau apa-apa ya anjir!" elak Bella, karena memang ia tak tau apa-apa diantara ketiga sahabatnya itu.
"Makanya jangan ama doi mulu! Ketinggalan berita kan lu" ejek Reysie.
"Ya suka-suka gua, jomblo mah diem aja" balas Bella sewot
"Anjir!"
"Jadi udah seberapa deket kalian?" Lynn mulai mengintegrasi Azel.
"Gak ada deket-deketnya tuh"
"Hah?" baik Reysie maupun Lynn terkejut akan jawaban Azel.
"Tapi kalian kemarin ituan" ucap Reysie sambil mempraktekan tangannya yang seolah kedua tangannya itu tengah berciuman satu sama lain.
"Mabuk gua itu" Azel berusaha membela diri.
"Mibik gii iti" ejek Reysie yang membuat Azel kesal. "Serius gua!" elak Azel.
"Iyah percaya aja gua mah orang mabuk kan suka manja-manjaan sama orang asing atau gak peluk-pelukan ama orang lain".
"Sie! sudah cukup teman, jangan sampai ciuman mereka terbongkar" cegah Lynn.
Azel kembali memicingkan matanya tajam "Itu udah lu bilang Lynn anjing!" kesalnya.
"Hahahaha" tawa Lynn dan Reysie pecah ketika melihat wajah kesal Azel, kini mereka akan menjadikan barang bukti itu sebagai senjata melawan Azel.
Lain halnya dengan Bella, ia beneran seperti anak sapi yang planga-plongo,ia tak paham apa yang tengah mereka debatkan. Azel ciuman? Sama siapa? Ya kali sama si Brayen kan gak lucu. Gadis itu hanya bisa terdiam cengo diantara perdebatan ketiga sahabatnya itu.
•
•
Gemerlapnya lampu gedung-gedung tinggi sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi kehidupan di tengah kota metropolitan. Bisingnya kendaraan yang saling bersahutan menjadi penambah dalam kehidupan malam.
Dilain sisi gemuruhnya sorakan para penonton menjadi saksi akan kemenangan malam yang dapat memuaskan siapapun yang ingin lari dari lelahnya siang.
"Gila anak baru sekarang keren-keren" puji Azel yang terpukau melihat aksi para anak baru yang turun untuk balapan.
Iya anjay makin ketat aja saingannya Reysie ikut memuji akan kehebatan mereka.
"Hai Zel, apa kabar?" suara bariton itu mengalihkan intensitas keempat gadis itu. Lynn menyikut siku Azel yang membuat gadis itu menoleh ke sumber suara yang menyapanya itu.
"Eh halo kak" sapanya balik.
"Udah lama ya? kamu gak main ke sini lagi".
"hehe iya kak, sibuk sama tugas kuliah" digaruknya tengkuknya yang tak gatal, ia canggung berbicara dengan kakak tingkatnya itu.
"Hahaha aku tahu kok seberapa banyaknya tugas itu, tapi kamu jangan sampai kelelahan " ucap Bian perhatian.
"Hmm" Azel hanya berdehem sebagai jawaban, sejujurnya ia malas menanggapi kakak tingkat yang ada di hadapannya itu.
Seorang laki-laki tinggi yang muncul dari kerumunan itu tiba-tiba menghampiri Azel, Azel yang peka dengan kedatangan laki laki itu pun segera mengalihkan pandangannya selaras dengan langkah kaki cowok itu.
"Hai lu Azel ya?"
"Ah kenalin gua Tama" Azel masih enggan menjabat tangan lelaki itu yang telah mengambang di udara. gua anak baru, "mau ngajak kenalan" lanjutnya.
"Oh, gua Azel"
"Iya gua udah kenal lu"
"Ada perlu apa ngajak kenalan gua? gak mungkin cuman basa basi kan?" Azel langsung saja to the point.
lelaki bernama Tama itu mengangguk dengan senyum tipis yang membuat seluruh orang yang ada disana kebingungan termasuk Bian. "Ternyata bener lu itu cewe keren".
Alih-alih senang mendengar pujian yang diucapkan oleh Tama, Azel justru semakin kesal. elah bertele-tele banget sih, kalo gak ada yang penting mending lu pergi. usirnya.
Ingat niatan awal para gadis itu adalah untuk bersenang-senang bukan untuk di ganggu oleh orang-orang tak jelas seperti Tama.
"Hah, gugup kenapa?" tanya Reysie penasaran.
"Ya karena mau ngajak calon pacar gua turun" jelas tama, dengan sejelas-jelasnya.
Apa calon pacar? Siapa? terus kenapa harus gugupnya sama Azel.
"Ya terus kenapa lu kesini? kan kata lu mau ngajak calon pacar lu" tutur Bella.
"Ya karena calon pacar gua tuh disini. Dia anaknya" ucapnya sambil menatap Azel.
Baik Azel maupun ketiga gadis lainnya menatap Tama seolah-olah berkata HAH?!. Lain halnya dengan Bian, ia menatap datar ke arah Tama.
"Gak usah main-main sama dia" cegah Bian dengan nada super datar. Sifat yang dibuat oleh Bian itu sangat membuat Azel kesal, jika dia memang peduli dengan Azel kenapa harus menjadikan dirinya sebagai pelampiasan sesaatnya.
"Apa sih kak jangan bikin fans Azel ketakutan dong!" Ucap Azel dengan nada yang ia buat biasa saja.
"Tapi Zel-"
"Gak usah khawatir kalo pun dia cuman jadiin aku pelampiasan atau taruhan aku juga udah pernah di ajarin sama kakak kan?"ucapnya yang membuat Bian diam seketika.
"Zel kan aku udah minta maaf plis jangan giniin aku, bahkan semua sosmed aku kamu block".
"Kak! aku kan udah maafin kamu juga, Jadi stop bersikap kaya gini" ucap Azel.
Bian sadar ia salah sudah menjadikan Azel sebagai pelampiasan disaat dia putus dengan kekasihnya. Namun semuanya sudah terlambat gadis itu sudah mulai melepaskan dirinya.
"Ya udah terserah kamu, tapi tolong hati-hati" ucap Tama kepada Azel.
"Atau lu gua abisin" tunjuk Bian ke arah Tama.
Tama menepis tangan Bian tanpa rasa takut, "kalem bro gua gak sebrengsek itu kok bikin cewe sakit" balasnya. Setelah itu bian pergi meninggalkan Azel dan teman-temannya termasuk Tama.
"Lu beneran mau turun Zel" tanya Lynn memastikan.
"Iyalah anaknya juga masih nungguin disini" tunjuk Azel dengan tatapan.
"Tapi gimana kalo lu kenapa-napa?"
Azel tak menjawab ia malah menoleh ke arah Tama "Lu bisa bawa mobil kan?".
"Ya lu pikir aja masa ngajak calon pacar gini, tapi gua gak bisa bawa mobil" jawab Tama percaya diri.
"Ck! omongannya kaya jelmaan kadal. Tuh kata dia bisa jadi gak usah khawatir, toh gua cuman jadi co-drive doang "ucap Azel menenangkan ketiga sahabatnya.
“batu banget, terserah lu aja dah” putus Lynn. Setelahnya Tama berpamitan untuk menyetel mobilnya terlebih dahulu sebelum turun bersama Azel.
“Ya udah ya gua mau nyari mas doi dulu dari tadi belum keliatan” Bella juga ikut pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.
“Pemain sekali teman kita satu ini, kalo diluar dia milik Devan kalo dirumah dia milik Demar”
“Heh ngaca ya kamu wahai setan! lu juga begitu” ucap Lynn setelah mendengar ucapan Azel. Apakah Azel itu tidak melihat dirinya sendiri? ia juga jika dirumah milik Leon namun jika di luar dia bukan milik siapa-siapa.
“Hahaha, gak lah gua mah milik ayah bunda” Lynn hanya menatap malas ke arah Azel.
“Btw, lu gua tinggal sendiri gak papa?”
“Ya gak papa, lu pikir gua anak bocah?”
“Ya kan gak ada yang tau soalnya jaman sekarang om om pedo sukanya sama yang polos-polos kaya lu”.
“Sialan lu Zel!” teriak Lynn kepada Azel, sedangkan si empunya sudah berjalan menjauh menuju ke arah mobil Tama terparkir, pertarungan roda itu akan segera mulai.
“Nih bocah lama amat ya” kesal Lynn yang mendapati Reysie tak kunjung kembali. Gadis itu tadi kembali kerumah untuk mengambil handphonenya yang tertinggal di kamarnya.
Disisi lain Azel dan Tama sudah berada didalam mobil dan siap untuk melakukannya dengan kecepatan penuh.
“Lu udah siap?” tanya Tama menghadap ke arah Azel.
“Ya menurut lu ngapain gua disini?” Tama tertawa mendengar jawaban azel dan fokusnya ia kembalikan ke arah rice queen yang tengah bersiap melepaskan kain putih tandanya sebagai tanda dimulainya pertandingan.
1
2
tigaa…
Dengan seketika kedua mobil sport mewah itu melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, baik Azel maupun Tama fokusnya sama sama ke arah jalanan.
•
•
“Wah gila keren banget lu gak nyangka gua” puji Azel setelah turun dari mobil milik Tama, yang punya hanya tersenyum bangga.
“Gua gak pernah bohong soal apa yang gua ucapin”
“Percaya aja gua mah sama ucapan buaya” ejek Azel. Keduannya saling diam hingga teriakan dari teman-teman Tama yang datang membuat Azel melipir untuk menjauh.
“Bentar dulu” langkahnya tertahan ketika cekatan tangan Tama memegang tanganya.
“Bagi nomer lu dulu lah”
“Gua gak bawa hp” elak Azel
“Bohong banget kalo gak bawa hp mah” keukeuh Tama.
“Serius anjir gua gak ba-” ucapannya terpotong ketika tangan satunya yang juga merasakan tarikan dari seseorang.
Azel menoleh terkejut akan sosok yang menarik tangannya, ”Leon? ngapain disini?” ya, yang menarik tangan Azel adalah Leon. Dengan penuh tanda tanya Azel tetap mengikuti tangkah kakinya Leon, menjauhi kerumunan.
"Ngapain disini?" tanya Azel ketika langkah mereka terhenti
"Kamu tau kan itu bahaya? Kenapa harus ikut balapan liar seperti itu?"
"Siapa yang ikut orang aku cuman nemenin doang, yang nyetir kan si Tama".
"Sama saja"
Oh ayaolah ini cuman hiburan yang ingin Azel dapatkan setelah sibuk dengan urusan perkampusan dan lagi siapa pula yang mengajak Leon ke tempat seperti ini? Siapa yang mengantarnya.
"Siapa yang membawamu kemari?" tanya Azel penasaran.
"Gua tadi Zel" belum sempat Leon membuka mulutnya, Reysie sudah muncul entah dari mana.
"Tapi gua gak ngajak suer dah!" lanjut Reysie dan Azel hanya mengiyakannya karena ia juga tau tak.
mungkin Reysie mengajak Leon dengan suka rela kemari.
"Huftt, yaudah sekarang ayo pulang" ditariknya tangan milik Leon agar mengikuti langkah kaki Azel.
Semenjak kejadian mabuknya Azel, Leon semakin sering menempel kepada Azel dan selalu bersikap posesif kepadanya, padahal diantara mereka tak ada hubungan apa-apa