FANTASIEWELT

FANTASIEWELT
CHAPTER 4




Terhitung satu minggu sudah mereka hidup bersama-sama. Para pangeran yang sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya dan para gadis yang mulai menerima keberadaan tamu tak diundangnya itu.


"Jadi bagaimana perkembangan buronan kalian itu?" Leon menoleh ketika pertanyaan itu dilontarkan dan mendapati Azel yang sudah duduk di sampingnya dengan membawa camilan. Satu hal yang sudah melekat di ingatan para pangeran, bahwa keempat gadis penghuni rumah itu sama sekali tidak memiliki sungkan dan juga tak bisa hidup tanpa camilan di hidupnya.


"Tidak ada perkembangan" balas Leon


Azel menatap heran. "Lah kok gak ada perkembangan terus gimana kalian nemuinya," Yang ditanya hanya menghendikkan bahu tanda tak tau.


"Emang gak ada cara apa biar bisa dapet informasi gitu?" Azel mengusulkan pertanyaan kepada para pangeran.


"Harusnya kakek memegang semua informasi itu"


"Yaudah minta dong sama kakek lu itu" perintah Azel dengan enteng.


"Caranya?" kini gantian Leon yang dibuat kebingungan.


"Ya make apa itu bola ajaib atau gak baskom ajaib atau gak make telepati, kaya di film-film kan begitu"


"Ouh ha?" ia benar-benar tak paham dengan jalan pikiran milik Azel. Bukankah sudah ia katakan bahwa negerinya juga sudah maju dengan pesat, hanya saja berada di dimensi lain. Jika para Avenger memiliki dunia mereka sendiri. Maka bagi pangeran, mereka juga memiliki negeri mereka sendiri.


“Terus kalian komunikasi pakai apa?” tanya sang pemilik rumah


Sesaat pangeran yang berada di ujung sofa mengeluarkan benda kotak tipis yang membuat keempat gadis itu menganga.


“Loh kok kalian bisa punya handphone? Kalian punya uang?” serbu Lynn karena merasa heran dengan benda yang ada di atas meja yang baru saja dikeluarkan Demar.


Azel tidak bisa menutup mulutnya sebab mereka- para gadis tersebut tidak pernah melihat 4 pangeran itu menggunakan handphone bahkan mengeluarkannya pun tidak pernah.


“Kenapa gak bilang sih dari tadi, yaudah telpon pake ini aja!” cecar Bella sambil merampas handphone Demar.


Sang empu nya hanya diam pasalnya ia tahu benda itu tak akan berguna disini. Sedangkan Zio yang berada di sampingnya hanya menahan tawa melihat reaksi Bella yang bingung dengan benda tipis itu.


Reysie mendekat ke Bella karena kepo dengan handphone Demar, Reysie ikut bingung pasalnya tidak ada tombol on-off bahkan segala cara sudah dicoba untuk menghidupkan ponsel tersebut.


“Ihhh kok gak bisa sih? Rusak nih” kesal Bella.


Demar kembali merebut ponselnya sambil berkata, “Sekarang ini kami berada di dimensi lain, jelas saja benda ini tidak berguna disini, jika bisa pun kami sudah pakai sejak kemarin”


Reysie dan Bella pun hanya ber-oh-ria selanjutnya menyadari betapa bodoh mereka berpikir handphone tersebut bisa berguna.


Hening….


Kembali memikirkan bagaimana cara untuk menghubungi sang kakek, tiba-tiba ada satu orang yang bersuara,


“BUKU!”


Teriakan Lynn membuat semua yang berada di ruangan tersebut kaget.


Mendengar hal itu dengan segera Bella bangkit dari duduknya dan berlari mengambil buku merah maroon usang di atas nakas kamar tidurnya, buku yang menjadi asal usul para pangeran itu keluar.


“ah benar bagaimana bisa tidak terpikirkan oleh ku, seingat ku ada satu mantra untuk memanggil orang dari dimensi lain, semoga saja itu bisa membantu kita,” Demar bersuara


Vero, Demar dan juga Zio langsung membuka dan meneliti satu persatu halaman dari buku itu hingga sampai pada halaman ke-78 terdapat satu halam kosong di sebelah kiri, dan di halaman sebelahnya adalah mantra yang mereka cari, sontak ketika mereka menemukan mantera itu Zio- pangeran yang paling berisik langsung berteriak,


“KETEMUUU!” Vero dan Demar yang berada di sampingnya sontak langsung menutup telinga mereka.


Para pangeran dan ke-empat gadis itu pun langsung mengelilingi meja Zio.


Leon maju dan mengambil buku usang itu lalu membacakan mantera tersebut, orang-orang yang berada di belakangnya pun menunggu sambil berharap mantra nya bisa digunakan.


Nihil. Tidak ada tanda tanda yang menunjukkan mantra nya berhasil. Leon berbalik dengan wajah pasrahnya berhadapan dengan kumpulan orang orang yang merasa kecewa dan pasrah juga.


“Sep-”


Baru saja Bella membuka mulut tiba tiba buku usang itu mengeluarkan cahaya di halaman kosong tepat di sebelah mantera aneh itu. Leon yang memegang buku itu pun kaget, buru buru ia menaruhnya di atas meja yang mereka kelilingi. Semua mata yang ada disana tertuju pada cahaya itu hingga beberapa saat sampai cahayanya redup.


1….


2….


3….


“HUAAAAAA” Heboh Azel karena benar saja ada wajah kakek kakek tua di buku itu, sadar akan kebisingan yang dibuatnya, dengan segera ia menutup mulutnya


Sementara sisanya, ketiga gadis itu hanya bisa melongo melihat dengan tatapan tidak percaya pasalnya baru pertama kali mereka melihat hal seperti itu, rasanya benar benar seperti di dunia sihir melihat selembar kertas bisa digunakan untuk berkomunikasi, bisa dibilang yang mereka lakukan saat ini adalah Video Call tetapi dengan orang yang berbeda dimensi!


Karena merasa ini adalah ruang lingkup privasi keluarga para pangeran, Azel mengajak ketiga sahabatnya untuk meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamar masing-masing.


Sedangkan Zio langsung mengambil buku itu dan menyapa sang kakek dengan nada bicara yang manis, memang hanya Zio saja satu-satu nya pangeran yang masih manja dengan kakek nya itu.


“Kakekkk….. Aku kangen banget rasanya udah seribu tahun ga ketemu” sapanya kepada sang kakek


Vero yang mendengar pun langsung melotot memberi tanda peringatan dengan nada bicara nya yang serius, “Jaga bahasa mu Zio, kamu sekarang sedang berbicara dengan Raja Agung!”


Zio lupa kalau sekarang ia sedang berbicara dengan kakek nya yang notabene-nya adalah Raja Agung di Kerajaan mereka, kenapa Raja Agung? Karena sang kakek merupakan mantan Raja dari kerajaan mereka dan yang sekarang menjabat sebagai raja adalah anak dari sang kakek alias orang tua dari para pangeran walaupun disebut Raja Agung tetapi bukan sang kakek lah yang mengatur negri tersebut melainkan Sang Raja sendiri yang menjadi kepala negara nya.


“Salam untuk Bulan Artemis kami wahai Raja Agung yang mulia.” Sapa Shaka sambil menundukkan kepala sehabis merampas buku itu dari tangan Zio


“Ada apa kau menghubungiku Pangeran?” tanya sang kakek


“Kami ingin memberitahu bahwa kami sudah sampai di dimensi-974, tempat dimana pengkhianat itu bersembunyi dan kami ingin meminta bantuan berupa data yang bisa kami gunakan untuk mencari pengkhianat itu.” Jelas Shaka


“Syukurlah kalian semua sudah tiba dengan selamat” hanya anggukan kepala yang dapat para pangeran berikan sebagai jawaban dari ucapan sang Agung.


“Aku ingin berbicara dengan pangeran Leon, aku harap kalian bisa meninggalkan ruangan ini dan biarkan kami berbicara”


Ketiga pangeran lainnya bangkit dan berpamitan kepada Sang Raja Agung dan meninggalkan ruangan tersebut.


Leon menatap cahaya yang menampilkan wajah Sang Raja Agung dan mendengarkan semua informasi yang disampaikan dengan seksama. Wajahnya terkejut tak dapat disembunyikan dari wajah tampan Leon begitu mendengar informasi tentang pengkhianat itu, namun dengan mudah ia bisa menetralkan kembali.


“Baik terimakasih kakek, aku pasti akan menangkap dan membawa nyawanya ke hadapanmu”


“Aku tau kau tak akan mengecewakanku,” Leon hanya mengangguk dan berpamitan kepada sang kakek.


Setelah perbincangan diantara mereka selesai, Leon segera menghampiri tiga pangeran lainnya.Catatan yang Leon tulis langsung ia berikan kepada Vero, karena Vero merupakan salah satu Pangeran yang bisa dibilang jago dalam hal programmer/IT.


Vero fokus pada komputer di depannya, dengan modal pinjaman komputer dari Azel, ia langsung bisa menemukan informasi mengenai pengkhianat negeri nya itu. Setelah beberapa jam bergelut dengan komputer hingga hanya tinggal ia, Leon, dan Demar yang berada di ruangan itu, sementara para gadis dan Pangeran Zio sudah berada di balik selimut nya masing masing.


“Apa yang akan kau lakukan dengan dia?” tanya Demar kepada Leon yang terlihat memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Tak bisa dipungkiri bahwa Leon sekarang tengah merasa bimbang namun ia harus tetap menjalankan perintah yang telah dititipkan kepadanya.


“Entahlah aku juga tidak tau, kurasa anaknya itu tidak bersalah” jawab Leon merasa ragu.


“Aku setuju denganmu” saut Demar yang berada di samping Vero yang masih menghadap ke komputer yang masih menyala.


“Sudahlah kalian istirahat saja, kalian pasti sangat lelah,” pinta Leon kepada Vero dan Demar. Tak menyangkal saat ini Vero dan Demar merasa sangat lelah, akhirnya mereka berdua beranjak meninggalkan kamar milik Leon dan membiarkan Leon sendirian.


“Apapun itu pasti akan aku lakukan, demi restunya. Kalo pun aku menyakiti hati orang lain”.