
"Ini anak kemana dah? Katanya mau nyari buku kok lamanya kaya nyari mantu". Habis sudah kesabaran Reysie, gadis itu menatap sinis ke arah piring makanan milik sabahatnya yaitu Bella.
"bukan nyari mantu tapi kesasar kerumah mertua" sahut Lynn
"Bisa jadi lagi ke tukang tahu" timpal Azel
"Apan sih kalian ngaco ngapain ke rumah mertua beli tahu?", bebal memang bebal sahabat mereka yang bernama Reysie ini. Otaknya sedalam lautan, saking dalamnya susah untuk mencerna perkataan seseorang.
Malas menanggapi ucapan Reysie kedua gadis itu memilih melanjutkan makan siang mereka. Ya mereka membutuhkan tenaga kembali untuk melanjutkan tujuannya datang ke kampus yaitu, menjadi babu para tugas.
Tak selang beberapa setelah keheningan tercipta diantara mereka tiba-tiba saja eksistensi mereka teralihkan kearah gadis yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Lu semua harus ikut gua i-ini penting banget" wajahnya pucat pasi,keringat dingin bercucuran di pelipisanya bahkan air wajahnya menunjukan kecemasan.
"Wehh santai santai, tarik nafas dulu tenanggg" Ucap Azel menenangkan
"Apaaan Bel?? Ada apa?!" ya gadis itu adalah Bella sahabat yang sendari tadi mereka tunggu
"Anu-argh udahlah ayuk ikut gua aja" Frustasi Bella jika ia harus menjelaskannya disini terlalu panjang ceritanya. Tanpa berdebat ketiga gadis itu pun mengikuti langkah Bella yang menuntunya ke arah parkiran kampus.
"Cepet masuk ada yang mau gua tunjukin di rumah" perintah Bella dengan nada terdengar terburu-buru.
Ketiga gadis itu menurut dan segera memasuki mobil milik Bella. Mereka saling memandang bergantian ada apa ini? rumah? ada apaan di rumah? dan kenapa sama Bella?. Begitu banyak pertanyaan yang berkeliaran dipikiran para gadis, namun mereka menahan diri agar tidak bertanya kepada Bella, toh sebentar lagi mereka akan mengetahuinnya.
•
•
Para gadis dibuat menganga sesaat dengan apa yang diperlihatkan oleh Bella, ya gadis itu membawa mereka kerumah atau lebih tepatnya kerumah Azel.
"HAH! s-siapaa mereka? ada artis nyasar kerumah gua?" ditatapnya Bella dengan tatapan bertanya tanya milik Azel.
Bela tergagap melihat tatapan dari ketiga sahabatnya itu, penuh penasaran. "Emmm, anu Zel....anu"
"Anu anu apa Bel?!" Sejak kapan sahabatnya ini belajar bahasa gagu, pikir Azel.
"Mereka bukan artis tapi Pangeran rill Pangeran" Jelas Bella
"HAH?!" ketiga gadis yang mendengar ucapan Bella dibuat melonggo seketika.
"hahahaha becanda kan lu? Pangeran mana ada jaman sekarang" elak Reysie tak percaya.
"pfttt lawak nih si Bella" Ucap Lynn sambil menahan tawa
"Gua serius" Bella meyakinkan dengan mantap.
Apa pangeran? Yang benar saja. Tahun berapa ini, dan bukankah kerajaan itu sudah tidak ada sejak masa lampau. Begitu banyak rasa penasaran yang ada di kepala mereka, namun mereka enggan bertanya dan lebih memojokan Bella untuk bercerita tentang kejadian ini.
Dimana semua gadis tengah mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Bella. Tak ada yang mengiyakan ataupun membantah setiap ucapan yang Bella ucapkan, mereka menyimak dengan serius.
Setalah mendegarkan penjelasan yang Bella ucapkan Azel menatap para pangeran dengan seksama.
"Apa yang kalian lihat?!" tanya Pangeran Leon yang merasa jengah terus-menurus di hujani tatapan oleh ketiga gadis.
"Ah kami hampir lupa, perkenalkan namaku Vandemar Dixey, kalian bisa memanggilku prince Demar" Lelaki dengan gigi taring mungil itu memperkenalkan dirinya.
Kini giliran lelaki dengan hidung mancung dan bulu mata yang cantik memperkenalkan dirinya "Namaku Leoniades Emerald kalian bisa memanggilku Leon"
"Namaku Venezio Haries, panggil saja Prince Zio" ucap pangeran berperawakan yang lebih kecil.
"Aku prince Vero!" singkat jelas dan cuek itulah yang dilakukan oleh pangeran dengan mata yang sipit namun tatapannya tajam.
"Ouh baiklah, namaku Azel, dia Bella" Bella melambaikan tangannya. "Ini Reysie dan Lynn" yang di tunjuk melakukan hal yang sama seperti Bella.
Setelah mengetahui asal muasal para Pangeran, para gadis berganti kegiatan yaitu menatap intens kepada Pangeran. Yang ditatap merasa tidak nyaman.
"Jika ada yang ingin kalian tanyakan, maka tanyakan saja! Jangan menatap kami seperti itu" tambah Pangeran Demar.
"Tidak ada, kalian silahkan istirahat saja dulu kami akan keluar sebentar". Membuang muka malas dan berjalan keluar rumah kembali, tentunya di susul oleh ketiga sahabatnya. Sedangkan para Pangeran lagi dan lagi di buat melonggo akan sikap para gadis.
"Baru kali ini harga diri ku tak dihargai" ujar Pangeran Vero
"kau benar aku pun berpikir demikian" pangeran Zio membubuhi sambil menepuk-nepuk pundak Vero ringan.
"Sudahlah kita istirahat saja dulu bukankah kita ada tugas yang harus kita laksanakan",yang lain mengangguk dan satu persatu dari para Pangeran menngambil posisi duduk yang nyaman dia atas sofa. Mungkin diantar mereka ada yang terlelap karena terlalu lelah akibat berdiri sedari tadi.
Lainhalnya dengan para pangeran yang tengah beristirahat para gadis kita kembali menuju ke kampus untuk menyelesaiakan study mereka yang sempat mereka tinggalkan.
"Bell, kok lu tadi gak pingsan sih pas ngeliat mereka keluar dari buku?" celutuk Reysie dalam perjalan menuju ke kampus.
"Ya gimana mau pingsan, kejadiannya aja cepet banget begitu!" Ujar Bella
"Tapi sayang sih kalo lu tadi pingsan bisa aja gak ngeliat Pangeran ganteng tadi"
Tuk!
"Cuci mata melulu kerjaanya, noh tugas kerjain!" omel Lynn setelah menyentil kening Reysie. Sedangkan Azel hanya dapat tertawa kecil melihat tingkah para sahabatnya itu.
"kok diem aja sih Zel, kenapaa?" tanya Bella yang melihat Azel diam sendari tadi.
"Engak, gua cuman kepikiran aja, kita gak tau latar belakang mereka darimana dan kita gak tau kebenran tentang mereka.... Gimana kalo mereka itu jahat?!" tanya Azel
"Gua sebenernya sependapat sama lu Zel, tapi terlepas dari itu semua kita harus inget kalo mereka dateng karena Bella-"
"Gua gak sengaja buka bukunyaaa!" Bella memotong ucapan Lynn.
"Tapi kalo bukan karena lu buka buku itu pasti gak bakalan dateng mereka Bel"
"I-iya sih" cicit Bella tak berani menatap lawan bicaranya itu.
"Jadi kita harus ngebiarin mereka tinggal dirumah gua?" Azel kembali mengajukan pertanyaa. Dan disuguhi anggukan oleh Lyyn.
"Kita rawat mereka sekaligus mengawasi mereka" tutur Lynn dan semua yang ada dalam mobil itupun mengganguk setuju akan usul Lynn.
Azel kembali memfokuskan arahnya kepada jalanan didepan kemudinya itu, tujuan utamannya sekarang adalah menuju ke kampus.