FANTASIEWELT

FANTASIEWELT
CHAPTER 1



Jika kalian mendengar atau membaca sebuah kisah tentang masa kuliah yang begitu indah maka hal yang harus kalian ingat adalah 'semua itu hanya kebohongan semata'. Karena pada kenyataannya kuliah itu bukan hanya sekedar membawa tas kesana kemari kemudian lulus, bukan! Itulah kenyataan yang tengah para gadis itu hadapi, dimana setiap harinya selalu di kejar deadline tugas tanpa henti.


"Ayuklah, anterin ke perpus! mau minjem buku nih gua" rengek gadis berambut ikal tersebut.


"Gak lah capek! bolak balik ke perpus mulu gua dari tadi"


"Yaudah sekali lagi" keukehnya tak mau pergi sendiri


"Yee, gak mau!"


"Dih gitu banget lu Zel!"


"Udah buruan ke perpus sana, nanti keburu makanannya dateng aja" Pinta gadis lain yang duduk dihadapan mereka berdua yang tengah berdebat.


"ihhh masa gua sendirian sih"


Gadis bermana Azel tersebut menggedikkan bahunya tak acuh "Ya mau gimana lagi"


"Yaudahlah sendiri juga gak keliatan nelangsa ini" putus gadis rambut ikal tersebut sambil berjalan menjauh dari meja makannya.


"Nah kan pinter begitu"


Lynn hanya menggelengkan kepalanya melihat tingah kedua gadis di hadapannya itu," udah apa Zel jangan di godain mulu"


"Seru Lyn, si Bella kalo ngambek gak liat lawan hahahhaa"


"Biasanya yang begitu suka bawa petaka besar sih Zel buat lu"


BUKK...


Mendapatkan pukulan buku setebal 350 halaman itu Lynn hanya bisa mengaduh kesakitan sambil menatap nyalang kepada Azel. "Apaan dah pukul gua? Sakit sial!"


"Ucapan lu jelek Lynn..". Lynn hanya bisa menatap sendu ke arah Azel tanpa ada niatan untuk membalas perdebatan dengan sahabatnya itu.


-----•••-----


Gadis dengan rambut ikal tersebut menuju ke perpustakaan kampus sambil menggerutu, pasalnya buku yang akan ia cari kali ini tidaklah sedikit. Bukan salah dosennya yang memberi tugas berlebihan tapi salahkan Bella sendiri yang salah mengambil jurusan kuliah.


"Hey yang!?"


"Sayang!" Ucap Devan sekali lagi karena tak mendapat jawaban dari sang empu sambil menahan pergelangan tangan Bella.


"Apa?!" Terkejut akan tarikan dari orang lain Bella tanpa sadar menghempaskan tangan tersebut.


"Eh..eh kamu yang! maaf aku gak tau" ucap Bella setelah menyadari bahwa yang menahan tangannya adalah sang kekasih.


Devan memutar matanya malas, "Ck, kebiasaan banget sih kalo lagi ngambek ga fokus sama sekeliling".


"Ya maaf yang namanya juga reflek"


"reflek kamu jelek "


"siap yang paling ganteng" Ucap Bella sambil memutar bola mata nya malas.


"woi iya dong jelas pacar kamu" Ucap Devan sambil tersenyum bangga.


"Apaan sih, udah ah aku mau lanjut ke perpus nyari buku buat tugas"


"Mau aku temenin gak?" tawar Devan kepada sang kekasih


Bella mengelengkan kepalanya "gak usah lagian kamu pasti belum makan kan? makan dulu gih abis ini ada kelas kan?"


Memang perhatian pacarnya yang satu ini, Devan terseyum dan segera mengangukan kepala tanda ia setuju akan nasihat si-doi. "Yaudah aku makan dulu ya,kamu juga abis ini makan!" peringat Devan kepada si gadis.


Berusaha segera mengakiri percakapan ini Bella dengan segera mendorong tubuh jenjang milik Devan dari hadapannya."iya iya bawel udah sana gih".


Setelah kepergian sang kekasih, Bella melanjutkan tujuan utamanya yaitu kamar buku alias perpustakaan kampus.


Ditelusurinya satu persatu rak buku yang berjajar,dilerainya deretan buku yang tersusun rapi di tiap tingkatnya, di telitinya berbagai judul dari jutaan buku yang ada, namun belum juga menemukan buku yang ia cari.


"Mana sih bukunya kok gak ketemu-temu sih!" merasa frustasi akan jutaan buku dihadapanya ia pun memilih untuk kembali tanpa niatan mencari kembali buku incarannya.


Brukk...


"Ini apa lagi Tuhannnn? Aku hanya berniat mencari buku bukan mencari penyakit" ratapnya sambil mengusap kelapanya yang ia rasa sekarang sudah muncul benjolan indah diantara rambutnya.


Diambilnya benda yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah buku usang dengan ketebalan kurang lebih 500 halaman atau bahkan lebih. Dan buku itu juga yang telah menjadi penyebab benjolan dikepalnya.


"Cih buku tua sialan ini!!!" diatapanya buku tersebut dengan tatapan sinis dan segera ia kembalikan ke rak atas dimana buku itu berasal.


Brukk....


Buku itu kembali terjatuh dari asalnya. Bukan amarah lagi yang Bella rasakan,melainkan kuduknya yang mulai berdiri.


"Kenapa hawanya jadi beda gini?" Bella menatap sekitar yang ternyata sudah lebih sepi tidak seperti awal ia masuk.


Di pungutnya kembali buku usang tersebut dengan keberanian setebal kertas ujian, dan segera ia letakan kembali ke jajaran rak atas.


"Kalo sampe kali ini jatoh lagi gua pingsan sih" Ucapnya menatap ngeri ke arah buku usang tersebut.


BRUK...


Belum sempat pandangannya teralihkan dan lagi jantungnya dibuat tekejut dengan situasi buku yang kembali terjatuh. Muak sudah Bella dengan kekonyolan ini, di ambilnya dengan kasar buku usang tersebut dan dengan emosi yang ia miliki, ia memberanikan diri untuk membuka buku yang membuat jantungnya seperti mau copot.


"Ni buku agak ngeselin ya,bikin mood gua tambah turun aja" diambilnya buku usang yang telah terjatuh berkali-kali tersebut.


Kilatan cahaya keluar begitu saja ketika lembar pertama terbuka. Dengan reflek dibantingnya buku itu dan semakin memberikan ruang untuk para cahaya bersinar dari tiap lembarnya. Hingga menit setelahnya muncul siluet-siluet putih diantar cahaya yang bersinar. Perlahan namun pasti siluet tersebut mulai terbentuk seperti manusia.


"Aaaaaaaaaaaa" Hanya teriakan yang mampu Bella lakukan ketika melihat keempat pria yang baru saja keluar dari cahaya di balik buku usang tersebut. Dirinya takut namun engga pergi, lebih tepatnya dirinya tak dapat bergerak sama sekali. Ia mematung.


"Apakah kita sudah sampai?" tanya salah satu mereka


"kamu pikir aku tahu?" jawab ketus pria berwajah dingin lainnya.


"Siapa dia?" tunjuk pria berbadan agak mungil namun tetap lebih gagah dan tinggi dibandingkan Bella. Bella hanya mematung, mencoba mencerna akan peristiwa yang tengah berlangsung.


"Kau pikir aku tahu?" pria berwajah dingin itu kembali menjawab pertanyaan si mungil dengan ketus.


"Hey siapa kamu?!". Bella menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.


"Kamu bertanya kepadaku?" tanya Bella takut


"Jika tidak dengan siapa aku berbicara"


"ah benar juga" Ucap Bella pelan


"Cukup! Jadi siapa kamu sebenarnya?" tanya kembali pria tadi


Bukannya menjawab Bella malah bertanya balik kepada para pria dihadapannya itu "Harusnya aku yang bertanya! Siapa kalian ini?!"


Merasa frustasi berbicara dengan Bella, salah satu pria diantanya pria lainnya memperkenalkan diri mereka. Pria dengan wajah ramah tersebut memperkenalkan diri mereka sebagai seorang pangeran.


"Ohh pangeran toh" Bella ber-oh ria mendengar penjelasan pria ramah bernama Demar tersebut.


"HAH PANGERAN?!" Bella kembali bersuara setelah menjadari akan penjelasan Pangeran Demar tadi. Jadi mereka pangeran? Mimpi gak sih ini?? Ujarnya dalam hati berusaha memastikan.


"Awwwww" pekik pria berbadan mungil setelah merasakan sakit di lengannya.


Menoleh ke arah si pelaku, Pangeran Vero menatap dengan sinis "Apa maksudmu?"


"Gak ada, cuman mastiin ini mimpi apa bukan". Tunggu jika mereka Pangeran maka kampus bukanlah tempat yang aman untuk mereka.


Dengan cepat Bella meraih benda gepeng di sakunya dan di tekannya nomor yang ia sebut dengan panggilan Pak Husen.


"Hallo pak, saya butuh mobil keluarga ya soalnya temen kelompok Azel mau nugas bareng, mobilnya gak cukup"


"baik non saya segera kesana" jawab pria di sebrang sana.


"Baik pak terimakasih" ditutupnya telpon tersebut dan di giringnya para pangeran menuju ke arah parkiran. Entah perasaan Bella saja atau hanya sebuah kebetulan namun sepanjang perjalan yang mereka lalui terasa sunyi tak ada satupun mahasiwa yang ia temui.


...-----•••-----...