
Pagi buta Azel harus dipaksa bangun karena alarmnya terus-terusan berbunyi. Alis matanya bersinggungan kesal dengan suara alarmnya yang terus mengulangi nada yang sama.
"Alarm siapa sih anjing masih gelap gini" Reysie yang ikut terbangun kala mendengar suara itu juga risih, "Zel matiin napa, kebo bener!" lanjutnya karena si yang menyetel alarm tak kunjung mematikannya.
"Berisik banget sih, ini gw udah bangun!" racau azel sambil mematikan alarmnya, untung saja benda itu tidak dibanting olehnya.
Azel bergegas mandi, 30 menit ia habiskan di kamar mandi lamanya. Setelahnya ia bergegas merapikan penampilanya dengan gusar.
"Padahal baru jam 6, tapi udah kaya orang kesetanan" protes Reysie yang merasa terganggu akan kerusuhan yang dibuat oleh Azel. Sedangkan si pembuat onar tak acuh akan ucapan Reysie.
Azel segera meraih kunci mobil dan bergegas menuruni anak tangga, entah apa yang membuatnya sangat buru-buru.
"Kemana kamu akan pergi?" Azel terlonjak kaget saat suara Leon tiba-tiba muncul dari arah dapur.
"Ngagetin aja!, aku mau pergi kampus"
"Sepagi ini?" Azel hanya mengangguk. Leon kemudian pergi meninggal Azel yang melonggo melihat tingkah Leon.
"Lah udah gitu doang? Dasar Leon gak jelas!" kesalnya kemudian kembali menuju ke tujuannya yaitu garasi.
"Kemarikan kunci mobilnya"
"AAAAAA" lagi dan lagi jantung Azel dibuat olahraga di pagi buta oleh Leon yang selalu saja mengagetkannya.
"Bisa tidak sih, tidak usah mengagetkanku!" protes Azel saat melihat Leon tepat di belakangnya dengan santai.
"Siapa yang mengagetkan? Sedari tadi aku mengikutimu"
"Terserah kamu saja!"
"Yasudah kemarikan kunci mobilmu"
"Mau ngapain? Kan aku tidak mengajakmu" ucap Azel usil.
"Aku yang ingin mengantarkan mu,ini masih terlalu pagi untuk kamu mengemudi sendiri"
Azel menatap Leon dengan seksama, lelaki di hadapannya itu selalu bisa membuat Azel tersipu. Ditambah lagi pakain yang Leon kenakan itu seperti pribumi asli dan sungguh tampan.
Azel memberikan kunci mobilnya kepada Leon dan memasang wajah tengilnya, "Cie perhatian nih ya". Leon tak menghiraukan ucapan Azel dan memilih untuk menghidupkan mesin mobilnya.
"Memang kamu tahu jalan ke kampusku?" tanya Azel sambil memasang seatbelt nya
"Tidak"
"Loh terus? Bagaimana kamu akan mengantarkanku?"
Tuk!
Sebuah sentilan kecil mendarat di kening Azel, dan tentu saja Azel manatap Leon sengit seakan mengatakan 'kenapa aku dipukul?!' sambil mengelus dahi malangnya itu.
Leon hanya tertawa kecil "Kan ada kamu, jadi kamu yang memandu jalan kita" ucap Leon. Azel hanya beroh ria sambil tersenyum tipis ke arah Leon, lupa tadi dia tuh.
Setelah berada dalam heningnya jalanan yang mengiringi keberangkatan Azel bersama sang supir tampannya itu akhirnya sampai pada tujuan mereka, kampus Azel.
"Terimakasih sudah mengantarku, berhati-hatilah saat dalam perjalan pulang" pamitnya pada Leon setelah turun dari mobil.
"Pasti, oh pukul berapa kamu akan kembali?" tanya Leon memastikan.
"Aku belum tau, mungkin malam"
"Baiklah, aku akan menjemputmu" putus Leon.
"Apa? Tidak perlu! Kamu beristirahat saja aku akan kembali bersama Reysie dan yang lain" tolak Azel, ia tak mau merepotkan Leon dan membuat Leon kelelahan.
"Apakah mereka juga masuk kuliah?"
Azel mengangguk mantap, "Tentu saja, tapi mereka masuk sore. Jadi pulangnya bisa bersama".
"Baiklah aku tidak akan menjemputmu" Ucap Leon dan tentunya dan dibalas senyuman manis oleh Azel.
"Hati-hati dijalan" lambai Azel setelah kepergian mobil Leon. Ia pun segera memasuki Gedung Fakultasnya dan bergegas menuju kelasnya.
•
•
"Dari mana saja kamu Pangeran Leon?" suara bariton rendah milik Vero mengejutkan Leon yang baru saja turun dari mobil milik Azel.
"Habis mengantar Azel, ada apa?" tanya Leon yang kini berhadapan dengan Vero.
"Ingat tujuan utamamu! Jangan larut dalam perasaan"
"Huh, bukan urusanmu juga kenapa kamu repot-repot mengingatkanku?"
Vero mengepalkan tangannya dan menatap Leon sinis, "Seharusnya kau ingat! Aku.bisa saja.merebut tahtamu itu!" Ucap Vero penuh tekanan.
Leon hanya menatap datar ke arah Vero dan menyungkingkan senyuman miring. "Dan kau Harusnya ingat, apa alasanku menerima tahta itu!" "Jika memang kau menginginkan nya maka silahkan saja ambil, aku akan dengan suka rela menyerahkan nya".
"Ck, sombong sekali" tangan Vero yang sudah mengepal sedari tadi akhirnya dilepaskan juga tepat di wajah Leon,cukup keras karena pukulan itu mendarat di bibir Leon dan membuatnya tersungkur.
"Kau tidak usah merasa paling sempurna diantara kami! Ingat keluargamu juga hanya seorang penghianat!"
Bugh!.
Kini gantian Leon yang memberikan pukulan kencang kepada Vero, merasa belum puas Leon hendak memberikan Vero pukulan kembali namun untungnya tertahan oleh Demar yang baru saja datang.
"Kau ini kenapa? Kenapa memukuli Vero?!" tanya Demar yang masih berusaha menjauhkan kedua Pangeran itu.
"Tidak perlu banyak tanya! Ajarkan saja sopan santun kepada adikmu itu, dan beritahu dia tidak usah ikut campur urusan orang lain!" Leon kemudian menarik dirinya dari dekapan Demar dan meninggalkan kakak beradik itu di bagasi.
"Apa lagi yang kau lakukan?!" tanya Demar mengintimidasi Vero.
"Aku hanya mengingatkannya untuk tidak lupa akan statusnya!"
Demar memijat pelipisnya yang mulai merasa pening, "Kau harusnya ingat! Hanya kakek yang berhak mengatur Leon! Jangan bertindak bodoh!" cegah Demar.
"Kenapa kau selalu memihak kepada anak Penghianat itu?! Ingat kak Bahkan tahtamu dan calon tunanganmu direbut olehnya! Dan kau hanya dia-".
"Cukup! Aku katakan Cukup" belum sempat Vero menyelesaikan ucapanya, Demar sudah lebih dulu memotong ucapanya dan membentaknya.
"Semua itu sudah keputusan Kakek, jika kau ingin membuat masalah dengan Leon pikirkan lah 1000 kali lagi! Jangan hanya karena kebodohanmu itu keluarga kita lenyap dari negeri itu!".
Vero diam ia tak ingin menjawab dan hanya mengepalkan tangannya, "Tunggu sampai aku bisa membuatnya jatuh kelubang gelap maka akan aku berikan balasan yang sepadan untuk anak seperti dia" ucap Vero yang kemudian meninggalkan sang kakak sendirian.
"Dengar, bukan hanya kau saja yang merasa kesal, aku juga! Tapi keselamatan keluarga kita lebih penting daripada tahta itu" ucap Demar yang melihat kepergian sang adik dengan amarah yang ditahan.
•
•
Di jam istirahat makan siang Azel pun melangkahkan kakinya menuju kantin yang berada di gedung fakultasnya, karena perutnya yang sudah berbunyi meminta untuk di isi.
Sesampainya disana Azel langsung membeli makanan dan memilih tempat duduk di paling pojok kantin, agar tidak ada yang mengganggu nya saat makan.
"Kayaknya enak banget ya Zel?"
"Uhuk..uhuk, astaga siapa yang gangguin gua... LHO?! TAMA???" ucap Azel Terkejut.
"Long time no see, Azell!" ucap Tama dengan senyumannya.
"Hah? Tunggu-tunggu, Kok lu bisa disini? Dan kenapa lu disini?" sambil bertanya kebingungan.
"Serius Tama!!" ucap Azel dengan nada sedikit kesal.
"Haha, santai santai...gua kuliah disini dan gedung fakultasnya juga gak jauh dari gedung ini" ucap Tama sambil menertawai keterkejutan Azel.
"Wahh kebetulan banget dong? Kita pertama ketemu di sirkuit eh ternyata kita satu kuliahan juga!" ucap Azel.
"Iyaa dunia ini emang sempit banget" angguk Tama karena setuju dengan pernyataan Azel.
"Btw, kemarin lu ga bawa handphone, sekarang pasti udah bawa kan?" ucap Tama bertanya.
"Haha okay, kayanya lu bakal terus nagihin yaa? Macem dikejar deibtcollector aja nih gua" Ucap Azel sambil tertawa pelan dan Tama hanya mengangguk senang.
Disitu mereka bertukar nomor telepon, Tama memastikan bahwa Azel benar-benar sudah menyimpan nomornya itu, sesudah mendapatkan nomor perempuan itu Tama langsung tersenyum bahagia karena penantiannya selama ini menghasilkan buah.
"Nanti masih ada kelas Zel?"
"Masih, kayanya gua bakal pulang sore...kenapa?
"Hmm, gimana kalau pulang bareng? Ucap Tama menawarkan.
"Coba liat nanti deh"
"Oke, lu bisa ngabarin gua nanti...gua tunggu ya?!" Ucap Tama sambil meninggalkan tempat tersebut dan dibalas acungan jempol oleh Azel.
•
•
Cahaya lampu yang remang-remang itu menerangi jalanan kampus dengan seadanya. Suasana kampus yang terlihat begitu aktif di siang hari mendadak berubah menjadi sepi setelah kelas sore dibubarkan. Waktu masih menunjukan pukul 7 malam, namun hanya sedikit jadwal mahasiswa yang mendapat kelas sore.
Azel berdecak kesal sejak saat dirinya meninggalkan kelas, ia berulang kali menempelkan benda pipih itu di daun telinganya "Ck! Lama banget sih gak diangkat-angkat".
Entah sudah percobaan berapa kali akhirnya ada yang menjawab panggilan nya, "Pada kemana? Gua udah di halte taman" jelas Azel.
"Lho Zel?, aduh sorry lupa ngabarin gua sama Bella masuk siang tadi jadi langsung balik".
" Hah? Yang bener aja dong gua masih di kampus nih!" protes Azel setelah mendengar jawaban Lynn.
"Ya gua harus gimana? Mau gua jemput? Atau gua suruh Leon jemput?"
"Gak usah, gua naik taxi aja"
"Yaudah terserah lu, ati-ati"
Hmmm. Azel hanya berdehem sebelum teleponnya terputus.
Dreettttt....
Seketika Azel terlonjak kaget akan getaran ponselnya yang secara tiba-tiba.
"Hallo, kenapa Tam?"
"Udah kelar kelas?" tanya Tama dari seberang sana.
"Udah"
"Udah nyampe rumah dong?"
"Udah, barusan"
"Ah yang bener?"
"Iya beneran, kenapa sih Tam?" tanya Azel dengan nada sedikit kesal.
"Coba deh kalo mau bohong liat sekitar dulu" Azel mengikuti instruksi Tama dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tama tersenyum jahil tat kala tatapan mereka bertemu.
"Dih gak jelas!" Azel memutus telpon nya dan segera membuang muka ke arah lain. Tentunya Tama yang melihat hal itu tidak langsung pergi melainkan menghampiri si gadis.
"Butuh ojek neng? Abang free nih" tawar Tama.
Azel menatapnya sinis sambil memajukan sedikit badannya yang kemudian condong kedepan, "Gak bang, gak suka abang-abang pedo".
"Sialan lu Zel, btw kalo gak mau ikut gak papa nih gua duluan?" Azel mengangguk sambil tersenyum paksa. Belum sempat Tama menyalakan mesin motornya, helmnya kembali terbuka."Tapi Zel, setau gua disini kalo malem horor".
"Tama sialan! Gak usah bahas begituan malem-malem kenapa?!"
"Just info sih Zel". Setelah mengatakan hal demikian tama bersiap menyalakan mesinnya, Tetapi ia tertahan kembali. Diliriknya tangan Azel yang menarik tipis lengan jaket Tama.
"Bareng aja deh"
"HAHAHAHA, takut setan ternyata" tawa Tama pecah ketika melihat wajah pucat pasi milik Azel dan tampang melas yang terpampang di wajah gadis itu.
"Yaudah ayo naik kalo mau bareng"
Setelah berhasil menaiki motor milik Tama, Azel menggenggam sedikit jaket yang Tama kenakan.
"Kalo pegangannya begitu yang ada lu terbang kebawa angin"
"Tapi gua biasanya sama bang Farel juga begini" protes Azel.
"Ya sudah orang gua mau ngebut, kalo terbang jangan salahin orang"
"Terus dimana?"
"Disini nih" tangannya mengarahkan tangan Azel agar memeluknya dari belakang.
"Yeu! bilang aja mau modus" . Tama hanya tersenyum di balik helm fullface yang ia kenakan, tetapi ia melihat dengan jelas wajah di belakangnya yang nampak indah dari pantulan spion.
Ternyata bagus juga ya pemandangan kota kalau malam hari, apalagi kalo naik motor tutur Azel dalam hati yang kagum akan keindahan kota yang selama ini ia tempati, namun baru sadar sekarang.
•
•
Tama memarkirkan motornya tepat di depan gerbang putih milik Azel. "Kok lu tau rumah gua sih? Kan lu belum pernah kesini?" tanya Azel setelah melepas helmnya dan memberikan kepada Tama.
Tama menggaruk tengkuknya kikuk dan tersenyum kepada Azel, "Jangan marahin temen lu tapi" Azel kebingungan tapi kemudian ia mengangguk mengiyakan "Gua khawatir waktu lu ditarik sama cowo gak jelas waktu itu, jadi gua minta alamat lu sama Reysie buat mastiin lu nyampe rumah aja sih" tutur Tama.
Azel bingung harus menjawab apa namun ada rasa lain yang mendominasi perasaan Azel, jadi ia hanya mengangguk lalu berjalan menuju kearah gerbangnya.
"Tam-"
Tama menghentikan kegiatannya yang bersiap akan pergi, "Ya?" ia menoleh ke arah Azel dan mendapati kepala Azel yang menyembul dari balik pintu gerbang.
"Makasih" dengan cepat Azel menarik kepalanya kembali dan segera menutup gerbang meninggalkan Tama yang salah tingkah melihat sikap Azel.
"Zel, jangan lucu-lucu ntar gua culik gimana?!" teriak Tama dari balik gerbang putih Azel. Sedangkan Azel sudah lari kencang menuju pintu rumahnya.
"HUAAAAAAA Leon!" Teriak Azel saat mendapati Leon lagi dan lagi muncul dari balik pintu. Kebiasaan Leon memang suka sekali membuat jantung Azel berolahraga.
"Dari mana saja? Katamu akan pulang bersama dua sahabatmu?" Loh ini kok Leon seperti Bang Farel? Posesif betul pikir Azel.
"Tidak dari mana-mana hanya saja aku pulang bersama teman tadi" jelas Azel, menerobos banda Leon.
"Kenapa tidak bersama sahabatmu?" Leon yang mengekor di belakang gadis itu masih terus bertanya.
"Mereka pulang lebih awal, Leon"
"Kenapa tidak menghubungiku?"
Azel berhenti membuat lelaki yang ada di belakangnya itu ikut berhenti mendadak. Menghela nafasnya panjang sambil berputar menghadap Leon, jika boleh jujur saat ini ia cukup lelah dan ingin segera pergi tidur,"Aku harus menghubungi mu dengan apa? Bukankah kamu tidak memiliki ponsel?". Setelah itu Azel berbalik kembali jalan menuju kamarnya menghiraukan Leon yang masih berusaha menahan Azel, namun Azel sudah lebih dulu menghilang di balik dinding.