
Demar terbangun dari tidurnya dan mendapati Bella tengah duduk di ruang tamu sendirian. Tanpa sadar langkah kakinya menuntun kearah si gadis yang tengah terduduk dengan berfokus pada ponsel di meja.
“Bel-ASTAGA!…Bel ada apa dengan wajahmu?”.
“Hah? Apaan? Ini?” ucap Bella menunjuk wajahnya sendiri yang terbalut sheet mask. Dan yang ditanya hanya mengangguk.
“Cih, kaya gini aja gak tau ini namanya sheet mask “ jawabnya sambil melepas helaian putih itu dari wajahnya dan menampilkan wajah Bella yang cerah.
“Ada perlu apa kau kemari?”.
“Ah tidak aku hanya terbangun dari tidurku dan tak bisa tertidur kembali” jelas Demar.
“Oh... kemarilah jika kau tak bisa tidur temani aku menonton film”. Demar enggan menjawab namun langkahnya makin mendekat ke arah Bella.
Bella menoleh ke arah Demar dan tersenyum tipis, ”apa yang ingin kau tonton?”.
“Terserah kamu Bella, aku hanya menemanimu saja”.
“Cie nemenin, takut ilang ya??” goda Bella dengan menyenggol bahu Demar. Yang digoda hanya tersenyum tanpa ingin menjawab.
“Sudahlah kau tak asik diajak bercanda, ayo kita nonton film ini saja” kesal Bella dengan sikap Demar, baper dia tuh. Sedangkan Demar hanya mengangguk tanda setuju.
Rencana awal memang menonton film, namun nyatanya film lah yang menonton Bella. Ia tertidur disaat pertengahan film diputar.
“katanya mau menonton tapi malah dia yang ditonton” ucap Demar melirik kearah Bella yang terlelap dengan posisi duduk memeluk bantal.
Dengan perlahan Demar membenarkan posisi tidur Bella dengan memindahkannya ke sandaran bahu miliknya,“maaf tapi aku tidak ingin membangunkanmu” diusapnya rambut Bella gemas. Tanpa sadar Bella mencari posisi ternyaman di sandarannya itu dengan memeluk lengan Demar dan sang empu tak menolak tindakan Bella, ia juga nyaman.
●
●
“Ck! Ini kenapa sih gak bisa diprogram” decak Reysie karena kesal, gadis itu tengah mengerjakan tugas kuliahnya yang tak pernah ada habisnya.
Segala cara telah Reysie lakukan, mengotak-atik laptop miliknya namun tetap saja hasilnya nihil. Entah apa yang membuat sistem di laptopnya tak dapat bekerja sesuai dengan keinginannya.
“Ada apa dengan wajahmu yang jelek itu?” Reysie terkejut akan kehadiran Vero yang secara tiba-tiba dari belakang kursi makan tempat duduknya. Terlebih lagi posisi yang dibuat oleh Vero seolah-olah memeluk tubuh Reysie dari belakang membuat Reysie gelisah tak nyaman.
“tidak tau! Sejak tadi mau aku upload tetapi selalu saja gagal”.
“Coba kemari aku lihat” lengannya mencoba meraih laptop yang berada di hadapan Reysie, tentu saja hal itu membuat tubuh milik Vero semakin mengikis ruang diantara dirinya dengan Reysie.
“Ah kurasa aku tahu masalahnya” ucapnya dengan tangan kanannya yang masih mengotak-atik laptop dihadapannya itu. Reysie hanya diam menonton apa yang tengah dilakukan oleh lelaki di belakangnya itu.
“Ternyata benar masalahnya ada disini”.
“Ha apa?” Reysie yang tengah melamun sontak menoleh ke arah sumber suara. Didapatinya wajah milik Vero dengan jarak yang sangat dekat.
Vero menaikan satu alisnya tak kala wajahnya ikut menoleh ke arah Reysie, “ Ada apa?” tanyanya dengan masih setia menghadap ke arah Reysie.
Reysie menggeleng ribut, dengan segera ia memalingkan pandangannya. Ia cari celah yang tak harus memperlihatkan wajahnya yang merah padam ia malu.
“shit! Dia ganteng banget kalo diliat-liat” pujinya dalam hati, kenapa bisa ia menyadarinya sekarang, sungguh ini waktu yang tidak tepat.
“Sudah” Vero menjauhkan tubuhnya dan memilih duduk di samping Reysie. Kini giliran Reysie yang menyeritkan alisnya.
“Kenapa masih disini?” tanyanya heran.
“Tidak ada”.
“Gak jelas” tak ingin mengambil pusing ia segera melanjutkan tugasnya dengan di temani oleh doi- maksudnya oleh Vero.
●
●
Disebuah taman dibelakang rumah terlihat Lynn yang sedang bersantai sambil membaca bukunya.
Tiba-tiba Zio menghampiri Lynn dan bertanya “Hmm..bisakah kamu membantuku?”.
“E-eh iya ada apa?” tanya Lynn dengan heran.
Lynn mengerutkan dahinya dan berucap dalam hati “Benda aneh? Perasaan tidak ada yang aneh disini”.
“Kemarilah akan aku tunjukan” sambil menarik tangan Lynn dan berjalan dengan tergesa-gesa.
Setelah sampai di tujuan, ternyata yang Zio maksud benda itu berada di dapur rumahnya dan benda tersebut adalah kompor yang biasa digunakan untuk memasak.
“Astaga..kau menarik ku hanya karena ingin menanyakan benda ini saja” kekeh Lynn.
“Tolong jelaskan kepadaku, benda apa itu dan bagaimana cara menggunakannya karena aku tidak pernah melihat dan menggunakan benda aneh seperti ini sebelumnya” ucap Zio.
“Huftt…oke-oke, benda yang kamu maksud ini adalah kompor dan benda ini yang bisa membantumu untuk membuat makanan” jelas Lynn.
“Membuat makanan?! Apakah kamu bisa menunjukkannya kepadaku?” tanya Zio dengan bersemangat.
“Apa kamu mau aku memasakkan makanan?” tanya Lynn yang dijawab dengan anggukan oleh Zio.
“Baiklah, aku akan membuatkanmu makanan” sambil mempersiapkan alat-alat masaknya.
“Apa aku boleh membantumu?” tanya Zio tanpa menunggu persetujuan dari Lynn, ia pun langsung mengambil piring yang ada di lemari makan.
“Boleh, tapi kau jangan sampai memecah..”
Prangg!.
"...kann".
Lynn pun menarik nafas pasrah “Hahh”.
Belum sampai 5 detik ia merapatkan bibirnya, tetapi Zio sudah berbuat ulah.
Dengan terkejut dan menampilkan cengiran khas nya Zio pun berkata “Maafkan aku Lynn”.
“Yasudah, menyingkirlah biar aku bersihkan dulu” ucap Lynn dengan sabar.
Apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.
Setelah kejadian Zio memecahkan piring tadi, Lynn pun tetap memasak kan makanan tetapi ia menyuruh Zio agar tidak membantunya.
“Makanan nya sudah siap tuan, pasta aglio-olio siap di nikmati” sambil meletakan makanan nya di meja seolah-olah ia sedang berlaku sebagai waitress.
“Wah…ini sangat cantik Lynn, sepertinya ini sangat lezat” ucap Zio yang membinarkan bola matanya.
Tanpa sadar Lynn memperhatikan Zio yang sedang memakan pastanya dengan sangat lahap yang membuat makanannya itu berantakan mengenai bibir luarnya. manis
Lynn mengambil tisu dan membersihkannya dengan sangat lembut “Hei…pelan-pelan, tidak akan ada yang meminta makanan ini dari mu”.
“Terimakasih Lynn ini sangat lezat, maaf karena tadi aku menyusahkanmu” ucapnya tulus yang dibalas senyuman manis oleh Lynn.
•
•
"Huh! Apakah ini sebuah drama? Kenapa gua ngeliat mereka kaya pada lagi di mabuk cinta? Ck!".
"Ada apa denganmu? Kenapa kau marah-marah?" tanya Leon yang melihat kedatangan Azel dari arah dapur dengan emosi yang menyelimutinya.
"Kau lihat saja para saudaramu! Mereka sedang bermesraan!".
"Siapa? Vero? Zio? Atau Demar?".
"Semuanya!" Azel berjalan menuju ke samping tempat duduk Leon.
"Lalu kenapa kamu harus marah?"
"Lala lulu lala lulu! Ya suka suka aku lah mau marah atau tidak!"
"Tidak jelas".
"Emang gak jelas kenapa gak suka?!" tanya Azel yang semakin nyolot. Leon enggan meneruskan perdebatan yang tak jelas ini, ia memilih membiarkan Azel berlarut dalam emosinya. Azel sendiri pun tak tau kenapa dirinya harus merasa kesal melihat para sahabatnya bermesraan? ah mungkin Azel juga ingin namun sayang sang pangeran Leon tidak peka.