
"Jika kita lihat sekilas semuanya tampak sama, namun jika kita perhatikan lebih dalam jelas berbeda"
-Zel-
Hari minggu merupakan hari yang sangat dinantikan bagi setiap orang tak terkecuali Azel dkk. Semuanya sibuk dengan laptopnya masing-masing, masih ada tugas prodi yang harus diselesaikan.
"Huh ini ngapa tugas gua gak kelar-kelar sih!" Reysie merengek ketika melihat satu persatu sahabatnya mulai menutup laptopnya yang artinya mereka sudah selesai.
"Makanya kerjain jangan baca Novel terus!"
"Apanya yang baca sih! Orang gua nyari referensi"
"Makanya jangan ngambil jurusan sastra hahahha," Reysie hanya bisa menekuk wajahnya setelah mendengar ejekan dari teman-temannya.
Leon melihat keempat gadis itu sedang duduk bersantai kecuali Reysie yang masih sibuk dengan laptopnya, ia langsung menghampiri Azel yang kelihatannya sibuk mengunyah.
"Hei apa yang kamu makan?" Azel yang mengenali suara bariton tersebut dengan segera memeluk camilannya dengan erat.
Matanya menatap nyala ke arah Leon, "Apa lu! Ambil sendiri tuh kalo mau," Bukan Leon namanya jika ia menuruti ucapan Azel, alih-alih mengambil camilan Azel ia malah asik menatap wajah Azel.
"Apaan sih Leon noh filmnya di depan!" Protes Azel yang merasa risih dengan tatapan Leon.
Leon menggeleng kemudian ia semakin lekat menatap Azel, "Lebih menarik yang ada di depan saya," senyumnya.
Blush~
Azel hanya diam ia malas menanggapi ucapan Leon lebih tepatnya ia tengah malu. Wajahnya terasa merah padam, ini bukan pertama kalinya, sejak 5 minggu yang lalu ia merasa bahwa Leon terus menunjukan eksistensinya yang ingin selalu berada di dekat Azel.
"Lu diem atau gua suruh pergi!" jengah, Azel lelah jika harus menahan malunya dan harus memasang wajah coolnya di mata Leon istilah bahasa inggrisnya adalah act fool
Leon hanya diam dan kemudia ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka.
"Eh eh gua salah ngomong kah?" sesal Azel melihat kepergian Leon setelah ia marahi.
"Gak kok Pangeran memang sedang ada perlu saja makanya ia pergi" Jelas Vero menenangkan Azel yang merasa bersalah.
"Apakah kau menyukai pangeran?" ucapan Zio mampu mengalihkan seluruh eksistensi yang ada di ruangan itu.
"Idih gak jelas lu cil, suka suka gak ada" Jawab Azel dengan wajah datarnya, jangan lupakan gelar cool girl yang melekat pada dirinya.
"Jika suka juga tidak apa-apa justru itu akan lebih bagus untuk pangeran," tambah Vero
"Maksudnya?" heran Azel
"Ya kalo kamu suka sama pangeran Leon itu bagus untuknya" Zio memotong ucapannya dan menatap intens ke arah Azel. "Kamu tau? Itu artinya pangeran akan bahagia!" lanjutnya.
"Ha?!" lagi, kini ia semakin bingung dengan pernyataan yang diberikan Zio
"Huuh.. Sejujurnya aku kasihan melihat Pangeran Leon. Dia itu seorang Pangeran namun sangat ketat dalam kesehariannya, bahkan dia harus jauh dari keluarganya demi mendidiknya menjadi pangeran yang mandiri," tutur Zio sambil menyetel stik PS bersama Vero.
Oh jadi dia harus jauh dari orangtuanya juga disana pikir Azel, pantas saja ia mengatakan sangat merindukan keluarganya. Azel kembali larut dalam lamunannya sendiri.
"Ah iya" Azel terperangah.
"Apa yang kau fikirkan?"
"Tidak ada," Azel menggeleng kemudian melanjutkan kegiatan menontonnya.
"Tapi Pangeran sudah memiliki tunangan," ucap Demar secara tiba-tiba.
Nah nah kan apa yang Azel pikirkan selama ini benar, bagaimana mungkin seorang Pangeran yang sudah dewasa seperti Leon belum memiliki calon isteri.
"Hasil perjodohan" sela Zio dengan nada datar
"Maksudnya? Pangeran tidak mencintai Tunangannya kah?" kini giliran Reysie yang penasaran.
"Aku pikir seperti itu karena itu adalah hasil paksaan, dan selama ini aku belum pernah melihat mereka berduaan tanpa adanya jadwal pertemuan dari kakek," jelas Zio
"Njir emang negeri doang yang maju adatnya mah masih sama, jodoh-jodohan juga" timpal Reysie mendengar penjelasan Zio. Sedangkan Demar hanya memutar bola mata malas.
"Jadi kurasa jika kau menyukai Pangeran itu akan bagus untuknya" lagi dan lagi zio mengungkit hal sensitif itu, cie ilah sensitif.
"Apaasih Zio, gak ada suka-sukaan ingat kita beda dimensi!" Azel berusaha mengelak akan hal itu.
"Tiati nelen ludah sendiri" ejek Bella mendegar elakan dari Azel
"Palalu!".
"Terus terus kenapa tuh kok pangeran mau di jodohin? Kok gak nolak?" Reysie bertanya dengan entengnya.
"Ya kau pikir dia bisa? Jika dia menolak, kerajaan pasti akan sangat murka kepadanya!" ketus Vero menanggapi pertanyan bodoh- menurutnya yang ditanyakan oleh Reysie.
"Ohhhh" si gadis hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Vero
"Ah kalah, menjengkelkan permainan ini!" suara Zio yang kesal karena kekalahannya itu.
"Lu aja yang gak jago! Siniin stiknya" Azel menggantikan tempat duduk Zio dan mulai bertanding dengan Vero. Sang lawan hanya menatap remeh ke arah Azel.
Tak butuh waktu lama permainan itu pun selesai, " Apanya yang susah? Ini sangat mudah!"
"Wahh kau menang hanya dalam beberapa saat saja! Bahkan Vero tak mampu menyerangmu hahaha luar biasa skill mu" puji Zio kagum terhadap bakat gamer dalam diri Azel, sedangkan sang empu malah semakin tengil mendengar pujian Zio.
•
•
"Apakah berjalan sesuai rencana?" tanya Leon menginterupsi Zio
"Kurasa mereka semua percaya,” jawab Zio
"Bagus semakin mudah untuk kita melancarkan rencana" Leon menepuk bahu Zio dan kembali berjalan ke dalam kamar.
"Sial apakah semuanya akan segera berakhir? dan kami harus kembali ke neraka itu lagi?" gunmam Zio dalam kesendiriannya.