
...Where are we gonna go?...
“Zel berangkatnya bareng dong” teriak Reysie dari dalam kamar mandi.
“Ah elah lu mah lama Sie, keburu telat gw nya,” balas Azel tak kalah keras.
“Please lah Zel, bentar lagi kelar kok, tinggal pake baju doang” Reysie keluar dengan tergesa-gesa bahkan bathrobes yang ia kenakan dipakai asal-asalan.
Azel memutarkan bola matanya malas, ia tahu kalau Reysie sedang memilih baju pasti lamanya bukan main, “Awas ya lu lama-lama, 5 menit belum selesai gw tinggal,” ancamnya.
“Ya enggak 5 menit juga dong Zel, tapi gapapa gw akan berusaha.” Ucapnya sambil pose ala-ala orang berjuang.
Lebih baik Azel menyiapkan mobil untuk berangkat kuliah, daripada menunggu Reysie yang tidak jelas itu, mengeluarkan mobil itu dari bagasi dan memarkirkannya tepat di depan pintu.
5 menit…..
10 menit …..
Baru saja Azel ingin keluar dari mobil untuk memanggil Reysie, tepat sekali orang yang dari tadi ditunggu akhirnya keluar dengan roll rambut yang masih menempel di kepalanya.
“bisa-bisanya ya lu udah tel- “.
“Ssssstt” jari telunjuk Reysie yang menempel di bibir Azel membuat sang empunya merasa tambah gemas, gemas ingin melahap habis habis orang disampingnya itu.
“Udah ayo berangkat udah telat kan lu” dilepas jarinya dari bibir Azel
Azel menurut dan melaju kencang melewati banyak mobil di jalan raya tersebut, menghiraukan ucapan orang yang disampingnya itu meminta agar memelankan lajunya, padahal gara-gara dia lah Azel telat.
Setelah sampai di kampus, Azel dan Reysie langsung berpisah karena memang mereka berbeda kelas dan jurusan. Untungnya Azel tidak telat, aslinya sih sudah telat tapi berhubung dosennya belum memasuki kelas jadi ia tidak dapat hukuman.
Kelas Azel sudah selesai paling pertama, kini ia sedang menunggu ketiga temannya itu, Reysie, Bella, dan Lynn. 15 menit berlalu datanglah Bella dan Lynn bersamaan karena mereka dari dari jurusan yang sama disusul 10 menit kemudian datang lah Reysie dengan muka yang ditekuk.
“Jelek bener tuh muka” ledek Azel kala melihat wajah Reysie
“Berisik lu, capek nih gw asal lu tau aja tadi kelar kelas gw dihukum gara-gara telat, sengaja banget tuh dosen nyuruh gw naik turun tangga, bilangnya minta tolong niat aslinya dia pasti ngehukum gw” cerocos Reysie
Ketiganya otomatis langsung tertawa mendengar penjelasan Reysie.
“Lagi kelamaan dandan si lu” tegas Azel tapi masih tertawa
“Ck udah lah, pesen minum dingin kek aus ni-” belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba suara notifikasi mereka berbunyi bersamaan.
Ting
Ting
Drrrt
Wekkk…wekkk
Yang terakhir itu milik Bella, memang agak lain suara notifikasinya, alasan ia memilih suara itu karena menurutnya suara seperti teman-temannya itu biasa, ia ingin terlihat berbeda. Ketiga sahabatnya itu tidak percaya dengan alasan yang dibuat oleh Bella, aslinya memang Bella nya saja yang bolot.
Tatapan mata mereka bertemu satu sama lain karena suara notifikasinya bersamaan.
“Dari grup angkatan kita” ucap Lynn
“Lah emang ada rapat ya? Kok tiba tiba makrab gini?” cecar Azel karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba angkatan mereka mengadakan acara malam akrab.
Acara ini memang kerap kali diadakan mendadak entah kenapa pihak kampus pun menyetujuinya, namun tempatnya pun berbeda-beda. Acara ini lebih tepatnya seperti liburan kadang berkemah, kadang menginap di villa dan sekarang pun di pantai. Semua mahasiswa yang masuk di angkatan 2023, gampangnya dari jurusan manapun kalau mereka masuk sebagai maba di tahun 2023 Mereka bisa ikut ke acara ini.
Azel membuka suara, bertanya hal yang tidak ada kaitannya dengan acara makrab barusan.
“Oh iya lu pada tau Tama kan” tanya Azel
“Iya tau, kenapa?” tanya Reysie balik, penasaran kenapa temannya tiba-tiba membicarakan orang tersebut
“Ternyata dia satu kampus sama kita!”
“HAH?!” sahut ketiga sahabatnya bersamaan kaget dengan perkataan Azel
“Busettt kurang gede” Azel meringis menutupi kupingnya
“Kok bisa? Jurusan mana?”
“Kok gw gak pernah liat? Salah liat kali lu”
“Ngarang ya lu? Mana mungkin dia disini, keliatan batang idungnya aja gak pernah dia”
Reysie, Bella, dan Lynn langsung menyerbu Azel dengan pertanyaan-pertanyaan mereka, “Satu-satu napa!” sergahnya sambil tangannya ia buka lebar-lebar mengisyaratkan mereka untuk berhenti.
“Pertama, gw gak ngarang karena kemarin dia dateng sendiri ke gw. Kedua, gw gak tau dia jurusan apa karena dia dateng ke gw cuma mau nagihin nomor gw, dan ketiga gw rasa dia satu angkatan sama kita, yang artinya dia bakal ikut makrab ini.” Jelas Azel dalam satu tarikan nafas.
Ketiganya menyimak dilanjut mengangguk-anggukan kepala mereka tanda mengerti apa yang diucapkan Azel.
●
●
Disisi lain gedung C, gedung fakultas teknik industri, tempat Tama dan teman-temannya nongkrong, masing-masing sibuk dengan handphone maupun rokoknya.
“Wihhh makrab, asik nih di pantai,” suara Zidan memecah fokus kedua laki laki lain yang berada disana yaitu Tama dan Rafi, keduanya langsung mengecek ponselnya masing-masing ternyata benar ada acara makrab tersebut.
“Lu ikut kan Tam? Harus sih soalnya kali ini di pantai pasti seru.” Tanya Zidan.
“Ayo lah bro, makrab yang kemarin lu gak ikut masa yang ini juga gak” bujuk Rafi menepuk bahu Tama
“Ikut dong, sekarang kan udah ada calon pacar” PD nya sambil membayangkan Azel.”Tapi dia ikut gak ya? Ah mending langsung gw tanyain aja anaknya” ucap Tama yang sudah berdiri ingin menemui Azel.
Zidan dan Rafi yang ditinggalkan oleh Tama hanya menggelengkan kepala sambil berkata, “Dasar bucin.” Lalu mengekor mengikuti Tama yang sudah jauh di depan. Sesampainya di kantin gedung B Tama langsung mengedarkan pandangannya mencari gadis itu
“Zel liat tuh, panjang umur banget nih orang” ucap Lynn sambil menyikut lengan Azel. Tidak hanya Azel, Reysie dan Bella pun langsung menoleh ke arah pintu kantin.
Tama langsung menemukan Azel bersama ketiga temannya. Tanpa basa-basi Tama langsung to the point menanyakan Azel.
“Lu ikut makrab kan Zel?” tanya nya langsung menghadap wajah Azel.
“Ikut, kenapa?” jawab Azel dengan mulut yang masih penuh dengan mie ayam.
“Oke” setelah mengatakan 3 huruf tersebut Tama langsung bergegas kembali ke gedung C, Rafi dan Zidan yang baru saja datang langsung memutar balikkan badannya mengikuti Tama.
Sementara keempat gadis itu melihat aneh ke arah pria yang belum ada 10 detik disini langsung menghilang dari pintu kantin.
“Gak jelas banget dah,” kesal Azel karena waktu makannya terganggu oleh orang tidak jelas seperti Tama.
Reysie, Bella, dan Lynn hanya bertatapan satu sama lain, sudah mulai mengerti maksud kedatangan Tama ditambah tatapannya yang berbeda.
●
●
Setelah makan siang tadi mereka langsung pulang, dan berleye-leye di kamar Azel dan Reysie.
“Nanti gw bawa apa ya? Pake bikini keren kali ya? Hehehe” ceplos Bella asal
“Dih gila, gw aduin ke bokap lu, abis lu” ancam Azel kepada Bella, sebenarnya ia juga ingin memakai setelan itu tapi mengingat kembali acara yang mereka datangi bukanlah acara private.
“Emang acara nya kapan deh? Dimana?” Azel bertanya pada 3 temannya yang sedang sibuk memilih pakaian untuk dibawa ke makrab tersebut.
“Pikun lu ya, nanti acaranya lusa, hari sabtu di Pantai Banyu Tibo” jelas Lynn
Azel pun ber-oh-ria dan bergabung dengan mereka menyiapkan pakaian
Di kamar lain para pangeran juga sedang berdiskusi, namun berbeda tujuan dan topik dengan para gadis. Sofa panjang yang yang ada di kamar Vero dan Demar di depannya sudah ada papan tulis berisikan note-note penting mengenai informasi buronan mereka. Kini Leon dan Vero pun sudah berdamai, walaupun tidak berdamai sungguhan tetapi Demar lah yang memaksa Vero untuk tidak merusak tugas mereka hanya karena hal sepele.
Leon membuka suara, “Adakah informasi terbaru mengenainya?” yang dimaksud Leon adalah buronan mereka alias pengkhianat negeri mereka.
“Tidak ada,” jawab Vero singkat.
“Ck” decak Leon
“Kita harus sabar hanya tinggal sebulan lagi kita menunggu dia datang kemari.” Ucap Demar
“Apa kamu sudah ada rencana Pangeran Leon?” Zio bertanya sambil membantu Vero mengutak-atik laptop di meja yang ada didepannya
“Sudah, tapi aku belum cukup yakin”
Tok…tok….tok
Keempatnya langsung menoleh dan segera berdiri mencoba membenahi papan tulis dan segala kertas tentang misi mereka.
Demar membuka pintu kamarnya dan langsung dihadapkan oleh Bella dan Azel, Demar langsung bertanya, “Ada apa Bell?”
Mendengar itu Azel yang tidak disapa pun langsung berdehem, “Ekhemm, se-enggak-keliatan itukah aku Pangeran Demar?” sindirnya sengaja menggunakan kata “Pangeran”.
“Ah iya maaf ternyata ada kamu juga, ada apa kalian kesini?” ucap demar mengulangi kalimatnya yang awal.
“Tadi aku ke kamar Leon dan Zio tapi sepertinya tidak ada orang,” jelas Azel.
“Ohhh mereka ada disini, kami sedang membahas tentang buronan itu,” tutur Demar.
Dibalas anggukan oleh Azel dan Bella, “Kami hanya ingin memberitahu bahwa lusa kami ingin pergi, ada acara dari kampus dan sepertinya kami akan menginap disana.” Ucap Bella menjelaskan maksud kedatangan mereka.
“Ohh ya? Kira-kira kapan kalian akan pulang?”
“Mungkin minggu malam kami akan sudah sampai di rumah,” lanjut Azel.
“Baiklah aku akan berbicara kepada pangeran yang lain,” anggukan Demar menandakan sudah mengerti apa yang dikatakan Bella, tapi sebelum menutup pintu tangan Demar dicegah oleh Bella,
“Kalian tidak apa-apa sendiri? Atau aku bisa menyewa penjaga rum-”
“Tidak apa-apa lagipula kami ini mahir menggunakan pedang kalau itu yang kamu cemaskan” jelas Demar.
“Ahh baiklah, aku hanya ingin menyampaikan itu,” selesai Bella
“Baik, terimakasih karena telah memberitahu aku, selamat malam Bella dan Azel”
“Malam juga”
“Malam juga Pangeran” salam Azel kepada Demar dengan suara yang agak keras di bagian akhir
Demar dan Bella pun hanya terkekeh pelan mendengarnya sampai Demar benar-benar menutup pintu kamar tersebut.
Sementara di dalam ruangan itu sudah banyak mata yang ingin bertanya.
“Ada apa?” tanya Leon
“Yang datang barusan adalah Bella dan Azel, mereka memberitahu ku bahwa mereka berempat akan pergi menginap karena urusan kampusnya, mereka akan berangkat hari sabtu pagi dan kembali pada minggu malamnya” Jelas Demar.
“Bagus kita jadi punya kesempatan untuk menyusun rencana lebih leluasa” Zio bersuara
“Kita akan menggali informasi lebih di kamar perempuan itu,” Ide Vero
Yang lain pun mengangguk.
“Kok kayak ada yang ditutup-tutupin sama mereka ya, tadi juga Demar buka pintunya dikit doang” ujar Azel merasa curiga
“Iya si tapi mungkin itu kan privasi mereka soal misinya, siapa tau mereka gak mau diganggu” jelas Bella
“Yaudah lah urusan mereka itu” Acuh Azel dan langsung berlari ke kasurnya.