
"Antara aku,kamu dan waktu yang akan menjadi saksi tentang perasaan diantara kita"
Masih setia dengan malam yang sama dua remaja itu terus membelah ramainya malam dengan kecepatan rata-rata. Baik Leon maupun Azel keduanya tak ada yang ingin memulai pembicaraan.
Leon sesekali menoleh kearah si gadis yang terduduk manis tanpa menghiraukannya, fokusnya setia kepada ponsel ditangannya.
Merasa bosan dengan kegiatannya Azel menoleh sekitar dan menginterupsi Leon yang tengah menyetir untuk melipir.
"Leon bisa kita berhenti sejenak?" pintanya. Tentu saja Leon menurutinya tanpa banyak bertanya. Setelah mobil yang mereka kendarai terparkir di parkiran taman yang dijadikan tujuan oleh Azel. Dengan segera Azel turun dari mobil yang disusun oleh Leon. Keduanya jalan menuju ke arah tengah taman.
Cahaya rembulan yang menyinari taman itu terasa sangat mendukung dengan keberadaan Azel dan Leon yang terduduk di bangku taman. Keduanya hanya duduk diam dengan isi kepalanya masing-masing.
"Leon-"
"Azel-"
"Ah kau duluan saja" kata Leon.
"Baiklah, Leon bisakah kau jangan bersikap seperti ini?".
"Maksudnya?"
"Jangan membuatnya seakan menunjukkan bahwa kamu itu peduli terhadapku".
Leon bingung mendengar ucapan Azel, "Memang kenyataannya aku peduli kepadamu, Zel".
"Ck, kau ini harus sadar bahwa diantara kita itu tidak ada apa-apa".
"Aku tau"
"Jika kau sudah tau maka tolong bersikaplah seperti awal kita bertemu, Dirimu yang cuek dan tak peduli terhadapku" nafasnya sedikit tercekat, ia juga berat mengatakan hal itu namun ia tak ingin jatuh terlalu dalam kepada orang yang salah.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? Kau tau kan jika sikapmu itu akan membuat kesalah pahaman diantara kita" Kesal Azel.
"Bagian mana yang membuat salah paham? Katakan maka aku akan memperbaikinya" bodoh dasar Leon bodoh kenapa dia harus berkata sesantai itu sedangkan si Azel sudah susah payah agar tidak luluh dengan dirinya.
"Ck sudahlah lupakan saja!"
"Azel!" panggilan lembut namun jelas dari Leon mengalihkan obsidian Azel untuk menatap sang empu suara itu.
"Aku tau ini salah tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku tau ini tak seharusnya ada tapi aku tak bisa menolaknya".
"Jangan hanya menyalahkan ku, tapi juga sikapmu! Kenapa kamu begitu baik dan tulus kepadaku jika akhirnya kau menolakku" Sambung Leon dengan tulus.
Azel tau dia juga salah karena selalu memberi feedback atas setiap hal kecil yang Leon lakukan kepadanya. Ia juga peduli dan sayang? Kepada laki-laki di hadapannya itu, namun ia tau salah dan tak ingin melanjutkanya.
"Kau jahat Zel, setelah membuatku jatuh dengan perasaan ini kau akan menjauhkanku dengan caramu itu"
"Bukankah kau juga harus kembali ke negerimu? Jadi siapa yang jahat? Aku yang menjauhkanmu secara perlahan atau kau yang pergi secara cepat?" tanya Azel.
"Aku, aku yang jahat. Namun bukankah itu semua hanya perlu di jalani?" kini Leon bertanya balik.
" Apanya yang harus dijalani? Apakah kau bodoh! Kita itu berbeda"
"Jika aku pikir kembali, aku rasa aku memang bodoh menyukaimu yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan keras kepala"
Apa? Tunggu! Leon suka kepadaku? Sudah gila memang ni pangeran! Ucap azel dalam hati.
"Suka? Gila kah kau ini Leon?"
"Iya aku sudah gila, bahkan jika aku harus mati karena melawan kakek pun aku rela"
"Bodoh!"
" Zel, jika memang aku tak bisa memilikimu ijinkan aku untuk membuat kenangan indah bersamamu"
"Maksudnya?"
"Buatkan dirimu terus muncul dalam ingatanku, bahkan jika aku kembali ke negeriku biarkan dirimu menyiksaku karena sudah meninggalkanmu. Tapi aku mohon jangan menyuruhku untuk menjauh dan jangan bersikap dingin seperti ini" pinta Leon.
Sinar rembulan yang menerpa wajah indah Leon tampak lebih indah. Bahkan Azel yang menatapnya pun ikut tersihir oleh keindahan itu.
Wajahnya tampak sendu setelah kalimat yang ia ucapkan terakhir kali bahkan masih membekas di ekspresinya.
Azel juga ingin membuat kenangan indah bersama Leon tapi ia takut akan hal yang terjadi selanjutnya, apalagi setelah kepergian Leon nanti. Ia terlalu takut.
"Aku takut" ucap Azel menatap Leon.
"Aku takut jika nanti kamu kembali akan melupakan ku, dan membangun kebahagiaan bersama tunanganmu. Sedangkan aku? Harus berusaha melupakanmu dan merelakanmu-" ucapanya ia tahan dan menatap mata Leon lekat.
"Bahkan membayangkanmu menikah dengan tunanganmu saja akan membuatku gila!" lanjutnya.
Leon yang juga menatap Azel tampak menyangkal ucapan yang diucapkan oleh Azel. "Kamu salah, bukankah jika kau yang selalu muncul dalam ingatanku berarti itu juga menyiksaku? Dan untuk tunanganku ia juga akan menderita karena menikah dengan orang yang hatinya sudah di dimiliki oleh gadis dari negeri lain".
"Aku tidak memaksamu tapi kamu juga jangan memaksaku untuk menghilangkan rasa yang ada padaku" lanjutnya.
Azel diam tapi senyumnya tertahan karena ia tak mau terlihat luluh, gengsi dia tuh.
"Jangan menolak perhatianku dan jangan diamkan aku lagi" nadanya seketika berubah 180 derajat, bahkan Azel sempat menganga sesaat.
"Siapa itu?" tanya Azel.
Leon menoleh ke samping dan kebelang mencoba mencari yang di maksud Azel, "Siapa?" tanyanya balik.
"Siapa yang barusan berbicara?" tanya Azel mendekati Leon.
"Ya aku, Leon yang berbicara" ucapnya.
"Beda banget, boong kan kamu"
Leon mengeleng "Diam jangan beritahu siapapun, itu Leon lain dalam diriku" usil Leon.
Azel hanya menganguk dan mengangkat tangannya membentuk tanda ok.
Setelah itu keduanya larut dalam keromantisan yang disinari oleh sang bulan, yang ikut bahagia melihat mereka berdua.
•
•
Bella tersenyum tatkala Devan menghampirinya dengan tangan yang penuh jajanan kesukaannya. “Devannn” teriak Bella sambil berlari menghampiri sang kekasih.
“Heii pelan pelan yanggg, gak usah lari-lari” cegah Devan melihat sang kekasih yang berlari menghapirinya.
Yang diomelin hanya tersenyum dan berhenti tepat dihadapan Devan.
“Bawanya banyak banget yang, buat siapa?”
“Ya buat kamu lah, masa buat mang Ibang”
“Idih-idih” ejek Bella yang sudah menggelendot ke Devan.
Keduanya berjalan ke arah pinggir jalan dan memilih duduk di trotoar jalan. Meskipun bisa dibilang mereka berdua adalah anak orang berpunya namun menurut mereka duduk di trotoar setelah lelah night ride adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jika bersama sang pacar.
“Enak gak yang?” tanya Devan yang memperhatikan Bella yang tengah asik makan.
“Enak yang mau gak? Nih aaaaa” ucap Bella seraya menyuapi Devan, dan Devan hanya menuruti titahan Bella.
“Hmm, beneran enak ternyata” “apalagi sambil di suapin sama pacar sendiri” lanjut Devan sambil tersenyum.
“Ihh apa si yangg, alay tau!” seraya mencubit kecil lengan Devan.
“A-awshh, masa aku nya di cubit sih yangg?!” ucap Devan sambil mengusap lengan nya.
“Lagian siapa coba yang ngajarin kaya gitu?!”
“Hahaha maaf sayang” kekeh Devan.
Keheningan pun tercipta, seakan sepasang dua manusia itu tengah menikmati suasana malam yang dingin pada hari itu.
“Udah lama ya kita gak ketawa bareng kaya gini” ucap Devan sambil tersenyum menatap Bella.
“Aku kangen bisa nikmatin setiap waktu sama kamu” lanjut Devan.
“Sebenernya aku mau bicarain sesuatu sama kamu” ucap Bella dengan serius.
“Hm? Mau bicara apa cantik?” ucap Devan dengan mengelus pelan kepala Bella.
“Aku mau minta maaf sama kamu kalo suatu saat aku buat salah sama kamu” ucap Bella dengan menunduk.
Devan meraih dagu Bella agar wanita itu menatap ke arahnya “Hei…Lihat mataku, kenapa kamu minta maaf? Kamu nggak ada salah disini”.
“Aku takut kamu kecewa sama aku nanti, aku takut kamu akan ninggalin aku nanti” ucap Bella dengan pelan.
“Gak ada yang akan ninggalin kamu yangg, aku selalu ada disini, aku gak tahu apa yang kamu maksud dengan kesalahan kamu nanti…tapi kamu harus tau, kalau aku sayang kamu” katanya sambil menarik Bella kepelukannya
Bella tahu yang diucapkan kekasihnya itu tulus, tapi tetap saja masih ada yang mengganjal di hatinya ia merasa bersalah terhadap Devan, membalas pelukannya dengan erat.
Jujur Bella bimbang dengan perasaannya, disisi lain ia mulai nyaman dengan Demar tapi di sisi lain ia juga sangat mencintai kekasihnya, entah sampai kapan perasaannya akan seperti ini, Bella tau ini salah dan ia tau harus berhenti memikirkan Demar, tapi setiap kali bertemu dengan Devan, dirinya merasa nyaman dengannya.
Devan menatap mata Bella dengan sendu, mengecup sekilas bibir kekasihnya dilanjut dengan mengacak rambut Bella dibalas dengan senyuman hangat, pipinya bersemu tatkala kekasihnya itu masih terus menatap matanya.
“Udah ah malu aku diliatin gitu” ucap Bella malu-malu tai kucing.
“Kaya punya urat malu aja” ejek Devan bersandar di bangku belakangnya.
“Udah yuk pulang aku ngantuk” Bella menguap membuktikan ucapan nya benar bahwa ia mengantuk.
“Oke kita pulang” mengiyakan ajakan Bella, sambil membersihkan sisa sampah makanan yang ia bawa.
“Jangan berpikir kaya tadi lagi ya, inget aku nggak bakal ninggalin kamu bagaimanapun keadaan kita” jelas Devan mengelus kepala Bella pelan.
“Iya sayang aku janji” balasnya sambil menunjukkan jari kelingking menunggu Devan membalas tautan itu, Devan menautkan jari kelingkingnya sembari memeluk kekasihnya sekali lagi sebelum mereka benar benar pergi menuju rumah Bella.