
"Jadi tujuan kalian datang ke sini tuh ngapain?" Bella membuka percakapan setelah beberapa cemilan ia dapatkan.
"Kami sedang mencari penghiat negeri kami, sudah hampir 1 abad orang-orang kami mencarinya" Jelas Demar. Yang lain hanya bertatap-tatapan tak mengerti.
"Bukahkan jika hampir 1 abad orang itu mungkin sudah mati, dan kalian?? SUDAH TUAA?!" Reysie yang mendengar penjelasan itu seakan membayangkan jika yang dihadapan mereka adalah orang yang lebih tua.
"Tidak!" ketus Vero
"Kami ini baru saja tumbuh dewasa dan yang mencarinya adalah orang terdahulu kami" Demar dengan sabar kembali menjelaskan kepada para gadis. Ya mereka sudah cukup akrab, lebih tepatnya terpaksa akrab. Itu semua sebab permintaan Azel.
Kira-kira seperti ini peraturan yang di minta oleh Azel.
"Jika kalian ingin kami membantu kalian, maka kalian harus ikuti juga aturan kami!"
"Kami ini Pangeran! Kenapa harus menuruti ucapan manusia biasa sepertimu" tolak Vero
"Ya kalau seperti itu, silahkan keluar dari rumahku!" tanganya meraih gagang pintu dan mempersilahkan para Pangeran untuk keluar.
"Sial! Baiklah kami ikuti apa kemauanmu"
Kira-kira seperti itulah perdebatannya. Pada akhirnya para Pangeran kini mengikuti kemauan para gadis, mulai dari pakaian yang di ganti dengan pakain Casual khas anak zaman sekarang hingga panggilan dan nada bicara yang harus mereka terima untuk di rubah.
"Dan untuk penghiat itu, kami rasa dia belum mati" Leon menambahkan. Para gadis hanya diam tak percaya.
"Karena dia membawa sebagian benda pusaka kami!". Mendegar jawaban itu para gadis kita hanya mampu ber-oh-ria.
"Lantas berapa lama kalian akan berada disini?" tanya Bella dikegiatan menyemilnya
"Sampai orang itu tertangkap?"
"ya mana gua tau kan lu pada yang nyari" ketus Bella yang kesal mendengar jawaban Pangeran Vero.
"Tidak- tidak maksud kami, kami secepatnya akan menemukan orang itu"
"mengapa?"
"Karena jika sampai bulan purnama namun pusaka itu belum kami temukan Kakek akan marah besar". Lagi dan lagi para gadis yang mendengar sambil ditemani camilan di tangan masing-masing hanya mampu ber-oh-ria mendengar ucapan Pangeran Demar.
"Apakah kamu fikir satu abad itu waktu yang singkat!" ketus Vero. Ya Pangeran Vero ini tipikal Pangeran yang sedikit ketus dalam hal berbicara dengan orang lain. Sama seperti Reysie yang suka ngegas.
"Heh! Aku hanya bertanya,jangan mentang-memtang kamu ini pangeran terus seenaknya aja. Inget kalian itu numpang dirumah kami" Kesal Reysie mendengar jawaban dari Vero yang terdengar agak ketus tersebut.
Tak tertarik dengan perdebatan di hadapan mereka ketiga gadis dan para Pangeran hanya diam menjadi penonton dan sesekali menikmati cemilan mereka.
"Kau mau?" tawar Bella dengan cemialan keripik di tangannya kepada Pangeran Demar yang tepat berada di hadapannya.
Yang di tawari hanya menggeleng,"tidak untuk mu saja" tolaknya dan hanya di angguki kepala sebagai jawaban dari Bella.
"Terus sebarapa maju dong negerimu?"
"Jika negerimu saja bisa maju maka negeri kami juga sama majunya dengan kalian"
"Bohong, buktinya pakaian kalian mencerminkan seberapa maju negeri kalian" keukeh Reysie pada pendabaatnya bahwa dunia para Pangeran ini beluhm cukup maju seperti dunia yang mereka tempati sekarang ini.
"Kami sedang melaksanakan upacara sakral jika kau tidak tau"
"Tuh-tuh masih ada upacar-upacara adat segala, berarti negeri kalian masih belum maju"
"Sebebas kamu menghayal saja! Saya lelah berbicara dengan kamu!" tutur Vero yang sudah tak bisa melanjutkan perdebatan dengan gadis sok tau yaitu Reysie.
"Tapi kami rasa dibandingkan dengan negeri kami,ku rasa negeri kalian memiliki selera pakaian yang buruk" ucap Leon yang sendari tadi diam dengan tatapan meremehkan.
"Ha?! Maksudnya apa" kini Azel yang mulai tersulut emosi,bisa-bisanya orang yang baru datang entah berantah dari mana itu main mengejeknya.
"Para gadis di negeri kami sangat anggun bahkan selalu mengenakan kain rok untuk pakain bawah mereka". Keempat gadis itu berpandangan.
Bukan apa namun kondisinya saat ini sudah malam dan mereka mengenakan kaos oversize dengan celana panjang,yang menurut mereka itu sangat nyaman untuk menemani tidur mereka.
"Dan juga rambut mereka selalu terawat dan di tata secara rapi" tambah Vero. Para gadis vergidik ngeri,mereka membayangkan dirinya masing-masing mengenakan pakaian feminin dengan gaya rambut yang khas dengan anak wanita.
"Cih negeri kalian benar-benar tidak maju,sama sekali tidak tau tren terbaru"
"Kalian lihat saja bagaimana para 'gadis yang tidak tau penampilan' ini membuat kalian kagum" ucap Azel penuh penekanan
"Baiklah kami akan menantikannya" Pangeran Leon tampak meremehkan namun sudut bibirnya terangkat sangat tipis,tipis sekali bahkan nyamuk saja tidak dapat melihatnya.