FANTASIEWELT

FANTASIEWELT
CHAPTER 12




..."masih dia yang jadi pemenangnya"...


Azel terbangun dari tidurnya tak kala mencium aroma yang begitu lezat di indra penciumannya, membuat cacing-cacing di perutnya keroncongan. Diturunkannya anak tangga satu persatu dan pada anak tanggan terakakhir obsidiannya menangkap sesosok chef tampan yang tengah memasak.


"Hai" sapa Azel menghampiri chef tampan itu.


"Oh hai" balas Leon, yap betul chef tampan itu adalah Leon yang tengah membuat sarapan lebih tepatnya makan siang karena sekarang pukul 11.36, memang Azel saja yang kesiangan.


Azel menatap kagum ke arah meja makan yang sudah terisi oleh berbagai makanan buatan Leon, "Wah kau bisa memasak?".


"Iya dulu aku sering membantu bunda memasak" angguk Leon dan Azel hanya ber-oh-ria.


"Boleh aku mencobanya?"


"Boleh, tetapi sebaiknya kamu mencuci wajahmu terlebih dulu"


"Enak saja aku sudah cuci muka juga menggosok gigi!". Leon hanya tertawa kecil sambil membawa 2 piring ke arah meja makan.


"Makanlah, aku memang memasakkan ini untukmu"


"Wahhh terimakasih" dengan gesit Azel mengambil Lasagna dan memakannya.


"Emmmh! Ini sangat enak mirip seperti buatan bunda!" puji Azel dengan mulut yang masih dipenuhi potongan Lasagna.


"Itu adalah resep yang biasa bundaku ajarkan"


"Sering-sering lah memasak, aku rasa akan cepat berisi jika selalu memakan masakanmu".


"Dengan senang hati", tiba-tiba saja Azel bangkit dari duduknya dan berlari ke arah tangga menuju ke kamarnya.


Leon yang melihat Azel panik dan mencicipi masakannya, ini enak, tapi kenapa Azel berlari? Leon kira masakannya lah alasan Azel berlari.


"Azel ada apa denganmu?" teriak Leon.


"Sebentar Leon, tunggu sebentar" ucap Azel dengan tangan yang mengisaratkan untuk menunggu sebentar. Leon patuh.


Tak beberapa saat kemudian Azel kembali dengan membawa sebuah kotak di tangannya. "Nih, buat kamu" Azel menyodorkan kotak itu kepada Leon, Leon bingung namun tetap menerima nya.


Selagi Leon membuka kotak tersebut Azel melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda. "Ini untuk siapa?" tanya Leon dengan heran ketika melihat isi kotak itu adalah sebuah Ponsel.


"Untukmu" jawab singkat Azel dengan tangan yang sibuk meraih Pancake yang agak jauh. Melihat hal itu Leon mendorong piring Pancake yang berada di dekatnya ke arah Azel, dan Azel hanya tersenyum seakan berkata terimakasih. Oke back to topik!.


"Untuk apa kamu memberikan ini untukku?"


"Ya supaya kita bisa saling menghubungi"


"Tapi kita satu rumah"


Azel menatap Leon malas dan meletakan sendoknya "Ya kan aku tidak selalu ada di rumah, kalo kamu tidak mau tidak apa".


"Aku mau" kata Leon. Azel tersenyum puas dan kembali menyantap makanan penutupnya.


"Oh ya, siapa yang mengantarmu pulang tadi malam"


"Tama, teman kampusku"


"Kamu dekat dengannya?"


"Tidak terlalu, kami hanya baru bertemu 2 kali"


"Apakah kamu menyukainya?"


Uhuk! Uhuk! hampir saja potongan Pancake yang belum halus itu menerobos masuk ke tenggorokan Azel, untungnya bisa ditelan perlahan.


"Apa yang kamu tanyakan? Kami saja baru berteman!"


"Aku hanya bertanya, aku takut kamu lupa akan janji kita" jawab Leon.


Janji? Janji apa? Pikir keras Azel, "Oh, ahh tidak mungkin aku lupa janji kita" jawab Azel sedikit gugup.


Leon tersenyum kemudian mengusap pucuk kepala Azel lembut, "Ingat janjimu ya kita akan membuat kenangan indah bersama". Azel hanya mematung dan mengangguk-anggukan kepalanya patuh, seakan terhipnotis akan wajah, usapan, serta ucapan Leon yang begitu lembut.


Setelahnya kegiatan makan siang mereka berlanjut dengan aman,damai dan romantis.




"Hey apa yang sedang kau lakukan?" tanya Azel ketika mendapati Leon yang tiba-tiba meletakan kepalanya diatas paha Azel.


"Hanya ingin tiduran"


"Kan bisa disampingnya Leon!" ucapan Azel menolak tapi sikapnya berbanding terbalik, ia justru mengusap surai hitam Leon. Membuat Loen tertawa nyaman dibawah usapan Lembut Azel.


"Dimana pangeran yang lain?"


"Kurasa mereka berada dikamar"


"Apakah mereka tidak bosan selalu berada di kamar?"


"Kurasa tidak" Azel mengangguk paham.


"Kenapa kamu tidak menanyakan ini padaku?"


"Ha? Maksudnya?" tanya Azel kebingungan


"Kenapa kamu tidak bertanya, kenapa aku tidak berada di kamar?" Azel betul-betul menganga saat mendengar ucapan Leon.


"Loh, ada ya pertanyaan begitu?" tanya Azel dan Leon hanya mengangguk. "Baiklah kenapa kamu tidak berada di dalam kamar juga? Apakah kamu berasa bosan?" tanya Azel sambil terkekeh.


"Iya aku bosan, atau lebih tepatnya ingin bersamamu".


Drrttt...Drrttttt...


Keduanya dialihkan pandanganya kepada ponsel Azel yang berdering, Leon yang mengetahui hal itu segera bangkit dari posisinya memberi ruang untung sang gadis.


"Dari siapa?"


"Panggilan grup dari ayah" kata Azel sambil mengangkat panggilan sang ayah.


"Hallo ayah, bundaaaa, bang Farel!" sapa Azel ketika sambungan telepon mereka sudah terhubung.


"Azel kamu pasti tau kan kenapa ayah sama bunda telfon kamu?" tanya Farel dari seberang sana yang terdengar mengejek sang adik alias Azel.


"Pasti lu kan bang yang ngaduin! Ah gak seru, cupu lu!"


"Ayah bunda denger deh Azel udah berani manggil abang Lu Gua!"


"Azell..." cegah sang bunda.


"Bang Farelnya duluan bun" rengek Azel, Leon yang merasa diabaikan tidak terima dan menarik tubuh Azel agar seperti posisi Leon awal bedanya saat ini Leon lah yang menopang kepala Azel di pangkuannya.


Azel yang terkejut mendapat tarikan secara mendadak itu sontak melotot dan memberikan tatapan seperti bertanya ada apa?. Dan Leon yang seakan paham pun hanya mengelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak ada apa-apa. Lanjutkan pintanya dengan isyarat tatapan matanya.


"Azel kamu dengerin ayah bicara tidak?" tanya sang ayah dari seberang sana saat mendapati sang putri yang tak kunjung menjawab.


"Ha? I-iya Yah Azel dengerin, gak boleh ikut balapan lagi kan? Gak boleh deket sama sembarangan cowok kan?" tanya Azel percaya diri.


"Loh Azel, ayah kamu gak ngomong tentang itu loh, apa jangan-jangan kamu jadi co-drive lagi ya?" tanya sang bunda. Mampus, Azel malah menggali kuburannya sendiri dengan mengungkit masalah balapan. Melihat wajah panik Azel Leon mengusap pucuk kepala Azel untuk menenangkan, dan Azel nyaman.


"Ha? Mana ada bun orang Azel aja sibuk sama tugas kuliah terus" elak Azel.


"Bohong bun orang semalem dia turun"


"Abang!" teriak Azel yang di balas tawa keras dari Farel.


"Sudah-sudah abang jangan gangguin adiknya terus, dan untuk Azel ayah cuman mau bilang ayah kangen banget sama kamu, bunda juga!"


"Abang juga"


"Azel juga kangen banget sama kalian! Kapan kalian mau pulang? Lama banget disana"


"Sabar ya sayang, ayah kamu masih ada problem disini jadi harus diselesaikan dulu" bujuk sang bunda agar putrinya itu tidak sedih.


"Kapan kalian pulang?"


"Bulan depan" apa?? bulan depan? Ah rasanya Azel ingin menangis karena akan menahan rindu lebih lama lagi untuk bisa bertemu dengan keluarganya itu, tapi ia tak ingin membuat orang tuanya sedih termasuk sang bunda.


"Azel?" panggil sang bunda saat putri kesayangannya itu tak kunjung menjawab.


"Ah iya bun gak papa, Azel tutup dulu ya ada kelas sore soalnya bun. Sehat-sehat ya kalian semua! Love youuuu and miss youuu" ucap Azel dan langsung memutus sambungan telpon mereka.


"Kenapa kamu sedih?" tanya Leon saat mendapati wajah murung Azel setelah menutup telponnya.


"Tidak ada, hanya rindu dengan ayah dan bunda"


"Memangnya mereka dimana?" tanya Leon sambil terus mengusap kepala Azel seakan menenangkannya.


"Mereka mengurus pekerjaanya yang berada di negara lain, sudah tiga bulan mereka disana dan sekarang mereka bilang akan pulang bulan depan" jelas Azel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Beruntung sekali ayah dan bundamu memiliki putri kecil yang begitu menyayangi mereka" hibur Leon namun justru membuat tangis Azel pecah. Leon panik kedua kalinya ia melihat Azel menangis dengan segera ditenggelamkannya wajah Azel menghadap perut Leon dan memupuk pelan kepala Azel menengkan.




"Iya sayang bunda juga kang-" belum sempat Karen menjawab ucapan sang putri, telepon terlebih dahulu diputus secara sepihak.


"Gimana bun marah ya Azelnya?" Tanya Arsen selaku ayah dari Azel, putri kecilnya itu.


"Gak marah yah, tapi lebih ke kecewa aja sih kedengarannya" jelas Karen


"Aku ngerasa bersalah sama Azel bun, yah seharusnya aku gak usah nyusul kalian" Farel ikut menyahut percakapan antara kedua orang tuanya itu.


"Gak Rel, kamu harus belajar disini, selagi ayah masih ada, satu bulan lagi kita bisa berkumpul seperti keluarga utuh lagi" ucap sang bunda menenangkan Farel.


"Bun, tolong janji sama ayah ya? Apapun yang terjadi tetap jadi bunda buat anak-anak" "Dan untuk kamu Farel, lindungi dua wanita kamu ini jangan sampai mereka sedih atau menderita".


"Ayah ngomong apa sih kok jadi ngelantur begini" kata Farel yang kesal dengan ucapan sang ayah.


Arsen hanya bisa menatap datar tanpa ekspresi kearah Farel dihadapannya, "Cepat atau lambat mereka pasti akan datang, lagipula ayah rasa sudah waktunya ayah menanggung dosa itu" ucap sang ayah sebelum pergi meninggalkan Karen dan Farel.


"Bunda tenang aja ya semua pasti baik-baik aja kok bun" Farel yang melihat kesedihan di wajah sang bunda segera memeluknya dan mengelus punggungnya.


"Bunda gak papa, udah cukup waktu bunda sama ayahmu bersama. Dan bunda bangga sama ayahmu yang rela berkorban demi kita" jawab sang bunda menyeka air matanya.


"Farel dan juga Azel juga bangga bun!"




"Jadi berapa lama mereka akan kembali?"


"Bulan depan"


"Baiklah, maka kita dapat segera kembali"


"Ya, oleh karena itu tolong jangan ikut campur tentang diriku ataupun rencanaku! Dan tolong sampaikan ini juga kepada adikmu Pangeran Vero, atau dia akan merusak semua rencana ku!"


"Baik Pangeran Leon"