
"Apa yang sedang kamu makan?" Azel yang mendengar langsung mengalihkan padanganya ke sumber suara. Terdapat Leon tepat disampingnya.
"Kau mau?" tanya Azel menunjukan Es cream yang tengah ia sendok. Yang ditawari hanya menggeleng. Azel mengangguk tanda paham dan melanjutkan kegiatannya menikmati makanan dingin itu.
Hap!
Leon menarik dirinya kembali setelah mendapatkan satu suapan es cream dari sendok Azel. Matanya mengerjap sesaat akibat gerakan Leon yang tiba-tiba.
"Ambil sendiri kenapa sih Leon!" Kesal Azel dengan nada datar. Ucapannya datar namun hatinya tengah gemuruh hebat. Tak munafik siapapun itu pasti akan merasa gugup dan deg-degan jika harus sedekat ini dengan seorang pangeran.
Leon tersenyum jahil kepada Azel, " Yang lain tidak terlihat enak tapi kalo itu enak" tunjuknya kepada Es cream milik Azel. Azel hanya menatap sinis, jika bukan karena mereka pangeran mungkin sudah Azel dekati sedari dulu.
"Apakah kau memiliki kekasih?" pertanyaan random dari Leon yang membuat Azel hampir tersedak
"Ha?"
"Kamu itu cantik tapi kurang bagus pendengarannya"
"Ha? Maksudmu aku itu budeg?!"
"Tidak tahu kamu yang jawab sendiri tuh". Asli Azel memasang wajah kesal bercampur herannya dengan sangat jelas bahkan Leon sudah manahan senyum sedari tadi.
Habis sudah kesabaran Azel, ia bangkit dari duduknya dan berniat meningalkan Leon.
Greb!
Belum sempat ia melangkahkan kakinya tiba-tiba terhenti akibat cekalan di tangan kanannya. "Disini saja temani aku duduk," pinta Leon.
Entah perasaan Azel saja atau mungkin memang sikap Leon yang berubah semenjak video call dengan sang kakek yang berada di dimensi lain.
Azel kalah, ia mengalah dan memilih untuk menuruti permintaan pangeran tersebut.
"Apa ada masalah?" tanya Azel yang merasa sikap Leon tidak seperti biasanya, yang selalu dingin.
Leon menggeleng, "Tidak, hanya saja aku rindu keluargaku" Ucapnya lirih. Azel hanya memperhatikan Leon dalam diam. Entah apa yang tengah Azel pikirkan namun yang pasti tatapannya masih sama, tertuju pada pria di sampingnya.
"Kenapa tidak pulang saja atau telfon kaya kemarin?" usul Azel setelah sadar dari lamunannya.
" Tidak mudah untuk pulang tanpa membawa serta pengkhianat itu"
"Lalu apakah sudah ada perkembangan tentang pemberontak tersebut?". Leon hanya menggeleng.
"Pantas saja kalian seperti pengangguran, ternyata memang belum ada kerjaan," Azel berusaha membuat lelucon dan itu berhasil.
"Enak saja kalau bicara, biarpun kami pengangguran kami ini adalah seorang pangeran!"
"Ya bener sih pangeran, tapi lebih jelasnya pangeran nganggur," Leon enggan menjawab. Merekapun diam kembali dalam keheningan.
Azel bosan jika harus terus berada dalam keadaan cangung seperti ini, ia pun kembali bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Leon yang berusaha meraih tangannya kembali.
"Apakah begitu membosankan duduk denganku?!" teriak Leon yang tak dapat meraih tangan Azel, namun tak di gubris oleh sang empu.
•
•
"Ngapain?"
"EEEH AYAMMM! Azel anjir kaget gua!" ujar Lynn yang terkejut akan kehadiran kepala Azel yang muncul dari balik punggungnya.
Pukg!
Dipukulnya punggung Lynn dengan pelan, " Bukanya jawab malah misuh-misuh gak jelas"
"Ssssstt! Berisik banget sih", kedua jari telunjuk Reysie di letakan di masing masing bibir Lynn dan Azel.
"Diem bego nanti ketauan!"
Azel masih tak paham, apasih yang dilakukan kedua sahabatnya itu."Ketauan ngapain sih?"
"Tuuuuuuu" tunjuk Reysie dan Lynn bersamaan ke arah dapur, dan menampilkan Bella serta Demar yang tengah asik berpandang-pandangan dengan wajah yang lama- kelamaan saling mendekat.
"Wah wah gak bener ini," bukannya bersembunyi Azel justru menghampiri kedua sejoli itu.
"Bella!". Mendegar lantangnya suara Azel membuat kedua sejoli itu terperangah dan memalingkan wajahnya satu sama lain. Reysie dan Lynn juga ikut serta menghampiri Bella.
"Eh eh Zel, ini anu gak begitu" gagap Bella menjelaskan kepada Azel, sedangkan sang pangeran hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Azel menahan tawannya,"Apaan dah orang gua mau manggil doang"
"Oalah Azel sialan! Ganggu tontonan aja lu" sebaliknya bukan Bella yang marah karena ulah Azel melainkan Reysie dengan suara melengkingnya yang emosi.
"Ye tontonan cobain dong....hahahhaha" ledek Azel
"Apa?!"
"Kisss" ucap Azel dengan memanyunkan bibirnya seakan mengajak Reysie berciuman.
Reysie yang melihat itu malah bergidik ngeri, "Ogah najis amit-amit hih hih," ucapnya dengan badan yang merinding.
"Zel anak orang noh merah" Lynn menoel siku Azel dan mengarahkan pandangannya kepada pangeran Demar yang sedang merah padam.
Haha dia malu, lucu pilihan Bella batin Azel.
Karena merasa canggung Demar pun dengan inisiatif yang sangat telat berpamitan untuk pergi ke kamarnya.
"Bella pilih yang mana? Yang nyata atau fana?~" Reysie tiba-tiba menyanyikan lagu dangdut dengan lirik yang diubah.
Bella melirik malas namun tetap melanjutkan liriknya,"Aku pilih yang duda~"
"Duda siapa gila? Lo nyimpen om om?"
"Iya bapak lu"
"Bella asemmm! Cita-cita kok jadi mak tiri gua. Noh mak tiri Azel kekayaannya gak bakal abis 7 turunan 8 belokan 9 tanjakan. Tapi cintaku hanya berhenti dan habis untuk Demar". Ejek Reysie dengan ekspresi seorang deklamator.
"Reysie sialan"
"Tapi serius Bel, gua saranin sih jangan suka sama yang gak nyata. Mereka itu cuman fana" kali ini Lynn ikut andil dalam menasehati Bella. Sedangkan Azel hanya diam, dia juga salah satu korban kok. Korban perasaan Pangeran.
"Lu juga Zel" tambah Lynn.
"Gua diem lu dari tadi"
"Gak semua yang kita sukai itu bisa jadi milik kita, jadi kalo gua rasa bisa kenapa gak?" Bella berusaha berpidato.
"Tapi lu ada Devan!" tegas Lynn
"Lu harus pilih mau dia yang nyata atau dia yang fana" lanjutnya
"Anjir lu Lynn kalo ngomong suka menjatuhkan harapan gu- kita" Bella memeluk tubuh ramping Azel.
"Gua serius, lu tuh harus pilih dunia nyata atau dunia Fana Bel, Zel" Bella melirik Azel yang hanya diam tanpa memberi ekspresi apapun.
Bella tampak menimang-nimang "Emmm gua suka semua dimensi". Bella nyengir sedangkan ketiga sahabatnya melongo mendengar jawaban Bella. Memang benar katanya, jangan pernah menasehati orang yang sedang jatuh cinta, karena mereka akan menjadi tuli seketika.