FANTASIEWELT

FANTASIEWELT
CHAPTER 7




"Seharusnya itu hanya semu! Tapi mengapa sulit rasanya membiarkan ia pergi? Dasar perasaan lemah!"


Hari demi hari berlalu begitu saja baik Azel ataupun penghuni rumah lainya disibukkan dengan urusannya masing-masing. Begitupun para pangeran yang sudah mulai sibuk menelusuri pengkhianat itu.


“Zel lu jadi ikut kan?” tanya Reysie


“Ya ikutlah! Lu pikir aja seberapa gilanya gua satu bulan ini” jawabnya dengan sewot


“Kalem dong yang gila bukan lu doang, kita juga gila” Reysie tak mau kalah


“Tapi lu emang boleh sama mas crush, main malem-malem?” ejek Reysie dengan wajah tengilnya.


“Lah emang dia siapa gua? Ngatur-ngatur! Toh dia juga udah punya mbak tunangannya sendiri” wajah Azel terlihat jelas sangat kesal mendengar ejekan yang dilontarkan oleh Reysie. Bukan, bukan Reysie yang salah namun orang yang dijadikan sebagai bahan leluconnya.


Jujur saja Azel masih marah- tidak dia tidak marah hanya saja ia kesal! Kenapa Leon masih mendekatinya jika sudah memiliki tunangan? Jikapun tidak cinta setidaknya jujur kepadanya agar ia tak mendengarnya dari orang lain.


Sudahlah Azel sudah lelah dengan tugas satu bulan ini ia ingin istirahat sebentar, tak ingin memikirkan si-Leon sialan itu.


“Nanti malem mau jalan sama siapa lu?”


“Sama orang lah!” jawab Azel acuh


“Yeuuu kadal buntung gua juga tau! Tapi sama siapa, nama orangnya siapa?” Azel malas menjawab pertanyaan dari Reysie. Ia memilih meninggalkan Reysie dengan kekesalannya.


Malam yang ditunggu oleh para gadis itu pun tiba, semua gadis sudah siap dengan dandanan mereka masing-masing. Semua tampak cantik tanpa pakaian glamor yang biasa dikenakan oleh kebanyakan gadis lainnya. Sudah kukatakan mereka tidak suka pakaian yang terlalu feminim.


“Serius nih gua sama Devan berangkat duluan?” tanya Bella melihat Azel yang masih duduk tenang di sofa rumah.


Azel melirik sekilas ke arah Bella yang sudah bergelendotan di bahu Devan, “iyee gua bentar lagi juga jalan” ucapnya malas. “Buruan bawa pergi tuh cowo lu kalo gak mau ada yang panas”.


Mengerti akan perkataan Azel, Bella pun segera mengajak pacarnya itu menuju ke pekarangan rumah, tak lupa sebelum hilang dari pandangan Azel ia menampakkan senyuman-ah tidak lebih tepatnya cengiran kuda.


Azel kembali memfokuskan dirinya kepada benda persegi di tangannya, ia sedang menunggu jemputannya.


“Kemana kamu akan pergi?” suara di sampingnya tak membuat Azel mengalihkan fokusnya.


“Pergi party” Azel tetap menjawab walau dengan nada malas. Ia tau disampingnya adalah Leon, ingat ia, masih kesal terhadap orang itu.


“Kemana? Kenapa tidak dirumah?” tanya Leon bertutut-turut


Fokusnya hilang Azel mulai merasakan dihatinya yang kesal semakin kesal akibat sikap Leon yang seakan-akan tidak ada sesuatu yang perlu dijelaskan. “Kemana aku ingin pergi itu bukan urusanmu! Urus saja urusanmu sendiri!”


“Ada apa denganmu, aku bertanya dengan baik-baik” Leon bertanya seolah-olah ia tak tahu masalahnya


“Berisik! Bisa diam tidak? Kau menggangguku!”pecah sudah kekesalan Azel kepada pria tampan bernama Leon tersebut.


Satu menit, dua menit, hingga hampir sepuluh menit mereka terjebak dalam suasana yang canggung ini, baik Azel ataupun Leon enggan memulai percakapan setelah perdebatan yang terjadi beberapa saat lalu.


Ting tong


Azel menghembuskan nafas lega mendengar suara bel yang dipencet oleh si-penjemputnya.


Azel segera merapikan barang bawaannya dan melangkah pergi tak menghiraukan Leon yang hendak meraih tangannya, namun segara Azel tolak,“Sebentar gua siap-siap dulu” teriaknya.


“Udah siap?” tanya pria yang berdiri di depan ambang pintu


“Dari tadi!” jawab Azel


“Ya maap tadi gua disuruh nganter bunda dulu beli barang”


“iye!,udahlah ayok buruan jalan ntar keburu malem” ajak Azel kepada yang baru datang itu.


“bawel banget sih…nanti cantiknya ilang loh”


“berisik!buruan atau gak jadi pergi”si Azel yang sudah mulai kesal berjalan duluan disusul dengan si cowo yang membuntutinya sambil mengacak rambut Azel membuat sang empu makin merasa kesal.


Di lain sisi Leon menatap kedua sejoli itu yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan, bahkan ia sendiri bingung dengan perasaan yang tengah ia rasakan.


“siapa dia? Kenapa begitu akrab dengan Azel”


“siapa dia tidak penting juga untuk kamu ketahui” ucap Demar yang muncul dari balik punggung Leon.


“bukankah tujuanmu hanya membuatnya jatuh kepadamu? Lantas apa untungnya bagimu mengetahui sosok pria itu” tunjuk Demar kearah mobil Azel yang mulai menjauh.


“huh,coba pikirkan terlebih dahulu sebelum kau menjawabku”Demar diam sejenak,ia tampak menimang sesuatu “dia jelas berbeda dari mereka,bahkan dia gadis yang baik. Apakah kau tega menyakitinya?” lanjutnya.


Leon diam ia sendiri tak tau harus mengelak dengan alasan apapun itu,karena perkataan yang dikatakan oleh pangeran Demar ada benarnya. Bahkan jika dibandingkan dengan sang kakak jelas Azel berbeda jauh. Gadis itu baik juga begitu peduli dengan sekitarnya, kehadirannya dapat membuat siapapun merasa hangat.


“Sudahlah apapun keputusanmu nanti ku harap kau tidak akan menyesal, tolong tanyakan dulu pada dia sebelum kau menemuinya” tunjuk Demar ke arah dada kiri milik Leon. Ia pun melangkah meninggalkan Leon yang kembali tengelam dalam lamunnnya.




Azel kembali dengan keadaan yang sedikit sempoyongan akibat minuman beralkohol yang ia minum.


“Emang Brayen sialan! Liat aja gua aduin bang Farel nanti!” ocehnya yang berusaha melawan rasa pusingnya agar bisa menjangkau gagang pintu yang jaraknya tak seberapa,namun tetap saja bagi orang yang tengah mabuk itu sangatlah jauh.


Ceklekkkk…..Brukkk


Tubuh sempoyongan Azel berhasil tertahan oleh lengan kekar itu. Leon menatap intens ke arah gadis yang tengah mabuk itu.


“Apaan sih peluk-peluk,lepasin Leon sialan!”diambang setengah sadarnya Azel masih berusaha untuk memberontak namun hasilnya nihil karena bagaimanapun lelaki di depannya itu memiliki lengan yang lebih kekar.


“Kenapa kamu memberikan saya sumpah serapah, apakah saya melakukan kesalahan?”. Masih dalam dekapannya Azel menggeleng ribut, matanya mulai merah,ia siap untuk menangis.


“Hey aku tidak memarahimu mengapa kau menangis?” tanya Leon yang kebingungan melihat gadis dalam dekapannya mengeluarkan air mata-ia tak tahu jika itu hanyalah kebiasaan Azel ketika mabuk.


“Dibilangin lepasin susah banget sih” ucap azel sambil merengek, setelah melihat azel seketika leon melepaskan pelukannya.


Menatap Azel dengan serius dan penuh tanda tanya ”sudah ku lepaskan,sekarangkan katakan apa kesalahan ku”


“Ck semua cowo tuh sama aja ternyata ya-“ Leon tampak bingung dengan ucapan Azel namun tetap membiarkan si mabuk melanjutkan ucapannya. “gak bisa apa kalo cukup sama satu cewe aja?!”.


Leon tersenyum tipis karena ia paham kemana arah pembicaraan si gadis itu merujuk. “ Apakah kamu cemburu?”


Azel meraih kepala Leon dengan sedikit berjinjit sambil mengeceknya“wah gua rasa nih otak pangeran udah konslet”ucapnya dengan rancu. Sang empu hanya pasrah dan terus menahan senyumnya.


“udahlah, mendingan balik aja ke negeri mu, nikah sana sama tunanganmu itu!” ternyata benar adanya bahwa tidak ada perasaan tulus dalam pertemanan pria dan wanita, buktinya sekarang Azel sendiri yang merasakan bahwa dirinya mulai ada rasa dengan Leon.


“ohhh sepertinya benar tebakanku, ada yang sedang panas disini” leon tersenyum sambil menangkup wajah Azel. “ maaf jika selama ini membuatmu cemburu,tapi kurasa kamu sudah tahu alasanku harus menerima lamaran itu.” Lanjutnya dengan sepasang obsidian yang tetap menatap Azel.


Azel hanya diam ia bingung harus menjawab apa, ia sendiri bingung kenapa ia kesal-ah ralat cemburu sedangkan dirinya dengan Leon tak ada hubungan apapun,aneh.


"Sudahlah lah lepaskan, aku capek mau istirahat" Azel jujur ia betulan lelah dan matanya sudah tak sanggup menahan kantuk akibat efek mabuk.


"Ayolah sudah cukup aku lel-"


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya yang membuat ia tak melanjutkan ucapannya, Azel mematung.


Matanya mengerjap lucu tak kala tautan mereka berdua lepas, sedangkan sang pelaku tersenyum puas. "Udah sana tidur" Leon melepas pelukannya dan membuat Azel sempoyongan.


"Yak..yak jangan lepasin dulu ini rumahnya muter-muter" ucap Azel panik. Leon tertawa dan kembali memopong tubuh Azel,dan mengantarkannya ke kamar untuk istirahat.


Sementara, di pojok ruangan ada mata lain yang melihat kejadian itu


"Weh lah weh foto-foto buat ceng-cengin si Azel besok"


"Udah anjir kalem aapa kalem" saut Lynn yang mendapati Reysie heboh dengan adegan Leon dan Azel.


Leon yang memopong tubuh mungil Azel itu, menampakan eskpresi tanpa beban, dibawanya Azel menuju kedalam kamar.


Leon meletakan tubuh Azel secara perlahan, meskipun ia tau Azel tengah mabuk namun ia tak ingin membangunkan Azel akibat tindakannya itu.


diselimutinya tubuh Azel yang sudah tertata apik diatas kasur. "Kamu terlihat begitu tenang saat tertidur, cantik" cicit Leon sambil menyingkirkan helaian rambut yang menyapu wajah tenang Azel.


"Bagaimana bisa kamu membuatku larut sedalam ini? Apa kau penyihir kecil?" oceh Leon yang masih sedia bertumpu disamping tempat tidur Azel.


"Hey kenapa kamu diam saja?? apa kamu lelah??" Leon kini menusuk" pipi Azel yang sedikit merona efek dari mabuknya. Ia gemas sendiri


"Baiklah jika kamu lelah aku akan kembali kekamar, selamat istirahat" chup! Diciumnya kening milik Azel dan Leon dengan segera meninggalkan ruangan kamar Azel.


Tanpa sadar Azel yang tengah asik dalam mimpinya itu menarik senyum entah mimpi atau kenyataan namun yang pasti ia meresakan seseorang tengah menciumnya tepat di keningnya